Ini Bukan Perpisahan

Kisah tiga “aku” – ayah, ibu, dan anak– dalam pusaran peristiwa yang acap disebut “perpisahan”

JOGJAKARTA, Rabu, 17 September 2014 pukul 21.00 WIB. Seorang anak laki-laki empat tahun terlelap di atas kasur dalam kamar di samping ibunya dan adik perempuannya yang berumur tujuh bulan. Ia memeluk erat kaos oranye bekas dipakai bapaknya tadi sore. Masih lekat aroma keringat.

Di sebelahnya berbaring ibunya yang tengah menenangkan si kecil yang sedang menyusu. Masih lelah usai mengantar suaminya ke Stasiun Tugu malam itu. Beberapa hari ke depan, suaminya terbang ke negeri orang.

Di lain tempat, waktu yang sama, di dalam gerbong tiga kursi 9-B kereta Senja Utama Jogja. Seorang pria tenggelam dalam lamunannya. Ia termangu membaca pesan pendek dari istrinya. “Anak-anak aku yang jaga. Bapak sudah saya titipkan kepada Tuhan.”

Kereta pun terus melaju kencang seolah meninggalkan masa lalu.

* * *
ANAK

Aku gembira karena Bapak, begitu aku panggil ayahku, menemani kami selama hampir dua minggu ini. Bapak selalu bilang belakangan ini, “Bapak mau pergi jauh ya. Lama gak pulang ya. Mau sekolah di Jepang.”

Itu tandanya aku harus menahan bertanya kepada ibuku, “Bapak mana, Mah? Bapak pulang, gak?” untuk berapa hari ke depan.

Sekolah bagiku adalah datang ke TK, bermain bersama teman, mulai pukul delapan pagi hingga sore pukul empat. Biasanya Mamah yang antar-jemput. Tapi kali ini Bapak selalu melakukannya. Kadang dengan sepeda motor biru, kadang dengan sepeda kayuh mini. Tapi hari ini Bapak bilang, “Besok yang antar dan jemput Mamah ya.”

Tiap kali menyinggung sekolah, Bapak selalu memberitahuku, “Sekolah yang pintar ya Nak. Sekolah yang rajin. Rajin belajar ya.”

Karena mendengar Bapak mau sekolah, aku pun berujar sama, “Sekolah yang pintar ya Pak.”

Meski jarang bertemu, setidaknya aku kenal bapakku. Tahu persis namanya: Yacob Yahya. Kami hanya biasanya berjumpa pada akhir pekan. Sabtu dan Minggu. Tapi itu sudah cukup bagiku untuk mendapatkan waktu bersama. Biasanya aku dikeloni Mamah. Tapi kalau Bapak datang, dia yang menemaniku tidur.

* * *
SUAMI

Mestinya kemarin Selasa sore, bukan… siang jelang sore, aku berangkat ke ibunya kota. Meninggakan anak istri persiapan terbang ke Jepang. Aku hendak melanjutkan kuliah. Tapi rindu ini belum tuntas rasanya. Makanya aku tunda sehari lagi. Untungnya masih bisa mengejar tiket Rabu. Maklum, Jogja-Jakarta adalah jurusan padat.

Lagi pula, Maryam Aida Yahya, anak keduaku, sakit batuk dan pilek. Beberapa hari terakhir ini aku kudu rajin menyedot ingus dari hidung mungilnya. Imbasnya, aku sendiri juga kurang fit. Selasa malam itu aku tepar. Aku gak bisa membayangkan apa jadinya jika maksa berangkat pada hari itu. Aku bakal meriang di dalam kereta. Tanpa ada istri yang merawat.

Rabu pagi itu, aku dan istri –usai ia izin keluar kantor— pergi ke sebuah rumah sakit anak di Babarsari. Syukurlah, hanya penyakit lazim. Apalagi memang musimnya. Siang hari, Maryam tertidur pulas. Nanti sore aku harus menjemput Daniyal Yahya, anak sulungku, pulang sekolah.

Aku tertegun. Terhenyak. Girang. Beberapa hari lalu dia menasihatiku, “Bapak sekolah yang pintar ya…”

Istriku, Murjayanti, juga luar biasa. Dia merawat dua buah hati kami dengan tulus dan ikhlas. Aku bisa melangkah sejauh ini juga berkat dukungannya, tentunya. Jogja seolah memberikan semangat dan energi melimpah buatku. Aku putuskan memilih lokasi tes beasiswa di Jogja supaya bisa dekat dengan anak istri. Dan nyatanya aku lolos.

Tak lupa aku bersyukur kepada Tuhan atas segala izin dan kehendak-Nya. Sejak kecil aku punya angan satu saat aku harus pergi keluar negeri. Wabil khusus, ke Jepang. Kenapa? Entah. Mungkin lantaran aku tergila-gila dengan budaya dan alamnya. Sejak kuliah sarjana aku juga pengen mengikuti jejak teman-temanku untuk melanjutkan sekolah. Dan kini? Dua keinginanku terangkum jadi satu dan bakal mewujud dalam waktu dekat. Adakah alasan yang amat baik untuk memungkiri karunia-Nya?

Dalam waktu dekat aku akan meninggalkan mereka. Ini berat. Tapi harus. Toh selama ini juga kami terbiasa berjauhan. Jujur, usai hari resepsi pernikahan kami, esoknya aku harus beranjak ke Jakarta guna membereskan urusan. Waktu itu aku diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak. Tak ada bulan madu bagi kami –setidaknya tertunda. Dalam kamusku, tidak ada kata perpisahan. Yah, ini bukan perpisahan. Lima tahun kami terpisah jarak antara Jakarta dan Jogja. Keluargaku bisa menerima, meski kadang hinggap rasa jenuh dan ingin menjadi keluarga yang utuh senantiasa berkumpul. Apa artinya dua tahun studi? Toh bakal balik lagi –jika Tuhan berkehendak. Sekali lagi, ini bukan perpisahan. Sama sekali bukan. Karena setelah itu akan ada perjumpaan yang indah buat kami.

* * *
ISTRI

Waktu cepat berlalu. Biasanya aku melewati hari tanpa suami. Bangun pagi, memandikan Maryam, lalu Dani, menyiapkan sarapan Dani, mengantarnya sekolah, ke kantor. Jangan sampai telat, aku musti masuk sebelum pukul setengah delapan. Siang istirahat menengok dan menyusui Maryam lagi. Lalu balik kantor hingga pukul empat sore. Lalu menyiapkan makan malam buat Dani dan terus menyusui Maryam. Belum lagi mencuci pakaian dan pekerjaan domestik rutin lainnya. Tanpa putus sepanjang hari.

Begitu suamiku datang, semua terasa ringan. Aku mendambakan masa itu. Ia masakkan Dani sarapan dan makan malam; dia antar dan jemput Dani sehingga aku tak perlu khawatir telat masuk kantor; dia juga memastikan pakaian ganti di dalam tas sekolah Dani (dia ikut kelas fullday dan mandi sore di sekolah); dia antar Maryam periksa ke dokter dan suntik imunisasi; dia gendong dan ajak jalan-jalan Maryam tatkala aku sibuk menangani hal lain, cuci pakaian misalnya. Dia lebih sigap dan tanggap dari sebelumnya.

Aku merasa jatuh cinta lagi.

Tapi kini kami mesti bersiap dia tinggalkan lagi. Untuk beberapa lama. Mungkin empat bulan ke depan, enam bulan, atau setahun. Ah, tak mengapa. Toh biasanya juga jauh dari suami. Tugasku adalah mendidik dan merawat anak. Yang terpenting adalah saling percaya. Aku sudah serahkan dia kepada Tuhan untuk Dia jaga. Aku yakin dia baik-baik saja.

Malam itu sebelum dia berangkat, kami santap malam di angkringan dekat Stasiun Tugu. Aku, Dani, dan suamiku. Di peron stasiun, aku berusaha keras menahan air mata. Aku bisa. Aku harus bisa.

* * *
STASIUN TUGU, Jogjakarta, pukul delapan malam. Tiga manusia –sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki empat tahun– erat berpelukan selama beberapa saat di peron. Cukup lama. Kereta sudah tersedia, siap berangkat tiga puluh menit lagi.

Usai melepas peluk dan cium, suami musti masuk kereta. Ia lambaikan tangan. Istri dan anak membalasnya. Lalu sang anak asyik melihat maket miniatur kereta dalam kotak kaca didampingi sang ibu. Sang ayah melangkah pelan ke dalam kereta. []

3 responses to “Ini Bukan Perpisahan

  1. Pagi2 bikin mewek mbacanya Cob. Imagining im in that situation. Diniatin u ibadah ya Cob…inshaAllah semua berjalan indah.

  2. Niceeeee, keren mas yacob..
    Hope someday gw bisa nulis sekeren ini…
    Four thumbs up

  3. Maaf late response.
    @Upi, amin yaowoh… Insyaallah, Pik.
    @Bayem, everyone who can read and write can be a good writer. Kamu pasti bisa🙂 Okesipp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s