Restu Ibu Guru

Hati ini akan selalu tabik padamu.

NAMANYA PUJI SETITI. Beliau guru akuntansi SMA aku saat kelas dua dan tiga. Aku sekolah di SMA Negeri 1 Pati. Bu Puji, begitu beliau aku panggil, yang “menemukan” aku dan membuatku terobsesi satu saat nanti harus kuliah jurusan akuntansi di kampus bergengsi. Ia yang memilih aku bersama beberapa kawan untuk ikut lomba akuntansi mewakili sekolah. Ia yang melatih kami guna bersiap menghadapi sejumlah kompetisi, baik secara beregu (cerdas cermat) maupun perorangan (olimpiade).

Waktu itu, tahun 1998 sampai dengan 2000, rasanya belum pernah ada kompetisi akuntansi tingkat nasional. Jadi, kami cuma ikut tingkat Jawa Tengah-Jogjakarta. Syukurlah kami menyabet juara satu di Universitas Diponegoro dan Universitas Gadjah Mada. Bukan bermaksud bragging, ini adalah kerja tim dan tentunya ada andil besar Bu Puji serta pelatih lainnya.

Bu Puji bagiku adalah sosok guru ideal. Orangnya sabar, tutur katanya halus lembut. Kami akrab seperti ibu dan anak. Selama sekolah aku sering bertandang ke rumahnya. Kebetulan dia mengontrak rumah di Saliyan, dekat rumahku yang terletak di Kaborongan. Waktu kuliah, aku pun mengunjunginya tiap liburan, terutama ketika Lebaran. Ia sudah punya rumah di sebuah kompeks perumahan dekat Kecamatan Margorejo. “Ini hasil jerih payah sebagai guru,” ujarnya. Aku ambil jurusan akuntansi di UGM. Saat bekerja pun demikian. Aku sempatkan mengunjunginya hingga terakhir kali kami bertemu lima tahun lalu.

* * *

“MOHON DOA DAN RESTU IBU, saya akan berangkat kuliah ke Jepang insyaallah pada 19 September,” aku kirim pesan singkat kepada Bu Puji kemarin pagi. Insyaallah aku akan kuliah selama dua tahun dengan ambil jurusan Master of Business Administration di International University of Japan. Ia terletak di Niigata, tepatnya di kota Minami-uonuma. Ini daerah paling bersalju di Jepang, lumbung padi negeri sakura, dan tentu saja –karena melimpah beras– penghasil sake nomor wahid.

Bu Puji sebelumnya pernah bercerita kalau sebenarnya ia diterima beasiswa S-2 ke Jepang. Namun, lantaran alasan hasil tes kesehatan, beliau urung berangkat. “Itu keinginan Ibu,” tuturnya lewat sambungan telepon usai menerima pesanku.

“Kamu sedang kerja?” tanya ia.
“Sedang ke kantor pusat, Bu,” jawabku.
“Selamat bekerja, ya,” tuturnya lembut.

Ibu, mungkin cita dan asamu saat ini belum terkabul. Izinkan muridmu yang mewujudkan mimpimu. Aku selalu hormat padamu. Tak akan pernah bisa aku melangkah sejauh ini tanpa bimbinganmu. Karena itulah, muridmu ini memohon doa dan restumu.

One response to “Restu Ibu Guru

  1. pa kapan kita makan ramen gokana lagi *tear*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s