Mendongkrak Penerimaan PPh Orang Pribadi

Jika sementara kalangan berpendapat bahwa potensi penerimaan pajak belum tergali secara optimal, mungkin ada benarnya. Salah satu potensi besar penerimaan pajak itu justru ada di depan mata, yakni dari orang pribadi (OP). Masing-masing individu, baik saya maupun Anda, begitu penting berperan mengisi pundi anggaran negara. Seberapa besarkah potensi itu?

Mengacu Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Nomor 36 Tahun 2008, dengan asumsi pesimis –dasar penghitungan dengan angka terkecil, potensi penerimaan dari Wajib Pajak OP sangatlah besar: Rp132,6 triliun. Hitung-hitungannya seperti ini. Jumlah penduduk Indonesia menurut hasil sensus tahun 2010 Badan Pusat Statistik sekitar 237,6 juta jiwa. Pada tahun yang sama, pendapatan per kapita Indonesia sekisar Rp27 juta jika dihitung dengan Produk Domestik Bruto (PDB) (www.kompas.com 7 Februari 2011). PDB adalah seluruh penghasilan orang yang tinggal di Indonesia, baik WNI maupun orang asing yang berada di sini. Lantaran data per kapita adalah rata-rata per kepala, kita asumsikan saja Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebesar Rp15,84 juta atau yang berlaku bagi orang lajang tanpa tanggungan. Dengan demikian, Penghasilan Kena Pajak (PKP) per kapita sebesar Rp11,16 juta (Penghasilan – PTKP). Sesuai UU PPh, PKP sebesar itu dikenai tarif terendah yaitu 5% (untuk PKP sampai dengan Rp50 juta). Oleh karena itu, PPh per kapita kita adalah Rp558.000. Sehingga, potensi PPh OP sebesar pajak per kapita kali jumlah penduduk, yakni Rp132,6 triliun itu tadi.

Pada kenyataannya, lapisan PKP tiap orang beragam. Tarif PPh yang paling tinggi adalah 30%, bagi orang yang punya PKP di atas Rp500 juta. Tarif pajak bagi pekerja asing juga berbeda, yakni 20% dari penghasilan bruto (PPh Pasal 26, kecuali ditentukan lebih rendah dalam tax treaty). Mengingat terdapat beberapa lapisan tarif yang berlaku, bolehlah kiranya saya menawarkan asumsi moderat dengan besaran tarif 12,5%. Dengan demikian, potensi penerimaan PPh OP sekitar Rp331,4 triliun.

Dengan potensi sebesar itu, sayangnya, Pemerintah bersama DPR “baru berani” mematok target penerimaan PPh OP sebesar Rp3,58 triliun (Pasal 25/29 atau pajak yang dibayar sendiri) –yang ditetapkan melalui UU APBN 2011 Nomor 10 Tahun 2010. Angka segitu hanya sekitar 0,056% dari PDB. Bahkan, ini lebih kecil daripada target yang dicanangkan APBN-Perubahan tahun lalu yang sebesar Rp4,29 triliun (UU No. 2 Tahun 2010).

Okelah, kita bisa berdalih bahwa kebanyakan individu adalah tenaga kerja sehingga pajaknya telah dipotong oleh pemberi kerja (PPh Pasal 21). Untuk tenaga kerja asing, PPh yang dipotong adalah Pasal 26. Namun, itu pun total pajak yang dibayar sendiri plus pajak atas pekerjaan yang telah dipotong (payroll tax) masih jauh dari potensi di atas. Target PPh Pasal 21 senilai Rp62,08 triliun sedangkan PPh Pasal 26 sebesar Rp32,16 triliun. Jika digabung, total target penerimaan ketiga jenis PPh tersebut “baru” sekitar Rp97,8 triliun. Masih ada selisih antara potensi dengan target penerimaan (tax gap) kira-kira Rp34,7 triliun (asumsi pesimis) hingga Rp233,6 triliun (moderat). Sementara itu, PPh Badan masih mendominasi struktur target penerimaan kita, yakni sebesar 163,78 triliun. Padahal, dari segi jumlah, WP OP jauh lebih banyak daripada WP Badan. Saat ini, dari sekitar 18,77 juta WP terdaftar, 16,59 juta adalah WP OP; 1,72 juta WP Badan; serta sisanya WP Bendahara.

Negara maju memiliki pilar penerimaan pajak yang kokoh justru dari individu warga negaranya (personal tax), bukan dari perusahaan (corporate tax). Rata-rata negara anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memiliki postur penerimaan pajak yang ditopang 25% dari PPh OP pada tahun 2008. Sementara itu, kontribusi pajak korporat hanya 10% (http://www.oecd.org/document/60/0,3746,en_2649_37427_1942460_1_1_1_37427,00.html data diambil pada 26 Mei 2011). Persentase pajak individu terhadap PDB (tax ratio) negara-negara OECD sekitar 9% sedangkan pajak perusahaan hanya di atas 3,5% (lihat tabel).

Tabel Persentase PPh OP vs PPh Badan terhadap PDB pada Negara-Negara OECD (10 Besar)

Nama Negara

2006

2007

2008

OP

Badan

OP

Badan

OP

Badan

Denmark

24,8

4,3

25,3

3,8

25,2

3,4

Swedia

15,4

3,6

14,6

3,7

13,8

3,0

Selandia Baru

14,7

5,7

14,8

5,0

13,7

4,4

Belgia

13,2

3,5

13,0

3,5

13,5

3,3

Finlandia

13,3

3,4

13,0

3,9

13,3

3,5

Islandia

14,0

2,4

13,8

2,5

13,2

1,9

Kanada

11,9

3,8

12,3

3,5

12,0

3,3

Italia

10,7

3,4

11,1

3,8

11,6

3,7

Inggris Raya

10,6

3,9

10,9

3,4

10,7

3,6

Australia

11,0

6,4

10,8

6,8

10,2

5,9

Total OECD

9,0

3,8

9,1

3,8

9,0

3,5

(Sumber: http://www.oecd-ilibrary.org/taxation/ data diolah, diambil pada 26 Mei 2011)

Memang, kondisi negara maju tak sebanding dengan negara berkembang. Tapi, tetap saja kita kudu menggali potensi penerimaan yang terhampar luas di setiap individu sebagai warga negara. Alasannya gamblang, yakni jumlah penduduk yang besar. Pada 2009, terdaftar 15,91 juta WP atau baru 6,7% dari total penduduk. Kabar baiknya, jumlah pendaftar NPWP kian meningkat. Bahkan, pertumbuhan jumlah WP lebih pesat daripada nasabah kartu kredit. Pada 2005, baru ada 4,35 juta WP terdaftar. Untuk kurun waktu yang sama, jumlah pemakai uang plastik “hanya” bertambah dari 6,7 juta menjadi 12 juta. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pajak harus melanjutkan program ekstensifikasi wajib pajak dengan baik. Pada dasarnya WP OP terdiri atas majikan (employer), pekerja (employee), serta kalangan profesional yang menjalankan pekerjaan bebas (self-employed). Ketiganya harus dipetakan dengan baik melalui kegiatan profiling.

Dengan demikian, kita dapat menggali potensi (kegiatan intensifikasi). Tentu saja basis data harus diperkuat. Dalam dunia bisnis, berlaku istilah “kenali pelanggan Anda” (know your customer). Informasi yang lengkap mengenai profil wajib pajak akan membantu fiskus menggali potensi perpajakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s