Membangun Tabiat Patuh Pajak

Bulan Maret akan tiba. Inilah saat-saat para Wajib Pajak sibuk mengisi dan melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh). Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) paling lambat melaporkan SPT mereka pada 31 Maret, Wajib Pajak Badan paling lambat menyampaikannya pada 30 April. Penyampaian SPT merupakan salah satu bentuk kepatuhan warga dalam menjalankan ketentuan perpajakan.

Tahun 2010, jumlah WP yang terdaftar sebanyak 15.911.576. Di antaranya, terdapat 14.101.933 WP yang wajib melaporkan SPT –sisanya mungkin WP non-efektif, non-filer, atau dalam proses penghapusan. Dari sejumlah WP yang wajib menyampaikan SPT, baru 8.202.309 atau 58,16% yang melaprokannya. Tahun ini, Ditjen Pajak menargetkan rasio penyampaian SPT sebesar 62,5%. Jumlah WP saat ini mencapai 18.116.000 atau naik 30% dari tahun lalu (Bisnis Indonesia, Senin 7 Maret 2011).

Beberapa tahun terakhir ini realisasi penerimaan pajak meleset dari target. Pada 2007, terhimpun Rp426,23 triliun atau 98,5% dari target penerimaan. Pada 2008, tercapai Rp571,10 triliun (105,9%). Pada 2009, terkumpul Rp565,77 triliun (97,99%). Tahun 2010, terserap Rp649,04 triliun (98,1%).

Terjadi kekecualian pada 2008 karena waktu itu sedang berlaku sunset policy. Kebijakan ini menghapus sanksi administratif bagi para wajib pajak yang membetulkan SPT mereka pada tahun pajak 2006 dan sebelumnya. Selain itu, SPT Pembetulan yang disampaikan dijamin tidak diperiksa –sepanjang tidak ditemukan indikasi pidana atau diperoleh data baru. Ini jelas fasilitas yang menarik.

Seharusnya sunset policy menjadi momen pemancing pola perilaku WP untuk meningkatkan kepatuhan untuk waktu selanjutnya. Namun, jika kita berkaca pada rasio penyampaian SPT serta belum tercapainya target penerimaan, rupanya tabiat kepatuhan pajak masih belum membaik –setidaknya untuk sementara ini. Tingkat partisipasi pembayaran pajak di Indonesia dinilai masih sangat rendah karena sebagian besar kontribusi setoran pajak berasal dari sebagian kecil populasi (Bisnis Indonesia, Senin 7 Maret 2011). Atas kondisi ini, kita perlu mengajukan sederet pertanyaan kritis. Perlukah digulirkan sunset policy jilid dua atau kebijakan fasilitas hapus sanksi lainnya? Jika perlu, setelah lewat masa berlakunya, apakah dijamin kepatuhan pajak bakal meningkat? Jika belum, perlu berapa banyak kebijakan fasilitas semacam ini? Sebenarnya, apa kunci jawaban dari persoalan ini?

Membangun tabiat –baik pola pikir maupun perilaku– taat pajak memang bukan proses yang sederhana. Dalam sejarahnya berabad-abad di berbagai negara, pada dasarnya pajak merupakan hal yang membuat hubungan antara Negara dan warganya menjadi tegang. Meski beragam fasilitas diberikan, tak serta-merta masyarakat rela dipungut penghasilan yang telah mereka peroleh dengan kerja keras. Hal ini terjadi pula di negara semaju Amerika Serikat. Menurut Sandra Block (ed. Terri Thompson, 2000:347-351), Internal Revenue Service (IRS), Direktorat Jenderal Pajak Paman Sam, pernah menyandang image buruk di mata publik serta menghadapi tekanan dari Kongres –hal yang terjadi pada Ditjen Pajak belakangan ini.

Petugas pajak dianggap momok karena mereka bisa melakukan apa saja: menyetop transfer gaji, menggerebek tempat usaha, hingga menggadaikan properti penunggak pajak. Menurut pengakuan pengacara seorang perempuan, pada 1994, sepuluh petugas IRS pernah menyatroni rumah wanita itu pagi-pagi, menyekapnya pada sebuah kamar, serta menggeledah rumahnya. Mereka mengambil delapan puluh enam foto keluarga. Itu karena keluarga si perempuan diduga telah melaporkan dalam SPT nilai furnitur terlalu murah daripada  nilai yang sebenarnya (understate).

Untuk merespon berbagai keluhan masyarakat, IRS berbenah. IRS secara besar-besaran mengubah wajah organisasi ini dari yang semula bermuka angker, IRS berganti rupa menjadi taxpayer friendly. Lain kata, institusi tersebut mengedepankan pelayanan. Organisasi ini membuat kantor advokat pajak dengan layanan telepon bebas pulsa. IRS mempermak sistem teknologi komputer dengan anggaran tinggi guna mempercepat proses pelayanan maupun memperkuat pemberkasan serta menekan kesalahan (error). Ia mempekerjakan lebih banyak pegawai helpdesk untuk menerima layanan konsultasi via telepon. IRS juga membangun situs yang menyediakan informasi yang menjawab banyak pertanyaan awam seputar perpajakan (www.irs.gov).

Walhasil, masyarakat serius menangani masalah pajak mereka. Hampir semua orang merogoh kocek $50 hingga $200 setahun agar urusan pajak mereka beres. Lebih dari separuh dari total WP di Amerika Serikat menyewa jasa para profesional untuk berkonsultasi tentang pajak. Penjualan software perencanaan pajak semacam Quicken’s TurboTax serta H&R Block’s TaxCut meningkat tajam.

Dan yang tak kalah penting, warga makin mahir mengisi SPT. Angka pengguna formulir SPT 1040 melonjak 90%, beralih dari formulir 1040EZ atau 1040A yang lebih sederhana. Analogi di Indonesia, tersedia tiga bentuk formulir SPT bagi WP OP. Yang paling gampang diisi adalah formulir 1770-SS yang hanya menunjukkan berapa nilai total harta dan kewajiban tanpa ada lampiran. Formulir 1770-S memiliki dua lampiran. Keduanya diisi oleh para karyawan. Yang paling rumit adalah formulir 1770 bagi wajib pajak yang memiliki usaha sendiri sehingga melakukan pembukuan atau pencatatan.

Ditjen Pajak perlu memetik pengalaman berharga itu. Meski tengah didera kasus hukum segelintir oknum pegawainya, Ditjen Pajak harus terus meningkatkan kualitas layanannya. Lembaga pengumpul sumber dana terbesar APBN ini sebenarnya telah banyak berbuat. Ditjen Pajak melalui Surat Edaran Nomor 79/PJ/2010 tentang Standard Operating Procedure Layanan Unggulan Bidang Perpajakan meningkatkan jumlah layanan unggulan dari delapan menjadi enam belas layanan. Layanan yang makin mudah dan cepat akan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Harus terjalin sinergi dan saling percaya antara fiskus dan masyarakat untuk memupuk kepatuhan perpajakan. Kepatuhan ini pun berjenjang, dari yang awalnya hanya mendaftarkan NPWP, kemudian menyampaikan SPT (kepatuhan formal), hingga mengisi SPT dengan jujur dan benar (kepatuhan material).

Apakah pola kepatuhan perpajakan kita akan beranjak meningkat? Komitmen kita yang akan menjawabnya dengan jujur mengisi serta melaporkan SPT. Pada beberapa bulan ke depan inilah momen itu tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s