Tempo Empat Dekade

Siapa yang lewat telepon mengusili Minarni, atlet bulutangkis Asian Games 1970 yang menjadi sampul edisi percobaan, dengan berpura-pura jadi arwah pelatih yang baru saja meninggal? Benarkah Gus Dur lupa Jumatan gara-gara keasyikan menulis kolom? Mengapa halaman utama rubrik Nasional soal santet diblok tinta hitam? Tren fashion apa yang diangkat oleh redaktur Gaya Hidup di ruang rapat sehingga membuat kaget artis Indra Herlambang? Apakah Time, Inc benar-benar berniat menggugat mereka lantaran masalah “kemiripan merk”? Kenapa lantai kantor mendadak dipel sehingga pemimpin redaksi jatuh terpeleset? 

Judul Buku : Cerita di Balik Dapur Tempo
Penulis : Tim Kecap Dapur
Penyunting : Tim Penyunting Kecap Dapur
Edisi : Pertama, Desember 2011
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tebal : xviii + 333 halaman
Ukuran : 16 x 23 cm2

Anda bisa menemukan jawaban (dan kisah lainnya yang tak kalah menggelitik) di buku ini. Pustaka ini terdiri atas dua bagian: peringatan usia 15 tahun (183 halaman) serta 40 tahun Tempo yang terbit pertama kali pada 1971 (150 halaman).

Publikasi ihwal sejarah Tempo sebelumnya memang sudah ada. Janet Steele pernah menulis Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (2005). Coen Husain Pontoh juga pernah menurunkan laporan berjudul “Konflik nan tak Kunjung Padam” (dalam Jurnalisme Sastrawi, 2008, ed. Revisi).

Namun, yang istimewa dari buku ini, ia disusun oleh awak Tempo sendiri. Mereka mereportase diri sendiri. “Hal yang paling sulit adalah mencegah tulisan terlalu ‘pribadi’: mengagungkan senior, membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, dan terjebak narsisme yang membuat jengah pembaca,” tulis Budi Setyarso, dalam Pengantar (hal. vii).

Semua berawal dari rapat-rapat rencana mendirikan “perusahaan awang-awang”. Lalu menempati gedung bekas apotek di bilangan Senen yang lantainya bergoyang jika ada yang menaiki tangga. Lantas momen keemasan di daerah Kuningan. Hingga pil pahit pembredelan yang mengharuskan semua kembali bermula dari nol. Kemudian, kita semua tahu kisah selanjutnya: majalah ini hadir kembali setelah empat tahun dirindukan; melantai di bursa agar dimiliki publik yang merupakan satu-satunya “majikan” (begitu klaim mereka); hingga melahirkan koran, situs berita, serial buku tokoh bangsa, majalah pria, majalah panduan perjalanan, serta televisi. Dan kita juga tahu. Mereka tak bakal berhenti cuma di situ. Ini soal waktu, sekuel berikutnya tengah berlangsung. Lantas, apa yang bisa kita petik dengan mendaras buku ini?

Menegakkan pagar api

Jantung dan kata kunci dari buku ini adalah “sikap independen”. Independensi adalah harga mati. Apa pun  harus dilakukan untuk menjaganya, termasuk jika harus masuk liang kubur (hal. 46 Segmen 40 Tahun). Meski, upaya menjaga nyala pagar api (firewall, Tempo mengistilahkan “garis api”) bukan perkara mudah. Tempo pernah kebobolan. Sebuah laporan investigasi 2006 “dijawab” oleh iklan advertorial (hal. 65-69). Isinya, antara lain, pemasang iklan meragukan kredibilitas para narasumber liputan investigasi tersebut. Hal ini menimbulkan kesan seolah-olah tim liputan “menodong” dengan membuat liputan garang agar ujung-ujungnya mendapatkan iklan dari pihak sumber yang dipojokkan (praktek sejumlah media macam begini bisa dibaca pada Ahmad Nurhasim dkk, Wajah Retak Media: Kumpulan Laporan Penelusuran, 2009). Akhirnya, Tempo mengklarifikasi iklan advertorial itu sekaligus meminta maaf kepada pembaca.

Advertensi senilai hampir Rp500 juta itu dicabut dan Tempo tak mau menerima sepeser pun uang dari pemasangannya. “Advertorial bukanlah ruang yang disediakan bagi pihak yang merasa perlu menampilkan hak jawab atau hak koreksi. Sebab, sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, hak jawab hanya dilayani di ruang redaksi, tanpa biaya,” jelas Bambang Harymurti, yang waktu itu menjadi Pemimpin Redaksi.

Ada satu lagi contoh menarik. Pada April 2002, majalah ini menulis soal reklamasi Pantai Indah Kapuk, yang melibatkan taipan Ciputra. Judulnya menyentak: “Janji-Janji Ciputra”. Mengenai laporan ini, sila simak pula Dhandy Dwi Laksono (Jurnalisme Investigasi, 2010, hal. 416-417). Ciputra berjanji akan tetap melestarikan ekosistem dan lingkungan di sana. Namun, menurut penelusuran majalah ini, banjir menggenangi jalan tol beberapa tahun setelah Pantai Indah Kapuk dibangun. Pada pengantar rubrik wawancara penutup liputan tersebut, di belakang nama Ciputra, tertera keterangan: komisaris PT Tempo Inti Media (penerbit majalah ini) (hal 48-49). Meski demikian, tak ada lampu merah dari pihak manajemen. Ciputra sendiri? “Hanya” ngambek. “Kesal kepada Tempo, anak saya sendiri.”

Waktu mengalir

Buku ini memberi gambaran perbedaan masa lalu dengan saat ini. Kala itu, adalah hal yang lumrah jika seorang awak redaksi menyeberang menangani pemasaran, atau sebaliknya, bagian grafika berpindah jadi reporter. Maklum, saat itu nampaknya masih sedikit awak yang terlibat. Kini? Di tengah gencarnya spesialisasi dan spesifikasi keahlian serta tambah banyakya angkatan kerja, saya tak dapat membayangkan jika pada awalnya melamar kerja sebagai reporter tapi pada kelanjutannya disuruh menjadi account executive (menjaring iklan).

Dulu dan kini memang tak sama. Waktu itu, sejarawan Onghokham menduga Tempo anti-akademis. “Tempo… jarang memuat berita seminar atau membeberkan wawancara dengan tokoh-tokoh universitas. Juga rite-rite akademis seperti pengukuhan guru besar dan promosi,” tulisnya (hal. 164). Belakangan hingga sekarang, majalah ini lewat rubrik Album acap mengabarkan penghargaan maupun pengukuhan para sivitas akademika.

Buku ini juga menunjukkan wartawan juga manusia. “Wah, mengurusi wartawan repot,” ujar Eric Samola, Direktur Utama waktu itu. Tempo menyiasatinya dengan menata pendidikan dan penjenjangan yang lebih teratur. Tempo mengenal jenjang calon reporter, M1 (belajar menulis satu halaman), M2 (dua halaman atau lebih dan bisa mengkoordinasi pengumpulan bahan), serta M3 (mampu menulis panjang serta menyunting). Dikenal pula istilah Koordinator Reportase –disingkat KR. Reporter dituntut tak hanya menggarap satu rubrik, tapi juga membantu rubrik lainnya sesuai kebutuhan. Terdengar berat, padahal tidak. Hal ini karena gaya jurnalistik majalah ini bersifat gotong royong (hal. 45).

Pengulangan

Semestinya, bagian 15 Tahun menggali sejarah berdirinya media ini disertai kronologi liputan yang dianggap masterpiece. Segmen 40 Tahun berfokus pada derap nafas era 1990-an, periode bredel, dan seterusnya –misal laporan soal dugaan penggelapan pajak Asian Agri. Namun, laporan unggulan prabedel masih diulas juga pada segmen ini. Misalnya, soal utang Pertamina dan tragedi Tampomas. Beberapa foto yang sama pun terpajang pada kedua segmen: sampul perdana Minarni, Rendra sebagai Oedipus, Kartika Thahir, serta aksi kiper Yudo Hadianto.

Di lain sisi, kita tidak beroleh ulasan tentang karya lainnya, yang tak kalah penting. Misalnya, hasil reportase pandangan mata Amarzan Loebis soal kehidupan tahanan politik di Pulau Buru. Kita kudu merujuk Janet Steele guna mendapatkan cerita di balik berita soal ini (Ibid, hal. 143-164).

Naskah kisah usia 15 tahun –“Akil Balig” menurut H. Mahbub Djunaidi dan waktu itu umur saya baru empat tahun– nampaknya perlu dibiarkan apa adanya tanpa banyak tambahan suntingan. Hal ini supaya pembaca menikmati gaya bahasa dan situasi pada saat itu. Saya sering ketawa mengunyah diksi edisi ini karena teringat pada majalah sepakbola FourFourTwo: jenaka dan mengena. Namun, sebuah –hanya satu– kalimat terakhir soal kiprah mantan penjaga rubrik Hukum, Karni Ilyas, merusaknya: “Karni kini Pemimpin Redaksi TVOne” (hal. 54). Padahal, dalam konteks 1986, belum berdiri satu pun stasiun teve swasta.

Buku ini juga terlalu berat menyorot karya jurnalistik (artikel, fotografi, dan sampul), meski kisah tentang bagian lain juga (sedikit) diulas –sirkulasi, keagenan, percetakan, dewan karyawan dan koperasi, keuangan, sekretariat, serta periklanan. Kiranya lebih afdal jika buku ini juga menampilkan beberapa contoh halaman iklan. Tak mau terjebak sebagai “promosi terselubung”? Toh Wars Within-nya Janet Steele memajang beberapa contoh halaman pariwara jadul (hal. 296-305).

Tiada salahnya juga jika buku sepenting ini menyajikan halaman indeks istilah maupun nama tokoh. Terlepas dari beberapa hal tersebut, buku ini tetap enak dibaca dan perlu. Media lain rasanya harus menorehkan kisah mereka karena sejarah teramat penting untuk dicampakkan.

Goenawan Mohamad beberapa kali mengutip Marx, baik di rubrik Catatan Pinggir maupun pidato peringatan ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen, bahwa manusia yang membuat sejarah. Tapi manusia tak dapat mengendalikan bakal seperti apa sejarah yang mereka ciptakan. Tak ada yang mengira, bahkan para pendiri Tempo sendiri, bahwa media ini bakal berkembang seperti sekarang ini. Dus, tiada yang menyangka jika usia Tempo, kalau pun mesti dipotong empat tahun masa vakum akibat bredel, tetaplah lebih panjang daripada era rezim kekuasaan yang membungkamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s