Percakapan Dua Orang Ayah

Anda akan sepakat bahwa keluarga adalah segalanya.

Jumat malam yang basah. Hujan rintik jatuh di Cisarua. Pukul sepuluh lebih, kami baru berangkat pulang ke Jakarta. Naik “taksi”. Maksudnya, mobil sewaan berplat hitam. Awalnya, mobil sudah siap sejak pukul tiga sore. Kerjaan belum kelar memaksa kami untuk urung berangkat. Untungnya, si sopir, panggil saja Pak Zen, mau menunggu.

Satu jam, dua jam, tiga, empat, hingga…

Jumat malam yang basah. Dan kami semua lelah. Hingga rasanya tak kuat membuat sunyi pecah. Kami semua terdiam. Mungkin mengantuk, mungkin asyik dengan pikiran masing-masing. Kalaupun bercakap, hanya seperlunya. Pak Zen memutar album Agnes Monica. Lagu Paralized sebagai pembuka menemani kami, meski tak bisa seratus persen menghibur –aku sendiri bukan penggemar si biduan.

Setelah menurunkan seorang teman di daerah Citayam, isi mobil tinggal kami berdua: aku dan Pak Zen. Perjalanan lanjut ke Jakarta. Kami ambil jalur Depok. Tinggal lurus saja melewati Margonda, Pasar Minggu, hingga akhirnya Kalibata. Tepatnya, Pengadegan, tempat aku mondok kos.

Sejak itulah, percakapan panjang baru terjadi. Temanya sederhana saja: seputar keluarga. “Anak saya dua tahun. Putri. Dan sekarang istri tengah mengandung empat bulan,” urainya.

“Alhamdulillah, rejeki dong Pak,” sahutku.

“Iya Mas. Rejeki…” timpalnya berat, “meski sebenarnya… kami kurang siap. Tapi… masak sudah menikah menggugurkan anak? Kan malu. Selain itu, juga dosa. Namanya juga diberi. Harus diterima. Kita gak bisa menolak.”

Lantas ia mengisahkan pernikahannya yang kurang direstui keluarga istri. “Istri saya Cina. Saya asli Puncak. Istri saya dikucilkan keluarganya. Terasa gak punya saudara atau siapa-siapa lagi.”

Beban ekonomi serasa berat. Ia kerja serabutan. “Pernah kerja di Malaysia. Sewaktu istri mau melahirkan, saya tak punya uang sepeserpun. Mau ke dokter jelas gak bisa. Akhirnya kami ke dukun. Ternyata dukun tidak bisa mengatasi. Terpaksalah ke bidan. Ternyata mau gak mau harus keluar uang juga…”

“Saya terus terang kepada bidan kalau belum punya uang. Untung Bu Bidan pengertian. Boleh nyicil biaya persalinan. Saya jelas gak bisa membalas jasanya. Sampai sekarang dia saya anggap sebagai saudara. Tapi tetap saja saya gak bisa membalas (kebaikannya).”

Untungnya, ada saja jalan keluar yang tak terduga. “Ada ajakan kerja dari teman. Buat nutup cicilan biaya persalinan. Awalnya kerja hanya tiga hari. Tapi yang ngasih kerjaan pengen diteruskan sampai seminggu. Alhamdulillah…”

“Kalau anak perempuan, biasanya umur segini sedang ceriwis-ceriwisnya ya…” saya menimpali.

“Iya Mas. Lagi suka jajan. Kalau saya pulang, saya usahakan bawa kue. Kalau gak bawa oleh-oleh, ada perasaan bersalah.”

Aku pun teringat pada anak-istri di Yogyakarta sana. Aku tiap pulang juga ingin selalu membawa oleh-oleh. Bentuknya macam-macam. Ada keping DVD film kartun dan flora-fauna; mainan dari bonus beli makanan cepat saji; pakaian (pernah kubelikan seragam Timnas bernama punggung “Okto”); tas (anakku suka berpura-pura berangkat sekolah, menyalami ibunya, bilang “dadah” kayak pamit sekolah, memakai sepatu); dan yang paling utama buku. Dia kini suka mencorat-coret buku tulis, kadang minta digambarkan ikan, ayam, atau hewan lainnya. Aku ingin anakku gemar membaca dan menulis kelak. Kini, Daniyal Yahya, anakku itu, berusia setahun tujuh bulan.

“Istri saya tidak bekerja Mas,” ujarnya, “dan mungkin kalau lihat saya bagaimana bekerja, dia bakal gak tega. Pulang malam-malam begini,” tuturnya ketika kami tiba di Jalan Margonda. Suasana jalan lengang meski tak sepi-senyap.

“Diambil hikmahnya, Pak. Istri di rumah justru bisa merawat total anak.”

“Iya sih.”

“Anak minum ASI?” aku bertanya.

“Iya.”

“ASI memang yang terbaik buat anak, selain hemat.”

“Iya sih. Tapi sekarang berhenti karena sudah umur dua tahun. Lanjutannya cuma Susu Bendera (kental manis). Yang juga saya dan ibunya minum. Tidak bisa tiap hari beli. Paling sekali beli, tiga hari habis. Kadang saya merasa bersalah kenapa gak bisa memberi yang terbaik…” sambungnya lagi, sambil menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya.

“Semuanya dibikin cukup. Untung istri gak merongrong,” dia melanjutkan perbincangan.

Aku pun terngiang pada kondisi keluarga. Aku harus bersyukur diberi pekerjaan tetap. Istri juga berkarya. Meski keadaan juga masih susah, rupanya masih ada yang tak seberuntung kami. Di Yogya, kami belum punya rumah. Kami ngontrak dengan biaya sewa setahun sekitar tujuh juta. Di sini, aku juga ngekos, sebulan hampir enam ratus ribu.

Aku belum bisa pulang rutin tiap minggu. Meski banyak orang yang menyarankan begitu, tapi, ahhh… “sedang nabung,” jawabku berkilah, tiap kali mendapati pertanyaan, “kok gak pulang seminggu sekali saja?”

“Menikah memang membuat kita beda…” aku menimpali.

“Benar Mas. Punya istri, lalu punya anak. Dulu mungkin saya bukan orang yang baik. Saya jadi berubah sejak menikah. Apalagi kalau sudah ada anak. Kalau ribut dengan istri, lihat anak, paling lima menit baikan lagi.”

Saya tak berniat mengorek masa lalunya. Mungkin dia punya sejarah kelam. Tapi aku tak peduli. Dari obrolan yang sekilas saja aku tangkap kesan dia ingin berubah jadi manusia yang lebih baik.

Kami tiba juga di pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami lurus sebentar, mencari pertigaan Perdatam. Kami hendak belok ke kanan.

“Jika lurus, Bapak sampai Pancoran,” ujarku menunjuk jalan.

“Kayaknya saya pernah mengantar orang ke sini. Kalau di Pancoran, belok kanan, masuk tol kan?” dia bertanya.

Aku mengiyakan. Lantas ia bisa lanjut menuju Bogor atau Ciawi.

Jumat larut malam yang basah. Gerimis masih tumpah. Portal kompleks perumahan Polri sudah tertutup. Terpaksa aku turun di mulut jalan. Mobil tak bisa masuk. “Sudah Pak, di sini saja,” tuturku sambil mengulurkan uang ongkos sewa.

“Bukannya tujuh ratus ribu Mas? Saya gak bisa menerima.”

“Sudah, gak apa-apa,” ujarku yang memberi kelebihan dua ratus ribu.

“Terima kasih ya Mas,” tuturnya dengan menjabatku erat. Tampak mukanya girang.

Aku harus berjalan kaki kira-kira dua ratus meter. Sembari membawa beban yang lumayan berat. Namun langkah terasa ringan setelah memetik pencerahan dari buah obrolan kami tadi. Di tengah dingin malam, barusan jiwaku melahap hangat “chicken soup”.

Tiba di kamar kos, sudah pukul setengah satu. Hari sudah berganti Sabtu. Dua hari sudah aku meninggalkan kamar ini. Kurebahkan tubuh ini, kuciumi aroma tubuhku sendiri. Kuurai lelah hingga terbangun di pagi hari. Kuingin merangkai mimpi kumpul bersama Dani dan Umi.

Semoga selalu Kau naungi, damai kami sepanjang hari.

One response to “Percakapan Dua Orang Ayah

  1. Hello family man, what a deep and meaningful conversation ya🙂.
    Btw, santi kiye.. Koncomu sma, ips2 :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s