Menunggu Derby Segitiga Manchester

Musim lalu, ibukota sepakbola Inggris beralih ke Manchester. MU juara Liga dan City pemenang Piala FA. Keduanya berseteru ketat. Tak sampai satu dekade lagi, bisa jadi akan muncul penguasa Manchester baru. City dan United, waspadalah!

OLD TRAFFORD, MINGGU, 23 OKTOBER. Hari terburuk bagi Sir Alex Ferguson, pelatih Setan Merah. Di kandang sendiri, theatre of dreams, Fergie mungkin tak habis pikir, mimpi apa semalam. Pasukannya tertunduk lesu dihajar “tetangga yang berisik” 1-6. Sejarah berulang, setelah 85 tahun. Di tempat yang sama, pada 1926, Setan Merah juga dikubur dengan skor yang sama. Walhasil, City menghadirkan kekalahan pertama musim ini bagi MU; menggeser tetanganya di pucuk klasemen; bertengger dengan selisih lima poin; dan belum pernah kalah sekalipun.

Ini pembalasan telak dari kekalahan menyesakkan laga tirai pembuka (curtain raiser) musim ini. Saat itu, 7 Agustus, di Stadion Wembley, Tim Bulan Biru menguasai babak pertama Community Shield. Skor 2-0 nampaknya jadi bekal kemenangan mereka. Namun, pada babak kedua, tiga gol Setan Merah mempermalukan mereka –dengan skor tipis.

Padahal, di tempat yang sama, di “Katedral Sepakbola” itu, tak lebih dari empat bulan, City membungkam MU pada Semifinal Piala FA, masih dengan skor ketat, 1-0. Peluang MU untuk mengulangi treble musim 1998/1999 pupus sudah (dan itu dikukuhkan dengan keoknya Setan Merah 3-1 oleh Barcelona di Final Liga Champions, di, entah kebetulan atau memang apes di sini, Wembley). City menyongsong Final menyambut Stoke. Akhirnya, Piala mereka rengkuh, trofi pertama sejak 35 tahun lalu ketika mereka terakhir mengangkat Piala Liga.

Februari, derby Manchester tersaji di Old Trafford. Inilah pertandingan kunci yang menentukan langkah keduanya dalam mengarungi Liga yang berakhir dua bulan kemudian. Ketika pertarungan sepertinya berakhir imbang 1-1, Wayne Rooney meledakkan stadion dengan tendangan saltonya. Ada yang berjingkrak-jingkrak. Ada yang menghela nafas lesu sambil memegang kepala.

Betapa sengitnya persaingan mereka, hingga empat perjumpaan terakhir berakhir dengan hasil selang-seling saling mengalahkan. Musim lalu menabalkan, sepakbola Inggris milik Manchester. MU merengkuh titel ke-19, mendepak Liverpool sebagai pemegang gelar terbanyak. City menguasai Piala FA; bertengger di peringkat tiga; menemani Si Merah di tatar Liga Champions.

Keduanya membangun persaingan dengan bahan bakar ambisi yang berkobar, kucuran duit yang jor-joran, serta gengsi kedaerahan.

Bahkan, pada musim 2007/2008, tatkala Manchester Merah mengawinkan gelar Liga Primer dan Liga Champions, Manchester Biru masih bisa bangga. Pelatih kala itu, Sven Goran Eriksson, pelatih asing pertama sepanjang sejarah City, mempecundangi Sir Alex dua kali di Liga.

* * *
MUSABAB SEMUA INI ADALAH KAPITALISME GLOBAL; yang pada dosis tertentu, menjadi memuakkan. Mantan Perdana Menteri Thailand yang eksil karena dituding korupsi, Thaksin Shinawatra, membentuk UK Sports Investment Limited (UKSIL), mengakuisisi sekira 54 juta lembar saham Manchester City pada 2007. Itulah pertama kalinya City melantai di bursa terbuka. Pada Juli, Thaksin mengantongi 75% kepemilikan. Lalu, Thaksin memutuskan de-listing dan mendaftar ulang sebagai entitas anyar. Pada Agustus, kepemilikan Thaksin sudah mencapai 90%.

Hanya setahun, Thaksin mengoper ke konsorsium Abu Dhabi yang dipimpin Syekh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Deal ini dilaporkan bernilai £200 juta. Inilah awal era City bertabur pemain bintang. Dengan gaji mahal mereka berkumpul dan saking banyaknya, rela menghangatkan bangku cadangan. Awalnya Robinho yang diboyong dari Real Madrid dengan nilai £32,5 juta –rekor termahal. Ini sindiran pada tetangganya yang menghadirkan Dimitar Berbatov “hanya” senilai £30 juta.

Lantas pada musim berikutnya, berbondong-bondonglah Garreth Barry, Roque Santa Cruz, Kolo Toure, Emmanuel Adebayor, Joleon Lescott, dan… Carlos Tevez –tandem Rooney yang berpaling ke tetangga sebelah (Alasannya? Gaji lebih tinggi!). Total jendral, dana transfer yang butuh dirogoh mencapai lebih dari £100 juta. Pada Desember, City mendatangkan pelatih Inter Milan Roberto mancini, mengganti Mark Hughes, yang dianggap tak sanggup memenuhi ambisi.

Musim lalu, gerbong eksodus para bintang masih melirik City sebagai destinasi. Ada Jerome Boateng, Edin Dzeko, Yaya –adik Toure, David Silva, Aleksandar Kolarov, James Milner, serta anak bengal Mario Balotelli. Investasi para bintang ini baru melahirkan satu gelar. Yah itu tadi, Piala FA.

Musim ini, rekor transfer kembali pecah dengan datangnya menantu Diego Maradona, Sergio “Kun” Aguero, berbandrol £35 juta. Aguero tak sendiri. Ia ditemani Gael Clichy, Stefan Savic, dan Samir Nasri. Lalu, bergabunglah mantan pemain Manchester Merah, Owen Hargreaves, yang dilepas free transfer karena belitan cidera sepanjang tahun lalu.

Yang paling dirugikan? Rasanya pesaing dari London: Arsenal. Bintang Gudang Peluru tak henti-hentinya dibajak: Adebayor, Kolo Toure, Clichy, dan Nasri. Di samping itu, City dituduh merusak standar harga pemain di bursa transfer. Julukan lainnya, City coba “membeli” gelar.

Namun ongkos semua itu tak hanya biaya transfer dan gaji mahal. Ada ego yang saling berbenturan. Santa Cruz menepi sebagai pemain pinjaman di Blackburn –sekarang di Betis, Liga Spanyol. Balotelli berantem dengan Boateng dan Boateng pindah ke Bayern Munich musim ini. Carlos Tevez gak kerasan karena masalah adaptasi. Adebayor sempat dipinjamkan ke Real Madrid sebelum ke Tottenham Hotspurs. Eh, kita masih belum menyebut Craig Bellamy, Shaun Wright-Phillips, Wayne Bridge, Shay Given, Patrick Vieira, dan sederet pemain lain yang meninggalkan gemerlap City. Lagi pula, siapa sih pemain asli binaan akademi City? Mungkin hanya Micah Richard yang tumbuh menjadi bek tim inti.

Sewaktu berhasil merayu Tevez, City memanaskan tungku permusuhan dengan menggeber baliho kota berwarna biru muda dengan gambar Tevez merentangkan dua tangan merayakan, entah gol atau kemenangan. Tulisannya: “Welcome to Manchester”.

* * *
FASE GUGUR LIGA CHAMPIONS 2009/2010 DIMULAI. Ada duel seru antar-Setan Merah: MU dan AC Milan –julukannya Il Diavolo Rosso yang artinya juga Setan Merah. Yang bikin makin istimewa, David Beckham, eks bintang MU, kembali menjejak Old Trafford, kali ini berbalut seragam Rossoneri.

Laga 10 Maret tahun lalu itu berkesudahan 4-0 untuk MU. Seluruh pendukung girang bukan kepalang. Namun ada penampakan yang lain. Hati mereka masih merah. Tapi syal yang mereka pakai berwarna hijau-kuning emas. Dalam lubuk hati, mereka masih cinta MU. Tapi, mereka muak akan sepak terjang juragan baru klub, keluarga Glazer.

Warna hijau-kuning adalah seragam klasik Newton Heath, cikal bakal MU. Berdiri pada 1878, klub ini baru berganti nama menjadi MU sejak 1902. Mereka lantas menempati Old Trafford sejak 1910. Para fans yang meradang mengisyaratkan klub harus kembali murni seperti sedia kala, dengan mengayun-ayunkan syal hijau-kuning itu.

Yang bikin heboh, Beckham memungut scarf hijau-kuning itu, lalu mengalungkannya di leher. Namun Beckham memilih netral. “Aku memang fan MU. Ketika aku lihat syal itu, aku mengalungkannya karena ini warna tua United. Jujur saja, itu bukan urusanku (akuisisi Glazer). Aku hanya fan klub ini dan akan selalu mendukungnya.”

Kampanye “Love United Hate Glazer” memadati seisi kota. Poster dan stiker dipasang di tembok-tembok dan tiang listrik. Dan itulah yang jadi bahan olokan “si tetangga gaduh”, dengan plesetan slogan “Love Glazer Hate United”.

Kenapa Glazer dibenci? Malcolm Glazer dituding menutup MU dari lantai bursa, dan mengakuisisi 100% saham –secara bertahap, mulai hanya 2,9% saham pada 2003 dan tuntas pada 2005. Biang masalahnya, Glazer mengambil kepemilikan yang mencapai £800 juta itu dengan sumber dana utang. Ia menjerembabkan klub, menanggung utang bunga £60 juta setahun. Saking remuknya keuangan, MU dinilai tak menarik di mata investor. Jika tidak didandani hingga 2017, Glazer harus melepas kepemilikan itu.

Bayangan kebangkrutan dan relegasi ke divisi lebih rendah seperti yang dialami Leeds, meski masih jauh dari kenyataan, bukan tak mungkin terjadi. Itu pula yang melanda Liverpool di bawah George Gillet dan Tom Hicks pada 2007.

* * *
DIBAKAR KEMARAHAN, berduyun-duyunlah suporter Setan Merah yang sakit hati itu mendirikan klub baru: FC United of Manchester. Seolah menolak pola kepemilikan kapitalistik, mereka menerapkan iuran. Awalnya, pada Juli 2005, sekitar 4.000 orang berhasil menggalang dana £100 ribu.

Kemudian, mereka mengusung aturan tiap orang menyetor £12 saban tahun. Kalau anak-anak, cukup £3. Satu orang hanya punya satu lembar saham dan satu hak suara. Direktur klub akan dipilih secara demokratis. Klub ditetapkan sebagai organisasi nonprofit. Komersialisme adalah haram. Klub boleh menerima sponsorship, tapi tak boleh mencantumkan logo sponsor pada seragam klub. Inikah alternatif pengelolaan sebuah klub yang lebih fair? Dari, oleh, dan untuk fan?

Pada November 2006, pada Rapat Umum Tahunan, klub menyodorkan proposal jangka enam tahun. Memenangi promosi tiga tingkat berturut-turut; menarik 5.000 suporter per gim kandang pada 2009; membangun stadion sendiri dengan kapasitas mencapai 10.000 penonton pada 2012; mendirikan fasilitas latihan sendiri pada 2009; mendirikan tim cewek untuk musim 2007/2008.

Awal berdiri, klub membuka seleksi pemain yang diikuti 900 atlet. Mereka disaring menjadi 200 orang dan terpilih hanya 17 pemain. Pertandingan perdana mereka adalah persahabatan melawan Leigh Railway Mechanics Institute dengan skor kacamata. Saat ini mereka harus berbagi Stadion Gigg Lane milik Bury, klub asal Manchester lainnya yang bertanding di level ketiga, Leage One (Liga ini di bawah Championship dan Liga Primer).

Namun, jangan remehkan kekuatan mereka. Memangnya seberapa hebatkah? Mereka harus merangkak dari kasta kesepuluh piramida kompetisi sepakbola Inggris pada musim 2005/2006. United of Manchester kudu mengarungi North West County Football League Division Two. Dari 19 klub yang berpartisipasi, klub ini langsung juara. Musim selanjutnya, di kompetisi North West County Football League Division One, juga langsung jadi jawara –diikuti 22 klub. Selanjutnya, di level Northern Premier Division One North, mereka merebut posisi kedua. Memenangi play-off, mereka berhak naik ke Northern Premier League Premier Division. Empat musim berturut-turut mereka masih di tingkat ketujuh kompetisi Inggris. Musim lalu, mereka hampir saja naik kelas jika memenangi play-off setelah meraih posisi keempat. Musim ini, sementara mereka menduduki ranking ketujuh.

Pada babak pertama Piala FA musim lalu, mereka menjungkalkan Rochdale 2-3 di kandang lawan pada laga rematch. Rochdale sendiri penghuni League One, empat tingkat di atas kompetisi yang diikuti United of Manchester. Tak heran jika klub merah baru ini dinobatkan sebagai Non-League Club of the Year pada 2006.

Wahai klub Manchester kaya, awas! Jangan jumawa! Tunggulah satu masa yang akan menghadirkan duel sengit segitiga. Bersiaplah menyambut nama manajer Karl Marginson. Mungkin, bukan?

Sumber: FourFourTwo, BBC Sports, Wikipedia, The Telegraph

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s