Resensi Film “Furry Vengeance”: Pesan Lestarikan Alam dengan Cara Kocak

Brendan Fraser dan primadona kawakan Brooke Shields menyuguhkan tontonan segar. Petuah penting mereka kabarkan: jangan merusak harmoni alam. Film komedi yang cocok untuk keluarga.

Gak ada yang salah dengan judul film ini. Ini bukan soal balas dendam untuk menuntaskan amarah (fury). Ini tentang sesuatu yang berbulu (furry) yang hendak balas dendam. Lain kata: para binatang marah besar pada manusia yang merampas tempat hidup mereka.

Jagoan film berseri The Mummy Brendan Fraser tidak sedang berlaga. Soalnya, dia banting setir berlaku konyol. Lupakan pula bentuk badan atletisnya. Perutnya tak lagi rata. Buncit, umumnya pria yang sudah berkarir mapan. Yah, dia memerankan Dan Sanders, kontraktor properti yang tengah menikmati kesuksesan bekerja di Lyman Enterprise.

Dari Chicago, Dan memboyong Tammy (Brooke Shields, si janda Andre Agassi yang tetap terlihat cantik) dan anak semata wayang Tyler (Matt Prokop) ke Rocky Springs. Itu daerah pinggir hutan yang belum terjamah. Udara masih segar dan nihil polusi. Bagi pengembang seperti Neal Lyman, bos Dan, kawasan ini menarik untuk disulap jadi kompleks pemukiman dengan dalih eco-development. Padahal, semua hanya akal-akalan Lyman yang tamak dan sombong.

“Kita orang baik-baik kok. Kita kan ramah lingkungan (green),” ujar Dan kepada Tyler.

“Warna duit juga hijau,” jawab si anak.

Rencana pengembangan berlabel lingkungan abal-abal itu diendus seekor rakun. Kontan saja si rakun mengerahkan kawanan hewan untuk menghambat proyek itu. Sasarannya? Jelas Dan, si tangan kanan Lyman. Sejak itu, saban hari Dan dikerjai oleh berbagai jenis binatang. Ada burung gagak yang mematuk-matuk jendela di malam hari sehingga ia susah ngorok; ada gerombolan sigung yang menyusup ke dalam mobil Dan lantas menguarkan bau menyengat; ada burung nazar yang ngamuk mengejar-ngejar dia; ada beruang yang menggiringnya masuk ke kotak toilet lalu mengguling-gulingnya.

Semuanya berjalan kocak.

Nampaknya film ini dirancang untuk tontonan keluarga. Tak ada umpatan yang terumbar. Tak ada pihak yang kalah terbunuh. Tak ada baku hantam yang memuncratkan darah. Justru Fraser sukses melakoni peran baru. Dia konyol abis. Bahkan sejumlah adegan tak terpakai (deleted scene) jauh lebih mengocok perut. Misalnya, Dan digotong para tukang anak buahnya setelah terkena gas sigung. Mereka tak tahan akan bau busuk. Di muka rumah, Dan dengan merengek-rengek kayak anak kecil, satu per satu melucuti pakaiannya sendiri yang sudah tercemar itu. Jas. Dasi. Kemeja. Kaus dalam. Celana. Celana dalam. Tapi kaus kaki tidak. Telanjang (bagian pantat disensor dengan kotak hitam), ia membuka pintu mau masuk rumah. Ia bersirobok dengan seorang tukang wanita, saling menghalangi jalan jadinya.

Akhir cerita, Lyman berhasil diusir oleh kawanan binatang itu, serta Dan berbalik sadar menjadi pelestari lingkungan. Keluarga Dan serta para hewan hidup berdampingan dengan tenang.

2 responses to “Resensi Film “Furry Vengeance”: Pesan Lestarikan Alam dengan Cara Kocak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s