Resensi Film “Brooklyn’s Finest”: Wajah Retak Aparat

Ethan Hawke dan aktor gaek Richard Gere coba memaparkan kehidupan para polisi. Selalu ada dua pilihan. Menjadi aparat yang bertanggung jawab, atau jadi perangkat negara yang kotor.

Ini Brooklyn. Ini perang. Ini distrik dengan angka kejahatan tertinggi dari wilayah dengan tingkat kiminalitas tertinggi. Tak dapat dibayangkan tekanan seberat apa yang diterima oleh hamba hukum yang ditugaskan di sini.

Film ini berkisah soal tiga polisi yang menjalani hidupnya secara terpisah meskipun bertugas di korps yang sama. Mereka hanya saling berjumpa secara sekilas tanpa mengenal satu sama lain.

Adalah Eddie Dugan (Richard Gere), polisi tertua yang tinggal menghitung hari. Tujuh hari lagi dia pensiun. Dia bertugas sebagai polisi patroli. Eddie benar-benar Mr. Play-it-safe. Dia tak mau ambil risiko. Akibatnya: tutup mata. Dia seolah membiarkan kejahatan terjadi di sekitar wilayah tugasnya seakan-akan semuanya berjalan wajar. Apesnya, selama beberapa hari jelang purna tugas, ia dapat mandat memandu polisi baru. Dia diharapkan jadi panutan. “Tapi aku bukan seorang guru untuk siapapun. Aku bukan role model,” tuturnya mengelak. “Hari ini kau lihat pasangan cekcok. Besok kau lihat pemerkosaan. Berikutnya pembunuhan,” nasihatnya kepada seorang kadet baru.

Malam setelah tugas, untuk mengurai stres, dia melepas birahi bareng Chantel (Shannon Kane), pelacur langganannya, yang juga melayani polisi lainnya.

Adalah Rosario “Sal” (Ethan Hawke), salah satu pasukan buru sergap narkoba. Sayang, hidupnya ruwet. Dia punya dua orang anak laki-laki dan dua orang putri ditambah seorang istri yang tengah mengandung anak kembar. Keluarga besar itu hidup di rumah yang sumpek, dekat rel kereta yang tentu saja bikin bising. Dus, debu kayu perabot rumah memperparah asma sang istri. Sal hilang akal memburu duit demi memindahkan keluarganya mencari tempat tinggal yang lebih layak.

Sal bagai iblis bermuka malaikat atau sebaliknya. Di luar rumah, tak segan dia membunuhi orang untuk dia ambil uangnya. Tiap kali operasi penyergapan, yang dia tuju bukan penggeledahan obat terlarang melainkan adakah uang haram yang tercecer di lokasi untuk ditilap? “Kita polisi, masak harus hidup dari drug money?” tutur Ronnie, sobat kentalnya. Namun, sekembalinya di tengah keluarga, dia adalah suami dan ayah yang baik. Tampak ia sebagai pemeluk agama yang taat yang mengajaran anak-anaknya berdoa setiap saat. Ia juga menuruti keinginan anak-anaknya. Misalnya saja, membelikan kura-kura peliharaan. Sal juga marah besar menonjok temannya ketika mengumbar kata-kata rasis di depan anaknya. Padahal, Sal sendiri suka obral umpatan dan kata-kata kotor –meski tidak di depan keluarga.

Adalah Clarence alias Tango (Don Cheadle), intel yang menyusup ke jaringan pengedar narkoba. Sayangnya, dia ditanam terlalu lama. Akibatnya, indepedensinya tergerus. Dia sudah terlalu akrab dengan pentolan buronan, Casanova Philips alias Caz (Wesley Snipes). Dia pengen keluar dari penyamaran ini. Dia ingin kerja di kantor saja. “Kasih aku meja, kemeja, dan dasi,” tuntutnya.

Sewaktu disodori tugas menjebak Caz, “dia pernah menyelamatkan nyawaku, bung,” tuturnya kepada atasan. Harusnya Tango ditarik dan digantikan orang baru. Malang, tugas harus jalan terus. Keinginan orang lapangan semacam Tango susah dimengerti petinggi bagai membentur tembok tebal birokrasi. Belum lagi masalah pribadi, dia kudu mengurus proses perceraian dengan Alisa (hanya disebut-sebut dalam dialog, tak ada yang memerankan tokoh istri).

Di ujung cerita, Sal gelap mata merampok rumah bekas gerebekan. Ia mengais-ngais kira-kira di mana para bromocorah itu menyimpan uang haram. Dia tembaki semua isi rumah. Ia menemukan bergepok-gepok duit di dalam mesin cuci. Tatkala sibuk mengantonginya, ia tertembak dari belakang oleh seorang lain anggota geng yang dia bantai itu.

Tango juga dirudung kalap. Ia hendak menghabisi Red, anggota satu geng yang membunuh Caz. Dia memang berhasil membuat tamat Red. Namun, usai itu, dari belakang, ia kena tembak Ronnie yang salah mengira Tango juga satu dari penjahat itu.

Sementara itu, Eddie, yang selama berkarir jadi polisi patroli tak pernah menjalani operasi berbahaya dan selalu menenteng pistol kosong, justru menghadapi horor tepat di hari lengsernya. Malam itu, dia tergerak untuk membebaskan sekelompok gadis yang terjerumus dalam perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur. Mungkin baru sekali ini dia memuntahkan peluru tembakan. Mungkin baru kali ini dia menyergap penjahat. Justru setelah baru saja ia pensiun jadi polisi. Rupanya, apapun kondisi dan risikonya, aparat tak dapat menghindar dari tanggung jawab jabatan yang kadung melekat.

Film ini menyodorkan nilai tersendiri bagi saya yang saat ini jadi petugas pajak. Apapun profesi Anda, apapun tugas dan peran Anda, jika Anda adalah aparat Negara, selalu ada pilihan. Mau jadi aparat bersih atau busuk? Anda tak bakal mampu menjawabnya dengan otak, tetapi harus dengan nurani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s