Momen-Momen Ajaib di Perayaan Ultah AJI

Goenawan Mohamad terpikir “mengubah” nama organisasi yang dia bentuk enam belas tahun lalu; Wakil Presiden Boediono begitu visioner memiliki pandangan enam tahun ke depan; dua orang bermarga Batak tak tahu arti judul lagu daerah mereka; mantan Pemimpin Redaksi SCTV Rossiana Silalahi tak cukup tenar di mata aktor Jay Wijayanto; pakar teknologi informasi Onno W Purbo baru mengerti “wajah asli” wartawan.

“Dirgahayu AJI, dirgahayu Indonesia, dan jayalah kebebasan pers,” tutur Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Nezar Patria memungkasi kata sambutannya dalam acara perayaan organisasi wartawan itu yang keenam belas, Jumat lalu (6/8). Gedung Perfilman Usmar Ismail di bilangan Kuningan waktu itu riuh-meriah, tak peduli waktu itu adalah malam yang hujan –dan tentu saja macet.

Usai Nezar membuka acara, lahirlah sejumlah kejadian unik.

Goenawan Mohamad, wartawan senior mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, “pemilik” rubrik “Catatan Pinggir” di majalah itu, dalam situs AJI tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi ini. Entah mengapa, pada saat mengawali pidatonya, Mas Goen menyebut kepanjangan AJI, “Aliansi Jurnalis Indonesia.” Untung cuma sekali. Selanjutnya ia fasih memakai kata “independen”. Selebihnya, lazimnya ia merangkai kata, orasi malam itu sungguh memukau.

Wakil Presiden Boediono mengaku sebagai pengagum Mas Goen. Orang yang saya kagumi lantaran sikap rendah hatinya itu bilang dalam pidato “pengarahan”, menjadi tamu undangan malam itu merupakan, “kehormatan besar bagi saya.”

Beliau mengumandangkan komitmen penting. “Pemerintahan SBY-Boediono tak setitik pun bermaksud merenggut kebebasan pers.” Lebih jauh dari itu, dia mengklaim bahwa pemerintahan saat ini serta AJI adalah bersaudara. Siapa ibu mereka? “Pemerintahan kita saat ini bersama AJI adalah anak kandung kebebasan berpendapat (yang kita perjuangkan di era Orde Baru).”

Pada kertas putih besar yang telah disediakan panitia di pintu depan ruang acara, pria bersahaja itu menorehkan pesan dengan tinta spidol hitam. Telihat dari tulisan itu, beliau benar-benar futuristik.

“Selamat Ulang Tahun ke-16. Move on but never part with your conscience and your love for the country.

 Jakarta, 6 Agustus 2016

 ttd

 Boediono”

Para pengunjung disuguhi paduan suara apik The Indonesia Children Choir dan The Indonesia Choir yang dipimpin oleh Jay Wijayanto, aktor pemeran Bang Zaitun dalam film sekuel “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”. The Indonesia Children Choir, yang malam itu terdiri dari 38 penyanyi, berseragam batik warna hijau mint kayak jersey tandang Barcelona. Yah, anak-anak itu memang (terlihat dan terdengar) segar.

Di sela-sela jeda lagu, Jay bersemangat melempar kuis. Usai paduan suara orang dewasa memainkan tembang daerah asal Karo “Sin Sin Sibatumanikam”, Jay menantang penonton siapa yang tahu apa arti judul lagu tersebut.

Para penonton meyorongkan sebuah nama dengan berteriak-teriak, “Rossi… Rossi… Rossi…”

Itu bukan pembalap MotoGP. Yang dimaksud adalah pembawa berita kondang mantan pemimpin redaksi SCTV, Rossiana Silalahi yang duduk di deretan paling depan bersama mantan anggota Dewan Pers, Abdullah Alamudi.

Jay menyahut. “Rossi… marga Anda apa?”

Praktisi hukum terkemuka Todung Mulya Lubis, yang duduk persis di belakang saya dan hanya terpisah isle (jalan sela bagi penonton yang hendak lewat), berseloroh kepada teman sebelahnya, wartawan senior Aboeprijadi Santoso, “Aku aja gak tahu.”

Jika Anda orang Batak, apalagi Karo yang empunya lagu tersebut, tidak mengerti apa arti judulnya, tak perlu tersinggung atau malu. Pasalnya, “memang tidak ada artinya,” ungkap Jay. Itu sama saja dengan ungkapan “cublak-cublak suweng” atawa “sirpong dele gopong”. Jadi, kita nikmati saja lirik-lirik lagu daerah kita yang sangat kaya ragam.

Sepeninggal Bapak Boediono, acara tetap lanjut dan suasana jadi gaduh (tapi tidak rusuh). Celetukan dan selorohan lalu-lalang. Pada saat penyerahan “Tasrif Award”, penghargaan bagi insan non-wartawan yang menyokong hak publik memperoleh informasi, Onno W Purbo tak dapat menutupi rasa gembiranya –sangat ceria, bahkan. “Ini pemberian award yang paling berkesan. Saya melihat bentuk asli para jurnalis. Biasanya jaim-jaim waktu wawancara,” tuturnya sambil terkekeh. Pakar teknologi informasi ini dianggap berjasa besar bagi rakyat kecil di pelosok jadi melek internet.

Rasanya bukan cuma Onno yang punya kesan terhadap malam itu. Bagi saya pribadi, Jumat malam itu memang istimewa. Selamat ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen. Kawallah selalu negeri ini menuju masyarakat yang cerdas dengan sajian informasi publik yang berbobot yang dilahirkan oleh jurnalis yang bermutu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s