Resensi Film The Runaways: Legenda yang Terlalu Cepat Pergi

Dua bintang The Twilight Saga, Kristen Stewart dan Dakota Fanning, menghidupkan kembali The Runaways, band legendaris all-girls beraliran cadas yang hanya berumur empat tahun pada dekade tujuh puluhan.

Kalau saja film ini merupakan salah satu sekuel dari tetralogi Twilight, Stephenie Meyer, si penulis novel, kudu merevisi drastis jalan cerita The Breaking Dawn, seri terakhirnya, sebelum diangkat ke layar perak.

Nampaknya Charlie Swan akan menjebloskan anak gadisnya sendiri ke dalam tahanan. Carlisle Cullen murka pada putranya karena salah memilih calon mantu. Edward Cullen menjambak rambutnya sendiri lantaran baru sadar bahwa kekasihnya cewek badung yang doyan obat, mengumpat, mabuk, ngerokok, dan biseks. Alice, saudara angkat Edward, akan menggigit Isabella Swan, si gadis yang dimaksud. Bukan untuk dijadikan vampir agar bergabung dengan klan mereka, melainkan memang untuk dia mangsa. Sementara itu, Jacob Black, si manusia serigala, akan melolong-lolong latihan vokal supaya lolos audisi band rock. Di lain sisi, petinggi Volturi akan menyuruh Jane menggiring penggemar fanatiknya untuk dilahap beramai-ramai karena darah mereka bakal juicy.

Untungnya Nona Stewart tidak sedang memerankan Bella. Dan Fanning bukanlah Jane. Kali ini Kristen melakoni Joan Jett, rhythm-gutarist cum backing-vocal sedangkan Dakota menjadi Cherie Currie, sang vokalis dan kibordis –dalam film itu tak pernah satu kali pun dia memegang kibor. Mereka menggawangi The Runaways, band musik rock yang seluruh anggotanya cewek. Kelompok ini tenar pada tahun 1970-an. Sayang, mereka hanya sempat hidup setengah windu, 1975-1979. “Ini proyek mimpi besar yang gagal,” komentar Kim Fowley, produser edan yang sukses membesarkan KISS. Joan Jett asli jadi produser eksekutif film ini.

Film ini diangkat dari buku yang ditulis oleh Cherie, “Neon Angels”, judul yang sama dari salah satu lagu mereka. Buku ini berkisah tentang pengalaman berharga si empunya yang sempat bergelut mencicipi dunia obat-obatan. Pada dasarnya Cherie adalah pemberontak. Ia besar dari keluarga broken home. Ibunya, yang diperankan sekilas oleh aktris gaek Tatum O’Neal, kawin lagi dan meninggalkan anak-anaknya ke Indonesia hidup bersama suami baru. Rasanya ia tak kuat melakoni sosok pemain band yang akrab dengan obat-obatan dan seks bebas. Muak, ia ingin berhenti dari semua ini. Sekali lagi dia berontak terhadap dunia kelam yang dia masuki sendiri. “Aku ingin hidupku kembali,” katanya. Itulah salah satu pemicu mandeknya langkah The Runaways.

Joan Jett tak kalah bengalnya. Dia bersama Sandy West, drummer, menyusup ke dalam kamar band lain yang menyabotase sesi latihan mereka untuk… mengencingi gitar lantas ngacir sambil terbahak-bahak.

Sayang, karakter lainnya kurang menonjol dan terkesan numpang lewat. Sengaja, film ini memang berfokus pada hubungan emosional nan erat antara Joan dan Cherie. Kalau pun ada yang berhasil mencuri perhatian, dia adalah Kim Fowley (diperankan Michael Shannon) yang mengumbar kata-kata kotor dan berlagak menjengkelkan.

Jujur saja, tak satupun lagu mereka saya kenal. Mungkin lantaran saya belum lahir pada masa itu. Saya hanya sayup-sayup mengenal lagu “I Love Rock n’ Roll” yang dilambungkan oleh Joan Jett and The Blackhearts, proyek baru Joan usai bubarnya The Runaways. Ironisnya, tembang ini nangkring di posisi atas tangga lagu setelah ditolak oleh 23 label sehingga Joan Jett mengumandangkannya di bawah bendera rekamannya sendiri, Blackheart Records.

Sebagian besar soundtracks film ini diambil dari nomor jagoan mereka, di antaranya “Cherry Bomb”, “Queens of Noise”, “School Days”, serta tembang milik Joan Jett and The Blackhearts macam “I Love Rock ‘ Roll”, “Bad Reputation”, serta “Crimson and Clover”. Hebatnya, yang menyanyi adalah Kristen maupun Dakota sendiri.

Setelah gulung tikar, para personel tercerai-berai dan jalan sendiri-sendiri. Sandy West, si penggebuk drum meninggal pada 2006. Joan Jett di usianya yang lebih dari setengah abad, tetap bahenol dan sibuk menggelar tur internasional. Dia termasuk salah satu dari dua wanita yang nyempil di jajaran 100 besar gitaris sepanjang masa. Cherie banting setir jadi aktris sambil menyanyi solo lantas menggandeng kakak kandungnya, Marie Currie, untuk berduet. Belakangan, dia menjadi pematung dengan alat pahat gergaji mesin (chainsaw artist). Untuk menebus dosa masa lalu, dia menggeluti aktivitas pendampingan bagi para remaja yang terjerumus ke dalam dunia kelam obat-obat terlarang, hingga sekarang. Lita Ford, si lead-guitarist, menikahi James “Jim” Gillett, pemain gitar grup glam-rock Nitro. Lita pernah berduet bareng Ozzy Osbourne, mantan pentolan Black Sabbathband dedengkot heavy metal.

Meski hanya sekilas bertahan, The Runaways tetaplah sebuah nama besar yang menghiasi dunia musik rock. Bukan lantaran tampang cantik mereka, melainkan kualitas musikalitas yang beringas. Pada zaman Youtube sekarang ini, jika belum sempat mengenal mereka, silakan buktikan sendiri dengan menyimak penampilan mereka. Saya jamin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s