Amuk

(Cerpen oleh Yacob Yahya)

MALAM HENING. Larut. Lelaki itu tiba-tiba jenggirat, terbangun.

Wanita yang tertidur di sisinya hanya mengeluh lirih, melanjutkan lelapnya. Masih ada sisa keringat di kening halusnya nan mengkilat. Rambutnya yang hitam panjang terurai agak berantakan. Tampak cantik, malah.

Pria itu was-was. Risau. Ia tolah-toleh. Serasa dari tadi ada yang tak beres. Ia bangkit. Mencampakkan selimut yang membalut. Ia kecup jidat istrinya.

Sekali lagi perempuan itu mengeluh pelan, tetap terpejam. Tangannya coba meraih-raih ke samping, mencari tubuh si suami, tapi hanya selimut yang dia dapat. Satu selimut besar yang mereka pakai berdua. Jadinya agak kusut. Resam tubuh wanita itu terpahat tipis dari balik kemul yang membungkusnya. Ia damai dalam tidurnya.

Namun suaminya tidak. Dengan berat ia pandangi belahan jiwanya yang terperangkap lelap. Tanpa senyum. Semata-mata memandang. Lantas ia tengok ke pintu kamar. Ia keluar, tetap bertelanjang dada. Baju tak ia hiraukan, masih teronggok di samping pakaian istrinya, di bawah ranjang.

Di luar benar-benar sepi. Pria itu tetap berdiri. Tak ia sadari, di belakangnya satu sosok mengendap-ngendap. Sempurna tanpa suara, seperti laba-laba yang merayap di atas jaringnya.

“…” suaranya tercekat, tak mampu keluar, ketika ia rasakan genggaman mantap di pundaknya dari belakang. Entah memang ia sengaja meredam kagetnya agar istrinya tak terbangun, atau karena memang keterkejutan yang terlalu tiba-tiba. Pinggangnya pun merasakan tertempel suatu benda. Rupanya itu tangan tergenggam dari seseorang –si pengendap itu tadi.

“Untung bukan keris, eh. Masih utuh ginjalmu,” hardik si pengendap.

Pria itu masih tertahan, tak bisa bersuara. Balik badan, ia menatap lawan bicara dengan mulut ternganga. Lamat-lamat ia menguasai diri, mencoba tenang. Mulut kembali terkatup, sorot mata tajam.

Si pengendap hanya menyeringai.

“Cantik…” si penyusup berbisik menoleh memandang wanita yang lelap tergolek.

“Dasar keparat tua. Beruntung nian punya istri semolek dia. Sayang kemujuranmu harus berakhir hari ini. Aku pernah melihat betisnya –yang bunting padi itu, wow, berkilau memancarkan cahaya. Pria mana yang tak berdesir darahnya.”

“Selama ini kau tak tahu. Dia sebenarnya tak punya rasa cinta setitik pun di hatinya untukmu. Dia pernah bilang, ‘kalau mau bersamaku, sigkirkan dulu suamiku,’ yah inilah saatnya.”

Tamu tak diundang itu mencabut sebilah keris dari balik punggungnya. Ia pandangi senjata itu dengan takjub. “Benda inilah yang bakal menamatkan nasibmu. Empu Gandring, pembuatnya sudah duluan dikirimnya ke alam baka. Keris ini… keris ini akan membawaku ke kejayaan…”

Lawan bicara terkesiap. Hanya mulut ternganga, suara tercekat. Tersirat rasa ngeri. Si pencabut keris menyarungkan kembali senjata yang ia pamerkan dengan hati-hati.

“Cepat atau lambat pemberontakan akan terjadi, wahai Tunggul Ametung. Kami rakyat jelata sudah cukup menanggung penderitaan. Kau hanyalah penguasa kecil yang selalu menjilat ketiak raja lalim.”

“Kau hanya seorang akuwu. Akuwu Tumapel. Tapi lagakmu lebih raja daripada seorang raja. Kau menghisap kami dengan berderet upeti dan pajak yang demikian berat. Hanya untuk memuaskan penguasa. Ini tak masuk akal. Kau sendiri sebenarnya tertindas. Tapi kau lampiaskan keterjajahanmu itu dengan menindas rakyat. Sangat memuakkan.”

“Tumapel dari hari ke hari tak pernah makmur di bawah kekuasaanmu. Sudah saatnya rakyat berontak. Ini tinggal soal waktu. Mereka hanya butuh sesosok yang berani. Yah, siapa lagi kalau bukan aku: Ken Arok.”

“Rakyat sudah kau hisap sedemikian rupa sehingga sudah tak punya apa-apa kecuali rasa takut. Yang mereka butuhkan adalah ambisi. Ambisi untuk berkuasa atas nasibnya sendiri. Di sisi lain sebenarnya kekuasaanmu sudah rapuh digerogoti rayap korupsi. Kau hanya hidup bermewah-mewahan. Punya selir banyak. Anak haram juga banyak. Suka pesta doyan jamuan. Apa yang kau bisa hanya menebar ketakutan supaya mereka tak melawan.”

“Ini takdir. Yah, ini kehendak Dewata. Siapa yang menguasai masa lalu akan menguasai masa depan. Siapa yang berkuasa kini adalah penguasa di masa lalu. Kekuasaan memang harus direbut!”

Tunggul Ametung tak punya kesempatan menyela.

“Seorang penguasa adalah pemimpin. Dan pemimpin pada dasarnya adalah seorang pemimpi. Aku punya mimpi besar. Sangat besar hingga orang buta pun bisa melihatnya. Tak cukup Tumapel. Tumapel hanyalah langkah kecil awal dari sebuah langkah besar. Jika Tumapel berhasil kukuasai, selanjutnya adalah Singosari.”

“Bukan berarti kau tak punya andil untuk mewujudkan mimpi mulia itu. Kau bisa ambil bagian dengan meletakkan jabatan dan menyerahkannya kepada yang pantas. Itu jika kau punya watak seorang negarawan.”

“Kabut ketakutan sayangnya sudah terlalu pekat memadati otak dan benak kami. Kau selalu kumandangkan mitos bahwa wong cilik tak pernah bisa merebut takhta. Aku, rakyat jelata, akan menumpas keturunan darah biru yang congkak dan mendirikan dinasti baru. Di alam baka sana, kau bakal tahu maksud ucapanku. Kelak Singosari akan jadi kerajaan besar yang disegani lawan. Namanya akan bergaung berapa abad kemudian.”

“Hai, Tunggul. Seorang ksatria harus tahu diri kapan saatnya mundur. Inilah waktunya kau menarik langkah karena sudah terlalu bangkotan untuk jungkir-balik mengatur Tumapel. Kekuasaan tiada akhir sama dengan tirani. Kau hanya melayani raja tiran dan tanpa sadar ikut-ikutan mau jadi tiran. Padahal sebenarnya kau tak mampu. Tulangmu sudah linu. Jangan dipaksa, bakal tambah ngilu. Makanya, sudah saatnya kau harus… kau harus… harus… apa yah (setengah berbisik)? Kau… harus…”

“Ah bosen!”
“Mbulat-mbulet mbulat-mbulet…” (Berputar-putar melulu…)
“Huuu… payah…”
“Kapan perangnya?”
“Kacang! Kakehan cangkem!” (Banyak bicara!)
“Banyak cingcong…”
“Ra mutu!” (Tidak bermutu!)
“Rugi bayar karcis…”
“Ditunggu-tunggu gak berantem juga…”
Para penonton mulai protes. Ribut.

Ken Arok coba menguasai panggung, namun ia harus menguasai diri sendiri terlebih dahulu. Ia berusaha mengusir rasa gelagapan dihardik orang banyak. Belum tuntas gugupnya surut, penonton yang sudah kadung tak sabar tanpa diketahui siapa yang memulai dan seolah-olah otomatis dan tak bisa dijelaskan, sudah melempari para pemain dengan berbagai benda. Apa yang dapat diraih mereka empaskan. Pertama-tama kacang. Lalu cemilan lainnya. Ada penonton –paling depan– yang merasa sayang rokoknya tinggal sehisap menyedot dalam-dalam asap tembakau terakhirnya sebelum ia melontarkan puntung rokoknya ke arah panggung. Tunggul Ametung kaget tersundut percikan bara. Kursi mulai berhamburan. Botol Aqua. Sandal jepit. Sepatu. Sobekan karcis. Togel. Topi. Kopi. Ikat pinggang. Batu. Jam tangan (tak jadi, sayang terlalu mahal).

“Serbu…”
“Sikat!”
“Ayooo…”

Tak puas, mereka merangsek melompat ke atas panggung. Layar diturunkan paksa, robek jadinya. Tembok dan tiang tiruan roboh. Ada penonton yang menjarah pohon plastik. Ada yang cengengesan mengenakan gelang lengan Ken Arok yang tercecer.

Ken Dedes, yang dari tadi dapat peran (pura-pura) tidur, bangun menjerit-jerit. Lari menyere-nyeret selimut. Jatuh. Ia tanggalkan pembalut tubuh yang menyusahkan geraknya itu, tak peduli, ngacir telanjang ke balik panggung –dengan masih meronta-ronta.

Buk…

“Ente kagak bisa berantem? Gini nih caranya,” ujar penonton yang gemas pada Ken Arok. Arok sebenarnya tak mau pasrah. Ia hendak melawan, mencabut keris (mainan) dari balik punggungnya. Apes, terlanjur dijarah. Yang ada hanya kertas gulungan skrip mirip tongkat kecil, yang ia simpan kalau-kalau lupa dialog.

“Dari tadi kek… ngoceh mulu…” sahut penonton lainnya.

Des…

Tunggul Ametung yang dari tadi cuma terpaku jadi larut dalam suasana. Entah karena tidak suka pada lawan mainnya yang petentengan, atau karena ingin membalas “takdir sejarah” tak rela tokoh yang ia perankan tewas di tangan orang serakah, Tunggul ikut-ikutan menempeleng Arok. Plak.

“Ampun… ampun… am…” Belum tuntas Arok mengiba, bogem selanjutnya sudah terlanjur mendarat di perutnya.

Rupanya, ada juga penonton yang saling hantam. Mereka rupanya dua kelompok pemuda beda kampung yang sudah sekian lama menunggu peluang untuk tawuran. Gara-garanya sepele: ada pemuda dari masing-masing kubu naksir cewek yang sama –padahal belum tentu si gadis menaruh hati pada salah satu dari mereka. Mereka seakan-akan menjiwai dan tersedot masuk ke dalam cerita cikal-bakal berdirinya Singosari yang bermula dari perebutan Dedes dari tangan Tunggul Ametung oleh Arok.

Sebelum situasi terlanjur makin kacau, (seperti biasanya), menyeruaklah sepasukan satpam yang datang terlambat mengamankan suasana. Peluit menyalak. “Priiittt…!” Satpam tua tak mau kalah pengen menyemprit, rupanya salah meniup pisang goreng yang dia genggam.

Uiuiuiuiuiuiuiuiui… sirine megacot (baca: megaphone) melengking.

Tenaga pengaman yang berusia muda, bertubuh tegap dan bersikap sigap, berhasil menciduk beberapa perusuh. Sisanya, masih sebagian besar penonton, tetap konsisten bikin onar.

“Sodara-sodara harap tenang. Tenang… tenang…” teriak sutradara sambil kerepotan menyalakan TOA yang ditenteng pentolan satpam.

Tidak digubris, ia meningkatkan ancaman, “Diammmm… semuanyaaa…” kehendaknya sih, suara keluar lantang dan kereng. Namun, perpaduan antara batere megaphone yang ngadat dan nyali yang keburu ciut bikin suaranya kayak bebek megap-megap.

Ajaibnya, kericuhan mandek. Semua mematung kaku. Dan lamat-lamat badan lemas terurai. Penonton yang terpotong aksinya meletakkan barang yang siap mereka lempar atau banting atau pukulkan… atau curi.

“Saudara-saudara sekalian, kita sudah dewasa. Kita hidup di tengah masyarakat. Enggak sendirian. Sudah barang tentu kita meletakkan kepentingan bersama daripada keuntungan individu atau golongan,” kayak guru pelajaran kewarganegaraan, sutradara mulai berpidato.

“Marilah kita bertindak sesuai peranan. Yang nonton silakan nonton. Jangan ikut bermain. Berilah kesempatan para pemain mengolah aktingnya. Perkenalkan, saya sutradaranya, yang bertanggung jawab atas suksesnya pementasan ini. Aktor dan aktris yang manggung semuanya profesional. Tahu apa yang mereka kerjakan. Gak usah diragukan, tak perlu diajari, semua yang main di sini sudah berpengalaman. Jam terbang kami sudah mumpuni. Ini bukan pentas pertama kali. Ini bukan cerita pesanan. Anda tak bisa mendiktekan apa yang di luar skenario. Ini harus murni. Independen. Semua sudah ada alurnya. Sudah ada plotnya, setting-nya. Kalau nyempal dari tatanan, jadinya kacau-beliau seperti ini.”

“Harap bersabar. Pasti akan tiba pada jalan cerita yang ditunggu-tunggu. Klimaks kalau sudah sampai pada saatnya akan terasa dahsyat. Nikmat dan seru. Itu gak bisa dipaksakan. Bakal ada waktunya…”

“Ciptakan harmoni kesejukan. Saling menghormati dan menghargai. Jangan gampang terpancing emosi. Jangan mau dimanfaatkan oknum yang mengail di air keruh. Jangan sampai bertindak anarkis dan kampungan…”

“Huuu…” penonton serempak protes.

“Jangan bertindak berlebihan, maksudnya…” sutradara meralat, “Anda butuh tontonan, kami butuh makan. Kami cari penghidupan yah dari tiket yang Anda-Anda beli ini kan? Apa jadinya jika para pemain babak belur? Gak bisa cari nafkah kan?”

“Pak Sutradara, maaf yah. Meski kami dari kampung, bukan berarti kampungan. Biar dari desa, bukan berarti ndeso. Katrok. Kami juga tahu apa yang harus kite-kite lakuken. Justru ini adalah kontrol agar cerita selaras sesuai pakemnya. Apa yang nampak chaos sebenarnya, hakikatnya, adalah pengendalian itu sendiri. Tugas Ken Arok bukannya ngoceh. Lakonnya menghunus keris menumpas Tunggul Ametung lantas mengawini Ken Dedes lalu jadi raja. Lah ini enggak. Kalau gak mau bunuh Tunggul, tepatnya kagak berani, yah biar kami yang bertindak. Mbok bilang dari tadi,” tutur salah satu pemimpin penonton urun suara.

“Lah… saya lupa skenarionya…” celetuk Arok yang sejak keributan yang belum tuntas tapi terputus itu diam mengelus-elus pipi bengkaknya.

“Ah, alasan!” penonton lainnya bersungut.

“Oke, gak perlu berpanjang-panjang dan berlebar-lebar. Pertunjukan malam ini cukup sekian saja. Kami harap kejadian ini tak terulang lagi. Silakan para penonton pulang ke rumah masing-masing. Tidur nyenyak. Lupakan kejadian ini. Kita semua capek dengan gontok-gontokan. Apalagi soal masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan arif. Semua tak ada untungnya. Menang jadi arang kalah jadi abu. Lain kali jadilah penonton yang tertib. Tak perlu kecewa karena biaya tiket kami kembaikan utuh Properti panggung aset kami. Harap dikembalikan. Itu ada pemiliknya. Jangan dijarah. Hei, hei, yak, kalian yang ngangkut ranjang. Balikin sini. Iya kamu itu… Yaelah… Bawa sini, goblok!”

“Bener nih, duit karcis dibalikin?” tanya pimpinan satpam berbisik.

“Bukannya untung malah tekor…” jawab sutradara lirih seakan baru menyadari dampak ucapannya. Keduanya hanya saling pandang. Penonton bubar.

“Mana uangnya? Katanya dikembaliin?” salah satu penonton menuntut.

* * *
SEJAK INSIDEN SEMALAM, setiap pertunjukan yang mementaskan lakon Arok-Dedes berakhir ricuh. Penonton membubarkan tontonan yang mereka tonton sendiri. Mereka terlanjur doyan kalap.

Pernah suatu ketika Arok cepat-cepat menikam Tunggul. Itupun gak bikin puas pengunjung. Alih-alih, malah mereka protes lebih kencang, “Terlalu cepat! Belum saatnya lu cabut keris. Buru-buru amat sih!”

“Udah gak tahan sama Dedes yah?” celoteh penonton yang lain.

Bahkan, pernah pertunjukan baru dimulai penonton sudah kesurupan. Akibatnya, sutradara sempat mengembargo pementasan. Beberapa bulan dia emoh tampil. Itu pun tak luput dari amuk massa. Pondok teaternya pernah didemo. “Kami butuh hiburan!” teriak mereka.

Sutradara coba mengevaluasi apa yang sebenarnya menjadi musabab kekacauan. Bolak-balik diputarnya video hasil rekaman CCTV. Ia tidak berpikir ada sutradara saingan yang mendalangi kesemrawutan ini. “Tak mungkin. Hanya aku yang bermain di segmen ini,” tuturnya sambil geleng-geleng kepala.

Analisis awalnya, ia mengira perebutan takhta dan wanita adalah tema yang terlalu brutal. Penonton jadi terpancing. Solusinya, ia coba sisipkan guyonan. Toh itu pun tak membantu. Kekisruhan tetap berlanjut. “Ini bukan kisah dagelan. Bukan wayangan yang punya goro-goro. Di sini gak ada tempat buat Petruk atau Bagong,” desis sutradara frustrasi.

Sempat ia pengen banting setir buka konter hape dan jualan pulsa atau bikin warnet atawa rental komputer. “Atau bisnis properti saja? Atau main saham? Balik jadi wartawan? Beli franchise? Dagang beras? Kafe? Juragan angkringan? Daukeh odong-odong? Badut-sulap? Studio musik? Bimbingan belajar? Butik? Distro? Jual bakso? Makelar mobil? Biro jasa pembuatan SIM-STNK-KTP? Barang bekas? Pemasok tabung elpiji? Distributor buku pelajaran dan latihan soal? Konsultan skripsi-tesis? Jasa penerjemah? Agen tiket? Ternak kodok? Toko elektronik? Persewaan komik? Penyalur TKI? Penerbitan? Swalayan? Sembako? Salon? Laundry? LSM? Jadi caleg?” dia malah bingung sendiri.

Istrinya jadi ikut mumet dan mengusirnya tidur di sofa ruang tamu.

Ia merasa cupet dan nyaris mandek dari profesi yang ia geluti selama hampir dua dekade itu. Sudah pol. Mentok. Buntu tak ada kemajuan. “Tapi ini panggilan jiwa. Siapa lagi yang mau? Yang mampu sih banyak. Tapi sutradara lain sudah angkat tangan. Kalah terseret arus selera pasar. Aku tak mau ikut-ikutan hanyut. Aku gak boleh kacangan. Jadi orang idealis memang susah. Tak sudi aku bikin cerita cengeng walau dibayar mahal. Kasihan muda-mudi dicekoki tayangan yang tak mendidik. Sejarah harus dirawat. Arok-Dedes dan Singosari kudu diselamatkan,” tuturnya coba merangkai semangat.

“Terserah kamu aja lah kang,” istrinya capek memberi sokongan.

“Masalahnya, sapa yang mau begini terus? Bisa mampus aku. Rusuk sudah patah dua, gigi hilang tiga. Asuransi sih memang bisa ganti rugi. Tapi badan ancur kan gak bisa dipermak. Dia tuh (menunjuk Tunggul) yang harusnya koit,” gerutu Arok sambil memijit lengannya yang keseleo.

“Ayolah, honor nambah deh…” bujuk sutradara.

“Apa perlu pemeran Arok dan Tunggul Ametung diganti perempuan saja biar mereka gak tega mukulin wanita?” Dedes dengan suara kenes mengoper saran. Usul yang tak pernah digubris. Bisa-bisa hal itu bikin dampak yang lebih runyam. Misalnya, penonton malah dikasih angin punya kesempatan mencolek lantas menculik mereka.

“Cari alternatif dong. Ganti lakon. Roro Mendut-Pronocitro, misalnya,” tutur Dedes tak mau menyerah kasih masukan –dengan nada yang makin kemayu bin manja. Tapi lagi-lagi, rekomendasi dia mental.

“Sama saja. Kisah itu juga soal rebutan wanita,” sutradara berkilah –soalnya memang hanya itu cerita yang dia kuasai.

“Ambil drama luar. Hamlet? Romeo-Juliet? Samkok?”

“Itu juga mengandung kekerasan.”

Show must go on. Arok-Dedes jalan terus. Namun, seolah jadi pakem baru yang kadung terbiasa, saban sutradara mementaskan perseteruan Arok-Tunggul Ametung, tiap saat pula berkesudahan onar. Nampaknya ini tengah jadi tren laris. “Yah sudah lah. Lah wong penonton memang pengen rusuh…” ujarnya pasrah. []

Ps: Meski sudah belasan tahun lalu saya telah membacanya, kekocakan novel “Perang” Putu Wijaya masih terasa. Ia menginspirasi tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s