Catatan Akhir Piala Dunia 2010: Senjakala Sepak Bola Latin

Pertempuran terakhir itu semakin menegaskan superioritas Benua Biru atas Ranah Latin. Kekalahan 2-3 Uruguay dari Jerman dalam perebutan tempat ketiga seolah berbicara: sepak bola Latin dalam bahaya.

Dari total 64 match yang telah digelar, cobalah cari berapa banyak kemenangan wakil Conmebol atas kontestan asal UEFA. Jawabannya hanya dua: Paraguay lawan Slovakia serta Cile atas Swiss –itu pun dibantu kartu merah. Fakta yang tak bikin heboh, mengingat Slovakia, meski sukses menjungkalkan juara bertahan Italia, dan Swiss, yang menundukkan juara (!) Spanyol di laga pertama, bukanlah negara besar dalam hal sepak bola.

Dari seluruh gelaran Piala Dunia sejak 1930, saat ini Eropa lebih unggul tipis: 10-9. Jika dibedah negara mana saja yang pernah jadi kampiun, fakta makin tajam. Latin hanya mempunyai tiga nama: juara masa lalu Uruguay (dua kali), Argentina (dua kali), serta pemegang rekor terbanyak saat ini, Brasil (lima kali). Bandingkan dengan Eropa yang lebih kaya. Benua Biru punya Italia (empat kali), Jerman –kala itu masih Jerman Barat– (tiga kali), Inggris (sekali), Prancis (sekali), serta juara yang baru saja lahir Spanyol.

Mari kita kupas bukti lainnya. Piala Dunia perdana 1930 boleh saja mempertemukan tim sesama Latin di final, Uruguay vs Argentina –jawaranya adalah tuan rumah Uruguay yang menang 4-2. Selanjutnya, sekaligus untuk terakhir kalinya, butuh waktu dua dekade lagi untuk mempertemukan “all South American final”. Waktu itu lagi-lagi Uruguay juara setelah menundukkan tuan rumah Brasil dengan skor ketat 2-1.

Bandingkan dengan laga puncak sesama tim Eropa yang sudah berlangsung delapan kali. Pertandingan paling legendaris adalah tuan rumah Inggris kontra Jerman pada 1966 yang dimenangi Tiga Singa, 4-2. Dua edisi berturut-turut mempertemukan tim Eropa di final. Bahkan, empat tahun lalu, semua semifinalis dari Eropa. Kini, tiga Eropa lawan satu Latin. Cuma, posisi kampiun hingga juara ketiga, semuanya dari Eropa.

Sebenarnya hingga kini, Latin masih menjadi kekuatan penyeimbang sepak bola Eropa. Kedua wilayah ini masih dipandang sebagai dua kutub besar. Lima wakil –Brasil, Argentina, Cile, Paraguay, dan Uruguay– sukses melaju ke babak 16 besar. Bandingkan dengan Afrika yang direpresentasikan oleh enam negara: tuan rumah Afrika Selatan, Aljazair, Pantai Gading, Ghana, Nigeria, dan Kamerun. Lima kandas pada fase grup dan hanya menyisakan Ghana yang melaju hingga delapan besar.

Pada babak perempat final pun, Latin masih mendominasi. Dari delapan tempat, mereka memesan empat tiket. Afrika satu dan Eropa tiga. Namun, justru wakil Eropa yang tersisa itulah yang menempati tiga besar.

Ada apa dengan sepak bola Latin?

Para pemain Latin dikenal bermain dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Permainan elegan itu diterjemahkan dalam sepak bola memukau. Tiap hari anak-anak berlatih bola di mana saja. Lorong kumuh, jalan, hingga lapangan berdebu. Bakat alami mereka adalah gocekan yahud berteknik tinggi dengan dribel yang penuh trik. Argentina dikenal dengan goyang Tango dan Brasil, Tim Samba, (dulu) tenar dengan jogo bonito alias permainan indah.

Sayang, keindahan itu pudar lantaran iming-iming kesuksesan di tanah Eropa dalam bentuk uang yang melimpah dan ketenaran. Tak terhitung bintang Latin yang hijrah ke sana. Jika Anda balik bertanya, adakah bintang Eropa yang main di Liga Sudamerica? Anda sudah tahu jawabanya. Justru selebritas bola macam David Beckham lebih melirik Liga Mayor (MLS) di negeri Abang Sam. Alasannya? Apa lagi kalau bukan gaji selangit. Cristiano Ronaldo, pemain termahal dunia saat ini, beroleh 13 juta dolar setahun di Real Madrid. “Sedikit” di bawahnya, Lionel Messi dapat 12 juta. Dari tiga puluh besar pemain bergaji mahal, tak satupun yang bermain untuk klub Amerika Latin.

Akibatnya, pragmatisme ala Eropa merasuk. Tak peduli, hasil akhir adalah yang paling penting. Tiada gunanya bermain apik jika akhirnya kalah. “Di Afrika, saya bermain bola untuk bersenang-senang. Di Eropa, saya bermain untuk menang,” cerita Samuel Eto’o, penyerang Kamerun yang malang melintang di Liga Spanyol dan Liga Italia.

Tiap hari, pemain Latin itu, berlatih, menerima instruksi, menerapkan taktik, menjalankan perintah pelatih dengan gaya Eropa. Tak ayal pola permainan mereka terbaca dan mampu diantisipasi oleh tim-tim Eropa. Lucunya, “tim nasional” yang tidak diakui sebagai negara, Catalan (Atjeh-nya Spanyol), menyikat Argentina dalam pertandingan persahabatan.

Para pemain yang gagal beradaptasi dengan langgam Eropa dan memutuskan balik kampung, justru menemukan kembali irama permainannya yang sempat hilang. Cobalah tengok Robinho (Santos), Kleberson (Flamengo), bahkan Ronaldo (Corinthians).

Rasanya kita perlu menyimak pengakuan Cicinho, bek sayap kanan yang pernah memperkuat Real Madrid dan AS Roma dan kini balik ke klub asal, Sao Paulo. “Saya tidak akan kembali ke Eropa. Saya dibesarkan di pedesaan. Saya tidak peduli kesuksesan atau uang. Saya hanya ingin bermain sepak bola lagi.”

One response to “Catatan Akhir Piala Dunia 2010: Senjakala Sepak Bola Latin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s