Untung-Rugi Liputan Melekat

Meliput peristiwa dengan cara nebeng salah satu pihak membawa konsekuensi yang harus kita timbang dengan masak-masak.

Para wartawan yang meliput konflik Atjeh dengan cara turut serta rombongan Tentara Nasional Indonesia, menurut Aboeprijadi Santoso, jurnalis senior yang pernah bekerja untuk Radio Belanda, “mereka lebih beruntung daripada saya yang harus liputan mandiri,” tutur pria yang akrab disapa Tossi ini.

Setidaknya, “mereka tahu beda tembakan senapan TNI dan GAM,” sambungnya dalam sebuah diskusi peluncuran buku “Jurnalisme Investigasi” karya Dandhy Dwi Laksono, Selasa lalu (6/7).

“Siapa bilang?” sergah Ira Koesno, mantan wartawan dan pembawa berita Liputan 6 SCTV, yang mengaku jadi salah satu wartawan angkatan pertama yang berangkat ke Bumi Rencong bersama TNI. Menurut Ira dalam forum yang sama, dia dan kolega kudu melahap menu latihan militer yang berat. Di samping itu, rupanya, mereka juga masuk daftar sasaran tembak oleh tentara GAM.

Metode reportase macam begini dikenal dengan istilah “embedded” (artinya melekat). Embedded journalism makin marak ketika meletus peristiwa perang Irak. Wartawan yang bekerja untuk media –terutama– Amerika Serikat diajak oleh Pasukan AS dan Sekutu untuk meliput ke sana. Pada saat ini di Indonesia, liputan melekat diterapkan tatkala media mengkover sepak terjang Densus 88 dalam menggerebek pihak yang mereka yakini teroris.

Cara ini lebih memudahkan pewarta menembus akses di medan pertempuran yang sulit. Selain itu, tentu saja pihak media bisa menghemat bujet karena beberapa kebutuhan ditanggung oleh pihak pengundang.

Namun, hasil liputan mereka sangat rentan bias atau condong mendukung pihak yang didomplengi. Mereka bisa saja menjadi alat propaganda pihak yang berkepentingan –dalam kasus konflik Atjeh, adalah kubu TNI. Walhasil, jurnalis jadi tak bisa netral. Untuk mengatasi masalah tersebut, si redaktur harus menugaskan wartawan lain mereportase pihak lainnya. Ini supaya berita terjaga tetap berimbang.

Risiko yang tak kalah berat adalah problem keselamatan. Meski berada dalam barisan tentara pihak yang mengundang, dan wartawan serta pihak netral lainnya (seperti paramedis) dilindungi oleh hukum perang, untuk kasus liputan embedded, hal itu tidak berlaku.

Wartawan embedded dianggap sudah tak netral lagi sehingga menurut hukum perang internasional, mereka (ternyata!) “boleh” diserang oleh pihak musuh.

One response to “Untung-Rugi Liputan Melekat

  1. makasih infonya…salam hangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s