Cara Matimu Menunjukkan Statusmu

Beragam hukuman mati pada masa lalu menggambarkan strata sosial seseorang.

Zaman kegelapan dan abad pertengahan yang kelam, masa ketika manusia meraba-raba bentuk kemanusiaan yang ideal, dikenal hitam-pekat dan penuh nestapa. Dari satu perang ke pertempuran selanjutnya, berjuta korban manusia berjatuhan. Perluasan dan perebutan kekuasaan adalah latar belakangnya.

Tak ayal, bangsa pemenang acapkali membumihanguskan kelompok yang mereka tundukkan. Eksekusinya banyak cara. Semuanya kejam-kejam. Mulai dari menguliti, mutilasi, penyiksaan, dan sebagainya.

Vlad dari Klan Dracul (Klan Naga) asal Rumania –sosok inilah yang menginspirasi munculnya mitos Drakula– dikenal bengis karena doyan menyula (impalement) musuhnya. Caranya? Tanyakan pada pembuat sate –bedanya, yang “disate” adalah tubuh manusia utuh.

Menurut catatan sejarah, filsuf wanita ateis Hypatia dari Alexandria Mesir (abad ketiga Masehi) dieksekusi oleh para rahib dengan cara brutal. Ia ditelanjangi, diseret, dikuliti dengan kreweng pecahan porselen, lantas tubuhnya dibakar. Dalam versi film yang berjudul Agora, Hypatia yang diperankan oleh aktris Rachel Weisz dibunuh dengan dilempari batu.

Pemikiran Hypatia banyak dipengaruhi oleh Plato. Filsuf besar ini memilih minum racun daripada menyangkal kebenaran yang dia yakini.

Penguasa Roma Kuno mengenal hukuman salib untuk golongan budak atau bangsa asing yang mereka anggap statusnya lebih rendah. Peristiwa penyaliban yang paling sohor adalah pengorbanan Yesus Kristus. Pria asal Nazareth ini harus memanggul salibnya sendiri, melewati rute yang panjang dan menanjak (Via Dolorosa), sebelum tapak tangan dan kakinya dipacak pada kayu yang dia gotong itu.

Di Eropa, kalangan bangsawan dihukum dengan cara pancung (decapitation, dari kata “caput” yang berarti “kepala” –kata ini belakangan menurun jadi istilah “capital” alias “modal” di bidang ekonomi). Prancis terkenal dengan pisau gulotin. Pergolakan Revolusi Prancis memakan korban darah biru yang banyak, termasuk Raja Louis XVI dan istrinya “Madame Deficit” Marie Antoinette (karena terlalu royal menghambur-hamburkan bujet Negara untuk berpesta). Ironisnya, rezim teror yang ditebar oleh Robespierre, terjungkal dengan cara yang sama. Dia dipancung oleh lawan politik yang menggulingkanya.

Metode pancung dipercaya sangat cepat menimbulkan rasa sakit bagi si korban. Jepang mengenal cara bunuh diri “hara-kiri” untuk mempertahankan kehormatan. Bangsawan yang ditaklukkan merobek perutnya dengan sebuah pisau (seppuku). Sebelum eksekusi, sebagai etika, pihak lawan yang menang memuji-muji keberanian dan keagungan musuhnya. Untuk mempersingkat penderitaan, setelah perutnya tertikam, lawan yang telah bersiap-siap berdiri di dekatnya segera memancungnya dengan pedang samurai. Setelah itu, sebagai bentuk kesetiaan, para pengikut pemimpin yang terpancung bunuh diri massal dengan cara yang sama.

Sementara itu, kasta ksatria Eropa dieksekusi dengan cara gantung. Kaum perempuan yang dituding sebagai penyihir harus mengakhiri hidupnya dengan cara dibakar.

Umumnya hukuman mati dipertontonkan di tengah khalayak. Alasannya, agar mereka jera dan tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan kepada si terhukum. Alih-alih, angka kejahatan justru meningkat. Ironisnya, peristiwa pencopetan marak di saat masyarakat menyaksikan eksekusi.

Selain itu, sang eksekutor pun terkena dampaknya. Menurut hasil penelitian, banyak algojo yang tersengat kelainan jiwa. Rasa kemanusiaannya kian tumpul. Barang berapa hari saja tidak mengeksekusi, tatapan matanya jadi kosong mencari-cari korban. Tangannya kadung gatal mandi darah.

Karena itulah, filsuf modern Albert Camus konsisten menentang hukuman mati.

Menulis sambil meresapi lirik lagu “Swami”, band balada Iwan Fals dan Sawung Jabo awal dekade 1990-an, yang berjudul “Cinta”: “Orang bicara cinta atas nama tuhannya sambil menyiksa membunuh berdasarkan keyakinan mereka… Doa-doa-doa-doa…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s