Jelang Semifinal Piala Dunia 2010

Piala Dunia telah melaju ke babak empat besar. Masih saja menyisakan momen yang menarik.

Rontoknya tim Latin
Jika Anda bertanya siapa tim yang paling siap menyongsong fase knock-out, jawabannya adalah negara-negara Amerika Selatan. Zona ini mengirim semua wakilnya pada babak 16 besar. Ada dua pentolan Brasil dan Argentina, juara masa lalu Uruguay, Paraguay, serta Cile.

Babak perempat final pun setali tiga uang. Jika saja Brasil tak bertemu Cile terlalu dini, mungkin wilayah Amerika Latin ini masih mempertahankan kontestannya. Tapi, entah mengapa, ketika saringan menjadi lebih ketat, wakil Eropa lebih digdaya.

Kini keadaan berbalik. Negeri Kincir Angin membenamkan Tim Samba. Panser melindas Tango. Si Merah Menyala menekuk Merah-Putih. Di semifinal nanti, satu Latin terkepung oleh tiga Eropa –Uruguay bentrok dengan Belanda dan Jerman berhadapan dengan Spanyol.

Hanya semifinal 2002 yang hingga kini tercatat paling heterogen. Waktu itu, ada Eropa (Jerman dan Turki), Asia (Korea Selatan), dan Latin (Brasil yang jadi juara). Empat tahun berikutnya, peta kekuatan berubah. Rasanya Piala Eropa yang empat tahunan dan baru saja digelar pada 2004 dipercepat jadi 2006.

Barangkali Uruguay juga bakal pulang kampung kalau ketemu tim Benua Biru di delapan besar. Diego Forlan cs sungguh mujur mampu melewati satu-satunya kebanggaan Afrika yang tersisa, Ghana.

Kayaknya ujung tombak Biru Langit Luis Suarez lupa akan perannya. Bukannya melakoni striker, pemain Ajax Amsterdam ini malah meng-kiper-kan diri. Lumayan, dengan gerakan akrobatik menjatuhkan diri, ia menghalau free header pemain Ghana yang mengarah tepat ke mulut gawang yang telah ditinggalkan oleh kipernya –dengan kedua tangannya. Kartu merah? Jelas!

Sayangnya, Asamoah Gyan, pencetak dua gol penalti yang meloloskan negaranya dari fase grup pun seakan lupa bagaimana mengeksekusi bola dengan baik. Itu penalti ketiga buat dia. Apa yang seharusnya ia jalankan pada saat pertandingan berlangsung baru terwujud ketika adu tos-tosan. Apes, sepakan dua temannya disangkal oleh penjaga gawang Nestor Muslera dengan jitu.

Apa yang terjadi di pinggir lapangan: Suarez, pemain yang terusir itu, bersorak-sorai bersuka cita seolah lupa bahwa ia tak ikut main pada pertandingan berikutnya melawan Belanda.

Jogo bonito apaan?
“Oh… jogo bonito!” seorang komentator memekik keras setelah tembakan Kaka ditepis dengan susah payah oleh kiper Belanda Stekelenburg. Sepakan deras itu melesak lewat skenario tik-tak apik yang melibatkan dua-tiga pemain. Brasil kembali ke khitah lama? Tunggu dulu!

Menit-menit selanjutnya adalah sepak bola kasar ala Brasil. Michel Bastos menjejak kaki Arjen Robben. Pada menit-menit krusial, Felipe Mello diganjar kartu kuning kedua. Malah, sebelumnya ketika bersua Pantai Gading, Kaka pun terkena kartu abang. Peristiwa diusirnya Mello, gelandang Juventus, hanyalah titik didih dari emosi pemain Samba yang sudah sejak awal menggelegak.

Awalnya, di lorong ruang ganti jelang pertandingan, semua nampak akrab dan hangat. Meski berseteru membela bendera negara masing-masing, toh sebenarnya mereka cari nafkah di klub (atau setidaknya di liga) yang sama. Maicon dan Julio Cesar renyah bercengkrama dengan Sneijder –mereka di Inter Milan. Robben dan Lucio ngobrol santai –keduanya pemain Bayern Munich, kini Lucio di Inter. Robinho ketawa bareng Khalid Boulahrouz –mereka pernah di Liga Primer Inggris.

Hingga semua berubah jadi emosional di lapangan hijau. Belum lima menit, Robinho yang dijatuhkan mendamprat pemain Belanda tepat di depan muka. Nigel de Jong, mantan rekannya di Manchester City, menenangkan si hitam mungil itu dengan mencekik lehernya dari belakang.

Meski manjur membekap Brasil, Belanda pun tak luput dari kritik. Pelatih Bert van Marwijk dinilai meninggalkan pola total football. Yah, zaman memang sudah berubah. Sepak bola sekarang memang harus efektif dan efisien.

Andalan yang mandul
Sesaat mencetak gol lawan Afrika Selatan, penyerang Les Blues Christophe Duggary harus digotong keluar lapangan dan melupakan kelanjutan aksinya di Piala Dunia 1998. Tapi itu justru jadi berkah buat striker lainnya, Stephan Guivarch. Guivarch jadi andalan hingga laga puncak, meski tak sebiji gol pun ia buat. Mengapa? Justru dari pergerakan dialah, terbuka kran gol lewat pemain lain seperti duet Henry dan Trezeguet (yah, kala itu mereka masih muda), Zidane, Emanuel Petit, Youri Djorkaeff, bahkan bek seperti Bixente Lizarazu, Lilian Thuram, dan Laurent Blanc.

Hal ini berlaku juga buat Fernando Torres di Spanyol. Siapa tahu pada dua laga tersisa jagoan Liverpool ini menemukan sentuhan ganasnya. Satu gol penting pada final Piala Eropa cukup melambungkan namanya menjadi pahlawan bersama tandemnya, David Villa yang jadi top-scorer.

Tapi, Kaka, Lionel Messi, Wayne Rooney, Roque Santa Cruz hingga akhir aksi mereka, memang tak pernah bikin gol sama sekali.

Déjà vu, karma, dan pembalasan
Inggris pernah “berutang” gol pada Jerman. Tembakan Geoff Hurst yang mental membentur mistar gawang memantul tanah dan dianggap gol oleh wasit pada final 1966. Hingga kini, sangat sulit menilai keabsahan gol tersebut karena bola tak sempat menyentuh jala.

Pada babak 16 besar, gol Frank Lampard dirampas padahal jelas-jelas melewati garis gawang. Saat itu posisi 2-1 untuk Jerman. Kalau saja tendangan memantul itu disahkan, kedudukan jadi 2-2 dan segala kemungkinan masih terbuka. Namun, mental Tiga Singa kadung remuk, mereka makin tenggelam 4-1. Peristiwa itu membangkitkan kembali perdebatan perlu-tidaknya bantuan teknologi untuk mendongkrak kinerja pengadil.

Beberapa bulan sebelumnya, setelah menang tipis 1-0 dalam laga persahabatan, pelatih Argentina Diego Maradona memilih ngeloyor keluar dari ruang konferensi pers. Ia tak mau duduk di sebelah gelandang muda Jerman, Thomas Mueller. Maradona menganggap andalan Jerman itu hanyalah seorang “pemungut bola”. Maradona kena tulah atas polah sombongnya sendiri. Jerman balas melumat 4-0 pada perempat final. Salah satu pencetak golnya adalah si “pemungut bola”. Ini kekalahan pada babak yang sama di ajang empat tahun lalu ketika Panser jadi tuan rumah penyelenggara.

Dua tahun lalu, Jerman berduka atas kekalahan tipis 1-0 dari Spanyol pada final Piala Eropa. Bisakah mereka membalasnya pada semifinal nanti?

Sebenarnya hal ini kejadian lama yang berulang. Pada 1998, Diego Simeone dengan liciknya berakting sehingga David Beckham diusir wasit. Inggris tersingkir lewat adu penalti. Pers kala itu mengecam gelandang kanan yang terkenal dengan umpan dan tembakan panjang jitunya itu. Pada 2002, giliran Beckham yang mengeksekusi penalti sehingga mengalahkan Tim Tango pada penyisihan grup. Walhasil, Argentina tesisih. Inggris bersama Swedia melaju.

Argentina menggulung Jerman Barat pada final 1986. Kondisi berbalik pada 1990.

Brasil superior pada dua pertemuan sebelumnya dari Belanda. Perempat final 1994, mereka menang 3-2. Semifinal 1998, mereka juga sukses lewat adu penalti setelah main imbang 1-1. Tapi kali ini tidak sama. Giliran Belanda yang membuat Tim Samba gagal merengkuh gelar keenamnya, dengan skor 2-1 pada babak delapan besar.

Ada siapa di tribun penonton?

Alih-alih mendukung negaranya, penyanyi gaek Mick Jagger sepertinya malah jadi jimat kesayangan Jerman. Punggawa The Rolling Stone ini tak kapok menyaksikan Tim Panser pada babak berikutnya melawan Argentina, setelah menggulingkan Inggris. Hasilnya, Jerman mendulang hasil empat gol ketiga mereka (sebelumnya versus Australia dan Inggris).

Tepat di deretan bangku atas Jagger, duduklah Michael Ballack, kapten Jerman yang tercoret gara-gara cidera. Dengan riang dan lantang, pemain Chelsea ini menyoraki kompatriotnya yang tengah berjuang di lapangan. Aksi yang patut ditiru, bertolak belakang daripada pemain (yang merasa) bintang yang terdepak dari timnas lantas mutung tak mau nonton negaranya bertanding.

Zinedine Zidane, pensiunan jenderal lapangan tengah Prancis terlihat mendukung dua negaranya: Prancis dan Aljazair –yah, dia memang keturunan Aljazair. Sebelum melatih, Diego Maradona pun dengan antusias menyokong Argentina pada 2006. Sayang, negaranya keok oleh Jerman di babak delapan besar. Ketika ia menukangi timnas kini, nasibnya sama.

Eh, ada Kanselir Angela Merkel juga loh…

Intervensi negara?
Jika hanya sebatas nonton, kedatangan Angela Merkel oke-oke saja. Track-record wanita nomor satu Jerman ini pun baik-baik saja. Komitmennya mendukung timnas tak usah ditanya. Pada 2006 lalu, ia menyalami satu per satu pahlawan lapangan hijau. Ketika tiba giliran mendatangi kiper Jens Lehman, ia dibisiki, “Jangan menaikkan pajak yah.” Toh Ibu Merkel hanya membalas kritikan itu dengan senyum.

Hal ini berbeda dari koleganya yang memimpin Prancis, Presiden Sarkozy yang tak puas pada kinerja Tricolor. Hanya mandek di babak grup, suami model Carla Bruni ini berniat mengusut tuntas (baca: investigasi) kegagalan Tim Ayam Sayur, eh Ayam Jantan, maksudnya. Langkah awalnya: menginterogasi empat mata pemain senior Thierry Henry.

Presiden Goodluck Jonathan tak kalah garang. Ia mengancam menyetop keikutsertaan Elang Super selama dua tahun di ajang manapun gara-gara Nigeria bernasib tragis di ajang kali ini.

Waduh, Pemimpin Termulia Kim Jong-Il agaknya bakal murka untuk kedua kalinya setelah menerima rapor anak-anak Kuda Terbang. Sebelumnya, lantaran kalah bersaing dengan seteru abadinya, Korea Selatan, Poros Pyongyang ini sempat memboikot tak turut serta pada kualifikasi Piala Dunia.

Gara-gara sepak terjang pemimpin negara macam begini, FIFA jengah. Badan tertinggi sepak bola ini balik mengultimatum, sanksi berat bagi negara yang merecoki urusan bal-balan.

Memang sepantasnya implementasi dukungan negara “hanya” berupa rangsangan pada kompetisi lokal, membangun infrastruktur bertaraf tinggi, melindungi dan mengembangkan bibit baru, serta –tentu saja– gelontoran bonus besar jika para pemain berhasil mengharumkan nama bangsa. Bagaimana Indonesia?

Saatnya juara baru?
Kalau saja Belanda ketemu Spanyol di final nanti, juara baru bakal lahir. Memang sih, laga ini kurang greget karena… Eropa lagi, Eropa lagi. Lain cerita kalau Uruguay menghadapi Jerman atau Spanyol karena ini akan merepresentasi perseteruan dua kutub sepak bola sejagad: Latin vs Eropa.

Pada 1966, sejak pertama kali digelar pada 1930, cukup sudah bagi Brasil, Uruguay, Jerman (Barat), dan Italia mengangkat trofi (Argentina baru juara pada 1978 dan mengulanginya pada 1986). Muncullah Inggris sebagai kampiun anyar. Selang 32 tahun berikutnya, giliran Prancis yang berjaya.

Negara lain macam Swedia, Cekoslovakia, Hungaria, dan Belanda sih pernah mencicipi atmosfer final. Tentu saja, negeri Oranye yang paling penasaran. Dua kali ke laga puncak, pada 1974 dan 1978, Johan Cruyff selalu gagal. Padahal, mereka konsisten beredar di papan atas –kecuali pada 2002, mereka tak lolos. Juara tanpa mahkota adalah julukan mereka.

Ada satu catatan menarik, “syarat” menjadi juara adalah raihan sempurna. Tahun 1998, Prancis menunda gelar kelima juara bertahan Brasil. Itu karena di fase grup, Tim Samba yang sudah memastikan lolos setelah mengatasi Skotlandia dan Maroko, tidak bermain terlalu serius melawan Norwegia. Sempat memimpin 1-0 lewat tandukan Bebeto, mereka terjungkal oleh gol Tore Andre Flo dan penalti Rekdal. Ini kekalahan kedua berturut-turut dari tim Skandinavia itu. Sedangkan Prancis mengatasi lawan terberat di grup, Denmark.

Empat tahun berselang, Brasil membayar kegagalan sebelumnya. Catatan pada tahap grup sempurna. Selanjutnya adalah cerita kemenangan. Hanya, pada 1994, rekor Brasil “ternoda” karena hasil seri melawan Swedia pada penyisihan grup. Untunglah mereka membalas pada semifinal.

Nah, mengingat tren tersebut di atas, kans terbesar mengarah ke Belanda. Tim Oranye menyikat Denmark, Jepang, dan Kamerun sehingga merajai Grup E. Argentina, yang juga punya rekor sempurna di Grup B, sudah dikubur Jerman.

Sebenarnya Uruguay pun belum pernah terkalahkan. Tim Celeste cuma sekali seri lawan Prancis. Jerman maupun Spanyol, sempat terjengkang di penyisihan grup. Artinya, sehebat apapun, toh mereka bisa ditaklukkan oleh tim kecil sekalipun.

Tapi…
Babak gugur jauh beda dari penyisihan grup. Lupakanlah catatan sebelumnya.

Jerman boleh saja kalah dari Serbia. Tapi kini mereka menjelma jadi tim yang paling eksplosif –13 gol dalam lima pertandingan. Tak main-main, yang mereka lawan adalah tim kuat Inggris dan Argentina.

Pelatih Inggris asal Italia, negara yang fasih menerapkan sistem grendel, Fabio Capello, kayaknya lupa bagaimana cara bertahan. Don Fabio hanya mengantisipasi dengan berlatih eksekusi penalti jika pertandingan berakhir imbang setelah waktu tambahan. Inggris diporakporandakan lewat serangan balik nan cepat. Selama 90 menit, mereka beroleh kursus sepak bola yang tak terlupakan.

Argentina tak sekali pun mengalami rasanya tertinggal. Cukup dengan sebuah gol cepat pada menit ketiga, mereka jadi panik dan tak tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan guna membalikkan situasi. Akibatnya, mereka makin hancur oleh empat gol tanpa balas.

Jika mereka berhasil mengatasi Spanyol, Jerman akan jadi kontestan yang paling teruji mengandaskan lawan-lawan berat.

Spanyol bisa jadi pernah dihajar Swiss. Namun ingat, La Furia Roja adalah raja Eropa dua tahun lalu. Ekspektasi ini makin tinggi, banyak publik berharap mereka memenangi turnamen kali ini. Lagipula, cukup dengan satu gol mereka berhasil memulangkan Portugal yang punya produktivitas tertinggi pada fase grup, surplus tujuh gol dengan gawang yang masih perawan. Panen gol Cristiano Ronaldo dkk itu, uniknya, hanya diraih dalam satu pertandingan dengan mencukur Korea Utara. Sisanya adalah skor kacamata lawan Pantai Gading dan Brasil.

Lalu, Anda punya jagoan siapa?

2 responses to “Jelang Semifinal Piala Dunia 2010

  1. mudah”an spanyol masuk final,,makasih infonya,,salam hangat,,,

  2. Tsamina mina eh, eh
    Waka waka eh, eh
    Tsamina mina zangalewa
    This time for Africa

    salam kenal ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s