Gajah

Sorot matanya sayu dan memelas.Kebun Binatang Gembira Loka Rabu siang itu (23/6) masih riuh. Maklum, musim liburan anak sekolah. Aku bersama istriku, kakak ipar, serta ibu mertua bertandang ke sana. Sudah berapa lama kami tak ke sana. Tiap aku ke sana, untuk mengantar istriku latihan atau jogging mengitari rute pengunjung.

Istriku atlet panjat tebing. Dulu, wall latihannya di kompleks bonbin ini. Sekarang wall tersebut dipindah.

Kami menuju tempat gajah. “(Salah satu) gajahnya namanya Cempaka,” tutur istriku.

Di sini tersedia atraksi menunggangi gajah. Tarifnya sepuluh ribu rupiah. “Kalau suntuk latihan, yah naik gajah,” celoteh istriku.

Kawanan gajah itu tengah asyik mandi pasir. Badan mereka kelihatan kotor, dekil. Salah satu gajah berukuran kecil mendekati pengunjung. Ia menjulurkan belalai, minta makan. Apa saja yang diulurkan oleh pengunjung ia lahap. Kacang, biskuit, kue, onde-onde, dan sebagainya. Mulutnya terbuka, menyambut makanan yang ia masukkan dengan belalai.

Aku lihat dia bagai anak kecil yang stress. Mungkin karena terisolasi dari habitat asli. Tamed. Matanya berkaca-kaca, selalu menunggu uluran makanan dari pengunjung. Entah mengapa, hingga kini aku selalu teringat akan sorot matanya yang mengiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s