Catatan Piala Dunia 2010

Ajang akbar caturwarsa itu sudah dimulai dan tengah berlangsung. Saat ini fase knock-out 16 besar. Piala Dunia, turnamen sepak bola terbesar sejagad itu tetap saja penuh warna, sarat kejutan. Ini tak sekadar 22 pria bercelana pendek saling merebut bola dengan kaki. Urusan yang satu ini sudah kadung jadi drama. Ada yang bersuka, ada yang berduka.

Tradisi debutan
Selalu ada negara yang baru pertama kali mencicipi atmosfer Piala Dunia. Tim debutan ini di antaranya sebenarnya “muka lama rasa baru” –kecuali Honduras. Maklum, mereka adalah negara baru hasil pecahan negeri yang telah bubar. Slovakia dulunya adalah Cekoslovakia –sebelumnya, Ceko justru lebih mencorong daripada Slovakia. Yugoslavia berserak jadi enam negara kecil. Serbia salah satunya.Ada juga yang menikmati comeback di ajang ini setelah sekian lama absen, seperti Korea Utara. Selandia Baru barangkali mengalami masa yang ajaib. The All Whites adalah satu-satunya tim yang tak pernah terkalahkan sepanjang turnamen ini yang (ironisnya) gagal ke babak berikutnya. Tiga kali seri bukanlah hasil yang memadai.

Sambutlah finalis baru
Betapa biru nasib Tim Biru. Defending champion Italia secara tragis pulang lebih awal. Tak satu pun kemenangan mereka raih pada fase grup. Mereka hanya memetik hasil seri dua kali dan kalah pada laga terakhir. Lawan mereka di laga puncak empat tahun silam, Prancis, lebih mengenaskan lagi: satu kali seri dua kali keok.

Jujur saja, sebetulnya mereka tak pantas lolos ke putaran selanjutnya.

Italia bermain angin-anginan waktu melawan Paraguay. Bahkan, mereka harus (seperti biasanya) bertindak licik mencari-cari penalti saat tertinggal 1-0 menghadapi Selandia Baru. Déjà vu, kita pernah menontonnya sewaktu mereka mengalahkan Australia dan memprovokasi Zinedine Zidane pada 2006 lalu kan? Puncaknya, laga penghakiman dengan Slovakia yang berakhir 3-2.

Sejak awal kehadirannya bersama 31 negara lainnya, Prancis layak dipertanyakan. Tim Ayam Jantan ini seharusnya tak usah berangkat ke Negeri Nelson Mandela karena yang pantas ke sana adalah Republik Irlandia. “Berkat” gol William Gallas yang diawali dengan handsball Thierry Henry-lah mereka lolos pada babak play-off kualifikasi.

Untungnya, tim biru lainnya, Jepang, masih bertahan. Empat tahun lalu, Nippon gagal total di Jerman.

Tradisi kuda hitam
Jika ada penyerang gundul kurus jangkung haus gol asal negara Pangeran Franz Ferdinand, itu bukan Jan Koller yang “membelot” dari Ceko ke Slovakia. Dia adalah Robert Vittek. Dua golnya memulangkan juara bertahan Italia sekaligus mengantarkan negaranya ke perdelapan final. Salah satu golnya gara-gara assist kapten Marek Hamsik, gelandang klub Serie A Napoli. Kita perlu ingat pada nasib Ahn Jung Hwan yang diusir dari Perugia (2002) dan Maradona yang mengalami kemerosotan karir di Liga Italia (1990) usai menjungkalkan Gli Azzuri. Pemain jabrik pengoleksi tato ini nampaknya perlu bersiap-siap cabut dari Negeri Pizza.

Selain itu, rasanya tak ada tim yang seberuntung Ghana. Si Bintang Hitam lolos dari lubang jarum fase grup cukup dengan dua gol yang semuanya dari penalti. Kemenangan tipis 1-0 dari Serbia dan hasil seri 1-1 kontra Australia serta kekalahan 0-1 dari Jerman tetap mengantarkan mereka ke 16 besar. Bahkan, pada tahap sistem gugur ini, mereka melaju ke delapan besar usai membekuk Paman Sam 2-1. Mereka memperbaiki rapor 2006 lalu yang cuma mencapai 16 besar. Ghana adalah satu-satunya tim Afrika yang tersisa setelah tuan rumah Afrika Selatan, Kamerun, Nigeria, serta Aljazair terlebih dulu menjadi penonton di rumah sendiri. Baru kali ini tuan rumah gagal lolos ke babak berikutnya.

Lawan Ghana di delapan besar adalah Uruguay yang dengan susah payah mengalahkan Korea Selatan 2-1. Pada babak penyisihan grup, mereka keluar sebagai peringkat satu dan satu-satunya tim dengan gawang yang masih perawan: menahan imbang Prancis 0-0, membekap tuan rumah Afrika Selatan 3-0, serta unggul tipis 1-0 atas Meksiko.

Silakan pilih kuda hitam versi Anda: Paraguay, Cile, Meksiko, atau… Jepang?

Bentrokan antar-raksasa
Rasanya sayang jika dua tim besar harus bertemu pada awal fase gugur. Inggris berjumpa Jerman. Selain itu, dua tim yang bermain menghibur dengan penyerang mungil lincah, Leo Messi di Argentina dan Geovanni dos Santos di Meksiko –keduanya produk akademi Barcelona satu angkatan, harus saling jegal. Itu pun, pemenang dua laga itu akan bersua di perempat final.

Ada juga duel antara Spanyol dan Portugal.

Padahal, di sisi lain, tiket semifinal diperebutkan oleh tim non-unggulan seperti Ghana vs Uruguay. Tapi itulah uniknya turnamen. Bulgaria dan Swedia (1994), Kroasia (1998), serta Turki dan Korea Selatan (2002) adalah tim-tim kuda hitam yang berhasil nyempil di babak empat besar. Hanya semifinal 2006 yang dihuni oleh tim besar: Jerman lawan Italia dan Portugal kontra Prancis.

Sepasang tim mandul

Hingga dua puluh menit jelang bubaran laga terakhir, Prancis baru dapat mengonfirmasi satu-satunya gol yang mereka kemas pada ajang ini via Florent Malouda sewaktu kontra Afrika Selatan. Dua tim lainnya, Aljazair dan Honduras, tak pernah sebiji pun mencetak gol. Tapi setidaknya Rubah Gurun punya cerita yang bisa mereka banggakan, yakni menahan imbang Inggris –tentu saja, skornya 0-0.

Bencana kartu merah
Jika Anda berpikir tim Anda akan baik-baik saja dengan dominasi sepanjang pertandingan, sebaiknya Anda berpikir ulang. Satu pemain Anda diusir (entah karena kebodohan yang disengaja atau memang lantaran insiden yang tak terkendali), akibatnya fatal: laga jadi tak seimbang, jalannya duel berubah arah. Silakan tanyakan hal itu pada Nigeria yang awalnya menjanjikan mampu menjinakkan Yunani. Atau Swiss yang menggulingkan Spanyol, kala dibungkam Cile. Atau Jerman saat ditekuk Serbia. Atau Aljazair yang dipukul Slovenia. Atau Prancis yang dipermalukan Afrika Selatan. Atau Australia, tim yang paling doyan kartu merah –andalan mereka, Tim Cahill dan Harry Kewell merasakan itu.Untungnya, tak semua kartu merah berakibat buruk. Setidaknya, Uruguay masih mampu menahan imbang Prancis dan Brasil tetap bisa mengatasi Pantai Gading.

Kiper, apa yang ada di benakmu?
Tim Tiga Singa rupanya masih belum lepas dari kutukan blunder kiper, di ajang besar sekalipun. Gagalnya Robert Green menangkap bola tembakan Clint Dempsey membuyarkan kemenangan Inggris atas Amerika Serikat. Kiper Aljazair terlihat bagai belajar menangkap kodok ketika hendak mencegat sepakan Robert Koren, kapten Slovenia. Gawang Korea Selatan robek gara-gara kiper (dan barisan bek) membiarkan operan Diego Forlan asal Uruguay yang nampak bakal melenceng bergulir keluar lapangan. Padahal, pada area blind side, menyeruaklah Luis Suarez yang dengan mudahnya mencocor bola.

Alasan utamanya? Bola Jabulani yang konon sukar dikendalikan. Masak sih?

Awal yang berat
Menyandang predikat tim unggulan tak membuat mereka gampang melenggang.

Inggris baru bisa memesan tiket perdelapan final setelah meraih kemenangan perdananya lawan Slovenia. Itu pun lewat gol semata wayang Jermain Defoe. Sebelumnya, mereka bermain imbang dengan Amerika Serikat dan Aljazair.

Portugal nampak kesulitan setelah memperoleh hasil kacamata lawan Pantai Gading. Bahkan, tim unggulan macam Jerman dan Spanyol harus menerima kekalahan meski akhirnya mereka lolos ke babak selanjutnya.

Hanya Argentina dan Belanda yang sukses meraup hasil sempurna, tiga kali menang pada penyisihan grup. Eh, kita tak perlu mengulas lagi kehancuran Italia dan Prancis, kan?

One response to “Catatan Piala Dunia 2010

  1. baru datang, hasil 2 pertandingan babak 16 besar.

    Jerman 4 – 1 Inggris
    (tak kusangka Mesut Oezil segitu bagusnya)

    Argentina 3 – 1 Meksiko
    (ha, yang ini tak perlu dipertanyakan lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s