Treble Winner Tak Langka Lagi

Rasanya capaian sapu bersih gelar juara dalam satu musim –bukan bermaksud mengecilkan arti prestasi– sudah bukan hal “luar biasa” lagi.

Musim 1998/1999 begitu istimewa bagi Manchester United. Si Setan Merah menang telak atas rival terberatnya kala itu, Arsenal. MU memuncaki klasemen liga setelah memastikan gelar juara hingga pertandingan terakhir. MU menyikat Liverpool dalam duel delapan besar Piala FA. Giliran si musuh bebuyutan Arsenal mereka empaskan di putaran semifinal lewat gol solo run Ryan Giggs nan apik. Di partai final, piala mereka rengkuh usai menggulung Newcastle.

Tinggal satu tropi: Piala Champions.

Musuh mereka di final, Bayern Muenchen, diperkirakan dapat menuntaskan ambisi yang sama. FC Hollywood baru saja merebut gelar juara liga. Setelah partai final turnamen antarklub Eropa ini, Steffen Effenberg cs juga melakoni partai puncak Piala Liga. So, siapapun pemenang Liga Champions kala itu, dipercaya sama saja bakal meraih trigelar –belakangan Bayern justru keok di Piala Liga.

Camp Nuo malam itu serasa spektakuler. Di menit-menit awal, Mario Basler sudah membuat Bayern unggul lewat tendangan bebas menyusur tanah. Pagar betis malah menghalangi pandangan kiper Peter Schemeichel. Tembok Denmark itu mati langkah. Hingga 90 menit, Bayern jawara Eropa.

Namun pemenang baru dapat dipastikan muncul hingga peluit panjang tiga kali menjerit. Terjadi keajaiban, Teddy Sheringham menyamakan skor pada injury time. Dan titik baliknya, selang dua menit kemudian, Ole Gunar Solksjaer mengunci kemenangan Iblis Merah. Angka 2-1 dan MU juara.

Musim itu, hingga kini, adalah momen sebuah klub mampu menyabet tiga tropi dan terasa sangat spesial.

Hingga muncullah Barcelona pada tahun kemarin, lebih istimewa lagi, di bawah asuhan coach debutan yang masih muda Joseph Guardiola, menggondol semua tropi di seluruh kompetisi yang mereka ikuti. Juara Liga, Piala Raja, Liga Champions (di final menyikat juara bertahan MU) pada musim 2008/2009. Paruh musim berikutnya, mereka merajai Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, serta Piala Dunia Antarklub. Rekor MU sepuluh tahun lalu pecah!

Malam tadi, Diego Milito, striker asal Argentina yang wajahnya mirip Sylvester Stallone, memborong dua gol untuk melepas dahaga gelar tertinggi di kancah Eropa selama 45 tahun bagi Inter Milan (di final melawan Bayern). Inter memborong tiga gelar musim ini: Serie A Liga Italia, Piala Liga, dan barusan Liga Champions.

Rekor baru pun pecah: Samuel Eto’o, penyerang asal Kamerun pada musim lalu tercatat sebagai pemain Barcelona yang mengusung tiga tropi. Musim ini, dengan klub barunya, ia mampu mengunduh tiga piala juga. Ia menyamai rekor Gerard Pique yang bisa menyabet Liga Champions dua musim berturut-turut dengan klub yang berbeda (MU dan Barcelona pada 2008 dan 2009). Pelatih berbibir tipis Jose Mourinho berhasil mengungguli gurunya, Louis van Gaal –mereka pernah menjadi duet pelatih dan asisten kala di Barcelona. Mou adalah pelatih ketiga yang mampu mengantarkan Piala Champions untuk dua klub yang berbeda (bersama Porto dan Inter).

Rekor yang satu bakal dipecahkan oleh rekor yang lain. Penikmat sepakbola makin menuntut capaian yang lebih tinggi lagi. Mungkin tepatnya “gila”, karena rekor itu pun tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuntutan gila ini membuat klub terbebani misi berat. Pertanyaannya: mampukah klub meraih hal yang sama pada musim berikutnya? Selepas kalah di ajang Piala Raja musim ini, para pemain Barcelona kecewa berat: satu gelar lepas dan misi mereka mempertahankan prestasi musim lalu dipastikan gagal sudah. Masih untung, mereka dapat satu-satunya gelar: Juara Liga. MU pun mengalaminya pada edisi 1999/2000.

Akankah Inter bernasib sama? Atau Si Biru-Hitam mampu mewujudkan “kegilaan” yang belum pernah terjadi dengan mengulangi kesuksesan yang sama musim depan?

One response to “Treble Winner Tak Langka Lagi

  1. bayern tadi malam main mengecewakan.
    pun rekor-rekor ini rasanya dampak dari formasi unik yang diterapkan para pelatih.
    barcelona yang me-revive total football dan inter dengan pertahanan total plus serangan balik kilatnya.
    namun seingat saya tidak ada formasi yang ampuh diterapkan selamanya. tahun depan pasti ada juara baru, dengan taktik unik lainnya. ūüėÄ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s