Sebuah Resensi Buku Soal Media: Buruk Rupa Cermin Jangan Dibelah

Apa jadinya jika wartawan menginvestigasi dapur media? Hasilnya adalah empat belas karya yang terkumpul dalam buku ini. Tanpa bermaksud mengorek borok individu maupun media yang ditulis, buku ini hadir sebagai cermin agar kita arif berkaca. Media dan jurnalis yang bekerja untuk warga harus transparan di muka publik.

Judul buku : “Wajah Retak Media: Kumpulan Laporan Penelusuran”
Tebal : viii + 148 halaman
Penulis : Ahmad Nurhasim dkk
Editor naskah : Arief Kuswardono, Dwi Setyo, Heru Hendratmoko
Editor kompilasi : Jajang Jamaludin
Penerbit : Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
Cetakan ke- : Pertama, Mei 2009

Kerap masyarakat menuding wartawan menadah amplop, memeras narasumber, mengancam akan menulis kasusnya, serta segala tetek yang bengek lainnya. Banyak anggapan wartawan merupakan profesi yang kurang layak.

Stigma ini muncul bukan tanpa alasan. Saban tahun, data rilis Dewan Pers melulu itu dan tak pernah beranjak: sekitar 30% media di Indonesia tak sehat. Kadar kewarasan ini baik ditinjau dari kelayakan bisnis maupun profesionalisme awaknya.

Namun keadaan ini terbiarkan begitu saja, seolah-olah kita memaksakan diri untuk memakluminya. Akibatnya, praktek tak sehat semacam ini tak pernah tuntas serta terus-terusan berulang. Wartawan doyan amplop, yah memang begitu; jurnalis bekerja serampangan, yah sudah dari sononya; kuli tinta menerabas pagar api, juga tak mengapa.

Para jurnalis yang masih menganggap etika profesi dan kode etik jurnalistik adalah harga mati wajib risau atas kondisi ini. Empat belas penulis buku ini, adalah sebagian orang yang resah itu tadi.

Mereka menuangkan kisah fenomena lama dapur redaksi. Ada kisah wartawan tanpa surat kabar yang gentayangan di instansi pemerintah. Ada cerita tentang intervensi pemodal terhadap ruang redaksi. Ada kabar soal wartawan yang merangkap jadi account executive (pencari iklan). Ada berita soal independensi redaksi yang oleng lantaran kucuran iklan. Ada sosok wartawan yang merangkap jadi caleng. Ada pula hubungan kerja yang kabur tanpa kejelasan.

Menariknya, para reporter tersebut menulisnya dengan gaya naratif. Panjang dan enak dibaca, tak sekaku berita lempang. Buku ini hadir bukan untuk menggiring degradasi reputasi media maupun nama-nama para narasumber tertentu. Justru itu, buku ini datang untuk mengingatkan kepada kita, bahwa awak media perlu berbenah diri. Beberapa kasus yang disajikan sangat layak untuk jadi bahan kajian dan diskusi.

Semuanya demi menjaga tanggung jawab media untuk senantiasa menyajikan informasi yang terang, jernih, bening kepada khalayak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s