Masa Kuliah, Masa yang Paling Indah

Izinkan saya sedikit memuntahkan melankoli.

Apa masa paling indah dalam hidup Anda? Jika saya disodori soalan itu, saya mungkin jawab masa kuliah. Ia momen selepas sekolah, sebelum kita menatap masa yang mana kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri (mencari nafkah, pekerjaan, tepatnya). Di tengah makin mahalnya biaya pendidikan, saya beruntung mengalami masa perbatasan antara kuliah murah dan mahal. Apa jadinya jika saya kuliah sekarang? Orang tua tentu tak bakal kodak menanggung ongkos.

Biaya per semester saat itu masih sekitar Rp400 ribu. Jika terpaksa memepet-mepetkan ongkos kebutuhan, makan sekali bisa seribu perak. Itu berupa nasi sayur dan sepotong gorengan plus air putih. Indekos setahun Rp800 ribu –sekamar berdua berarti tinggal dibagi dua.

Saya kuliah di Yogyakarta, kampusnya Universitas Gadjah Mada. Tepatnya, jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi –sekarang ganti nama jadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Masuk tahun 2000, lulus 2004.

Saya tak tertarik masuk kelas. Saya lebih suka diskusi, berorganisasi, rapat, aksi demonstrasi, baca buku gerakan, menulis, dan semacamnya. Saya merasa duduk di bangku tak mengubah apa-apa. Revolusi ada di luar sana.

Saya tak mau jadi mahasiswa yang tak peka pada situasi. Tak tanggap pada kondisi sosial sekitar. Hanya mikirin diri sendiri, rajin masuk kuliah, tapi tak menyadari apakah ilmunya bakal bermanfaat bagi rakyat miskin kebanyakan atau tidak. Saya tak mau jadi orang seperti itu.

Masa kuliah adalah masa yang santai. Tak seketat waktu sekolah dulu. Jam pelajaran tak sepanjang waktu sekolah. Kita paling-paling sehari masuk kelas sekali-dua. Kita bisa atur sendiri kapan kira-kira hari libur.

Kalau ada waktu senggang, saya isi dengan membaca buku, menulis, dengar radio sambil tiduran di kamar kos, bobo ciang, nonton teve di ruang tengah rumah kos, main bola di waktu sore, ngobrol bareng teman kos di malam hari, atau menyewa film guna ditonton bareng di kamar teman yang punya komputer.

Makan di angkringan asyik juga, sih. Apalagi menu sayap ayam bakar.

Masa kuliah mengajarkan sakit hati perlu juga. Saya jadi paham bagaimana rasanya dicampakkan orang yang awalnya saya yakin dengan teguh bahwa dialah yang layak saya cintai –dan ternyata orang itu memang tak patut sama sekali.

Masa kuliah membuat saya menemukan dan harus mengunyah apa itu cinta. Saya mengidam-idamkan seseorang sejak lama. Tak berani menyatakan perasaan ini, hingga dia pergi dan saya berpikir tak bakal bertemu kembali. Tapi rupanya ia kini jadi istri saya.

Sejak masa kuliah saya mengharapnya, dan saya mendapatkannya seusai masa kuliah. Masa kuliah memang layak dikenang. Saya jadi sekonyong-konyong memutar kembali memori itu ketika mendengarkan lagu Flanella, “Bila Engkau”. Tembang ini muncul pada tahun 2000-an, pada saat saya masih kuliah.

Untuk Murjayanti dan perkawinan kita yang baru berusia setahun.

One response to “Masa Kuliah, Masa yang Paling Indah

  1. kirain mau cerita kuliah…ujung2nya kok cerita ketemu istri? hehe
    Selamat ya utk setahun usia pernikahannya..dan bayi yang ada di kandungannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s