Promosi yang Menerabas Pagar Api

Untuk kesekian kalinya, infotainment banal menabrak rambu etika jurnalistik. Promosi menyusup halus dalam kemasan “berita”.

SEORANG PEMBAWA ACARA AYU mengantarkan segmen terakhir acara infotainment. Ia hendak menyajikan aktivitas seorang selebritas yang kian menggunung. Lamat-lamat, pesohor itu berbagi kiat menyiasati kesibukan yang berjibun dengan tetap menjaga pola hidup sehat. Ia minum sebuah suplemen.

Segmen (yang seharusnya) “berita” itu rupanya sebuah promosi. Advertisement. Atau kalau dikemas jadi “rada-rada berita”, istilahnya “advertorial”. Bagian berita itu ditampilkan telanjang, tanpa ada peringatan “promosi” atau “iklan”. Seolah-olah, kiat hidup sehat sang selebritas itu “berita” apa adanya.

Dalam hal infotainment, definisi “berita” pun sebenarnya perlu ditinjau ulang. Benarkah apa yang tersaji memang fakta murni? Atau sarat bumbu sensasi sebagai konsekuensi dari gosip itu sendiri?

Kembali ke masalah promosi terselubung. Apa yang dipraktekkan infotainment ini gamblang sudah: menerobos etika jurnalisme.

* * *

PAGAR API ALIAS FIREWALL merupakan benteng integritas sebuah media.

Media merupakan tempat bertemunya segala macam bagian –tepatnya kepentingan. Ada berita yang merupakan fakta yang tak boleh tercampur baur dengan opini yang bertendensi. Opini di sini bukan barang haram. Namun ada tempatnya sendiri: halaman kolom opini maupun surat pembaca. Media bukan berarti melulu netral. Ia boleh bersikap. Sikap media tertuang dalam tajuk rencana, yang letaknya satu padu dengan halaman kolom opini itu tadi. Seidealis apapun sebuah media, ia butuh kekuatan komersial. Tanpa pelanggan atau klien pemasang iklan, media susah hidup. Di sini, “pedagang” punya tempat yang berupa space iklan.

Namun semuanya harus dipisahkan dengan tegas.

Sebuah koran atau media cetak yang baik, menempatkan opininya terpisah dari berita. Ada halaman tersendiri. Jika terpaksa satu halaman dengan berita, keduanya dipisahkan dengan jelas oleh sebuah garis tipis. Ini bagai air dan minyak yang tak kan mungkin melebur. Dan pembaca dibimbing dengan baik soal perbedaan itu.

Demikian halnya iklan. Halaman tersendiri untuk iklan kecik (iklan baris) sebenarnya punya filosofi tersendiri. Jika kita cabut serangkaian halaman iklan kecik itu, untuk kita baca agar memperoleh info jual-beli rumah, tanah, kendaraan, dan segala macamnya, berlembar-lembar halaman itu memuat iklan an-sich. Sedangkan halaman berita jadi terpisah.

Kalau ada iklan yang dikemas seolah-olah karya liputan alias advertorial, itu pun diwadahi secara khusus. Advertorial harus ditata letak beda dari berita. Jenis dan ukuran hurufnya harus beda dari berita. Pun, sebuah advertorial yang baik kudu dipisahkan oleh garis tipis yang sudutnya memuat tulisan “iklan”.

Itu media cetak. Media online, radio, maupun televisi sama saja. Semua media wajib mengetrapkan konsepsi firewall. Apa jadinya media tanpa integritas, dengan longgar menabrak rambu etika sana-sini? Padahal mereka punya peran menjunjung kepentingan publik. Tanggung jawab media besar. Soalnya, media membuat publik jadi ngeh, jadi terang. Bukan jadi sesat. Seperti apa yang dilakoni oleh infotainment yang (celakanya) punya jumlah konsumen yang besar.

Pasang promosi boleh saja. Asal dikasih pertanda dengan jelas. Misalnya, segmen artis yang mengusulkan pemirsa minum suplemen merek tertentu, pada sudut layar kaca, ditandai dengan tulisan “iklan” atau “promosi”, atau apalah yang sejenisnya.

Semuanya harus dimulai dari kini, untuk membentuk masyarakat yang makin cerdas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s