Kekuatan? Lima-Lima! Prajab… Jaya!

Bagaimana para calon pegawai negeri sipil ditempa hidup disiplin. Untuk siap jadi abdi Negara. Supaya mampu memaknai negeri ini dalam bingkai keberagaman. Agar mantap menjadi pelayan warga, warga pelayan.

Oleh Yacob Yahya (11.258 kata)

STATUS FACEBOOK seorang kawan, Paulina Vika Deviyanti, Rabu malam lalu (18/11), menerakan ia dinyatakan telah lulus diklat Prajabatan. Ini jelas-jelas kabar yang selama ini kami tunggu dalam sebulan terakhir ini. Prajabatan merupakan diklat yang harus kami lalui, sebagai calon pegawai negeri sipil. Jika lulus, kami baru dapat diangkat jadi PNS. Materinya lebih banyak memompa kita supaya cinta tanah air, siap mengabdi melayani masyarakat.

Vika seangkatanku. Ada tiga gelombang, kami yang pertama. Kami dapat lokasi diklat di Yogyakarta. Ada delapan puluh peserta di sana –dari seluruh 670-an yang tersebar di beragam kota. Kami dibagi jadi dua kelas, tiap-tiapnya diisi empat puluh siswa. Aku dapat Kelas B. Aku senang, bisa reuni dengan teman-teman senasib, kebanyakan para peserta diklat dasar pada Februari-April lalu –di Yogya juga. Aku ketemu banyak teman sekelas, bahkan satu kelompok.

Aku dari Pati, bersama Ninuk Setyawati dan Wisik Murti. Wisik di Kelas A, aku satu kelas dengan Ninuk. Purnomo, teman magang satu kantor kami, juga turut gelombang satu. Cuma, dia diklat di Cirebon. Tiga teman magang lainnya beroleh gelombang belakangan. Setyo Nugroho dan Ariffianto Wibi Wibowo dapat gelombang tiga. Jendra Purusha Hayuningrat giliran keempat –putaran terakhir.

Tak semua peserta dari Pajak. Tiga siswa (yah, kami memang dipanggil siswa) di antaranya dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Aku gembira, punya teman baru dari instansi tetangga. Teman sekelasku yang dari DJKN adalah Marya Mujayani.

Kami diklat selama dua pekan, 29 September – 12 Oktober. Syukurlah, seluruh peserta asal Yogya dinyatakan lulus. Aku? Mujur, peringkat empat se-Yogya atau ranking tiga sekelas.

Kota lainnya, Jakarta, Malang, Manado, Medan, Palembang, Cirebon juga menggelar diklat yang sama. Tiap lokasi tentu punya cerita yang berbeda. Tapi… aku yakin, Yogya tak kalah seru. Usai membaca cerita ini kalian tentu setuju.

* * *

KAMI DIINAPKAN DI HOTEL SRI WEDARI, Jalan Solo. Hotel ini tepat sebelah timur sebuah hotel lainnya, Wisma Prambanan. Lokasinya strategis, dekat pusat hang-out anyar, Ambarrukmo Plaza –disingkat Amplaz. Di Amplaz ada Carrefour, jejaring ritel modern raksasa asal Prancis. Di sana juga ada jaringan bioskop 21.

Strategisnya pula, karena dekat tempat kos istriku, Janti. Tak perlu jauh-jauh ia mengantarku ke lokasi. Cukup pakai roda dua. Meski dekat, selama dua pekan ini aku tak boleh keluar menengoknya, kecuali pada hari pesiar. “Apesnya” hari bebas itu hanya sekali, Minggu pekan pertama (4/10).

Hotel ini asri. Aku suka suasananya. Pelatarannya luas. Halaman belakang nyambung dengan jalan kampung. Di tepi jalan terhampar hijau sawah. Kata seorang satpam, hotel ini punya enam puluhan kamar. Ada yang kamar petak, ada pula –ini yang paling mahal– berbentuk rumah pondok.

Satu kamar buat tiga peserta. Kami dapat kamar tipe rumah. Konon, tarif semalam mencapai Rp900 ribu. Satu rumah terdiri atas dua kamar yang dihubungkan ruang tengah. Jadi, satu rumah dihuni enam siswa. Aku punya dua orang teman sekamar, Soni Kustanto dan Ferry Agung Yulianto. Bilik sebelah ada Deki Krisna Aditya, Agustinus Hendarto Santoso, dan Ardiyanto Priyatmojo.

Ada dua teve. Satu di kamar, satu di ruang tengah. Kanalnya macam-macam, langganan teve berbayar. Meski demikian, kami tak bakal bisa menikmati acara layar kaca, saking padatnya agenda.

Kami tinggal di kamar 287-288. Ini bilik paling ujung, dekat lapangan belakang. Jadi, jika ada apel pagi atau acara senam pagi, kami yang dijamin gak bakal telat. Begitu juga acara makan. Soalnya, pendopo tempat makan juga persis di depan kamar.

Asal kami juga reno-reno. Aku dari Pati, Soni Magelang, Deki Klaten, Ardi Sukoharjo, Ferry dan Agus asal Purworejo. Di kota situlah kami magang pada tiap-tiap kantor pajak. Usai diklat ini, kami menunggu penempatan tempat kerja. Soalnya, magang hanya sementara –hampir sepuluh bulan. Kelak, pada akhir Oktober, dua pekan setelah Prajab, aku dapat penempatan di Kantor Pelayanan Pajak Badan Usaha Milik Negara, bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

* * *

SENIN JELANG SIANG ITU (28/9) aku diantar Murjayanti, istriku, menuju Gedung Balai Diklat Keuangan di kawasan Kalasan, Sleman. Aku merasa ada semacam nostalgia. Selama dua bulan aku pernah mengenyam pendidikan di sini. Hingga aku dinyatakan lulus diklat pengetahuan dasar perpajakan. Lumayan, persis ranking dua ratus di antara lebih dari 1.260 peserta senasional.

Di sana sudah ada Eko Subroto dan Septavian. Eko teman sekelasku dulu, Kelas F. Septa waktu itu Kelas C. Kami sebenarnya punya Septa yang lain, Septa Bahrun Rahmani. Mas Septa juga teman sekelasku. Rupanya kami satu gelombang diklat Prajab ini. Nanti, dalam pembagian kelas, mereka bertiga dapat Kelas A.

Maksud kami bertandang ke gedung itu untuk daftar ulang jelang diklat. Rupanya, menurut panitia, daftarnya langsung ke hotel saja, nanti sore. Akhirnya kami ngobrol melepas kangen dan bertukar pengalaman magang.

Eko sudah potong cepak. “Nanti kita harus pangkas rambut loh,” selorohnya mengingatkan.

“Iya aku ntar juga mau cari tukang cukur,” jawabku.

Masih ada waktu, aku pamit pulang guna ngaso di tempat kos istri, Janti.

Hampir tiba waktu asar, aku hendak berangkat ke hotel. Aku ingin mampir ke tukang cukur dekat jembatan layang Janti. Sial, tutup. Aku pikir nanti saja kalau disuruh panitia atau instruktur. Pasti dikasih kesempatan cukur barang sejenak.

Istriku mengantarku sampai tepi jalan sebelah hotel. Aturannya, gak boleh bawa kendaraan. Jalan kaki beberapa jarak, tak mengapa lah. Dengan menjinjing koper yang berat, aku masuki lobi hotel. Panas di luar, sejuk di dalam –lantaran AC. Rupanya di dalam sudah duduk beberapa teman calon peserta diklat.

Aku ketemu Yunita Eskadewi, teman sekelas dulu dus satu kelompok waktu observasi lapangan di Kantor Pajak Sukoharjo. Dulu perutnya buncit karena mengandung. Anaknya baru saja lahir. Ia asal Blora, kabupaten tetangga Pati, hanya disekat oleh Rembang. Ada juga Wiwik Sugiarti, dari Yogya. Ini jadi semacam reuni kecil.

Ada seorang pria berseragam loreng. Aku baca sebuah nama, “Surakhmad” di dada kanannya. Kami berjabat tangan. Satu orang militer lagi, nanti baru kami tahu namanya Pak Kodiyat. Keduanya adalah instruktur kami. Bisa dibilang wali kelas. Mereka bertanggung jawab mengajari kami baris-berbaris, tata upacara sipil, serta senam kesegaran jasmani. Selain itu, mereka membantu para dosen pengampu mata pelajaran kelas.

Sore itu aku pikir hanya registrasi. Soalnya, jadwal mulai pelajaran adalah Selasa, 29 September. Namun, rupanya, mulai sore itu kami sudah harus masuk “kandang”. Sudah harus check-in kamar. Makan malam bareng.

Dan… ini yang menarik. Cowok-cowok disuruh potong. Sudah disediakan tukang cukur sore jelang asar itu. Rupanya, tukang potong tersebut adalah yang hendak aku tuju di jembatan layang.

“Bapak sudah dipesen di sini toh. Makanya kok tutup,” selorohku.

Si Bapak cuma senyum. “Saya juga habis dapet order motongin seratusan lebih Angkatan Udara. Sampai jam tiga malam,” jawabnya.

Janti dekat dengan kompleks Angkatan Udara.

Potongan kami harus seragam. Kosong, satu, dua. Maksudnya, bagian bawah harus botak total, nol centimeter. Lantas agak ke atas satu cm. Baru jambulnya yang dua cm. Baru pertama kalinya aku cukur secepak ini. Ongkosnya, empat ribu untuk seorang.

Eko dan Septavian yang sudah cukur dianggap belum memenuhi standar. Mereka kurang cepak. Mereka… harus cukur lagi.

* * *

KODIYAT DAN SURAKHMAD sama-sama berkulit legam. Pak Rakhmad sedikit lebih tinggi. Tubuh mereka tegap. Suara parau, lantang kalau berteriak. Tegas. Sudah biasa memberi aba-aba.

Gigi seri –depan– Pak Kodiyat ada yang patah separo. “Ini kenang-kenangan yang membanggakan,” ujarnya. Ia tak mau mencabut gigi itu, dibiarkan apa adanya. Soalnya, ada sejarahnya. “Saya ikut kompetisi karate antar-tentara tingkat internasional. Saya kena pukul lawan dari Australia. Untung bisa saya balas. Karena tinggi, saya incar pinggangnya saja. Kena, dia sempoyongan, jatuh. Saya menang.”

Keduanya kini tinggal di Magelang. Pak Rakhmad bermukim di Dusun Kiyudan Kecamatan Sawangan sedangkan Pak Kodiyat punya rumah di Dermo, Bringin Srumbung, Kecamatan Muntilan.

Mereka kerap memakai pakaian yang persis. Kadang seragam loreng. Kadang atasan kaos lengan panjang warna kuning, celana tetap loreng. Kadang pakaian dinas hijau-hijau.

Topi juga sama. Warna hitam. Sisi kanan tertulis nama mereka dengan benang kuning. Sebelah kiri tertera “Dodik Belanegara”. Dodik adalah singkatan dari Depo Pendidikan. “Tapi banyak orang mengira Komando Pendidikan,” cerita Pak Rakhmad. Satu dodik membawahkan lima lembaga pendidikan (lemdik).

Pada atas moncong topi terdapat sebuah logo dengan tulisan “Vira Viyata Matara”. Konon, artinya, “pahlawan cinta Negara. Tapi saya sendiri tak tahu persis,” sambung Pak Rakhmad kepada saya.

Asal mereka sama, Rindam di Magelang. Rindam sendiri artinya Resimen Induk Komando Daerah Militer. Para instruktur dari sini adalah orang-orang terpilih.

Pak Rakhmad, sebelumnya sudah mengajar siswa Prajab yang dari Program Diploma Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Dian Muchammad, salah satu mantan siswa menilai, “Pak Rakhmad itu lucu. Dia cerita pernah dihukum atasannya naik pohon pisang.”

Chammad kini penempatan kerja di Pati, tempat aku magang. Sebelumnya, dia magang di Semarang Candisari.

Dalam perkenalan di muka para siswa, Pak Rakhmad dan Pak Kodiyat mengaku pernah bertugas di Timor Timur. Ucapan Pak Kodiyat yang berkesan buatku, “Harus berani bertanggung jawab. Jangan tanggung menjawab.”

Dari Pak Rakhmad maupun Pak Kodiyat saya mengenal beberapa istilah, yang sebagian terdengar lucu. Ada “hanjar” yang artinya bahan ajar. Mereka punya buku manual seputar ihwal tata upacara, baris-berbaris, dan senam. Senamnya pun rupa-rupa jenisnya. Ada senam militer, senam kesegaran jasmani, senam balok, senam senjata, dan sebagainya. Pelajaran untuk kami, cukup yang dasar saja, yakni kesegaran jasmani.

“Pada dasarnya balik kiri bisa dilaksanakan. Tapi tak pernah ada aba-aba ‘balik kiri’… Aba-aba ‘maju jalan’ untuk pergerakan lebih dari empat langkah. Kalau empat langkah atau kurang, aba-abanya ‘empat langkah ke depan jalan’. Bisa melangkah ke depan, ke belakang, ke kiri, atau ke kanan… Langkah ke depan 60 cm sedangkan langkah ke belakang 40 cm. Makanya, pengibar bendera di depan tiang perlu dua langkah ke depan. Setelah pengibaran, mereka tiga langkah ke belakang. Pas, sama-sama melangkah 120 cm… Aba-aba ‘grak’ jika kita tetap di tempat. Misalnya ‘istirahat di tempat grak’, ‘jalan di tempat grak’, ‘hormat grak’. Aba-aba ‘jalan’ kalau kita berpindah tempat. Misalnya ‘maju jalan’,” Pak Kodiyat menjabarkan sekelumit teori baris-berbaris.

“Sebelum melakukan aktivitas fisik, kita perlu mengecek kebugaran. Caranya, pertama, tes denyut nadi selama satu menit. Kedua, tes jongkok-berdiri. Jongkok-berdiri sebanyak 12 kali, setelah itu berdiri tegak tahan nafas selama semenit. Jika merasa pusing dan berkunang-kunang, berarti badan kita kurang sehat. Gak usah ikut olahraga. Saya tak mau maksa. Silakan yang sakit melihat-lihat saja temannya yang lagi lari-lari atau senam,” Pak Rakhmad menjereng secuplik teori pengantar senam.

Lantas, ada pula “dancuk”. “Itu bukan umpatan loh. Artinya komandan pucuk,” seloroh Pak Rakhmad.

“Saya dari TNI-AD. Terima Nasib Ini Apa Adanya,” celetuk Pak Rakhmad maupun Pak Kodiyat di muka siswa. Kontan kami berderai tawa.

“Saya juga anggota BP7. Pernah dengar istilah itu kan? Biar Pergi Pagi Pulang Petang, Penghasilannya Pas-Pasan,” lagi-lagi Pak Rakhmad melempar kelakar. Lebih dari tiga puluh tahun jadi serdadu, Pak Kodiyat mengaku saat ini bergaji sekitar tiga setengah juta rupiah. Hanya orang tertentu yang memenuhi panggilan bela Negara dengan tulus.

Sejak Kepolisian Republik Indonesia terpisah dari Tentara Nasional Indonesia, arti hankam pun berubah. Militer melakoni urusan pertahanan sedangkan polisi menukangi keamanan. Aku pikir ini perombakan yang bagus. Hal ini menurutku membuat militer lebih dapat diterima di tengah masyarakat. Aku turut senang melihat jerih payah mereka membantu korban bencana. Sewaktu Sumatra Barat diguncang gempa Rabu lalu (30/9), seorang tentara muda mengungkapkan kebanggaannya dapat menolong sesama –waktu dia diwawancarai TVOne.

Sewaktu Ibu mengandungku, (mendiang) Ayah pulang dari Jepara bersama kakakku yang masih usia lima tahun. Di dalam bus, Bapak melihat sekawanan pencopet hendak beraksi. Bapak berbisik pada penumpang lainnya supaya waspada. Urung beraksi, para pencoleng itu berang.

Turun di Terminal Kudus, mereka mau mengeroyok ayahku.

“Saya titip anak ini, kalau ada apa-apa…” ujar Bapak kepada seorang pedagang warung.

Hampir saja baku hantam yang tak seimbang itu pecah, seorang tentara turut nimbrung. “Ada apa ini?”

“Aku mau dikeroyok pencopet itu.”

Tanpa ba-bi-bu, tentara tersebut menghajar para pencopet itu. Bapak dan kakakku bisa melanjutkan perjalanan ke Pati tanpa kurang suatu apapun. Memang benar, pada dasarnya tentara kita suka menolong.

Di mata Murjayanti, istriku, para tentara sangat bersahaja. Istriku seorang atlet panjat tebing. Tak jarang dia turut kompetisi di mana kamp militer jadi arenanya. “Silakan tidur di barak sini, biar kami tidur di luar saja. Gak pa-pa, sudah biasa,” ujar istriku menirukan ucapan seorang serdadu menawarkan tempat singgah tatkala dia ikut sebuah lomba.

Aku pun harus bangga dengan profesi kini. Konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945 dan amandemennya, hanya menulis dua kewajiban warga negara –meski banyak jenis kewajiban lainnya. Pertama, bela negara. Kedua, bayar pajak dan pungutan lainnya yang bersifat memaksa. So, kami dan kubu Pak Kodiyat-Pak Rakhmad, adalah aparat yang siap di garis depan menunaikan tugas Negara.

* * *

SELASA PAGI ITU ADALAH UPACARA PEMBUKAAN. Kami berseragam putih polos dan celana hitam serta berdasi hitam. Tak boleh ada motif. Baju harus polos. “Jangan ditawar-tawar. Ini perintah. Usul kalian saya dengarkan. Nanti saya bicarakan dengan panitia diklat,” tutur Pak Rakhmad Senin semalam.

Belakangan, panitia membolehkan baju bermotif. Garis-garis tipis juga boleh. Asal tetap putih. Kalau aku, memang punya yang putih polos doang. “Nah, kalau panitia sudah boleh, saya juga ikut boleh, toh,” seloroh Pak Rakhmad dengan logat Magelang kental.

Usai upacara, kami sedikit diplonco –kecuali yang hamil. Kami disuruh tiarap. Lantas berguling. Terlentang menatap langit. “Coba resapi dan rasakan untuk apa kalian di sini,” teriak Pak Rakhmad.

Aku berpikir, apakah tiap hari bakal begini? Ternyata tidak.

Hari ini kami menerima pelajaran pertama. Harus ada perangkat kelas. Yang tetap adalah ketua kelas dan wakil ketua kelas. Teman-teman sekelas menunjukku jadi ketua. Itu gara-gara sorongan dari Heru Cahyono. Lantas pemilihan wakil. Kami memilih Ardiyanto Priyatmojo. Yang jadi ketua Kelas A adalah Okie Indra Wijaya.

Selain ketua dan wakil tetap, ada juga ketua kelas harian. Lalu ada petugas piket serta bintara. Piket harus laki-laki dan bintara wanita. Ini bergantian dengan kelas sebelah. Kalau hari ini Kelas A dapat piket, bintaranya dari kelasku. Begitu seterusnya.

Tugasnya sudah dibagi-bagi. Ketua dan wakil tetap menampung usul siswa lantas menyampaikannya kepada instruktur dan panitia. Mereka juga harus menjaga keutuhan dan kelancaran kelas.

“Saya tegaskan sebagai ketua kelas. Saya selalu konsisten,” ujarku di depan kelas dengan nada yang ditekan-tekankan, “saya konsisten menampung setiap usul dan aspirasi dari teman-teman. Dan harap digarisbawahi. Hanya sebatas menampung…” maksudku berkelakar.

Sejak itu, guyonan “saya tampung” jadi trademark di kelas kami.

Ketua kelas harian bertugas memimpin apel serta mempersiapkan siswa mengawali dan mengakhiri pelajaran. Apel diadakan tiga kali saban hari. Pertama, apel senam pagi. Kedua, apel pagi jelang pelajaran. Dan terakhir, apel malam usai pelajaran.

Kalau pelajaran hendak dimulai, ketua kelas harian maju ke depan. Mempersiapkan siswa. Lalu melapor kepada dosen pengajar bahwa para siswa siap mengikuti pelajaran. Begitu pula di waktu sesi terakhir pelajaran, ketua kelas juga melapor bahwa sudah menerima pelajaran.

Bintara membantu piket. Bintara mengecek berapa jumlah siswa yang ikut apel. Lantas melaporkannya kepada piket. Piket lalu menjadi ajudan pelatih yang jadi semacam inspektur upacara saat apel. Bisa juga, bintara maupun piket memimpin doa sebelum dan sesudah makan.

Nah, acara makan ini tiga kali sehari. Datang ke tempat makan harus baris dulu. Ambil tempat, duduk di meja. Mulai makan bareng, setelah doa sebelum makan. Selesai makan juga bersama-sama dengan ditutup doa sesudah makan.

Begini tatacaranya. Pemimpin doa menyiapkan siswa. “Duduk siap, grak!”

Para siswa menghentakkan kaki. Prok! Sikap punggung tegak, kepala menghadap ke depan.

Lalu pemimpin doa membacakan doa sebelum makan. Para siswa menundukkan kepala. Selesai, para siswa teriak, “selamat makan!” Barulah makan bisa dimulai.

Kalau makan selesai, pemimpin doa mempersiapkan siswa kayak semula. Bedanya, usai doa, kami berteriak, “terima kasih!” sebagai tanda syukur kepada Tuhan yang melimpahkan rejeki berupa makanan yang sudah kita santap. Lalu kami bergegas meninggalkan ruang makan dengan tertib. Kali ini, tak perlu baris.

Selama dua pekan ini, kami harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru tersebut. Sebelumnya, dengan santai aku bias tidur lagi usai salat subuh. Sekarang? Harus menggenjot fisik. Siang-siang lari-lari justru meningkatkan kebugaran.

Ihwal adaptasi rupanya harus dilakoni pula oleh instruktur. “Saya biasa makan setengah enam pagi,” ungkap Pak Kodiyat dalam percakapan. Pak Kodiyat sudah menyetel jam tubuhnya makan pagi jam segitu. Makan siang agak bebas. Sore hari sekitar magrib sudah harus makan malam.

“Kalau sekarang?” aku bertanya.

“Perut keroncongan kalau pagi-pagi melatih kalian. Yah saya tahan saja. Baru makan kalau siswa sudah pada di kelas. Jam delapan,” bebernya.

Selasa malam itu, waktu apel malam, para instruktur menawarkan siapa yang sukarela jadi petugas untuk hari Rabu. Tapi tak ada yang maju. Mungkin sungkan, menunggu ditunjuk. Sejak itu, ketua kelas yang bertanggung jawab menunjuk temannya untuk jadi perangkat harian.

Aku segera bagi-bagi jadwal siapa yang dapat bagian perangkat kelas harian. Dalam waktu empat belas hari, jelas hanya ada 28 orang yang dapat peran. Biar semua kebagian, aku sekalian menyusun jadwal piket laundry. Rentang waktu yang lama jelas membuat kami harus mempersiapkan stok pakaian yang memadai.

Aku pun bikin jadwal piket petugas peranti kelas. Kami menggunakan proyektor dan laptop yang disediakan panitia. Peran petugas ini adalah mempersiapkan peralatan dan ringkas-ringkas jika kelas sudah usai. Petugas peralatan ini tak perlu ikut apel. “Dalam protap (prosedur tetap) memang begitu,” ujar Pak Kodiyat merujuk buku petunjuk tatacara upacara. Aku pikir hal ini biar semua teman merasakan istirahat sejenak. Aku bedakan petugas pagi yang menyiapkan alat dari petugas malam yang memberesi peranti. Biar semuanya dapat giliran.

Dalam perkembangannya, aku dan Okie, dua ketua kelas, sepakat bikin kaos kenang-kenangan. Dus, sebuah spanduk untuk demonstrasi baris-berbaris. Untungnya ada Heru. Dia punya kenalan yang punya usaha konveksi. Lewat dia, kami memesan kaos. Warnanya hitam. Aku suka hasil jadinya. Kami iuran tiap orang Rp40.000.

Spanduk itu bertuliskan “Selamat dan Sukses Diklat Prajabatan Golongan III Periode I Balai Diklat Keuangan Yogyakarta”. Yang dapat tugas membentangkan spanduk adalah Heru sendiri dan Adi Purnama Sidi dari kelas A.

Cara melipat dan membentangkan spanduk itu kami adopsi dari cara melipat bendera Merah Putih. Ada manfaatnya juga belajar tata upacara.

Urusan mengumpulkan duit urunan, aku mengandalkan Ardi. Ia cekatan dan sangat membantuku. Tak hanya iuran kaos dan spanduk, kami juga menghimpun dana buat fotokopi bahan bacaan.

* * *

KONON, DIKLAT DI YOGYA sangat ketat daripada kota lainnya. Dan kami merasakannya. Tak ada waktu buat tidur siang, pesiar sore, atau istirahat malam. Dari pagi hingga malam waktu kami isi di kelas.

Usai subuh pukul lima kurang seperempat, kami sudah harus siap buat senam pagi, pakaian training. Kalau tidak senam pagi yah lari pagi memutari kampung. Sekali saja. Jangan banyak-banyak. Setelah senam pagi, kami latihan upacara. Kalau tidak, latihan baris-berbaris. Lalu kami makan pagi pada setengah tujuh. Usai makan, kami ganti pakaian putih-hitam guna apel pagi. Setengah delapan, kelas dimulai. Jam sepuluh ada jeda seperempat jam untuk coffee break. Pelajaran lanjut sampai jam dua belas.

Lalu kami ganti pakaian training lagi. Untuk lari-lari keliling lingkungan hotel dua kali putaran, sebelum makan siang. Nah, habis makan siang baru ada rehat sampai setengah dua. Itu baru bisa aku manfaatkan buat mandi. Jadi, sebenarnya, waktu pelajaran pagi aku durung adus. Tiap siswa punya jadwal mandi sendiri-sendiri. Ada yang bangun setengah empat dini hari biar bisa mandi sebelum olahraga. Ada juga yang siang-siang saja seperti aku.

Pelajaran berlanjut sampai jam tiga sore. Ada waktu setengah jam buat salat asar. Ada juga siswa yang balik ke kamar. Pelajaran sore sampai jam lima. Lalu kami siap-siap untuk makan malam pada jam enam.

Setelah makan malam, kami salat magrib dulu sebelum menerima pelajaran malam. Kostum malam adalah batik –kecuali Jumat, yang dari pagi hingga malam memang harus batik. Pelajaran malam usai, kadang pukul setengah sembilan atau sembilan seperempat. Habis itu, kami apel malam. Pada apel malam itu, kami juga timbang terima jabatan dari ketua kelas, piket, dan bintara harian kepada yang dapat giliran esok harinya.

Jika jam malam tidak ada pelajaran, kami harus tetap di kelas. Belajar mandiri. Tak ada yang leha-leha di dalam kamar –istilahnya, “barak”. Instruktur tetap mengawasi. “Saya tahu mana yang belajar beneran, mana yang ngantukan,” celetuk Pak Rakhmad.

Supaya bisa serempak berkumpul dan tak ada yang ketinggalan, para instruktur punya tanda peluit. Jika bunyi peluit dua kali, “Priiit… priiit…” artiya persiapan. Siswa siapapun yang mendengarnya harus teriak, “Persiapan.” Ini agar teman lainnya jadi awas.

Selang berapa detik, bakal menyusul peluit kedua, satu kali. “Priiit…” siapapun yang mendengarnya harus berteriak mengingatkan teman-temannya, “Kumpul… kumpul…”

Ada peserta diklat dari lokasi lain pamer suasana di sana. Selain menginap di hotel mewah yang berfasilitas wireless dan bisa pesiar menyelam, mereka menikmati bertetangga dengan para pramugari. Sebenarnya di sini tak kalah meriah. Kebetulan, hotel kami jadi tempat menginap para siswa sekolah dirgantara. Yah, para calon pramugari. Wireless juga ada.

Soal pesiar, kami baru punya waktu pada hari Minggu. Semata-mata sehari itu. Soalnya, minggu kedua, kami tak diizinkan keluar guna fokus belajar persiapan ujian. Waktu pesiar itu aku manfaatkan bertemu istri, jalan-jalan di Amplaz. Waktu pesiar pun dibatasi hingga sore sebelum magrib. Sebelum pesiar, kami mengisi kartu absen izin keluar. Kelas kami warnanya biru, Kelas A merah.

* * *

PESERTA PUTRI RUPANYA LEBIH BANYAK daripada cowok. Dari total delapan puluh siswa, hanya ada 27 pria. Itu dibagi lagi 14 orang kelasku dan sisanya Kelas A. Jumlah yang lebih sedikit justru lebih mudah membangun kekompakan di antara kami.

“Markas besar” kami tetapkan di rumah 287-288, kamar kami. Di ruang tengah, cowok yang merokok, berkumpul. Ngeses bareng sambil nonton teve. “Ini tempat ngumpulnya ahli hisap,” tutur Deki. Tak hanya kelasku, kawan dari kelas tetangga juga nongkrong di sini, seperti Wise Sukma Permana.

Rumah sebelah, kamar 285-286 dihuni oleh Joko Saputra, Doni Prasetia Sentosa, Bonifasius Donaris, Budi Santoso, Heru Cahyono, dan teman dari Kelas A, Emanuel Dewo Adi Winedhar. Yang paling misah adalah Erlangga Kusuma, Rendy Parwanto, serta Andreas Widiyatmoko yang menghuni kamar 291.

Aris, panggilan Bonifasius, termuda sekaligus paling pendiam di antara kami. Ia bermata empat, badan gemuk mirip bos. Ia kami panggil “Pak Kakap”. Kakap sendiri adalah sebutan untuk kepala kantor. Mungkin, ini singkatan dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Aku geli memikirkan sebutan itu. Aris, yang bersangkutan, hanya senyum-senyum diam.

Miun, sebutan karib Andreas, adalah temanku sekelas waktu diklat pertama kali. Suaranya lantang. Ia berteriak paling keras. Cocok jadi pemimpin barisan. Tapi saking ngepol bengoknya, kami jadi ketawa-ketawa.

Duet Erlangga dan Rendy bikin suasana jadi segar. Rendy buat celetukan “badala” sebagai ungkapan kaget. Angga, acap kami pelesetkan jadi Angy (baca: Enji).

Soni jadi satpam kami. Kalau hendak kumpul apel pagi, kami harus berangkat bareng. Baris menuju tempat apel. Dia tak pernah lupa mengingatkan teman-temannya untuk bergegas. “Wu, Siswa Budi merusak tatanan,” sergahnya kalau ada yang terlambat, masuk barisan sehingga menggeser formasi. Kami menikmati saja suasana ini.

Aku jadi senang dengan atmosfer pertemanan di antara kami.

* * *

RASANYA TIADA LENGKAP tanpa lagu. Ini diklat yang full music. Diklat lain? Kiranya belum tentu punya banyak stok lagu. Lagu yang pertama Pak Kodiyat ajarkan kepada kelas kami adalah “Mars Bela Negara”. Karena mars, “Menyanyi harus semangat. Hitungan (birama) satu-dua satu-dua,” urainya. Begini liriknya:

“Bangunlah seluruh rakyat Indonesia
Hadapi tantangan dan cobaan
Raihlah cita-cita yang mulia
Indonesia makmur dan sentosa

Walau berbagai suku dan agama
Ragam budaya serta golongan
Satu untuk semua
Semua untuk satu
Jayalah Indonesiaku tercinta

Persatuan dan kesatuan
Negara Republik Indonesia
Undang-Undang Dasar Empat-Lima
Pancasila dasar Negara

Seluruh rakyat wajib bela Negara
Songsong hari esok makmur sejahtera!”

Para tentara memang getol nyanyi. Tujuannya, “biar semangat,” tutur Pak Rakhmad. Mereka seakan menyimpan ratusan jenis lagu. Mulai dari yang heroik-serius, hingga yang jenaka. Rata-rata… kami lupa liriknya. Kalau sudah begini, para siswa hanya cengegesan di antara mereka tak tahu kelanjutan liriknya. Kadang kami reka-reka sendiri lagu itu. Jadinya, berantakan tak karuan.

“Otobemo! Otobemo…
Beroda tiga…
Di tengah-tengah kota… (lupa)

Panggil nona! Panggil nona…
(lupa, tapi tahu bait-bait akhir)
Nona bilang, tidak punya uang
Jalan kaki saja.”

Nah, yang paling menancap di benakku adalah lagu lari-lari.

“Lari-lari… tiap hari
Agar kuat urat kaki

Kaki lecet tak mengapa
Karena kita sudah biasa

Satu ribu, dua ribu
Tiga ribu, beribu-ribu

Satu gandul, dua gandul
Tiga gandul, alah gondal-gandul…”

Ada juga “Kapal Selam”.

“Kapal selam tangkinya bocor
Timbul-tenggelam di perjalanan…

Hu-hu-ha

Kapal selam tangkinya bocor
Timbul tenggelam di perbatasan…

Hu-hu-ha

Buat apa susah hati?
Buat apa sedih hati?
Siswa tak pernah sedih hati
Cuma dongkol dalam hati…”

Teman sekelas, Heru Cahyono, punya inisiatif jadi pemimpin rombongan menyanyi. Lagu-lagu itu kami kumandangkan tiap kali lari pagi keliling kampung serta lari siang di lingkungan hotel.

Jika semua lagu sudah dikerahkan, kami harus nyanyi pakai tembang sendiri. Apapun yang kami bisa. Andalan kelas kami adalah campursari “Anoman Obong” atau “Cucakrowo”. Tapi improvisasi ini agak berjalan kurang kompak.

Nah, yang bikin aku tak habis ketawa tiap kali mengingatnya, adalah lagu khas Dono-Kasino-Indro yang mirip lagu “Pink Panther”, film tentang seorang detektif konyol. Kali ini dijamin kompak!

“Teret-teret!
Teret-teret-teret-teret-tereeettt…
Tereret-teeettt…
Teret-teret
Teret-teret-teret-teret-tereeettt…”

Biang keladinya adalah Rendy Parwanto yang mencetuskan ide itu. Lalu, muncullah celetukan-celetukan khas trio pelawak kondang itu. Para siswa cowok rupanya punya chemistry kompak melakukan itu.

“Gile lu, Ndro.”
“Don, Don.”
“Ada apa Kas?”
“Mukegile lu.”
“Kecoa bunting babi ngepet…”

Apalagi kami punya Doni. Dia tiap kali kami panggil, “Don, Don…” seolah-olah dia Dono. Lantas ada Erlangga yang badannya tambun, tinggi, botak mirip Indro (soalnya kami semua dipotong cepak). Yang jadi Kasino? Rendy.

* * *

SEBUAH LAGU ACAP MEMBUAT MANUSIA BERGETAR. Merlina Margareta Rumbekwan mengaku menangis tiap menyanyikan “Bagimu Negeri”. “Gak tau entah kenapa. Tadi waktu di kelas menyanyikan lagu itu, aku nangis,” tutur teman sekelasku ini.

Lagu ini kadang kami nyanyikan sewaktu apel malam. Instruktur memanggil salah satu siswa secara acak. Bisa dari Kelas A bisa juga Kelas B. Siswa yang dipanggil tampil ke depan, memimpin menyanyikan sebagai dirijen.

“Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami.”

Selain “Bagimu Negeri”, ada juga “Syukur”.

Lina, begitu ia disapa, sebelum sekolah dasar sudah mengenal dunia kepanduan. Lantas dia menggeluti Praja Muda Karana, organisasi kepanduan Indonesia, sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Bahkan dia rutin ikut Jambore. Prajab yang sarat baris-berbaris dan menyanyi seperti ini, “bikin aku ingat pada masa lalu.”

Rumbekwan adalah salah satu nama marga asal Biak, Papua. Ayahnya dari sana. Ibunya asal Salatiga, Jawa Tengah. Ia mengaku Bapak kerja swasta dan Bunda seorang guru. Kedanya berjodoh setelah bertemu kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Lina berkulit sawo matang kehitaman. Rambutnya brintik. Ciri itu yang menunjukkan bahwa dia “orang Papua”. Tapi, sebenarnya, “aku belum pernah ke sana. Cuma Papa yang pulang pergi Biak-Jawa. Jadi, aku ini orang ‘Papua-Jawa’.” Ia lahir di Salatiga.

Selain Rumbekwan, ada Rumbia dan Rumbewas. “Sebenarnya nama marga banyak.”

“Kamu kenal Lisa Rumbewas?” aku bertanya. Lisa Rumbewas adalah atlet angkat besi kebanggaan kita.

“Enggak.”

* * *

MEMOMPA SEMANGAT tak melulu dengan lagu. Yang paling manjur, yah dengan yel-yel. Kalau dipikir-pikir, aku jadi ingat masa ingar-bingar ketika aku getol demo dulu. Rupanya para demonstran yang acap antimiliterisme sama saja dengan militer: suka yel-yel, senang nyanyi. Dunia memang indah dengan segala keanehannya.

Awalnya Pak Kodiyat dan Pak Rakhmad menawarkan per kelas menyusun yel-yel. Namun susah. Kelas A sudah dapat. Akhirnya yel-yel Kelas A kompak kami pakai bersama-sama.

Yel-yel itu kami ambil dari lagu “Garuda di Dadaku” milik band Netral. Sebenarnya, lagu ini pun adopsi dari tembang daerah Papua “Apuse”. Begini bunyinya:

Pemimpin teriak, “Kekuatan!”
Peserta menjawab serentak, “Lima-lima!”
Pemimpin menyahut, “Prajab!”
Peserta menyambut, “Jaya!”
Pemimpin, “Maju!”
Peserta, “Jalan!”

Lalu kami menyanyi.

“Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang
Kelas A keluargaku
Kelas B saudaraku
Kuyakin Prajab ini pasti lulus.”

Peserta putra teriak, “Hohohoho…”
Peserta putri menjawab, “Hahahaha…” begitu dua kali.

Setelah itu, pemimpin mengambil alih, “Prajab, Prajab!”
Peserta menjawab, “Pantang mundur, pantang mundur!”
“Sukseeeesss…”
“Yeeesss…”

Tepuk tangan bergelombang.

Kata Pak Kodiyat, arti dari “kekuatan lima-lima” adalah kekuatan puncak. Kayak motor yang terisi penuh bensin. Pantang lelah. Tak kenal menyerah. Semua daya dikerahkan.

Yel-yel ini akan kami peragakan usai upacara penutupan di hadapan para panitia diklat. Dan yang jadi pemimpin yel-yel… mereka tunjuk aku. Lagi-lagi aku ketiban peran. Jelas, ini tak bisa membuatku mikirin ujian Senin (12/10). Waktu yang seharusnya aku manfaatkan guna belajar hanya aku pakai untuk memikirkan demonstrasi. Kali ini bukan demonstrasi dalam arti unjuk rasa, tentunya. Tapi tak mengapa.

* * *

DALAM TATACARA BARIS-BERBARIS, Kami diajari gerakan dan aba-aba yang lebih rumit daripada apa yang kami ketahui sebelumnya. Ada pengetahuan baru. Meski sipil, kami perlu tahu juga. “Siapa tahu, kantor kalian mengadakan upacara, kalian ditunjuk jadi perangkat upacara, sudah bisa,” pesan Pak Kodiyat.

Kami diajari “berhimpun” dan “berkumpul”.

Bedanya, berhimpun membentuk setengah lingkaran, para peserta mengerumuni pemberi aba-aba, mendengarkan hal-hal yang hendak disampaikan. Gunanya untuk briefing persiapan operasi. “Densus 88 pasti begini sebelum melakukan penyergapan,” komentar Pak Kodiyat.

Berkumpul berarti membentuk formasi barisan bersap atau berbanjar. Sebelum berkumpul, harus ditentukan siapa penjurunya. Kelas kami adalah Joko Saputra, soalnya dia yang paling tinggi. Sedangkan kelas A penjurunya Eka Prasetya. Penjuru inilah yang berdiri paling depan paling kanan, diikuti oleh peserta lainnya.

Aba-abanya, “Siswa Joko sebagai penjuru.”

Si penjuru menjawab, “Siap Siswa Joko sebagai menjuru.” Lalu dia maju, berdiri persis di depan pemberi aba-aba.

Setelah itu, pemberi aba-aba melanjutkan, “Bersap kumpul…” peserta lainnya berdiri siap. “Mulai!” para peserta beranjak, membentuk barisan tiga bersap. Kalau aba-abanya “berbanjar kumpul” formasinya tiga berbanjar. Lalu pemimpin barisan beranjak dari muka penjuru ke depan tengah-tengah barisan.

Bagaimana cara membetuk barisan? Jika jumlah peserta dibawah sembilan orang, tak termasuk pemimpin barisan, cukup bikin satu baris saja. Jika sembilan orang, buatlah barisan tiga kali tiga. Dibolak-balik tetap sama. Yah tiga bersap, yah tiga berbanjar. Jika lebih dari sembilan, boleh kita tentukan formasi berbanjar atau bersap.

Ada juga aba-aba gerakan “melintang” dan “haluan”. Haluan hanya bisa dalam formasi bersap. Gunanya memindahkan arah hadap barisan, dengan formasi tetap bersap. Sedangkan melintang hanya bisa dilakukan dalam bentukan berbanjar. Gunanya, untuk mengubah formasi semula berbanjar jadi bersap. Gerakan jenis ini butuh kekompakan. Kuncinya adalah penjuru yang jadi poros. Jangan sampai terlalu cepat berputar arah. Dia harus memperhitungkan peserta lainnya, terutama yang di ujung barisan, untuk menyesuaikan langkah agar selaras.

Dalam posisi tangan kanan membawa barang, kalau hormat, benda itu harus dipindah dulu ke tangan kiri. Hormat dengan tangan kiri adalah pantangan. Jika tak sempat memindahkan barang bawaan atau kedua belah tangan sama-sama bawa beban, cukup hormat dengan menganggukkan kepala. Jika posisi yang dihormati berada di sebelah, kita tinggal menolehkan kepala. Posisi duduk, hormatnya ambil sikap punggung tegak.

Ada juga hormat ketika berkendara. Sama, cukup menegakkan punggung. Misalnya bawa motor. “Jangan berlebihan, tangan hormat, tapi kendaraan tak terkendali,” urai Pak Kodiyat bikin kami cekikikan.

Hormat-menghormat ini kudu kami terapkan. Ketemu sesama siswa hormat. Terlebih-lebih jika bersua instruktur atau panitia. Kebetulan, ada para senior yang mengikuti diklat lainnya. Mereka juga harus kami hormati. Awalnya mereka yang tak tahu kagok. Tapi lamat-lamat paham juga, kami lagi diklat Prajab, aturannya memang begitu. “Bukannya gila hormat. Ini untuk kedisiplinan kalian,” ujar Pak Kodiyat.

Kalau barisan sedang berjalan, yang memberi hormat cukup pemimpinnya.

Tiap kami mulai melangkah, harus teriak, “Prajab!!!” Misalnya, ketika “maju jalan” atau “bubar jalan”. Gerakan duduk juga begitu. Habis duduk, hendak berdiri juga teriak. Gerakan duduk untuk menoleransi para siswa yang sudah capek berdiri dan berjalan.

Khusus untuk “bubar jalan”, Pak Kodiyat coba menjernihkan salah kaprah yang selama ini terjadi. “Tak ada yang namanya ‘tanpa penghormatan bubar jalan’. Bubar jalan harus dengan hormat, balik kanan, lalu bubar. Kalau gak pengen penghormatan, bubarnya pakai aba-aba ‘istirahat di tempat’ saja. Setelah ambil sikap istirahat di tempat, segera meninggalkan tempat.”

Ada juga buka dan tutup barisan. Kalau untuk upacara resmi, buka barisan cukup menggeser langkah menjauhi banjar sebelahnya. Tinggal menyesuaikan aba-aba. “Satu kali buka barisan” berarti bergeser satu langkah. Dua kali buka barisan, yah dua langkah.

Yang agak unik adalah buka barisan sewaktu senam. Harus ada patokannya. Misalnya pemberi aba-aba berkata, “Nomor satu sebagai patokan.”

Maka sap paling depan nomor satu dari kanan menjawab, “Siap nomor satu sebagai patokan.” Patokan ini maksudnya tak perlu bergerak membuka barisan. Biar teman-teman sampingnya yang menyesuaikan.

Lalu pemberi aba-aba melanjutkan, “Buka barisan!”

Peserta menjawab, “Jas!” sambil kedua tangan memukul perut samping dengan sikap mirip berkacak pinggang. Cuma, tangannya mengepal di depan. Jas, maksudnya adalah jasmani karena kita bakal melakoni senam kesegaran jasmani.

Sudah siap membuka barisan, pemberi aba-aba melanjutkan, “Mulai!”

Maka mulailah para peserta merentangkan tangannya. Barisan mengembang, jangan sampai tangan satu menyentuh tangan kawannya. Sambil merentangkan jarak, peserta harus lari-lari kecil sembari berteriak, “Orsa-orsa-orsa…”

Artinya, “Orang sabar,” jawab Pak Rakhmad. Entah memang benar atau entah sekenanya.

Usai senam, barisan menutup. Pada dasarnya sama, hanya aba-aba berganti jadi, “Tutup barisan!” Tatkala ada perintah “mulai”, barisan jadi merapat. Jangan lupa, bergumam, “Orsa-orsa-orsa-orsa-orsa…”

Kadang kami merapalnya jadi, “Saur-saur-saur…”

* * *

INI MASIH SOAL SENAM. Kami selalu melakukannya di halaman belakang hotel. Halaman itu cukup luas, lebih dari dua kali lapangan bulu tangkis. Ditambah, jalan keluar lewat belakang yang cukup dilintasi dua buah mobil. Alasnya beraspal. Tepi lapangan masih bertanah, tumbuh beberapa pohon.

Banyak ayam yang berkeliaran di sana. Tak ayal, banyak kotoran ayam jadi ranjau. Kami perlu memilih tempat senam yang cocok, jangan sampai menginjak ranjau atau mendudukinya.

Satu ketika, Pak Kodiyat dan Pak Rakhmat sudah siap dengan setelan kaos dan celana training. Lambat laun, Pak Kodiyat merasakan ada yang tak beres dengan belakang celananya. “Kok mambu telek yoh.” Kok bau kotoran yah.

Rupanya, ia terkena ranjau. Cepat-cepat ia lari ganti celana loreng. Kami cekikikan.

Ini masih soal ayam. Bukan telek ayam, melainkan makan ayam. Para cewek sering masih merasakan lapar di malam hari. Solusinya, pesan makanan cepat saji, KFC. Mereka, selain membunuh perut keroncongan, sebenarnya punya motif lain. “Habis yang nganterin cakep sih… namanya Edo Nugroho,” ujar salah seorang cewek.

Jadinya, cewek-cewek dari beberapa kamar yang berbeda pesan KFC, dengan tambahan pesan, “Yang nganter Mas Edo yah…”

Ini masih soal makan, meski tak melulu makan ayam. Ini tentang acara makan siang di hari Minggu. Pemeluk agama kristiani bertandang ke gereja pada hari itu. Tak jarang mereka pulang pada siang hari, pas jam makan.

Waktu itu, Agus, usai dari ibadah, memeriksa kamarnya. Sudah kosong. Ia pikir semua temannya sudah keluar. Ia kunci pintu depan, bergabung dengan para siswa, santap siang. Setelah beberapa jurus baru sadar, dari tadi kami tak melihat Ardi. Rupanya Ardi baru di kamar mandi, sehingga tak kelihatan. Agus menyangka sudah pada keluar. Ardi pun terlambat makan siang.

“Jangan sampai kehabisan jatah yah,” tutur Pak Kodiyat. Kami terbahak. Suasana kali ini rileks.

* * *

ENTAH MIMPI APA SEMALAM, Rabu malam itu (30/9) kami kena “setrap”. Usai menyerap pelajaran pada setengah sembilan, kami harus apel. Apel kali ini lama bukan buatan. Satu jam lebih. Ini baru hari kedua. Aku membayangkan apakah malam selanjutnya akan begini juga.

Kami berdiri gejejer, kaki jadi pegal. Teman-teman perempuan yang memakai sepatu hak tinggi lebih tersiksa. Para instruktur malam itu jadi agak galak. Mungkin tujuan mereka agar kami mengenal dunia militer macam begini. Jika memang ini perlu dijalani, aku sih tak mengapa. Dibawa senang saja, dinikmati saja. Tak perlu mengeluh. Itu pendapatku sendiri.

Malam itu, instruktur memang menyampaikan banyak hal. Terutama tatacara timbang terima jabatan pengurus harian. Ketua kelas harian –dua kelas, piket harian –seorang putra, serta bintara harian –seorang putri. Kami bergiliran peran antara petugas piket dan bintara. Kelas A dapat piket, Kelas B dapat bintara. Begitu saban hari. Nah, timbang terima inilah yang hendak instruktur ajarkan malam itu –di samping hal lain yang berjibun semisal penekanan disiplin dan tindak-tanduk keseharian selama diklat.

“Baru sebentar sudah lelah. Besok-besok saya tambah dua jam,” tantang Pak Rakhmad.

Para siswa diam. Cuma berkesah dalam hati.

“Kalian mungkin sudah bosan lihat muka saya. Serasa mau muntah, maklum saking jeleknya kayak luwak. Tau luwak gak?” Pak Kodiyat bertanya.

Peserta bungkam.

“Luwak itu binatang kayak kucing yang suka makan kolang-kaling,” dia jawab sendiri pertanyaan itu.

Aku tertawa dalam hati. Tiap kali mengingatnya aku cekikikan sendiri. Aku rasa beliau sengaja bikin plesetan karena aku maupun kamu sendiri juga tahu lah, sejatinya luwak doyan mengganyang kopi… atau ayam.

Untunglah peristiwa itu cukup terjadi malam itu saja. Selanjutnya, apel berlalu lebih singkat. Terutama jelang ujian. Aku tahu, para instruktur memahami kami yang tengah berjuang demi lulus diklat.

“Sebenarnya saya tak pernah memaksa toh. Kalau ada yang sakit silakan mundur saja. Gak ikut apel gak pa-pa. Duduk di belakang saja,” ujar Pak Rakhmad masih menyinggung kejadian semalam.

* * *

SEKALI-SEKALI MENYALURKAN “PIKIRAN JAHIL” rasanya perlu juga. Sabtu siang itu (3/10) Erlangga Kusuma dan Dian Aprilianti mengabariku. “Eh. Lina kalau gak salah hari ini ulang tahun loh. Kasih tahu Pak Rakhmad yuk. Kita pengen dikerjain.”

“Pak, hari ini ada yang ulang tahun,” aku memenuhi aspirasi Angga dan Dian.

“Sapa?” tanya Pak Rakhmad.

“Merlina Margareta.”

Kebetulan, Lina, Angga, dan Dian adalah kawan akrab. Mereka satu kelas waktu Diklat Teknis Substantif Dasar beberapa bulan lalu. Kami sama-sama di Balai Diklat Yogyakarta. Mereka Kelas C, aku Kelas F.

Pak Rakhmad membuat orek-orek di kertas sobekan.

Kelas usai, kami harus cepat ganti pakaian training. Kami lari dua putaran di lingkungan halaman dalam hotel. Ini rutin kami lakoni sebelum santap siang. Dan kali ini pelatih agak galak.

“Kalian itu… yang semangat. Baru begini saja sudah loyo,” teriak Pak Rakhmad.

Selesai lari, kami digiring ke lapangan belakang.

“Yang saya panggil maju ke depan. Septavian… Okie Indra Wijaya… Septa Bahrun Rahmani… Merlina Margareta… Paulina Vika… Andreas Widiyatmoko…” dan sejumlah nama lainnya, aku tak hapal.

“Kalian yang di depan ini ambil sikap push up. Push up sepuluh kali. Mulai!”

Wajah kami tegang dan pasrah. Yang disuruh push up masih penasaran.

Belum tuntas sepuluh ronde, Pak Rakhmad sudah menghentikan. “Sudah sekarang berdiri. Kalian tahu apa kesalahan kalian?”

Siswa diam. Sepaneng.

“Karena kalian ulang tahun pada bulan September dan Oktober. Sebagai bentuk kepedulian kami, hanya ini yang dapat saya berikan. Jangan dilihat bentuk dan nilainya. Diterima saja pemberian ini apa adanya.”

Suasana lumer. Semuanya tersenyum-senyum.

“Dulu saya kalau ulang tahun disuruh komandan mencebur ke kolam. Kalian masih mending toh?”

Gerrr…

“Sekarang teman-teman menyalami yang ada di depan terus langsung ke tempat makan. Kerjakan!”

Ucapan selamat mengalir.

Aku, Erlangga, dan Dian cengengesan saling mengedipkan mata.

* * *

KADANG PANCA INDRA YANG TERBATAS menipu kita. Waktu itu kelas sore sudah bubar pada pukul lima. Masih ada waktu bernafas sejenak guna melempar penat. Pukul enam petang masih jauh.

Tapi, acara ngaso para siswi itu sontak terkoyak oleh sempritan yang tiba-tiba menyalak.

“Priiit… priiit”

Tergopoh-gopoh, dua belas orang penghuni kamar 271, 272, 273, dan 274 bersiap diri. Mereka pikir waktu makan sore telah tiba.

“Persiapan,” mereka teriak bareng.

Ada bunyi peluit sekali lagi. “Priiit…”

“Kumpul,” mereka memekik memperingatkan para tetangga.

Segera mereka bikin barisan tiga berbanjar. Berjalan rapi, mereka menuju ruang makan melalui bilik 211 dan 212, kamar panitia dan pelatih. Pak Kodiyat dan Pak Rakhmad yang lagi duduk santai sembari ngobrol memandang heran.

Barisan berlalu. Kedua instruktur menguntit.

Tempat tujuan ternyata masih sepi. Barisan heran.

Pak Rakhmad bertanya, “Kenapa kok sudah pada kumpul?”

Mereka serempak menjawab, “Tadi dengar peluit, Pak.”

Kedua instruktur hanya tersenyum-senyum. Para siswi tertawa sendiri.

Rupanya, sempritan itu, “ulah tukang parkir hotel yang sedang mengatur kendaraan,” seloroh Lina, salah satu “korban” peristiwa itu.

Akibatnya, “yang jelas kalau dengar suara peluit saya jadi agak-agak jantungan,” aku Yunita Eskadewi, penghuni kamar 274.

* * *

JUMAT HARI TERAKHIR ITU (9/10) sama dengan Jumat sebelumnya. Kostum ajek, batik, mulai pagi hingga malam. Tri Handayani paham akan hal itu. Pagi itu dia hendak bersiap menyambut apel pagi. Demikian halnya dua orang teman sekamarnya, kamar 278, Dillyana Handaru Kusuma Pratiwi dan Rita Budiasih Nurjayanti. Mereka sibuk sendiri-sendiri menyiapkan keperluan pribadi.

Bertiga mereka memakai ageman batik.

Priiittt… peluit sekali berbunyi.

“Kumpul!” siswa siapapun yang mendengarnya berteriak mengingatkan kawan terdekat.

Dengan sigap Daya, panggilan karib Tri Handayani, menuju tempat apel. Segera ia gabung masuk barisan. Teman-teman sekeliling memandang heran. “Kok pakai dasi?”

“(Ini gara-gara) kebiasaan kalau pagi pakai dasi… Ihhh malu banget,” ceritanya.

Kok teman sekamar tidak mengingatkan?

“Yah pada gak nyadar juga kali. Apa emang sengaja kali yah? Hehe…” jawabnya.

“Itu semua pas pada buru-buru. Siswa Daya keluar terakhir. Aku sebagai ‘bumil’ udah jalan duluan, tau-tau aja Siswa Daya curhat, dia malu banget. Baru deh tau kalau terjadi tragedi dasi kolaborsi sama batik,” tutur Rita.

Bumil akronim dari ibu hamil.

“Saking ribetnya ngurus diri sendiri, waktu itu gak sempat merhatiin situasi dan kondisi sekitar,” Lia membela diri.

Ini masih soal kejadian segar tatkala apel. Waktu itu apel malam. Para siswa sudah lelah. Wajah sudah sayu. Instruktur sudah menyampaikan wejangan. Seperti biasa, akan ada siswa yang secara acak dipanggil tampil ke depan.

“Kelas B. Sap depan nomor enam tampil ke depan,” ujar Pak Kodiyat lantang.

Yang ditunjuk belum juga maju. Yang menunggu jadi tak sabar.

“Iya kamu,” tukas Pak Kodiyat.

Masih belum merasa.

“Manohara!”

Para siswa ketawa tertahan. Pundakku terguncang-guncang kecil. Kami harus tetap stand by sikap sempurna.

Dhewi Ratnasari maju.

“Pimpin menyanyikan lagu ‘Syukur’!” perintah Pak Kodiyat.

Manohara Odelia Pinot adalah model blasteran. Ibu Indonesia, ayah Prancis. Dia sempat “mendadak selebritis” lantaran prahara rumah tangganya dengan pria ningrat asal negeri jiran, Pangeran Kelantan Tengku Fachry, jadi gilingan empuk media hiburan, beberapa waktu silam. Badannya tinggi, agak subur. Rambutnya hitam janges, lurus panjang terurai. Pipinya agak tembem. Kulit putih.

Dari ciri fisik seperti itu, Dhewi punya beberapa kesamaan. Sejak itu, esok harinya, aku panggil dia, “Hei, Siswi Manohara.”

“Bukan, bukan aku kok,” tepisnya.

* * *

BEBERAPA HARI JAUH DARI KELUARGA di pemusatan seperti ini bikin rindu makin menggebu. Septa Bahrun Rahmani tahu betul bagaimana rasanya. Ia kangen anak-istri.

Malam Minggu (10/10), untunglah istrinya, Yulistika Agustina, membawa buah hati mereka, Ahmad Rafsan Maynarazbin. Keduanya menjenguk Mas Septa di depan teras kamar. Mas Septa sekeluarga tinggal di Sleman. Masih terbilang dekat. Abin, bocah tiga setengah tahun itu, lagi menunggu adik kecil. Istri Mas Septa isi lagi.

“Abin lagi tambah lucu,” ungkapnya padaku, “masak dia tanya, ‘ayah tidur sama teman-teman yah?’”

Kami terpingkal bareng. Waktu itu kami menyantap makanan kecil usai garap ujian hari pertama, Minggu (11/10). Kantuk sedikit terusir oleh teh hangat. Aku pun merasakan hal yang sama. Itu pasti. Aku rindu istriku.

Tiada beda dari Yunita Eskadewi, teman sekelas asal Blora. “Rasanya kuangen banget sama suami dan anak. Sedih juga, anak harusnya masih dapat ASI eksklusif tapi harus terputus selama dua pekan. Akhirnya ASI terbuang percuma.”

Muhammad Khoirul ‘Azam Siswanto adalah buah cintanya dengan Siswanto. Selama prajab ini, Nita harus menahan rindu pada keduanya. Suami kerja di Jakarta sedangkan anaknya, “ikut neneknya di Blora. Tapi alhamdulillah, pulangnya dijemput suami tercinta.”

Nita juga sekelas denganku ketika Diklat Teknik Substantif Dasar dulu, masih di Yogyakarta. Waktu itu, Februari-April lalu, dia masih mengandung Azam. Mas Septa pun sekelas dengan kami pada DTSD. Kini, kami kumpul lagi di prajab ini. Bedanya, Nita sekelas denganku, Mas Septa di Kelas A.

Barangkali para instruktur juga merasakan hal yang sama. “Sudah biasa. Saya pagi ke kantor, sore pulang lalu berkemas, istri dan anak sudah maklum. Tugas mendadak sudah biasa. Terpisah berbulan-bulan sudah lumrah. Minimal tiga bulan, paling lama setahun. Mereka di rumah cukup menunggu saja. Kalau ada desas-desus saya meninggal dalam tugas, setahun tak kunjung pulang, keluarga tak langsung percaya. Seorang tentara yang gugur, barang-barangnya pasti dikembalikan kepada keluarga. Selama tak ada seragam saya yang terkirim ke rumah meski saya belum pulang, mereka percaya saya baik-baik saja,” ujar Pak Kodiyat secara terpisah, suatu kali.

* * *

MINGGU (11/10) SORE ITU suasana malas-malas. Rasa capek usai ujian pagi tadi masih terasa. Tidur siangku tidak tuntas. Terasa mengantung dan tak enak di badan. Pukul tiga, para siswa menyerbu teras kamar panitia untuk mengambil jatah makanan kecil. Apes. Snack belum tertata. Kecele, mereka balik ke kamar masing-masing.

Kecuali aku.

Aku masih mengurus absensi. Aku serahkan absen kepada Eugenia Elina dan Dhewi di muka kamar. Mereka tengah duduk santai membaca modul untuk ujian besok. Lantas aku berniat balik ke barak. Kebetulan, ada Doni, Miun, dan Rendy yang baru tiba mencari snack. Bertemulah kami dengan Pak Kodiyat dan Pak Rakhmad. Setelah beberapa jurus berbasa-basi, Miun undur diri. Alasannya, “Angga masih di dalam kamar, kuncinya aku bawa.”

Tinggallah kami yang tersisa. Sore hari itu merupakan kesempatan pertama kami bisa mengobrol rileks dengan instruktur. Sebelumnya, jadwal nan padat menguras waktu kami. Tiada momen luang. Saban hari diisi oleh senam pagi, lari-lari, sarapan pagi, apel pagi, menerima pelajaran di kelas, lari lagi siang hari, makan siang, ke kelas lagi, baru ada jeda sejenak di sore hari, lantas makan sore, ke kelas lagi, apel malam… dan capek, tidur. Esok hari begitu lagi. Pertemuan hanya sebatas urusan itu.

“Saya sebenarnya pengen bicara santai seperti ini,” celetuk Pak Kodiyat.

“Bapak jadi tentara sejak kapan?” saya bertanya.

“Tahun 1977. Saya lahir 1957.”

“Kalau Pak Rahmad?” aku melempar tanya gantian ke Pak Rakhmad.

“Tahun 1983. Saya lahir 1963.”

“Rata-rata jadi tentara usia 20 tahun yah?”

Keduanya mengangguk. Suasana sepi sejenak.

“Apa kenangan yang paling berkesan di Timor Timur?”

Petugas hotel tergopoh-gopoh datang membawa senampan makanan kecil. Pisang kukus berbalut daun pisang plus keripik berisi abon. Cemilan yang terlambat. “Saya pikir buat pukul lima,” selorohnya sambil tersenyum berharap kami memaklumi kesalahan ini.

* * *

SUATU HARI PADA 1999. Kodiyat terpaku di depan layar kaca. Saat itu, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie mengumumkan hasil referendum yang digelar via pengawasan PBB pada 30 Agustus. Sekitar 78,5% suara pilih merdeka. Timor Timur sudah bukan bagian dari Indonesia. Ia lepas menjadi negara baru.

Melihat kenyataan itu, pipi Kodiyat panas. Air mata mengalir.

“Saya bertugas di sana tiga kali… tahun 1977, 1984, dan 1986… tiap masa tugas lamanya setahun. Yang pertama selama 13 bulan. Tiap kali kami ditarik (dari penugasan), sebelum meninggalkan Timor, saya selalu ke makam dahulu. Di sana banyak kawan terbaring.

Berapa ribu pasukan TNI yang meninggal? Dalam sehari bisa empat puluh hingga lima puluh tentara gugur. Pernah dalam satu jam delapan belas orang tewas. Waktu itu pasukan mendaki gunung. Diguyur tembakan dari atas dan digelindingi batu oleh musuh. Posisi di bawah tak menguntungkan.

Para veteran rame-rame membakar piagam Seroja gara-gara Timor lepas. Banyak yang cacat, buntung. Apa hasil dari semua ini?” tutur Pak Kodiyat mengenang.

Seroja adalah nama operasi TNI di sana.

“Saya tak punya gelar veteran. Soalnya yang dapat veteran yang ke sana sebelum 1976. Sedangkan saya baru datang pada 1977.

Teman saya namanya Suhaji. Sewaktu tiarap, dia kena tembak di perut. Ususnya keluar, terburai. Lukanya ditekan dengan ompreng, alat masak. Lantas dibebat dengan kain segitiga. Ia diterbangkan ke Dili. Tak ada rumah sakit yang mampu menangani. Lalu diberangkatkan ke Jakarta, ke RSCM. Sampai sekarang masih hidup, meski jadi bongkok. Di dapat istri seorang perawat.

Tapi ada juga Prapto, teman yang tertembak tapak tangannya… Cuma tapak tangan, iyah benar, cuma ini (menunjuk-nunjuk tapak tangan kiri). Tapi kok yah mati. Kehabisan darah. Yah begitulah nasib.”

Kami dan Pak Rakhmad mendengarkan dengan serius.

“Bapak kecewa dengan Habibie?”

“Yah bagaimana lagi…” ia jawab dengan terbata.

Di lain waktu, aku sambung percakapan, “Bapak pengen ke Timor lagi gak?”

“Yah…” ia tak lanjutkan jawaban.

* * *

TIMOR artinya timur. Timor Timur, yah daerah Timur yang ada di sebelah timur. Orang Portugis menyebutnya Timor Leste. Orang asli sana bilang Timor Lorosa’e. Ia terletak di pulau Timor yang terbelah menjadi dua daerah besar. Sebelah barat adalah Nusa Tenggara Timur, salah satu provinsi Indonesia. Timor ada di sebelah timur. Luasnya 15.410 km persegi. Saat ini, jumlah penduduknya 1,13 juta jiwa. Ibukotanya Dili.

Sejak tahun 1500-an, daerah ini dijajah Portugal. Lama-kelamaan, kolonialisme niscaya limbung. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Portugal, negara Eropa yang pada abad pertengahan getol menjelajahi daerah baru untuk dijajah, terlalu repot mengurusi banyaknya daerah koloni. Pada 1974, Portugal harus menghadapi dekolonisasi jajahannya di Afrika, Angola dan Mozambique.

Momen itu dimanfaatkan oleh rakyat Timor. Berangsur-angsur Portugal menarik diri dari sana. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pada 28 November 1975, rakyat menyatakan bebas dari penjajahan Portugal. Tanggal itulah yang mereka yakini secara resmi sebagai hari kemerdekaan. Kelak, pasca-referendum 1999 pun, mereka mengakui Negara ini sudah lahir pada 1975. Peringatan kemerdekaan mereka rayakan saban 28 November.

Namun, sepeninggal Portugal, masuklah Indonesia. Dengan paham “integrasi”, Timor harus jadi bagian Indonesia. Padahal, konsepsi wilayah Indonesia pada masa presiden pertama Soekarno adalah daerah bekas Hindia Belanda. Dan Timor bukanlah jajahan Negeri Oranye.

Lantas mengapa Indonesia ngotot masuk?

Banyak analisis mengarah ke ketakutan Barat akan efek domino komunisme. Paham merah itu sudah merambat dari Sovyet ke China dan makin ke tenggara bertengger di Vietnam. Di sebelah selatan Vietnam ada Indonesia dan selatan Indonesia adalah Australia.

Perlawanan Timor digerakkan oleh Front Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor-Timur (Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente atau disingkat Fretilin). Fretilin berhaluan nasionalis-kiri.

Indonesia dianggap paling berpengalaman menggebuk komunis. Tahun 1948 dan disusul 1965, di bawah Soeharto yang kemudian menggantikan Soekarno jadi presiden, Negara ini menorehkan catatan tumbangnya Partai Komunis Indonesia. Karena itulah, Paman Sam dan Negeri Kanguru tak ragu menyokong Indonesia menduduki Timor Timur. Indonesia, bagi Barat, adalah benteng terakhir peredam merambatnya paham yang dicetuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engel ini.

Namun kiranya wacana politik tingkat elit semacam itu tak usah terlalu dalam dimaknai oleh tentara lapangan macam Pak Kodiyat maupun Pak Rakhmad. Di benak mereka, tiap jengkal wilayah Merah Putih harus dijaga keutuhannya.

“Sejak tahun tujuh puluhan hingga sembilan-sembilan, pasukan selalu dikirim ke sana. Tanpa henti. Baru mandek setelah Timor lepas,” seloroh Pak Kodiyat.

“Pak Rakhmad juga pernah ke Timor?” saya bertanya.

“Sekali, tahun 1984,” jawabnya.

“Anda pernah ke sana juga?” tanya Pak Kodiyat pada koleganya.

“Jangan-jangan kita pernah ketemu di Kali…” sahut Pak Rakhmad menyebut nama suatu sungai, saya lupa namanya.

“Anda Batalyon…?” tanya Pak Kodiyat, aku juga lupa nama satuan pasukan. Ia sebut antara 412 atau 416, aku tak ingat.

“Oh ya betul, kita pernah ketemu di sana,” keduanya sejenak terlibat dalam percakapan seakan mengenang peristiwa berkesan bagai kawan yang kebetulan bertemu kembali. Kami bertiga, aku, Doni, dan Rendy, hanya menyimak.

Selain ke Timor, Pak Rakhmad pernah berangkat ke Sulawesi. “Pasukan dari Jawa malah yang sering dapat penugasan operasi di daerah,” kisahnya.

* * *

“SAYA PERNAH TAK MAKAN delapan belas hari,” sambung Pak Kodiyat, masih soal pengalamannya di tanah Timor. Waktu itu tahun 1984. Sembilan orang terdampar di hutan. Kontak via radio tak pernah ditanggapi oleh markas.

“Terpaksa makan gembili diparut dibumbui garam dan cabe. Kalau tidak, menunya kembang jambe direbus jadi sayur. Baru kali itu saya tak makan nasi berhari-hari. Waktu bantuan datang, tubuh rasanya sudah melayang-layang saking laparnya. Kalau terpaksa, teman nembak rusa. Tapi saya gak bisa makan hewan berkaki empat. Selalu perut menolak, keluar lagi. Dari dulu saya tidak pernah makan hewan berkaki empat.

Kalau dibanding-bandingkan, kondisinya jauh lebih baik pada 1977. Waktu itu, respon bantuan selalu cepat. Kita minta kiriman, segera berangkat. Kita pernah dapat susu Ovaltine sekaleng segini (tangan menunjukkan dari tapak kaki hingga paha bawah). Kita juga pernah dapat sarden kaleng dari Malaysia. Boleh ambil sebanyak mungkin sesukanya.”

Pak Kodiyat mengaku pada 1977, dalam setahun, fisiknya berkembang. Tinggi 155 cm dan bobot 45 kg jadi 165 cm dan 68 kg. “Banyak makan ikan dan usia belum 24 tahun. Protein tinggi. Itu saat-saat pertumbuhan bisa optimal,” terangnya.

Kalau 1984?

“Kita minta bantuan saja susah. Alasannya macam-macam. Kabut, medan berat, hujan, helikopter belum siap, ada saja. Dulu (1977), kalau kita kontak ada yang ‘harum’ satu, heli langsung berangkat.”

“Harum” adalah kata sandi, artinya gugur. Seorang tentara yang tewas di medan perang dilaporkan ke markas “harum” agar jenasahnya segera dijemput.

Lagipula, pada 1977, Kodiyat masih jadi pemuda lajang. “Kalau tewas, saya tidak punya siapa-siapa. Jadi maju saja tiap ada musuh. Buru sampai dapat.”

Tahun 1981, Pak Kodiyat menikah. Pada 17 Februari 1982, lahirlah anak pertama. “Tanggal lahirnya dua hari setelah Siswa Yacob lahir,” ungkapnya kepada saya.

Setelah punya keluarga, “Rasanya ke Timor lain. Tiap kali di medan, harus hati-hati. Utamakan keselamatan. Keluarga ada di rumah. Pengobat rindu kala itu yah cuma surat dan foto. Dibaca-baca berulang-ulang dibolak-balik.”

* * *

BEDA LAINNYA, pada 1970-an, masih bercokol sisa-sisa pasukan Portugal. “Orangnya kejam-kejam, suka motong kemaluan,” tutur Pak Kodiyat. Pernah ada 12 pasukan TNI tertangkap. Yang sebelas dihabisi dengan dipotong alat kelaminnya. Badannya disayat-sayat. Yang satu dibiarkan hidup disuruh lari kembali ke pos… setelah dipangkas kedua kupingnya.

“Kami membalas. Dapat tiga orang, dipotong kepalanya. Lalu dibawa ke pos. Hidungnya mancung-mancung, badannya tinggi-tinggi.”

Pada 1980-an, yang mereka hadapi adalah Fretilin. Bagi Pak Kodiyat, mereka tak kalah kejamnya. Suka babat pakai parang. Jika bersua rakyat yang pro-integrasi, mereka langsung embat. Seorang ibu yang tengah mengandung pun kena tebas. “Saya tak tega melihatnya,” kenangnya.

Konflik semacam ini, meminjam istilah Dom Helder Camara, seorang aktivis HAM asal Amerika Latin, bagai “spiral kekerasan”. Layaknya puting beliung atawa tornado, eskalasinya makin meningkat, berputar-putar menelan siapa saja. Kekerasan dibalas dengan kekerasan. Dan pembalasan harus lebih hebat. Makin hari kian panas. Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran mencatat sejak 1974 hingga 1999, 18.600 orang mati dalam kerasnya konflik di Timor. Sebagai dampak ikutan (opportunity impact), 84.200 orang tewas karena kelaparan dan terserang penyakit. Bukan TNI, bukan Fretilin, bukan rakyat sipil. Semua jadi korban.

Indonesia secara geologis adalah daerah bergunung-gunung. Banyak sabuk vulkano berderet dari ujung barat ke pucuk timur. Celakanya, secara psikososial pun, kok yah ikut-ikutan jadi “negara vulkanik” nan sarat konflik. Kekerasan berserak di mana-mana, meski saat ini terdengar mereda. Di Aceh Gerakan Atjeh Merdeka berseteru dengan TNI. Di Maluku, Islam bertikai dengan Kristen. Di Poso juga demikian. Papua menuntut merdeka. Di Sampit, Kalimantan, Dayak menebas kepala orang-orang Madura. Konon, agar arwah korban tak menghantui, si pembunuh perlu memakan hatinya.

Rasanya butuh sikap arif yang luas guna memaknai keberagaman Negara ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang begitu majemuk. Seorang indonesianis asal Amrik, Bennedict Anderson, menyatakan bahwa sebuah bangsa adalah “komunitas terbayang” alias imagined community. Meski mungkin belum pernah bertatap muka, dan hanya membayangkannya, kita percaya bahwa bersama orang Batak, Atjeh, Bugis, Dayak, Minang, Papua, dan sebagainya, pada dasarnya adalah satu bangsa.

Kata banyak pakar, kita terlalu beragam untuk jadi satu bangsa nan utuh. Irlandia, sebagai contoh, hanya beda agama pun sudah terjadi konflik di sana. Wilayahnya jauh lebih kecil daripada punya kita. Jerman sempat pecah jadi timur dan barat cuma lantaran beda ideologi. Padahal manusianya sama-sama bule. Indonesia? Terlalu banyak corak dari segi suku maupun agama, apalagi strata sosial yang tak mudah disangkal eksistensinya. Kiranya kita perlu kembali menengok tawaran solusi dari Camara guna memangkas “spiral kekerasan” itu tadi. Yakni dengan gerakan cinta damai.

Hantu kekerasan masih bergentayangan di sini. Kali ini, bentuknya terorisme. Orang awam sepertiku hanya pengen hidup tenang dan damai di tengah kemajemukan. Bukankah perbedaan adalah hikmah?

* * *

DILLYANA HANDARU KUSUMA PRATIWI bukan orang Dili. Pun, ia belum pernah ke sana seumur-umur –setidaknya hingga kini. Ia tulen Yogyakarta. Gadis tiga puluh tahun itu lahir di Rumah Sakit Brimob, Baciro. Rumah sakit itu kini berganti rupa jadi sekolah taman kanak-kanak. Ayahnya juga lahir di Kota Gudeg. Cuma, keluarga garis ayah kebanyakan dari Kulonprogo dan Magelang. Ibunya dari Tawangmangu, Karanganyar. Panggilannya Lia. Ia sekelas denganku.

Meski bukan orang sana, ia punya ikatan sejarah dengan Dili. Setidaknya, sejarah hidupnya sendiri. “Dillyana” diambil dari nama ibu kota Timor Timur itu. Ia anak terakhir dari lima bersaudara, cewek sendiri. Nama keempat kakaknya pemberian ibunda. Kecuali khusus untuk dia, “direncanain oleh Babe dan Mommy,” tulisnya dalam pesan pendek.

Pasalnya, pada 1979, sang ayah dapat penugasan ke Timor Timur. Ayah Lia tergabung dalam satuan Brigade Mobil atau Brimob. Pensiun, ia tertulis sebagai Purnawirawan Polri. Maklum, Brimob masuk dalam korps coklat, bukan loreng. Pada saat itu, istri tengah mengandung. Sebagai kenang-kenangan keberangkatannya ke Timor, mereka merancang nama anak yang sedang di dalam rahim itu.

Orang tua Lia menikah pada Maret 1967. Waktu itu, “Mommy baru umur 17 tahun, Babe lima tahun lebih tua. Mereka ketemu waktu Babe pendidikan di Tawangmangu. Waktu lari-lari subuh, sambil bawa senapan, ia liat Mommy yang mau ke pasar. Terus dikuntit tiap hari dikawal ke mana-mana. Pendekatannya lagsung ke eyangku terus dilamar deh. Hehe… What a romance…!!” kisahnya.

Ayah pulang, Lia sudah lahir. Reaksi pertama kali bertemu ayahnda, “nangis jerit-jerit gara-gara jenggotnya panjang banget dan gondrong. Kagak ada tukang cukur di sana apalagi perang mesti situasinya chaos!”

Lia hanya bisa mebayangkan rupa daerah itu dari tutur kisah sang ayah. “Pantai-pantainya very amazing dengan pasir putihnya. Ada gerombolan lumba-lumba yang berenang dengan riang…. Melompat terus terjun lagi ke dalam laut. Asiiik to? Pokoknya Timtim sampai bisa lepas dari Indonesia itu suatu kesalahan besar… tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan.”

* * *

APAKAH SETIAP TENTARA ATAU POLISI pegang jimat?

“Tergantung pribadinya. Kata orang tua Jawa, tiap bepergian pakailah ‘baju’. Arti dari baju itu kan salepo. Pegangan. Bukan baju yang kita pakai seperti ini,” tukas Pak Kodiyat.

“Ada seorang teman,” sahut Pak Rakhmad, “mandi di kali tertinggal sendirian. Buru-buru menyusul satuannya, jimatnya ketinggalan. Dimarahilah dia sama komandannya. Dia bersikeras mau ambil jimatnya. Komandannya menyuruh lepas senjata, dia ambil sendiri. Kok yah tidak berbekal senjata, atau minimal ada teman pendamping gitu. Bagaimana kalau dia ketemu musuh? Kok yah dia rela bertaruh nyawa hanya demi jimat.”

Jimatnya ketemu?

“Ketemu. Untungnya selamat,” jawab Pak Rakhmad.

“Nah, Xanana itu pinter,” celetuk Pak Kodiyat merujuk pada Xanana Gusmao.

“Pinter bagaimana?” kami bertanya.

“Dia selalu lolos. Serapat apapun pagar betis. Tiap kali penyergapan tak pernah ketangkep. Kami pernah menemukan gua persembunyian pasukan Timor. Sudah kosong. Di sana banyak guci berisi madu. Sama emas berbatang-batang.

Atau kalau di hutan, kami sudah kepung rapat. Tapi Xanana tak pernah tertangkap. Tahu-tahu ada hujan. Kalau gak kabut turun. Kalau gak, yang keluar babi hutan.”

Sudah berapa banyak batalyon yang dikerahkan guna menyergap Xanana. “Ratusan batalyon, tapi tetap lolos,” komentar Pak Kodiyat.

Satu batalyon sebanyak 700 tentara. Satu kompi terdiri atas 136 tentara. Satu brigade tersusun dari empat batalyon dan satu kompi. Satuan terkecil adalah pleton, yakni 30 orang.

Jadi Xanana punya jimat atau ilmu sakti?

“Mungkin iya,” ujar Pak Kodiyat.

“Sekarang dia malah jadi presiden toh? Untung dia. Timor lepas. Dia mungkin sekarang ketawa-ketawa kalau lihat kita. Yang apes malah si Eurico. Dia mempertahankan Timor untuk Indonesia, malah dia diadili, dipenjara,” jabar Pak Rakhmad.

Eurico yang dimaksud adalah milisi pro-Indonesia, Eurico Guterres. Eurico Barros Gomes Guterres lahir pada 17 Juli 1974. Di tengah masa yang bergolak, saat ia berusia dua tahun, orang tuanya dibunuh oleh tentara Indonesia karena ditengarai pro-Fretilin. Bukannya membangkang, ia justru membela Indonesia lantaran merasa Fretilin-lah yang menyebabkan orang tuanya terseret jadi korban konflik ini. Diyakini Eurico punya 200 anak buah. Eurico diadili karena dianggap bersalah melakukan pembantaian di sejumlah desa. Pada November 2002, meja hijau mengganjarnya 10 tahun penjara. Tiap kali ke ruang sidang, ia membawa bendera merah putih.

“Bapak pernah ketemu Eurico?” saya bertanya.

“Mungkin saja. Awalnya dia kan seorang hansip,” jawab Pak Kodiyat.

Hansip yang dimaksud adalah penduduk lokal yang bersenjata. Banyak serdadu Indonesia merasakan jasa “hansip”. Mereka kenal medan. Walhasil, serdadu tak butuh kompas karena sudah punya petunjuk arah. Dan yang penting, “mereka berani-berani. ‘Sudahlah Bapak di belakang saja, biar kami yang di depan,’ mereka selalu begitu kepada kami. Padahal senjatanya hanya parang,” urai Pak Kodiyat.

“Coba kalau dulu Xanana ketangkep. Timor gak bakal lepas kali yah?” tukas Rendy.

* * *

SELICIN-LICINNYA XANANA BERKELIT, akhirnya tertangkap juga. Ia kena sergap pada 20 November 1992. Lantas ia dijebloskan ke Penjara Cipinang. Di sana ia berkumpul dengan para tahanan politik macam Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sujatmiko, dan Mochtar Pakpahan.

Jose Alexandre Gusmao kini berusia 63 tahun. Pria flamboyan ini bekas pemain bola dan wartawan. Ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Nasional untuk Pembebasan Timor Timur alias Falintil (Forcas Armadas de Libertacao Nacional Timor Leste). Falintil mengurus militer, Fretilin menukangi politik.

Awalnya gerakan ini melawan Portugal. Indonesia meruyak, jadi musuh baru mereka. Konflik makin berpilin, pada 1978, Nicolau dos Reis Lombarto, pentolan Fretilin, terbunuh oleh TNI.

Xanana memimpin Falintil pada 1978. Ia lantas keluar dari Fretilin pada 1987 dan membentuk Dewan Pertahanan Nasional Rakyat Maubere (CNRM). Ia merangkul kalangan gereja agar gerakan kemerdekaan Timor ini tak terkesan melulu militer seperti Fretilin-Falintil.

Tekanan internasional atas serangkaian peristiwa pelanggaran hak asasi manusia membuat Indonesia bertindak. Sejumlah tahanan politik dibebaskan. Termasuk Xanana pada 7 September 1999.

Presiden Habibie didesak melakukan referendum. Rakyat Timor menentukan pilihan apakah tetap masuk Indonesia atau berdiri sendiri. Mereka memutuskan merdeka. Meski demikian, perlu masa transisi selama tiga tahun. Sejak 26 Oktober, masuklah PBB menggelar pemerintahan administratif di sana. PBB membentuk United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET). Penyokongnya, Australia.

Hingga pada 2002, bumi Lorosa’e punya presiden pertama, Xanana Gusmao. Ia memerintah pada 20 Mei selama lima tahun. Sejak itulah Timor Timur diakui oleh dunia internasional sebagai Negara. Selang empat bulan, pada 27 September, barulah Timor Timur bergabung jadi anggota PBB. Ia jadi negara pertama pada abad ke-21 yang ikut PBB.

Kini Xanana diganti oleh Jose Ramos Horta. Menariknya, sejak 8 Agustus 2007 hingga kini, Xanana didapuk menemani Horta sebagai Perdana Menteri. Ketika Xanana jadi presiden, yang jadi perdana menteri salah satunya adalah… Horta.

Kini hubungan Indonesia-Timor Timur akur. Syukurlah. Presiden Xanana beberapa waktu lalu sempat nanggap diva Indonesia, Krisdayanti, pada perayaan kemerdekaan negeri itu.

Yang masih bikin masygul Pak Rakhmad dan Pak Kodiyat, banyak rakyat di sana miskin. Dalam angka nominal, produk domestik bruto pada 2009 hanya AS$499 juta. Kalau dihitung per kapita, pendapatan per penduduk tiap tahun cuma AS$468. Tapi, kalau dihitung dengan paritas daya beli (purchasing power parity), produk domestik brutonya bisa mencapai AS$2,522 triliun.

“Rokok Gudang Garam satu pak saja dua puluh lima ribu. Sebungkus Sarimi lima belas ribu,” komentar Pak Kodiyat.

* * *

TENTARA MACAM MEREKA sudah merasa dekat dengan rakyat. Jika tidak sedang bertempur, mereka turun ke kampung berbaur dengan warga. “Kita ngajari penduduk bercocok tanam,” Pak Kodiyat berseru.

“Kalau petani Jawa cukup punya dua ekor kerbau. Soalnya punya alat luku. Kalau di sana, satu keluarga bisa punya tiga puluh kebo. Tapi tak punya alat bajak, tak tahu cara mengolah tanah,” sambung Pak Rakhmad melengkapi cerita Pak Kodiyat.

Beda lainnya, sawah Jawa sudah kena pupuk kimia. Di sana masih alami, pakai kotoran kerbau. Lumpur masih dalam. Cara membajaknya? Sekeluarga menggelandang puluhan kerbau mereka. Kerbau dilempari tanah. Ketakutan, mereka akan berlari ke sana-kemari. Arah larinya tinggal digiring saja. Dengan sendirinya, sawah dibajak, “terinjak-injak langkah kerbau,” celoteh Pak Rakhmad.

Hasilnya? Jangan tanya. “Satu bawang putih segede ini,” ujar Pak Kodiyat yang jari-jari kedua tangannya membentuk lingkaran besar.

“Itu bawang bombay?” celetuk Rendy.

“Bukan, bawang putih asli, saking subur tanahnya,” Pak Kodiyat meyakinkan.

“Berarti itu bawang sebesar bengkoang,” aku turut nyeletuk. Doni tertawa.

Satu petak bisa panen dua kuintal. “Kami dibagi separo,” ucap Pak Kodiyat terkekeh, “sudah, ini buat tentara saja,” tutur pemilik ladang ditirukan Pak Kodiyat.

Seorang pengawas dari Kantor Pusat Balai Diklat nimbrung bergabung. Tapi Si Bapak tak banyak cakap. Ia duduk dekat kami. Ia hanya manggut-manggut mengiyakan cerita. Atau membalasnya dengan senyum. Secangkir kopi atau teh hangat dan cemilan pisang sore itu menemani kami.

Waktu sudah menginjak pukul setengah lima. Kami pamit untuk salat asar. Dan tentunya, perlu belajar. Meninggalkan tempat menuju kamar, kami bertiga harus berbaris… sambil bersenandung, “teret-teret-teret-teret-teret-teret-tereeettt, tereretet…”

* * *

SEDIANYA UJIAN DIHELAT PADA Sabtu (10/10) dan Senin (12/10). Namun, akhirnya hari pertama digeser ke Minggu (11/10). Hal ini membuat kami sedikit lega. Jumat (9/10), hari pelajaran terakhir, harus kami lalui hingga setengah sembilan malam . Tentu badan makin payah dan tak tak mungkin kami dapat mempersiapkan ujian esok harinya.

Undurnya hari pertama itu, dengar-dengar, lantaran balai diklat kota lainnya, yang bersamaan menggelar prajab, sudah menyetel jadwal ujian pada Minggu-Senin. Jadi, ini biar serempak. Lagipula, kami dapat memanfaatkan hari Sabtu guna belajar. Namun, kompesasinya, Sabtu kali ini tak ada acara pesiar. Ini khusus untuk acara belajar. Sinau di kamar, bukan di kelas lagi. Ini membuat kami agak bebas.

Untungnya para instruktur punya pengertian. “Waktu apel malam saya persingkat supaya kalian bisa istirahat dan belajar,” tutur Pak Rakhmad.

Jumat malam usai apel, badanku serasa patah-patah. Maksud hati hendak menjamah buku modul. Apa daya, kantuk tak bisa ditawar. “Wah, gimana nih Siswa Yacob? Kita gak bisa belajar bareng dong,” repet Soni, teman sekamarku.

Kami yang menghuni kamar 287-288 beruntung punya Soni. Dia selalu teriak-teriak melempar tebakan kepada sesama kawan. Soal materi pelajaran. “Siswa Agus, apa pengertian ‘bangsa’ menurut… Siswa Ferry, apa yang dimaksud budaya kerja… Siswa Deki, sebutkan unsur-unsur komunikasi efektif…”

“Siswa Yacob, alur tahap pembuatan anggaran itu bagaimana?”
“Undang-Undang Keuangan Negara nomor berapa?”
“Sebutkan jenis-jenis cuti pegawai negeri!”
“MPR itu lembaga tertinggi atau lembaga tinggi negara?”

Belajar rame-rame ini sangat bermanfaat. Kami saling bertukar pengetahuan, diskusi, siapa yang tak tahu dapat menguping bahan perbincangan sehingga jadi sama-sama tahu. Dan kalau semuanya belum beroleh jawaban yang sreg, kami mencarinya bareng-bareng, buka-buka dan baca-baca lagi diktat.

“Untung ada Soni,” komentar Ardi.

* * *

HARI ITU TIBA JUGA. Ujian adalah tahap terakhir yang paling menentukan. Pengawas dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak maupun Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan bertandang mengamati.

Sekretariat BPPK segera merilis warta singkat di situsnya. Begini beritanya.

Ujian Diklat Prajabatan III BDK Yogyakarta

JOGJA (12/10) – Hari Minggu (11/10) dan Senin ini (12/10) berlangsung ujian Diklat Prajabatan Golongan III Periode I di BDK Yogyakarta. Sebanyak 80 peserta diklat (100%) mengikuti ujian yang berlangsung di ‘ruang kelas’ Hotel Sri Wedari tempat diklat prajab berlangsung. Walaupun hari libur, Kepala Balai dan Kasi Penyelenggaraan turut hadir memantau jalannya ujian yang berjalan dengan tertib dan lancar.

Lucunya, beberapa siswa sibuk menahan kantuk di ruang ujian karena ngebut belajar semalaman.

Senin, usai ujian, kami harus menggelar upacara penutupan. Usai upacara, kami memeragakan yel-yel dan demonstrasi baris-berbaris. Aku dan Joko jadi komandan regu. Aku regu pertama, Joko kedua. Aku pembuka dengan yel-yel, Joko penutup dengan diikuti Heru dan Adi yang membentangkan spanduk.

Peristiwa ini juga diliput oleh Sekretariat. Berikut beritanya.

Penutupan Diklat Prajabatan III BDK Yogyakarta

JOGJA (12/10) – Diklat Prajabatan Golongan III Periode I di BDK Yogyakarta yang berlangsung sejak tanggal 29 September 2009, hari ini (Senin, 12 Oktober 2009) secara resmi berakhir. Setelah mengikuti Ujian yang berakhir pukul 10.00 WIB tadi, semua peserta diklat mengikuti Upacara Penutupan yang berlangsung di Lapangan Area Hotel Sri Wedari tempat diklat prajab ini diselenggarakan. Bertindak selaku inspektur upacara adalah Kepala Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Yang menarik dan sangat berkesan bagi semuanya adalah acara ‘Demonstrasi Baris Berbaris’ yang diperagakan semua peserta diklat yang dibagi dalam 2 Tim. Tepuk sorak sorai mewarnai sepanjang atraksi yang menunjukan hasil gembelengan instruktur dari Rindam.

Di ujung acara tampak semua peserta larut dalam kesedihan karena harus berpisah. Sebagai penutup, Kepala Balai dan jajaran pejabat Eselon IV serta instruktur dan Rindam mengelilingi peserta dan menjabat tangan mereka.

Selesai peragaan, kami saling bersalaman melepas perpisahan. Beberapa kawan matanya berkaca-kaca. Aku pun dalam hati menjadi haru. Setelah itu, kami ganti kostum memakai kaos hitam-hitam yang telah kami pesan.

Kami hendak foto-foto.

* * *

PERHELATAN SELAMA DUA PEKAN INI menggoreskan kesan yang berbeda bagi tiap pesertanya. Semua kami lalu bersama. Makan bareng, mulai bareng selesai juga harus bareng. Apel bersama. Belajar di kelas serempak. Ngantuk? Juga semuanya merasakan.

“Yang paling berkesan, lari pagi dan senam pagi,” ujar Mas Septa.

Kenapa?

“Soalnya gak pernah begitu.”

“Kalau aku… mandi cuma tiga menit,” ungkap Adi Punama Sidi, salah seorang siswa Kelas A, “di rumah gak ketemu yang kayak gitu.”

“Di sini aku menemukan kebersamaan yang menyenangkan. Itu sudah pasti. Tapi yang paling berkesan adalah saat salah kostum pake batik terus pake dasi,” tutur Daya.

Lain lagi bagi Nita. Yang paling terkenang, “lari-lari siang sebelum makan.”

Namun, pastilah semua serempak jika menyoal yang satu ini. Sudah beredar kabar Senin sore (12/10) bakal cair sejumlah doku rapelan tahap pertama. Ini yang kami tunggu-tunggu. Lumayan, sebagai penambal kebutuhan. Apalagi bagi orang kayak aku atau Mas Septa yang sudah jadi kepala keluarga.

Selama menerima uang tunggu tiap bulan, “sudah banyak utangan,” salah seorang teman terkekeh.

Terbukti, sejumlah dana tambahan sudah parkir di rekening BRI masing-masing peserta, sore hari itu. “We-e-e-e-e… arep ditabung nggo traveling ke Eropa wae, hehe…” canda Lia.

Alhamdulillah…

* * *

SENIN SIANG ITU (12/10) setelah upacara penutupan aku serasa kelu. Ini makan siang terakhir di hotel nan asri ini. Suasana sudah cair tak seketat masa diklat kemarin-kemarin. “Statusnya sudah ‘mantan siswa’ toh?” ujar Pak Rakhmad dengan logat Magelang kental.

Usai makan, kami bergegas ke kamar. Beres-beres barang. Lipat-lipat pakaian. Kami kompak mengenakan kaos hitam seragam para siswa –yang baru dibagikan tadi siang jelang upacara penutupan.

“Ayo kumpul. Kumpuuulll…” aku keluar kamar teriak-teriak memanggil teman-teman. Agenda kali ini foto-foto. Para cewek menyulap situasi jadi riuh rendah mirip pasar pindah. Seorang perempuan penghuni kamar lain yang tengah hamil menilik kami dengan menyingkap korden jendela kaca. Ia barangkali heran atau kesal.

“Eh, harap tenang ada wong meteng,” aku berseloroh.

Berkali-kali kami ambil gambar. Di pendopo tempat makan. Di depan kamar. Di halaman rumput depan pendopo. Dengan berbagai gaya, beragam ekspresi. Sayang, Yunita tidak turut. Ia kadung dijemput suaminya meluncur ke Blora, tempat asal.

Sementara itu, anak-anak Kelas A bercengkerama menceburkan diri bareng-bareng di kolam renang.

Waktu kian merambat. Meski diberi kesempatan paling lambat pukul tujuh malam, aku tak bakal di sini berlama-lama. Istriku sebentar lagi menjemput. Ferry sudah duluan cabut, dipapak istri pakai mobil. Tinggal kami berlima. Aku, Soni, Deki, Agus, dan Ardi. Kami isi waktu di ruang tengah. Yang ahli hisap menyulut rokok, kecuali aku dan Agus. Teve menyala.

Sejurus, pukul satu, lewat pesan singkat, istriku mengabari sudah ada di depan hotel dengan roda dua. Aku pamit. Berjabat tangan erat. Berat rasanya. “Jangan lupa kirim-kirim kabar yah,” ujar Deki.

Aku melangkah di muka kamar panitia. Di depan kamar 215, duduk santai dua orang pengawas. Kami bertutur sapa, berbalas senyum. “Sampai jumpa di diklat selanjutnya, Pak,” ujarku.

Kamar 212 terbuka. Kosong. Roomboy bersih-bersih. Pak Kodiyat maupun Pak Rakhmad sudah tak ada. “Paling hanya sehari saya di rumah. Besok sudah ke Yogya lagi buat memandu peserta gelombang kedua,” pesan Pak Rakhmad jauh tempo sebelum momen pembubaran ini.

Aku lewati kamar rombongan Merlina. Mereka masih duduk di teras. Aku lambaikan salam perpisahan. Kuseret koper dengan tangan kanan, kupanggul tas Eiger di pungung, kutenteng tas diklat dengan tangan kiri.

Istriku menunggu di muka.

10 responses to “Kekuatan? Lima-Lima! Prajab… Jaya!

  1. Sangat menyentuh dan penuh kenangan….ternyata ada banyak cerita dibalik hal yang paling sederhana sekalipun. Dibalik seorang pak Rakhmad dan pak Kodiyat,,,kita lulus pun tidak lepas dari jasa dan ketulusan mereka.

  2. Aw..aw…aw…aw…aw…

    tet..teret…teret..teret…teret…teret…tereeeeeeeeeet….teret..teret..tereteng..

    Bagus bgt pak ketu…
    wah aqpikir cm ciprili n anggy yg krjain..ternyata pak ketu terlibat kerjain aq…

    Oya..mwakili qt semua, aq dah hub’i pak rahmat n pak kodiat bwt ucpkn trimakasih…doa beliau bwt qt semua..”Semoga kita sukses terus dan tetap kompak”…

  3. tak jauh beda dengan gel 2 boz..;)
    menyenangkan baca tulisan ini..
    apalagi lagu2 itu..hihihii…
    jaya sentosa!!!

  4. ratih puspita dewi

    ini nih yg ak tunggu2 dr p’ yacob,,,

    sebuah karya yg mampu menggugah memori masa lalu,,,mengharukan dan sangat menohok di hati,,hehehe,,,
    terlebih lg mampu menambah wawasan dan menggugah semangat nasionalisme kita,,,
    btapa hebat perjuangan para pahlawan kt seperti P’Rachmad dan P’Kodiyat,,,

    Suskses sll p”yacob and all,,,

  5. siswa yacob… makasih buat secuil kisahku yg sangat menggelikan. wkwkwkwk
    aku maluw… >.< hohoho…
    KFC dan manoharanya. Oh my God!!! btw, ko inget tho mas???

  6. prima ayuningtyas

    cerita pak kodiyat buat saya merinding..
    mereka benar2 luar biasa, para tentara itu.
    mereka tidak berpikir materi, tapi semata pengabdian kepada negeri.
    jiwa bela negara, siap mati kapan saja.
    asal negara kesatuan tetap utuh.
    i really hope this story will inspired everyone who read it..
    keep writing mas yacob!!

  7. hadoh puanjang banget artikel nya (dies)

  8. All: Makasih atas tanggapannya. Prima, makasih juga atas koreksinya di milis untuk istilah baris-berbaris “melintang” dan “haluan” yang terbalik. Dengan demikian, kesalahan tersebut telah saya ralat. Ralat di media cetak harus diumumkan. Ralat di media online bisa dengan edit diam-diam tapi itu tak etis. Oleh karena itu, ralat perlu diumumkan juga. Maaf, baru sekarang aku berkesempatan menyambangi warnet yang speed-nya mumpuni sehingga bisa mengeditnya dengan baik. Sekali lagi, terima kasih atas segala perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s