Buku Ketiga

Untuk tiga tahun berturut-turut, aku menulis buku. Hattrick yang manis. Aku pantas bersyukur.

“Mas Yacob, selamat yah, naskahnya dimuat di buku Berkah,” ujar Sutarko, Kepala Subbagian Umum Kantor Pelayanan Pajak Pati pada suatu sore. Mendengar kabar dari Pak Tarko, aku girang bukan kepalang.

Aku magang di Pati sebelum penempatan di Kantor Pelayanan Pajak BUMN.

“Naskahnya dimuat yah,” tutur Djatmiko, Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi. Pak Djatmiko menjabat tanganku erat.

“Saya nulis tentang Bapak… sama Bu Bibit,” jawab saya.

Pak Djatmiko tambah tersenyum, “asal jangan yang buruk-buruk yah.”

Beberapa pesan singkat juga masuk dari kawan-kawan seperjuangan diklat, memberiku ucapan selamat.

Itu suasana yang aku rasakan di Pati tepat sehari sebelum aku harus berangkat ke Jakarta, akhir Oktober lalu. Aku pun belum tahu bakal seperti apa wujud buku itu, serta akan kayak apa hasil suntingan dari panitia. Rasanya tak sabar menanti cetak bukunya.

Direktorat Jenderal Pajak, tempatku kini bekerja, menggelar “sayembara” mengirim naskah untuk dikumpulkan jadi sebuah buku. Kitab itu tentang perjalanan modernisasi organisasi ini, dengan tajuk “Berbagi Kisah dan Harapan Modernisasi DJP”. Frasa “berbagi kisah dan harapan” itu disingkat jadi “berkah”.

Awalnya, seorang teman di bangku SMA dulu, mengabariku soal ini. Ia kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan sekarang sudah jadi pegawai tetap di sebuah kantor pajak di Kalimantan. Ia pengen naskahnya aku baca dan aku kasih masukan tentang teknik menulis –sebelum dia kirim ke panitia. Sejak itu, aku ikut-ikutan kirim naskah. Syukurlah, naskah kami sama-sama dimuat.

Aku mengirim dua. Pertama, soal pengalaman pribadiku merasakan dua profesi yang berbeda, wartawan dan petugas pajak. Kedua, tentang pengalaman para pegawai yang bakal pensiun, namun tetap bekerja dengan semangat.

Senin, medio November lalu, adalah hari pertama aku ngantor lagi setelah sepekan ini ikut diklat calon pemeriksa pajak. Pagi itu, seorang pelaksana dari subbagian umum membawa sepucuk amplop coklat besar dari Kantor Pusat. “Dari KITSDA tuh,” tuturnya.

KITSDA, singkatan dari Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur, merupakan sebuah direktorat di DJP.

Aku menerka-nerka, kira-kira apa isi surat itu. Betapa senangnya, rupanya ia adalah buku yang kutunggu-tunggu itu. Di sampul muka tertulis endorsement dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dua naskahku ada di dalamnya, di antara 67 tulisan.

Ini kali ketiga aku terlibat menyusun buku, meski hanya sebatas kontributor. Pertama, 2007, kami menyusun buku panduan liputan isu korupsi. Kedua, 2008, kami menulis buku panduan liputan isu sektor usaha kecil-menengah. Kedua buku pertama aku tulis sewaktu jadi wartawan dan jadi anggota organisasi Aliansi Jurnalis Independen.

Aku belum pernah jadi penulis tunggal. Mungkin lain waktu, semoga ada kesempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s