Tafsir Cinta Bisma

— Ini pagelaran wayang, teater, orkes, atau apa? Kembali, Sujiwo Tejo jadi edan. Menyuguhkan kisah hidup Bisma dengan versi beda. —

Oleh Yacob Yahya (2.170 kata)

PARA PERSONEL Paduan Suara Universitas Parahyangan Bandung di belakang panggung berfoto bareng Sujiwo Tejo. Penyanyi Anda, mantan pentolan band Bunga, berdiri tersenyum sambil ngobrol dengan beberapa kawan. Kang Taruno, pemain gender –alat tembang tradisional Jawa, duduk di atas sofa biru tua menyedot asap rokok ringan mengurai lelah. Bertha, guru olah vokal dus juri yang dikenal galak di ajang variety show kontes nyanyi di beberapa stasiun teve, menunggu-nunggu Mas Tejo untuk memberi selamat. Tejo dan rombongan baru saja menggeber wayang lakon “Kasmaran Tak Bertanda” selama dua jam.

Usai menerima beberapa ucapan selamat dari beragam penonton, sebagian kawan dan kerabat dia sendiri, Tejo menghampiri kami. Ia berjabat tangan dengan kakakku, Winuranto Adhi. Mas Wiwin memang penggemar karya Mas Tejo. “Iki sapa?” ia bertanya menunjukku. Ini siapa? Kami bersalaman erat.

“Adikku, Mas,” jawab Mas Wiwin, “iki bojoku,” sambungnya menunjuk istrinya, Gita Fiatri Lingga. Tangan Mas Tejo beralih ke Mbak Gita.

Tak sempat berbasa-basi, kami berpamitan. Semata-mata mengucapkan selamat. Mas Tejo melepas kami dengan salam hormat ala tentara, dengan gaya santai. Sabtu malam hampir jam sebelas itu (14/11), aku, Mas Wiwin dan Mbak Gita meninggalkan Gedung Kesenian Jakarta yang nampak berdiri dalam larut suasana kelam.

* * *

SABTU ITU aku masih merasa capek. Baru saja aku tuntas melakoni pendidikan dan pelatihan sebagai calon pemeriksa pajak. Lima hari belakangan ini adalah masa-masa yang menguras tenaga. Tak jarang aku dan kawan-kawan mengerjakan tugas hingga pukul satu malam.

Walhasil, aku butuh rehat.

Kutuju rumah keluarga Mbak Gita di bilangan Rawamangun guna melempar penat. Tujuanku hanya satu, istirahat. Tapi, malam Minggu tanpa acara rasanya tak oke juga. Dilalah, ada ajakan dari kakak nonton pertunjukan Sujiwo Tejo. Lagipula, aku belum pernah melihat pertunjukan seni Tejo “versi tulen”.

Pertama kali melihatnya tampil, tatkala Tejo mengisi acara launching upah layak jurnalis Jakarta. Itu hajatan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta, setahun lalu. Waktu itu aku masih jadi jurnalis situs berita Hukumonline. Aku sendiri kala itu anggota AJI Jakarta.

Pendek kata, mungkin, menonton pagelaran seni adalah cara melepas lelah yang sebenarnya. Kuputuskan ikut nonton, aku batalkan acara hibernasi. Kami meluncur ke bilangan Pasar Baru itu. Beli tiket, harga satu Rp100.000.

“Kemarin rame, Pak?” tanya Mas Wiwin kepada penjaga loket.

“Sedikit. Kali ini lebih banyak,” jawabnya.

Menunggu ruang pertunjukan dibuka, kami menuju sayap kiri gedung. Tampak Marusya Nainggolan, Direktur GKJ, mendampingi tamu kehormatan, salah satunya istri Duta Besar Afrika Selatan.

* * *

CAHAYA PANGGUNG REMANG. Pada sisi kanan berdiri pepohonan. Ada gitar akustik tergeletak. Di belakang layar terbentang kayak bioskop jadul. Di bagian paling depan panggung, berdiri meja duduk yang di atasnya teronggok gedebog –tubuh pohon pisang– untuk menancapkan boneka wayang. Di sebelah kiri meja wayang, tertata beberapa bunga artifisial. Samping kiri lagi, tersedia tiga buah gender, baik versi slendro maupun pelog.

Suara (kaset) jangkrik dan kodok mengisi panggung yang masih zonder pemain. Pada pamflet tertulis pertunjukan mulai pukul setengah delapan. Namun baru selang setengah jam lamat-lamat para pemain tampil. Lampu padam. Sesosok gondrong muncul berdiri membawa gitar bas. Rupanya ia Bintang Indrianto, partner Tejo yang menggarap aransemen musik album-album si dalang edan. Di tengah kegelapan, Taruno sudah duduk siap memukul gender.

Menyusul, seorang memakai topi fedora dengan leher berbalut selendang maju ke depan. Begitu lampu nyala, Si Fedora itu ternyata Tejo. Ia pakai jas seperti hendak kondangan yang berpadu dengan baju putih tergerai. Ia nyempal dari pakem, tak mengenakan atasan beskap layaknya kebanyakan dalang. Bawahannya sarung batik hitam bermotif bintang-bintang kuning.

Malam ini ia ditemani Paduan Suara Universitas Parahyangan yang telah malang-melintang memadati kompetisi manca negara. Ada pula Anda, penyanyi yang mulai tenar saat mengisi soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta? (Dian Sastro, Nicholas Saputra, Titi Kamal) lima tahun lalu. Anda kali ini juga memakai topi fedora, berpadu dengan selendang di leher, kaos longgar lengan panjang merah muda serta celana hitam longgar ala seniman reog.

Walhasil, pertunjukan wayang kulit ini berpadu dengan konser musik mini duet Anda-Tejo serta koor layaknya orkestra.

Beberapa kali Tejo melempar guyonan segar. Ini kolaborasi yang ciamik, setimpal dengan harga tiket, pikirku.

* * *

TUJUAN TEJO KALI INI, “aku persembahkan kisah ini untuk para pria yang merasa perlu mengasihani wanita. Padahal para wanita berpikir kaum prialah yang patut dikasihani sambil cekikikan di belakang kita.”

Mulai mendalang, dia ganti fedora dengan peci hitam.

Tersebutlah kisah seorang raja Negara Astinapura, Prabu Santanu. Ia punya seorang anak lelaki, Bisma. Sewaktu hendak melantik Bisma sebagai raja pengganti, nyelononglah seorang wanita, Durgantini yang mengaku punya anak dari hubungannya dengan sang raja. “Kamu sudah kelonan sama aku,” ujar Tejo menirukan Durgantini. Aku ketawa saja.

Dalam pakem cerita wayang, Durgantini adalah perempuan yang menolong Raja Santanu sewaktu jatuh sakit di tengah hutan ketika sang raja berburu. Dirawatnya sang raja hingga terjalinlah hubungan itu yang membuahkan seorang putra, Vicitrawirya. Raja Santanu berjanji akan memenuhi keinginan Durgantini.

Ketika itulah wanita tersebut menagih janjinya. Ia ingin anak hasil hubungannya yang menggantikan sang ayah naik takhta.

“Begitulah wanita. Dikasih ati ngerogoh rempelo. Dikasih rempelo minta KPK. Dikasih KPK minta Polisi. Dikasih Polisi minta Presiden. Dikasih Presiden minta Century,” sentil Tejo.

“Wahai Durgantini, cem-ceman ayahku. Kalau begitu aku bersumpah yang menjadi raja adalah Vicitrawirya, adik tiriku,” ujar Bisma kepada ibu tiri.

“Oh anakku Bisma. Maafkan aku yang selama ini jadi single parent mengasuhmu,” sambung Santanu.

“Apa jaminan supaya anak keturunanmu tidak membalas dendam merebut kekuasaan seperti kisah Ken Arok?” tanya ibu Citrawirya.

“Kalau begitu aku akan sumpah selibat. Aku takkan kawin hingga akhir hayat,” jawab Bisma.

Inilah sumpah yang melegenda di dunia pewayangan. Bisma begitu besar berkorban. Hingga para bidadari menyambutnya dengan menebar bunga gambir melati dari atas langit. Bumi bergemuruh. Hujan deras. Tsunami pecah.

Pada bagian itu Tejo menunggu-nunggu denting piano. “Endi iki pianone? Kok ra metu-metu… Asu!” Mana ini pianonya? Kok gak keluar-keluar. Anjing!

Penonton ketawa, termasuk aku.

“Mar…” Tejo memanggil Marusya Nainggolan, Direktur GKJ, yang didapuk jadi pianis tamu.

Marusya tergopoh-gopoh sambil tersenyum masuk panggung dari samping kiri. Ia tekan deretan tuts itu, menghasilkan lagu yang tegang. Aku pikir ini bagian dari skenario Tejo.

* * *

BISMA MUDA BERANJAK DEWASA. Demikian halnya si adik tiri, Vicitrawirya. Melihat sang adik tak kunjung beristri, Bisma hendak menolongnya, mencarikan jodoh. Hingga ia temukan sayembara di Negeri Kasi. Di sana, sang raja menggelar perlombaan, barang siapa ksatria yang memenangkan pertandingan hingga berdiri terakhir, ia berhak memperistri ketiga putri jelitanya: Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika.

“Para raja jadi berperang gara-gara memperebutkan wanita,” celoteh Tejo.

Layar menampilkan bayangan tiga sosok wayang wanita di sebelah kiri serta dua sosok wayang laki-laki di sisi kanan. “Yang ini Ambika dan Ambalika. Yang paling depan menoleh itu Amba. Jangan dikira Michael Jackson atau Madonna. Anak-anak jaman sekarang gak ngerti wayang, harus dijelaskan ini,” repet Tejo.

Yang ksatria dua itu, “Nah ini KPK. Yang satu Polisi. Jaksanya mana?”

Menyusullah bayangan wayang yang kian membesar. “Nah, ini-ini jaksanya…

Di babak final, Bisma bertanding melawan Prabu Salwa. Lantaran sakti mandraguna, Bisma dengan mudah merobohkan musuh. Dia boyong ketiga putri itu untuk dia persembahkan kepada adik tiri.

Ambika dan Ambalika manut. Namun tidak halnya Amba. Ia tak mau diserahkan kepada Citrawirya. Dan ia meluncurkan pernyataan yang mengejutkan Bisma. “Aku tidak menyukaimu sebagai pemenang sayembara. Jangan mentang-mentang kau sakti. Sebenarnya, aku sudah punya pacar, Prabu Salwa yang kamu kalahkan. I love loser. I have, I have… apa artinya ‘tunangan’?” Tejo bertanya kepada Anda yang duduk di samping kanan memeluk gitar.

Engagement,” jawab Anda yang baru saja menggeber satu lagu.

“Itu pakai bahasa Inggris?” tanya seorang penonton kecil, seusia sekolah dasar kepada ayahnya yang duduk di belakangku persis.

“Facebook… Facebook… apa sih istilahnya? Ki, kamu jangan sms-an terus, Ki,” Tejo masih penasaran.

Kiki Dunung, penabuh perkusi yang duduk dekat Bintang, terkekeh. “Complicated,” jawabnya.

In relationship,” sambung Anda.

“Nah, Kang Taruno. Wanita itu kayak gitu loh. Kamu sudah menunjukkan kehebatan memainkan gender, sudah jadi pemain gender paling hebat. Tapi eh ternyata, dia hanya mau sama pria yang suka makan soto atau pria yang pinter mijet. Jadi salah tingkah sendiri kan?”

Taruno yang duduk di sisi kiri hanya tersenyum.

* * *

BISMA MEMUTAR OTAK. Ia menyarankan Amba menghadap Vicirawirya. Namun Citrawirya menolak. Ia sudah terlalu banyak dibantu oleh Bisma. Biarlah kali ini ia menyatakan harga dirinya. Lagipula yang paling berhak mendapatkan Amba adalah kakaknya.

Kembalilah Amba kepada Bisma. Bisma meminta Amba kembali ke kekasihnya, Salwa. Namun Salwa hendak menghormati Bisma yang sudah memenangkan perlombaan. Sakit hati diperlakukan tanpa kejelasan oleh Bisma, Amba berucap sumpah. “Engkau telah mengacak-acak hidupku. Aku akan bersumpah selibat seperti kamu.”

“Wanita memang penuh misteri. Kisah ini kupersembahkan kepada suami yang diusir oleh istri dari kamar tidurnya. Jangan-jangan itu karena rasa cinta sang istri. Atau kepada suami yang dilayani istrinya dengan penuh senyum. Jangan-jangan si istri benci kepadanya.”

Amba pergi menyepi. Bertapa, merangkai kembang padma. Bunga teratai. Amba menganyam bunga padma tanpa henti hingga akhir hayatnya. Bunga padma itu takkan layu sepanjang tahun, meski sepeninggalnya. Padma itulah yang nantinya dikalungkan kepada Srikandi, ksatria wanita yang mahir memanah, istri Arjuna.

“Amba menganyam padma. Apakah ia menganyam dendam, atau ia menganyam cinta kepada Bisma?” tanya Tejo yang berharap penonton merenungkan itu.

Digelarlah tembang “Anyam-Anyaman Nyaman”.

* * *

ALUR MELOMPAT hingga pecahnya perang Baratayudha di tegal Kurusetra. Ini pertempuran klasik antara Pandawa Lima dan Korawa. Sebenarnya kedua kubu bersaudara dan sama-sama menghormati Bisma sebagai kakek sekaligus tokoh resi bijaksana. Bisma yang sebenarnya membela Pandawa, harus berdiri di kubu Korawa.

“Ini perang kelas Satria. Tapi Bisma yang berkasta Brahmana turut terjun. Inilah yang bikin negeri ini tak maju-maju. Orang yang harusnya jadi Brahmana ikut-ikutan mau dapat jabatan Satria,” Tejo coba menyindir kondisi negeri ini.

Perang memang bikin sengsara dan pilu hati. Tejo menyelipkan tembang terakhir pada album Yaiyo (2007), “Lautan Tagis”.

“Berlayarlah di laut laut keringat kami
Tertawalah di laut laut keringat kami
Berselancarlah di laut laut keringat kami
Berpesiarlah di laut laut keringat kami

Bergerak bergerak, tetap bergerak
Menderap langkah, merapat barisan
Bergerak bergerak, tetap bergerak
Berat kita junjung, ringan kita jinjing
Bergerak bergerak tetap bergerak
Berlumur keringat dan air mata

Berlayarlah di laut laut keringat kami
Tertawalah di laut laut keringat kami
Berselancarlah di laut laut keringat kami
Berpesiarlah di laut laut keringat kami

Bersabar bersabar kita sejak dulu
Amuk kita timbun, munjung bagai gunung
Bersabar bersabar kita sejak dulu
Amuk kita tunda, gunung tak meletus
Bersabar bersabar kita sejak dulu
Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung

Pesta poralah di gunung kesabaran kami
Dansa-dansilah di gunung kesabaran kami
Injak-injakkan kakimu di gunung kesabaran kami
Buang botol minummu di gunung kesabaran kami

Bersabar bersabar sampai habis sabar
Sabar jadi riak, riak jadi ombak
Bersabar bersabar sampai habis sabar
Gunung pun bergetar, laut bergelora
Bergelora gelora bergunung gunung ombak
Gulungan gelombang keringat tangisan kami

Hati-hati jangan kau terlena di laut tangis kami
Hati-hati jangan kau haha hihi di laut keringat kami
Awas awas awas di gunung kesabaran kami
Mawas-mawas dirilah di gunung kesabaran kami.”

Lagu itu berpadu dengan slide-show gambar-gambar yang terpampang di layar. Ada sidang DPR. Ada demo para mahasiswa. Ada rakyat kecil yang menderita. Ada sidang Antasari Azhar. Ada seringai Susno Duadji. Ada senyum Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Ada foto Anggodo Widjoyo. Pada bagian itu aku terkikik bersama kakakku. Ada pula foto mantan legislator Max Moein yang berpelukan dengan seorang wanita –gambar mesum yang sempat digiling jadi berita media inilah yang bikin heboh beberapa waktu lalu.

Pandawa kesusahan mengalahkan Bisma yang digdaya. Bisma hanya bisa mati atas kehendaknya sendiri. Jadi, “obat kuat ‘Kuku Bima’ itu salah. Yang perkasa harusnya Bisma. Lah kok ini malah Bima,” celetuk Tejo membuat ger-geran penonton.

Tibalah waktunya pada hari kesembilan Baratayudha, Srikandi, pemanah perempuan istri Arjuna, Pandawa Ketiga, maju menghadapi Bisma. Bisma yang tak tega melawan wanita, melihat Srikandi sebagai Amba. Panah yang Srikandi lepaskan, Bisma pandang sebagai padma roncean Amba.

“Sudah tiba waktunya,” tutur Bisma. Dengan kehendaknya sendiri, ia serahkan tubuhnya tertembus panah. Langit bergemuruh, hujan turun, para bidadari menabur gambir melati. Ini peristiwa ulangan sewaktu Bisma mengucap sumpah selibat. Roh Bisma moksa menembus langit, disambut oleh arwah ibunda Sang Dewi Gangga beserta arwah Dewi Amba.

Pada adegan itu, paduan suara membeset masterpiece Tejo, “Pada Suatu Ketika”.

“Wong takon wosing dur angkara
Antarane rika aku iki
Sumebar ron-ronaning kara
Janji sabar-sabar sakwetara wektu

Kala mangsaning, Nyimas
Titi kala mangsa

Pamujiku dibisa
Sinuda korban jiwarga
Pamungkasing kang dur angkara
Titi kala mangsa.”

Orang bertanya kapan berakhirnya angkara murka
Di antaranya engkau dan aku ini
Berseraklah dedaunan kacang kara
Janji sabar untuk sementara waktu

Pada saatnya, Dinda
Pada suatu ketika

Doaku supaya bisa
Berkurang korban jiwa-raga
Sebagai pengakhir angkara murka
Pada suatu ketika

Suasana jadi syahdu, penuh magi.

* * *

HINGGA AKHIR LAKON, sebenarnya aku menunggu adegan terbunuhnya Dewi Amba oleh Bisma. Pada “pakem yang sebenarnya”, Bisma mengusir Amba agar tidak terus mengikutinya. Amba bersikeras harus menikah dengan Bisma sang pemenang sayembara. Memegang sumpah selibatnya, Bisma menolak permintaan si cantik jelita. Ia menakut-nakuti Amba dengan panah supaya sang putri lari menjauh. Celaka, tanpa sengaja panah itu terlepas mrucut dari genggaman Bisma hingga melesat menembus badan sang putri.

Kelak, Bisma menuai karma, tubuhnya tertusuk ratusan anak panah oleh seorang wanita… Srikandi.

Namun, Tejo (pasti sengaja) menghapus bagian ini. Ia punya tafsir sendiri. Dan dia benar-benar berhasil membuat penonton merenung. Apa arti rangkaian padma Amba? Apakah dendam yang terpendam, ataukah cinta yang menyala untuk Bisma?

5 responses to “Tafsir Cinta Bisma

  1. nice.
    tak kusangka diriku sama sekali buta cerita wayang :((

  2. Saya tidak tahu tadi saya sedang menikmati tulisan anda atau pertunjukannya, karena saya merasa sedang berada di depan panggung🙂 sekarang mas yacob tinggal di pati?

  3. Himawan Andi Kuntadi

    Luar biasa !!

  4. jadi matiny bisma itu 0leh srikandi y_??

    bukan Arjuna y yg m’bunuh ny dg sEribu anak panah itu_??

    dEuh…gak pham mlah jd bingung..*((*’

  5. matinya bisma oleh Tuhan.
    Tuhan menuruti permintaan Srikandi
    Permintaan Sri kandi karena Bisma nakal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s