Jadi Jurnalis? Mengapa Tidak?

“BIAR BAPAKNYA sopir angkot, anaknya bisa jadi pilot. Biar bapaknya loper koran, anaknya bisa jadi wartawan, asal ada kemauan.”

Pernyataan itu meluncur dari bibir Cut Mini dalam sepotong adegan iklan layanan masyarakat yang dirilis oleh Departemen Pendidikan Nasional. Aktris ini nampak makin lekat dengan dunia pendidikan tatkala memerankan Bu Mus, seorang guru penuh dedikasi dalam film “Laskar Pelangi”, saduran dari novel karya Andrea Hirata. Bahkan, lewat lakonnya itu, Cut Mini ditabalkan sebagai pemeran wanita terbaik dalam Indonesia Movie Award 2009.

Penggalan percakapan di angkot dalam iklan itu bikin saya gembira. Rupanya jurnalis tergolong profesi yang layak dicita-citakan.

Selama ini, pekerjaan kuli tinta masih dipandang sebelah mata. Upah rendah. Jam kerja tak jelas. Jaminan keselamatan kerja minim. Banting tulang, peras otak. Dan yang bikin kecut, masyarakat sudah memasang stigma wartawan menghalalkan amplop.

* * *

SAYA TERINGAT sebuah cerita pendek karya Putu Wijaya. Cerpen itu saya baca waktu masih sekolah menengah atas. Kisahnya, kira-kira begini. Seorang wartawan habis disemprot istri pejabat lantaran beritanya menohok si pejabat. Ia dikasih sebuah amplop. Wanti-wanti sang nyonya, jangan macam-macam lagi. Si jurnalis hanya manut kayak kerbau dicocok hidungnya. Si wartawan menerka-nerka berapa isinya. Sang istri menunggu di rumah. Perempuan itu sudah bosan dihimpit kesulitan hidup.

Anak kecil mereka tergolek lemas. Dihajar sakit.

Demi menyenangkan istri, si wartawan pulang membawa sekantong plastik buah. Akan dia serahkan buah tangan itu dengan penuh sukacita. Terbayang wajah istri bakal sumringah.

“Dapat berapa?” tanya istri setibanya.

“Sejuta.”

“Cuma segitu harga kamu?” sergah istri ketus.

Si kuli tinta terdiam. Dia buka pelan-pelan. Hanya ada seratus ribu. Dia butuh pelipur lara. Si bayi mungkin bisa menyiram lukanya. Dia temukan anaknya sudah terbujur kaku.

Sedemikian hinakah profesi jurnalis?

* * *

SAYA BERUNTUNG jadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang memperjuangkan profesionalisme dan kesejahteraan wartawan. Tak ada –setidaknya setahu saya, belum ada– organisasi jurnalis di Indonesia yang memiliki divisi serikat pekerja. Yah, AJI memandang jurnalis adalah buruh.

Jurnalis harus pintar karena ini tuntutan profesi. Jika jurnalis bebal, informasi yang mereka sajikan bakal meleset. Walhasil, masyarakat yang mereka layani bakal tersesat. Profesional harus dibayar layak. Sayang, pemodal media masih banyak menggaji karyawannya cekak. Untuk merebut kesejahteraan itu, jurnalis harus bersatu, berserikat. Itulah argumentasi AJI membentuk divisi yang saya minati itu.

Saya sangat mencintai profesi jurnalis ini. Benar-benar mencintai. Jadi jurnalis, bukan profesi murahan lagi. Saya pikir begitu.

2 responses to “Jadi Jurnalis? Mengapa Tidak?

  1. sebenarnya saya kurang setuju sama ungkapan bu mus dalam iklan layanan masyarakat itu, “biar bapaknya jadi supir angkot……biar bapaknya loper koran……”, kok saya merasa ada profesi yang disebutkan itu direndahkan ya. “biar”, katanya? saya pikir semua profesi itu harus dihargai.

  2. setuju deh..

    jdi kepengen jdi jurnalis saya mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s