Diduga

Sindrom konfirmasi lemah media kita.

COBALAH ANDA SIMAK BERITA. Bisa lihat teve, dengar radio, baca situs maupun media cetak. Ada satu kata yang tak pernah lepas. Seolah kata tersebut wajib disebutkan. Seakan tanpa kata itu, berita tidak komplet.

Diduga.

Kata tersebut senantiasa dipakai oleh jurnalis kita tiap membuat laporan. Hampir semua media memakainya. Tidak percaya? Mulai bangun tidur, silakan nyalakan layar kaca dan Anda bakal disuguhi sajian berita ala “Diduga”.

Senin pagi, 22 Juni 2009.

“Kabar Pagi” di TV One memberitakan dua orang tenaga kerja wanita asal Jombang yang mengais rejeki di Malaysia hilang. Mereka diduga disekap majikannya.

“Liputan 6 Pagi” SCTV mengabarkan dua kakak-beradik di Pasuruan tewas dilempar bom ikan serta ditusuk sekawanan orang. Diduga, motifnya balas dendam. Masih di acara pada kanal yang sama, ada berita kecelakaan truk pengangkut tabung gas. Sopir dan kernet tewas. Diduga, tabrakan ini lantaran sang sopir mengantuk. Memang masih dalam tahap dugaan karena sumber kunci yang mengalami peristiwa sudah almarhum dan tak mungkin lagi dapat diwawancara: si sopir.

“Nuansa Pagi” RCTI melaporkan kekerasan yang juga diduga dialami oleh tenaga kerja wanita asal Bone, Makassar. Tenaga kerja itu mengabari keluarganya di Makassar. Belum ada konfirmasi kebenaran peristiwa yang terjadi. Keluarga di tanah air kadung panik, jadilah berita. Semuanya masih dalam taraf menduga-duga.

Masih di saluran yang sama, ada berita perkembangan kasus Manohara Odelia Pinot versus suaminya, Tengku Fachry, Pangeran Kelantan asal Malaysia. Manohara segera melaporkan kasus kekerasan yang diduga dilakukan oleh sang suami.

“Fokus Pagi” Indosiar memberitakan Tim Detasemen Khusus (Densus) Antiteror menangkap Zuhri, seorang pria di Cilacap yang diduga teroris yang tengah merancang pengeboman.

* * *

AWAL MULANYA, “diduga” mulai laku di sini dalam pemberitaan kasus korupsi. Pelaku komplain diberitakan sebagai penjarah uang rakyat. Proses hukum masih berjalan, putusan yang final dan mengikat belum jatuh. Segala kemungkinan, entah terbukti bersalah atau malah bebas, bisa terjadi. Agar amannya, wartawan melaporkan berita dengan balutan kata “dugaan korupsi”.

Segalanya masih dalam dugaan.

Namun hal ini dalam perkembangannya melemahkan upaya konfirmasi jurnalis kita. Asal terima informasi, cepat-cepat mereka meramu berita. Jika sumber info sumir, laporkan saja dengan menyematkan kata “diduga”. Berita sudah jadi, kerjaan rampung, besok cari berita lagi.

Kata “diduga” sudah sedemikan rupa menjadi trend dalam jurnalisme kita. Latah. Akut. Patut diduga, media kita malas mengonfirmasi sebuah informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s