Buntu? Wawancara Saja Peramal

Jalan pintas cover-both side ala infotainment.

Kisruh Manohara Odelia Pinot kiat memanas. Wanita belasan tahun yang disunting Pangeran Kelantan dari negeri jiran ini melarikan diri dari suaminya. Model ayu itu mengaku disiksa suami. Tertekan, dan akhirnya berhasil lolos dari kekangan, pulang ke Indonesia.

Sayang, kasus belum terang. Mengaku mengalami penganiayaan, Manohara belum sempat juga melakukan visum. Publik seakan tak sabar menanti perkembangan berita, apa yang sebenarnya terjadi.

Dan beberapa waktu ini Manohara serta ibunya jadi santapan infotainment, media yang lebih banyak menebar gosip daripada fakta.

Untungnya kini para pegiat infotainment agak mending daripada yang dulu-dulu. Mereka mulai berupaya untuk menyajikan informasi dari beragam sumber. Pendek kata, coba cover-both side. Pihak Kerajaan Kelantan, meski bukan sang pangeran langsung dan hanya melalui perantara seorang kerabat, pun mereka wawancara.

Namun wawancara dengan beberapa sumber itu pun hingga sejauh ini hanya berbalas pantun. Yang sana menuduh, yang sini mengelak. Fakta hanya sebatas realitas psikologis. Fakta yang terpapar hanya setingkat ocehan sumber. Kita belum menyentuh fakta pada level sosiologis.

Cover-both side tampaknya baru dipahami sebagai wawancara sedikitnya dua narasumber. Cukup dengan itu, berita sudah layak tayang. That’s it.

Seharusnya masalah tersebut dapat terpecahkan jika ada sumber kunci. Sumber itu bisa berupa dokumen (paper trail). Wawancara (people trail) punya porsi istimewa dalam sebuah berita. Ia hampir bisa dikata wajib dilakukan oleh reporter. Berita tanpa narasumber yang jelas sama halnya kabar burung. Namun, dalam beberapa hal, wawancara masih menyisakan celah apalagi jika sumber yang dipilih tidak kompeten. Sumber macam begini, kutipannya sangat tipis dapat dipertanggungjawabkan.

Dan infotainment terjebak dalam hal ini.

Coba menyingkap “fakta” di balik kasus Manohara yang belum terpecahkan, infotainment mewawancara sejumlah paranormal. Dengan berbagai perspektif, para sumber itu menerawang dan meraba apa yang sebenarnya terjadi.

Hal ini tak terjadi kali pertama. Sebelumnya, infotainment juga melakukannya untuk coba mengungkap terjeratnya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar lantaran tersandung kasus pembunuhan.

Kompetensi narasumber dari kacamata jurnalisme sangat unik. Sumber kompeten bukan berarti pakar yang jago bikin analisis –paranormal juga dapat dianggap pakar di bidangnya. Sumber dianggap kompeten jika ia berada di lingkaran dalam peristiwa. Sumber terbaik adalah pelaku atau orang yang mengalami atawa setidaknya saksi yang benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut.

Karena “aturan” itulah, para cerdik cendekia seharusnya tak mendapat porsi berlebih dalam berkomentar. Jurnalis perlu menyediakan ruang yang lebih banyak kepada para pelaku, orang yang terkena dampak atas peristiwa tersebut, atau setidaknya orang yang benar-benar menyaksikan sebagai narasumber utama.

Memang, bisa jadi para pakar komentator itu dapat memberikan pandangan netral, bebas dari kepentingan apa pun. Namun, toh sekali lagi, idealnya mereka baru berbicara guna melengkapi bahan-bahan yang sudah dihimpun oleh jurnalis melalui wawancara para sumber utama.

Dan sampai sejauh ini, posisi paranormal hanyalah meramal. Mereka menerawang dan hasil terawangan pun masih di awang-awang. Untuk mendapatkan fakta? Tak ada cara lain selain terjun ke lapangan dan menginvestigasi.

Alih-alih, media hiburan justru menyerbu ahli nujum untuk memperoleh jawaban. Walhasil, lagi-lagi infotainment belum berhasil menyajikan berita terang, masih asyik di keremangan gosip yang digosok makin sip.

Saat ini para pelaku infotainment dengan gegap gempita mengaku sebagai jurnalis. Di kubu seberang, ada golongan yang menentang keras infotainment sebagai bagian dari jurnalisme. Alasannya, mereka longgar dan menabrak sana-sini rambu-rambu etika jurnalistik. Lebih banyak menyajikan isu daripada berita. Namun, kalau ditinjau dari segi pasar, mereka punya konsumen. Cukup besar, bahkan. Media tanpa pembaca sama halnya mandul karena media mengada toh untuk disimak khalayak.

Di sinilah, infotainment di persimpangan.

Ingin diakui jadi bagian dari jurnalisme? Rupanya media hiburan perlu banyak belajar lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s