Mendaftarkan NPWP: Wajib Melampirkan Fotokopi Dokumen?

Tatacara kerja baku tentang pelayanan pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak teranyar menjamin lampiran hardcopy bukan syarat mutlak. Namun, dalam prakteknya, kantor pelayanan pajak masih membutuhkan dokumen pendukung tersebut. Selayaknya, jika pendaftar belum membawa kopian tersebut, hal ini tak menghalangi proses pelayanan.

Oleh Yacob Yahya
(826 kata)

“SELAMAT PAGI, PAK. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang petugas front-desk sebuah kantor pelayanan pajak kepada seorang pengunjung.

“Saya hendak daftar NPWP, Pak,” jawab si pengunjung.

“Baik. NPWP akan jadi dalam sehari kerja. Bapak boleh tunggu. Sudah dilengkapi syaratnya?”

“Apa saja itu Pak?”

“Jika Anda mau daftar sebagai orang pribadi, cukup fotokopi KTP.”

“KTP saya sudah mati.”

“Tak pa-apa. Ada alternatif lain. Yang penting ada kartu identitas lainnya, seperti SIM atau paspor,” jawaban petugas melegakan pengunjung.

“Ah, kalau SIM saya ada. Tapi belum fotokopi…” pengunjung kembali risau.

“Loh, sebenarnya syaratnya mudah kok Pak. Gak memberatkan. Cukup selembar fotokopian saja…”

“Tapi… baiklah… kios fotokopi terdekat mana yah?” tanya Bapak pengunjung itu agak kecewa dan terpaksa mengalah.

Apa yang bakal terjadi selanjutnya? Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menjadi petugas pajak di atas? 

a. menolak permohonan pendaftaran NPWP si pengunjung dan menghimbau untuk melengkapinya

b. menerima permohonan pendaftaran NPWP si pengunjung karena Bapak pendaftar itu cukup memperlihatkan kartu identitasnya kepada Anda

BERUBAH SUDAH WAJAH KANTOR PELAYANAN PAJAK. Sejak bergaungnya reformasi birokrasi di Direktorat Jenderal Pajak beberapa tahun lalu, spirit kerja pun harus berubah. Dari yang awalnya konon terkesan birokrat elitis, berganti rupa jadi pelayan masyarakat tulen (public servant).

Konsekuensinya, segala prosedur kerja, terutama dalam melayani warga, kudu seringkas mungkin. Tak berbelit, dan yang penting cepat. Plus gratis zonder satu sen pun rupiah yang dirogoh oleh masyarakat untuk memperoleh pelayanan. Rupa kantor pajak beserta petugasnya yang konon menyeramkan harus berganti menjadi wajah yang penuh senyum.

Pendek kata, jika bisa dipermudah kenapa dipersusah? Lagipula, peningkatan mutu layanan seperti ini ujung-ujungnya mendongkrak kesadaran dan kepatuhan masyarakat membayar pajak.

Salah satu dari delapan layanan unggulan yang ditawarkan oleh kantor pajak adalah pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). NPWP kini tengah jadi primadona. Banyak orang berduyun-duyun mendaftarkan NPWP. Sebagian karena kesadaran perpajakan masyarakat meningkat, sebagian juga lantaran berbagai iming-iming bagi orang yang sudah punya NPWP.

Anda tak perlu kena biaya fiskal jika hendak pergi ke negara manca lewat perjalanan udara atau laut. Banyak toko yang menawarkan diskon bagi pembeli yang sudah punya NPWP. Yang tak kalah menariknya, sudah banyak bank yang mensyaratkan nasabah peminjam harus memiliki NPWP jika pengen pinjam kredit di atas Rp50 juta. Lagipula besaran pajak pemegang NPWP berlaku semestinya sesuai ketentuan –yang belum ber-NPWP kena pajak lebih tinggi 20% hingga 100%.

Setiap jenis pelayanan memiliki tatacara kerja baku atau standard operating procedure (SOP). SOP tentang pelayanan pendaftaran NPWP yang kini berlaku memiliki dasar hukum berupa Peraturan Direktur Jenderal Nomor 44/PJ/2008. PER-44 ini lahir pada Oktober 2008. Belakangan, menyusul PER Nomor 24/PJ/2009. Ia mengatur tatacara pelayanan pendaftaran NPWP lewat internet (e-registration).

SETIDAKNYA ADA TIGA JENIS WAJIB PAJAK. Mereka adalah orang pribadi, badan, serta bendaharawan.

Orang pribadi umumnya adalah karyawan/pegawai yang bekerja pada suatu pemberi kerja. Atau, bisa juga pensiunan. Pemberi kerja ini dapat berupa pengusaha orang pribadi (dia wajib pajak orang pribadi juga), atau badan.

Orang pribadi bisa juga orang yang punya usaha, misalnya toko dan jenis usaha lainnya. Usaha itu bisa dia jalankan sendiri, atau dapat juga dengan mempekerjakan karyawan/pegawai.

Orang pribadi juga bisa orang yang memiliki keahlian tertentu dengan menjalankan profesinya untuk mencari nafkah. Misalnya dokter, akuntan, penerjemah, pengacara, notaris, konsultan, dan sebagainya.

Badan pada umumnya berupa organisasi yang secara resmi berbadan hukum yang didirikan dengan sebuah akta serta didaftarkan kepada notaris. Badan bisa berupa yayasan, firma, CV, PT, partai politik, dan lain-lain.

Bendahara bertugas memotong/memungut pajak untuk dia setorkan ke Kas Negara. Pihak yang dipotong atau dipungut, misalnya, rekanan proyek belanja Negara/Daerah.

Jika Anda hendak mendaftarkan NPWP, isilah formulir pendaftaran yang telah tersedia. Lantas, siapkan data pendukung untuk mengisi formulir tersebut. Orang pribadi cukup sebuah kartu identitas; badan ditambah akta pendirian serta KTP dan NPWP pengurusnya; bendahara ditambah surat penunjukan sebagai bendahara serta KTP si bendahara.

Namun, poin ketujuh Lampiran I PER-44 itu menyatakan “Wajib Pajak tidak perlu menyampaikan hardcopy data pendukung pada saat menyampaikan formulir permohonan pendaftaran Wajib Pajak…”

Artinya, kopian data pendukung semacam KTP bukan syarat mutlak. Sepanjang pemohon NPWP dapat menunjukkan KTP, dia tak boleh kita tolak. Toh kita –petugas pelayanan– hanya butuh nomor identitasnya guna mengimput data ke aplikasi sistem informasi (bahasa resminya Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak disingkat SIDJP).

Terlihat, ciri pelayanan makin mengental dalam SOP baru.

Tapi, pada prakteknya, tetap saja kantor pajak membutuhkan sejumlah kopian data. Hal ini berguna jika belakangan kantor pajak hendak mengkonfirmasi alamat atau membuat profil si wajib pajak.

“Dalam KTP ada foto si wajib pajak. Kita, harus diakui, masih butuh syarat lampiran itu,” tutur salah seorang petugas pelayanan pajak.

“Tapi,” sambungnya, “jangan sampai menghalangi pendaftar yang belum melampirkan fotokopi data,” tukasnya menyetujui materi PER-44.

JADI, KEMBALI KE PERTANYAAN AWAL. Apa yang selanjutnya terjadi dalam penggalan dialog di atas? Jika Anda petugas pelayanan pajak, sudah seharusnya memilih jawaban terakhir.

Urusan pajak jadi mudah toh? Ayo, daftarkan NPWP Anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s