Dua Langkah Samping Kiri… Kerjakan!

Bagaimana polah bakal calon pegawai negeri sipil berlatih ala militer.

Oleh Yacob Yahya

(3.332 kata)

SELASA, 24 FEBRUARI, ada yang lain. Sesuatu yang sudah lama tak aku praktekkan, mulai hari itu harus aku kerjakan lagi: baris-berbaris. Ia kegiatan Pramuka, organisasi kepanduan Indonesia, kala aku sekolah menengah pertama dan atas. Atau, ini santapan anak-anak yang gemar berbaris, misalnya para petugas upacara atau yang berambisi jadi Paskibra –Pasukan Kibar Bendera. Aku tak suka ekskul itu, baik berbaris, maupun Pramuka. Banyak teman sekolah juga malas melakukannya. Walaupun, begini-begini aku menyandang Bantara. Aku duduk di bangku sekolah tingkat menengah pada 1994 hingga 2000. Sejak kuliah, aku merasa terbebas dari rutinitas macam itu. Bayangkan, sudah sembilan tahun aku tak lagi menjalani kegiatan hentak-hentak bumi.

Selama hampir dua bulan, sejak hari itu, menu “sarapan” pagi kami adalah baris-berbaris. Istilahnya Mental Fisik Disiplin (MFD). Menurut panitia penyelengara, kegiatan ini agar membentuk mentalitas disiplin pegawai.

Tak main-main, instruktur kami dari Koramil.

Kami adalah 240 orang peserta diklat dasar. Dibagi enam kelas, tiap kelas ada 40 orang. Aku dapat Kelas F. Kami merupakan bakal calon (calonnya-calon) pegawai negeri sipil di lingkungan Departemen Keuangan, tepatnya Direktorat Jenderal Pajak. Kami diklat di Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Lokasinya di Kalasan, Sleman. Peserta lainnya, tersebar menjalani diklat di berbaga tempat. Ada Malang, Medan, serta Jakarta. Total-total ada lebih dari 1.260 orang calon karyawan baru di instansi pajak.

Ini wajib dan rutin dilakukan. Kecuali, kalau turun hujan pagi-pagi. Atau, jika ada ujian. Sebenarnya diklat itu rampung pada Senin, 20 April. Namun, menu MFD selesai pada Rabu, 15 April. Sejak Kamis, 16 April, tiga hari terakhir berturut-turut kami ujian. Materi tes adalah apa yang telah diajarkan di kelas. Total, ada 15 mata pelajaran yang diujikan secara tertulis. Tiga hari terakhir sembilan materi. Enam materi sudah diujikan sebelumnya, tiap Senin dua minggu sekali. Di sela-sela kegiatan klasikal, selama lima hari kami juga menjalani observasi lapangan.

Mulai selasa itu setiap kelas harus berbaris rapi. Bentuknya lima bersap. Jadi, ada delapan banjar. Satu kelas istilahnya satu peleton. Tiap-tiap butuh seorang komandan alias danton, singkatan dari komandan peleton.

“Siapkan seorang danton,” perintah Pak Nyoman, instruktur kami.

Teman-teman memilihku. Aku tak bisa menangkis tudingan massa.

“Ini hanya sementara. Masing-masing orang akan merasakan jadi danton. Ini bergiliran. Tiap berapa hari akan ganti,” hanya pesan Pak Nyoman itu yang membuatku sedikit lega. Meski, nantinya, masa pergantian itu baru tiba setelah hampir sebulan aku jadi danton.

Aku jadi geli. Dunia memang bisa jungkir balik. Kalau dulu aku kurang suka hal-hal yang berbau militer, kini aku harus mengunyahnya. Sejak mahasiswa, aku getol demo. Bahkan hingga sewaktu aku kerja jadi wartawan. Ritual rutin kami adalah Mayday, hari buruh yang diperingati tiap 1 Mei.

Tapi ada untungnya juga. Tiap pagi aku bisa mengatur waktu. Bangun habis subuh, mandi, siap-siap berangkat. Pulang diklat pukul lima seperempat. Kalau sebelumnya, jam tubuhku tak teratur. Habis subuhan aku molor jilid dua, hingga pukul delapan atau sembilan. Baru beranjak kerja. Maklum, wartawan kerjanya abnormal. Bahkan kami bisa mulai kerja pada sore atau malam hari. Peristiwa yang diliput tak tentu. Kali ini, aku jadi agak “teratur”.

“Jadi balik kayak masa sekolah dulu,” komentarku.

* * *

“KALAU KASIH ABA-ABA YANG LANTANG YAH. Jangan ragu-ragu. Kasihan temannya kalau danton ragu-ragu. Harus mantap. Kita coba,” ujar Pak Nyoman.

“Siap grak,” aku teriak, sendirian.

“Belum…” Pak Nyoman meralat. Tawa pecah.

“Yah, sekarang kita coba satu-persatu.”

“Siap grak,” danton Kelas A teriak. Kurang lantang.

“Siap grak,” Kelas B, belum keras.

“Siap grak,” Kelas C, lirih.

“Siap grak,” Kelas D, masih samar.

“Siap grak,” Kelas E, juga kurang kencang.

Giliranku, “Siap grak…”

“Nah, itu bisa keras,” celetuk Pak Nyoman.

Semua tertawa, tepuk tangan. Aku tersipu.

Modalku bersuara lantang, lucunya, justru dari pengalaman jadi orator dan koordinator aksi. Dunia yang berkebalikan dengan militer dan polisi. Benar-benar, memang sungguh, ini skenario indah berputarnya roda nasib. Aku hanya bisa merenunginya.

Satu saat, ketika kami hendak berpisah, Ghina Rizqia, kawan sekelasku menulis pesan pada buku pribadiku. Tiap orang punya buku sendiri yang bakal diisi pesan oleh teman sekelas. Siapa saja berhak menulis apa saja. Ghina, yang juga satu kelompok denganku, menulis, “seorang cowok yang jalannya tegap (ya, maklumlah beliau adalah danton pertama…)”

* * *

I NYOMAN NAMAYASA MENGAKU SUDAH HAMPIR DUA PULUH TAHUN DI JAWA. “Tapi saya minta maaf. Meski sudah lama di sini, saya gak bisa ngomong Jawa halus. Jadi kalau saya bicara bahasa Jawa kasar, bukan maksud saya kasar,” ia memaparkan hal itu di depan pasukan.

Rambutnya sudah memutih. Namun badannya masih tegap. Aku taksir usianya lima puluhan. Perutnya masih jauh dari timbunan lemak yang membuncit. Logat Bali dia tetap kental. Suaranya lantang parau. Tanpa alat pengeras pun ia mampu memberi aba-aba dengan kencang. Meski, pasukan barisan pojok belakang acap samar menangkap aba-abanya.

“Apakah jelas?”

“…las!” jawab pasukan dengan berteriak, melepas penat. Aku menahan ketawa tiap kali mendengar jawaban itu. Kalau mau jujur, teman-teman menjawabnya campur baur. Ada yang memang menyahut “jelas”, sebagian berteriak “blas” alias sama sekali tidak ngeh.

Sutarwi adalah asisten yang setia. Aku kira umurnya empat puluhan. Rambut masih hitam, kumis agak tebal. Ia tak “segalak” Pak Nyoman. Ia membantu Pak Nyoman dengan baik. Kerap dia jadi peraga sebagai contoh melaksanakan aba-aba.

“Hadap kiri grak!”

Set-set. Pak Tarwi memberi demonstrasi.

“Balik kanan grak!”

Set-set-set.

“Hormat grak!”

Set. Ia angkat tangan dengan cepat.

“Tegak grak!”

Set. Pesat ia ayunkan tangan ke bawah.

“Siap grak!”

Set. Pak Tarwi memeragakan berdiri tegak.

“Dada dibusungkan. Dagu diangkat, jangan menunduk. Pandangan mata ke depan. Kaki rapat. Tangan tegak tapi jangan mengepal bulat. Kayak memeras santan, yah. Seperti ini,” Pak Nyoman menunjuk genggaman tangan Pak Tarwi.

Satu hari, tatkala memberi materi jalan di tempat, Pak Tarwi seperti biasa menjadi sampel.

“Jalan di tempaaat grak!”

Prok-prok-prok-prok…

“Kiri… kiri… kiri…” tiap kali aba-aba “kiri” terucap, kaki kiri harus pas jatuh ke tanah. Ini agar pasukan kompak gerakannya.

“Hadap kiri henti grak!”

Set-set-set.

Para peserta cekikikan. Rupanya Pak Tarwi hadap kanan.

“Nah, ini contoh yang salah,” sahut Pak Nyoman.

Pak Tarwi mendaratkan tapak tangan kanannya ke jidat, hingga kepala mendangak sambil tersenyum. Tawa peserta meledak. Ini oase segar di tengah rasa sepaneng. Aku pun terkekeh.

Kadang mereka memakai seragam hijau-hijau, kemeja berpadu celana plus topi bermoncong. Tapi kadang mereka juga mengenakan seragam loreng dus baret. Jika sudah pakai loreng, ada sebuah belati tersarung di sabuk pinggang kanan.

* * *

APEL PAGI DIMULAI PUKUL TUJUH. Semua peserta harus siap berbaris dan berkumpul di lapangan dengan disiapkan danton. Tiap pagi aku sibuk mengecek kelengkapan pasukan. Berapa yang hadir, berapa yang telat, berapa yang sakit, dan sebagainya. Yang tengah hamil boleh tidak ikut baris dan status laporannya “sakit”.

Format laporannya, “Lapor, Kelas (apa, A sampai F), jumlah 40 orang, kurang (berapa), hadir (berapa), keterangan (apa: berapa sakit, berapa terlambat). Laporan selesai.”

“Jangan dibolak-balik. Jumlah-kurang-hadir-keterangan. Jangan sampai salah,” pesan Pak Nyoman, “jangan memanipulasi data. Ini menyangkut nyawa. Kalau di medan sungguhan, ini menyangkut keselamatan pasukan Anda. Jangan bilang lengkap ternyata kurang satu. Itu tanggung jawab Anda.”

Kalau sudah begini, akan susah jika danton tak menemukan anggotanya yang masih raib tanpa laporan alasan. Aku pernah mengalaminya. Waktu itu semua kelas sudah siap. Yang lengkap jumlahnya lengkap sih tak masalah.

Aku hitung-hitung cuma ada 35. “Cuma tujuh banjar? Harusnya delapan. Siapa saja yang gak ada?” aku tanya pada pasukan. Blaik. Tak ada input. Semua tak menjawab. Aku harus tahu dengan segera.

Mana yang lima? Aku hitung lagi, dua orang hamil. Dua orang yang sakit siapa lagi? Satu orang belum ada berita. Aku bingung. Waktu menjalar cepat. Semua kelas sudah siap, wakunya laporan. Aku belum tahu posisi semuanya. Aku laporkan saja hadir 37. Dua sakit, satu terlambat. Buntutnya, aku kena sindir. Akan aku ingat hal itu, supaya di kemudian waktu aku lebih waspada.

Eh, ternyata, beberapa minggu selanjutnya, kejadian itu terulang lagi, oleh kelas lain -setelah aku tak lagi jadi danton. Memang susah mengurusi banyak kepala. Soal disiplin dan kesaklekan, militer memang jagonya.

Durasi baris-berbaris sebenarnya setengah jam. Tiap kali alarm telepon genggam Pak Nyoman meraung, kami lega. Tapi dia juga kerap menekan tombol tunda sekali-dua. Tiap kali tunda, lima menit.

Menu latihan kami masih tergolong dasar. Awalnya sederhana. Namun tiap hari meningkat jadi yang agak rumit. Hadap kanan atau kiri. Hadap serong kanan atau kiri. Balik kanan. Tak ada balik kiri. Latihan penghormatan. Jalan di tempat.

Lantas, yang lebih susah, adalah maju jalan. Ada dua jenis gerakan berjalan. Pertama, langkah tegap. Tangan yang terayun harus setinggi “rata-rata air”. Sembilan puluh derajat tegak lurus. Tapi juga jangan sampai terlalu tinggi menjulang melebihi bahu. Kedua, langkah biasa. Tangan yang terayun tidak setinggi langkah tegap. Santai saja, mengayun seperti orang jalan pada umumnya.

“Tapi bantingan kaki harus mantap. Jangan setengah-setengah,” ujar Pak Nyoman.

Yang paling sulit adalah “hormat kanan”. Ia merupakan gerakan penghormatan dalam posisi berjalan dengan langkah tegap. Semua orang harus menengok ke kanan dalam memberi hormat, kecuali barisan sisi paling kanan.

Ada juga gerakan “periksa kerapian”.

Pula, kami sekali berlatih persiapan upacara. “Kalian bakal jadi pemimpin. Jangan heran jika nanti kalian jadi pemimpin upacara atau inspektur upacara. Ada waktunya nanti kita latihan upacara bendera,” tutur Pak Nyoman.

Habis MFD, kami makan sarapan atawa extra-fooding yang disediakan oleh jasa katering. Menunya berganti-ganti. Bubur kacang ijo, bubur obar-abir -sebagian daerah menyebutnya jenang, bihun goreng, nasi goreng, atau nasi uduk.

Kudapan kecil juga ada, pada pukul sepuluh dan tiga seperempat sore, beserta teh atau kopi hangat. Siang hari pukul dua belas, saatnya santap siang. Menunya juga bervariasi. Kadang lele, ayam, daging, udang, bandeng, dan lainnya. Plus sayur. Nasi ransum, dalam wadah plastik bundar.

Kalau kebetulan seleranya pas, tak masalah. Kalau tak suka? Yah terpaksa.

“Terima saja apa adanya. Gak usah jajan di luar. Sekali kalian masuk di lingkungan diklat ini, jangan keluar meski barang sebentar buat jajan. Jalani saja. Ini makanan paling enak di sini. Yakini, ini yang paling enak. Kita makan bersama-sama, merasakan bersama-sama, jangan ada yang lain sendiri,” Pak Nyoman “mendoktrin”.

Sontak aku ngempet guyu. Aku teringat pada tulisan kocak Alfian Hamzah untuk Pantau yang berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan”. Tentara memang harus siap menerima kondisi lapangan seberat apapun. Termasuk soal makanan.

Pukul delapan, pelajaran dimulai.

* * *

PERIKSA KERAPIAN BERGUNA UNTUK MENELITI APAKAH PAKAIAN KITA SUDAH TERTATA RAPI ATAU BELUM. Selain itu, kita dapat mengecek perlengkapan yang menempel di baju-celana. Bakal terasa manfaatnya jika pasukan membawa ransel dan peranti lainnya.

Gerakan ini dilakukan dalam kondisi istirahat di tempat. Ketika komandan berteriak, “periksa kerapian!” pasukan serempak ambil sikap sempurna -siap.

Selanjutnya, komandan akan memberi aba-aba, “mulai!”

Pasukan menunduk, memeriksa celana bawah lutut. Kiri. Lantas kanan. Lalu saku celana, sama dari kiri dulu baru kanan. Lalu biji ikat pinggang.

Dari membungkuk, serempak pasukan berdiri tegak, tangan masih memegang kepala sabuk. Selanjutnya baju bagian belakang persis di atas ikat pinggang. Saku dada kiri. Dada kanan. Krah leher kiri. Krah kanan. Terakhir, kepala atau topi.

Kemudian, ambil sikap siap lagi. Tunggu aba-aba komandan, “selesai!”; kembali ke sikap istirahat di tempat.

Tiap gerakan dilakoni patah-patah, kaku, bertenaga. Sambil berhitung, “satu-dua, satu-dua, satu-dua, satu-dua…” hitungan bisa berteriak, bisa juga dalam hati, tergantung perintah komandan. Gerakan satu sama lainnya harus kompak serempak. Jangan sampai saling mendahului atau ada yang ketinggalan. Usai memeriksa topi atau kepala, ambil sikap sempurnanya sambil menghitung, “satu!”

Ini masih tentang kerapian. Pihak panitia penyelenggara diklat titip pesan kepada Pak Nyoman dan Pak Tarwi selaku instruktur MFD. Mereka meraun, menciduk setiap cowok yang dinilai gondrong.

“Kamu-kamu-kamu maju ke depan,” perintahnya menepuk pundak pria yang kena razia. Sebagian besar peserta putra kena. Sewaktu meronda Kelas F, separuh lebih dari total 17 orang temanku kena.

“Kamu juga maju,” Pak Nyoman menunjukku.

Aku kaget. Barusan beberapa hari lalu aku cukur.

Aku bergabung dengan barisan di depan.

“Kamu berdiri paling depan sini,” Pak Nyoman menunjukku lagi.

Aku maju. Situasi seperti ini tak membuatku nyaman. Apakah potong segini masih kurang cekak?

“Sudah diingatkan, adik-adik harus potong. Berkorbanlah sedikit. Ini belum seberapa. Kalau diklat lanjutan, kalian akan disuruh gundul. Kalian masih calon pegawai… nama-nama yang ada di sini, silakan ketua kelas mencatat, kumpulkan ke saya.”

Para ketua kelas sibuk orek-orek di atas kertas.

Aku digoda anak-anak Kelas D. “Sttt… mbok senyum,” kata seorang cewek.

Aku tetap tak bisa.

“Setidaknya,” Pak Nyoman melanjutkan, “potongan itu seperti ini,” ujar dia sambil menarikku.

“Ohhh…” peserta lainnya bergumam.

“Ini sampelnya.”

Aku cukur sampai rambut berdiri, jegrak. Jambang aku sikat rata. Atas leher juga aku papras. Pokoknya mirip masa sekolah dulu deh.

Usai apel, anak-anak pada ketawa, mencandai aku.

“Nanti kalau mau potong, kamu aku ajak sebagai model.”
“Bagus, jadi contoh.”
“Panutan.”

“Kita bangga punya ketua Pak Yacob yang berhasil memenangkan audisi cover boy Gaya Rambut Pegawai Pajak Masa Kini, haha,” tulis temanku sekelompok, Retno Wulandari, dalam buku pribadiku.

“Nama-nama yang tercatat hari ini, akan saya hapus jika sudah rapi mulai besok,” sambung Pak Nyoman.

Mulai hari itu juga, mereka berduyun-duyun pangkas rambut.

* * *

SEDIANYA KAMI JUGA MELAHAP TATACARA UPACARA. Instruktur menyeleksi siapa saja yang bakal jadi perangkat upacara. Ada inspektur upacara, pendamping inspektur, pelapor inspektur, tiga orang pengibar bendera, pembaca susunan acara, pemimpin upacara, serta pembaca janji setia pegawai negeri.

Aku dapat peran terakhir. Janji setia itu, istilah resminya, “Panca Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia”. Aku jelas belum hapal karena ini penunjukan spontan. Untungnya, ini hanya latihan gladi kotor.

Septa Bahrun Rahmani, teman sekelasku, jadi pengibar bendera.

Sayang, latihan ini cuma sekali.

Karena keterbatasan waktu, kami berkutat memperlancar materi yang lalu. Yang paling sulit adalah rangkaian gerakan langkah tegap maju jalan, hormat kanan, tegak, langkah biasa, dua kali belok kanan, jalan di tempat, berhenti. Gerakan ini membawa pasukan berjalan di muka peleton lainnya. Tiap peleton dapat giliran, dan dinilai peleton mana yang paling bagus. Yah kompak, yah rapi, yah sigap dantonnya.

Pas materi ini, aku sudah bukan danton. Kami dipimpin Fajar Triyanto.

* * *

AKHIRNYA MASA ITU DATANG JUGA. Setelah beberapa pekan memimpin Kelas F, aku diganti. Suksesorku seorang cewek, Ratih Puspita Dewi. Aku senang, pertanda wanita juga bisa memimpin. Pipit, panggilan akrabnya, minta petunjuk.

“Gimana sih Pak, caranya jadi danton?”

“Begini. Tiap apel mulai, laporan. ‘Lapor. Kelas F, jumlah 40. kurang… hadir… keterangan,” aku briefing dia.

Lengser, bukan berarti aku lepas tangan. Aku selalu berdiri paling depan, persis sebelah kiri danton. Aku membisiki langkah-langkah apa saja yang harus dikerjakan. Saatnya hormat pada pemimpin apel, hormat. Saatnya teriak “kerjakan”, yah bengok. Waktunya maju laporan, yah harus maju.

Sesudah itu, umumnya pergantian danton dua-tiga hari sekali. Tapi tergantung kinerja. Jika dianggap berhasil memimpin, danton itu berhak menunjuk penggantinya. Jika tidak lulus, dia her barang sehari.

Pipit dinyatakan lulus. Ia “berkuasa” menunjuk siapa saja yang meneruskan tugasnya.

“Bang Miun, Bang Miun,” kawan-kawan berbisik cengengesan.

“Karena memenuhi aspirasi teman-teman, saya memilih… Bang Miun,” tunjuk Pipit.

Mulai saat itu, giliran Andreas Widiyatmoko. Bang Miun, sapaannya, kami suka dia. Dia kocak. Apalagi kalau memimpin yel-yel “watermelon” di kelas. Ini lagu anak-anak dengan lirik:

Are you sleeping, are you sleeping
Brother John, Brother John
Morning bell is ringing, morning bell is ringing
Ding dong dong, ding dong dong…

Namun, diganti dengan:

Watermelon, watermelon
Orange juice, orange juice
Banana banana, banana banana,
Papaya, papaya

Sederhana, tiap bait kalimatnya berulang.

Tapi, dalam menyanyikannya, kami harus menggerakkan tangan. Ada yang melingkar (sewaktu bait watermelon), ada yang meremas (orange juice), ada yang menimang (banana banana), serta mengeruk ke atas (papaya).

Tiap kali Miun “beraksi”, kami cekakakan tak tertahan. Ia kami daulat jadi dirijen “watermelon”.

Waktu itu, usai Pipit menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Miun, acara MFD hampir rampung. “Kegiatan selesai, tanpa penghormatan, pasukan dapat dibubarkan. Kerjakan!”

“Kerjakan!” meledak, Miun menjawab paling banter. Seorang perempuan asal Kelas E -barisannya persis di samping kanan kami-melonjak kaget.

Kami tak bisa mengerem tawa.

Ini masih soal Miun. Kemarin, kami baru saja menerima materi cara “periksa kerapian”. Dengan pede-nya, pagi jelang apel mulai, Miun memberi titah. “Untuk mempraktekkan materi sebelumnya… periksa pakaian…”

“Hahaha…” sepasukan Kelas F terbahak. Anak-anak Kelas E juga terguncang-guncang pundaknya lantaran tertawa.

Kami urung melakukan periksa pakaian, eh periksa kerapian. Apel kadung dimulai.

Diyatakan lulus, Miun, mengincar Indri Hapsari sebagai pengganti. Rupanya Indri, kalau dihubung-hubungkan, bukan orang asing buatku. Ia punya saudara yang menikah dengan Dian Elvira Rosa, temanku kuliah dulu.

Dian Eros, sapaannya, kini sedang ambil gelar doktor di Inggris. Masternya dari Australia. Orangnya pintar, bahasa Inggris cas-cis-cus, aksen Aussie kental. Pertama kali kami berjumpa sewaktu kelas tiga SMA. Waktu itu kami lomba akuntansi tingkat Jawa Tengah-Yogyakarta di Universitas Gadjah Mada, kampus yang nantinya kami jadi mahasiswa di situ. Kami bertanding hingga final. Mujur, aku juara satu. Tapi kini? Aku yakin Dian lebih mafhum seluk-beluk akuntansi ketimbang aku.

Indri juga punya saudara yang menikah dengan Anang, atlet panjat tebing kolega istriku, Murjayanti.

“Ternyata, dunia tak seleba daun kelor. Kita jadi teman sekelas di sini yah,” ungkapnya sewaktu kami berkenalan dan bertukar cerita.

Setelah Indri, giliran Rezky Bayu Adi.

Lantas, Fajar Triyanto jadi danton hingga usai. Fajar juga ikon kelas kami yang lain. Bahasa Jawanya medok total. Ia dari Klaten. Ia bikin “genre” aba-aba baru. “Dua langkah samping kiri… jalan.”

Anak-anak ketawa. Harusnya, “dua langkah kiri, jalan”.

* * *

JADI DANTON, RASANYA INI PENGALAMAN TERSENDIRI.

“Wua jadi danton, gak aku banget. Secara suara cempreng, badan ceking gini. Aku juga paling gak suka baris-baris kayak gitu. Bikin item euy, hahaha. Tapi pengalaman berkesan banget, sekali seumur hiup. Dah lama lagi gak ikut, terakhir SD kelas 5 hihihi. Banyak-banyak terima kasih buat Pak Yacob atas bisikan komandonya di setiap langkahku, hehehe. Tengkyu bro,” tutur Indri.

“Bangga,” ungkap Setyo Nugroho dari Kelas D. Goho juga teman satu asal tepat magang, di Kantor Pelayanan Pajak Pati. Ia dari Purwodadi. So, kami berdua yang dari Pati, dari tujuh orang, yang muncul jadi danton.

“Kenapa bangga?” aku tanya dalam sebuah wawancara.

“Begini-begini, dianggap malas di dalam kelas, toh juga bisa memimpin teman-teman.”

“Kesan jadi danton grogi awal-awalnya. Tapi enak juga melatih tampil di depan. Tapi kadang-kadang nervous kalo pas ngadep komandan. Yang gak terlupakan, pas lupa untuk hormat, jadi diulang-ulang,” aku Rezky.

Miun senada, “Pertama kali sih grogi jadi danton diliatin banyak orang. Tapi setelah diganti kok, aku rasanya ada perasaan pingin jadi danton lagi.”

Kenapa?

“Kalo jadi danton, aku rasanya punya ‘power’ punya ‘kendali’ punya ‘kuasa’… hehe, narsis yo… terus, yang berkesan waktu milih teman mau dijadiin danton. Mukanya kok pucat semua. Senenge puol…” Senangnya bukan main.

“Jadi danton dua hari ada bangganya. Tapi groginya gak kalah juga Pak. Paling gemetar kalo disuruh laporan ke depan. Tapi kalo bisa melaksanakan tugas jadi bangga. Apalagi aku kan danton cewek,” timpal Pipit.

“Di antara teman-teman aku paling lama jadi danton,” ujar Heru Cahyono, danton pertama seangkatanku dari Kelas D, “yang jelas danton lebih sigap daripada pasukan. Kita kan contoh. Yang nyenengin kalo kita bisa melakukan gerakan serempak dan seirama.”

“Pertama merasa wagu sich, tapi habis itu jadi diri sendiri to, meski tetap wagu-wagu gitu. Tapi itu nambah koleksi keberanianku untuk menghadapi massa, I like it,” Fajar tak mau ketinggalan.

Ia juga bangga melakukan “modifikasi” aba-aba. Di samping “dua langkah samping kiri”, ia mengintroduksi perintah anyar: “masing-masing banjar dua kali balik kanan”. Harusnya, “masing-masing banjar dua kali belok kanan, grak”. Ini gerakan ketika maju jalan, guna berbalik ke arah sebaliknya. “Tapi pasukane manut, apik to?” imbuhnya.

* * *

RABU PAGI TANGGAL 15 APRIL ITU SERASA DATAR. Ini hari terakhir kami menjalani MFD, juga terakhir menerima pelajaran. Mulai besok, kami tak perlu berbaris lagi. Tapi Pak Nyoman maupun Pak Tarwi tetap semangat melatih kami.

Menu kali ini adalah pematangan materi yang sudah-sudah. Hadap kanan. Hadap kiri. Hadap serong kanan. Hadap serong kiri. Latihan penghormatan. Jalan di tempat. Periksa kerapian.

Tititit-titiiit-tititit. Tititit-titiiit-tititit…

Alarm hape Pak Nyoman berbunyi. Tanda waktu sudah lewat pukul setengah delapan. Seperti biasanya, ia menekan tombol tunda -lima menit lagi. Ia inginkan extra time, seperti lazimnya. Hingga nada peringatan itu menjerit lagi untuk kedua kalinya.

Pak Nyoman tak mau menyita banyak waktu extra-fooding kami.

“Ini hari terakhir. Saya berpesan agar adik-adik dapat bekerja dengan sungguh-sungguh. Kalian adalah calon pemimpin.

Kegiatan hari ini selesai. Masing-masing pasukan tanpa penghormatan dapat dibubarkan. Kerjakan!”

“Kerjakan,” tiap-tiap danton menyahut.

Enam danton hormat. Pak Nyoman membalas. Tangan turun. Masing-masing danton maju ke depan tiap pasukannya.

“Tanpa penghormatan, bubar jalan,” Fajar membubarkan Kelas F.

Namun, usai itu, anak-anak tak sepenuhnya meninggalkan lapangan. Satu persatu kami menyalami Pak Nyoman dan Pak Tarwi. Satu-dua kelas pengen berfoto bareng. Jabat tangan mengalir. Giliranku tiba. Dengan tersenyum, Pak Nyoman menepuk pundak kiriku.

10 responses to “Dua Langkah Samping Kiri… Kerjakan!

  1. elfrida siregar

    hohhoho…pas sekali menggambarkan keadaan di pagi hari sebelum acara bubu di kelas dimulai…. luthu kie mas…..jadi pegel2 gada MFD lagi… alhamdulile’ aku ga kebagian jadi danton hikz,….

  2. wuuaaahhh, pak yacob ni bs bgt nulis “persis plek” ma kenyataannya…
    salut2…two thumbs up 4 u…
    keren2!!! ditunggu tulisan2nya yg laen pak…

  3. @elprid: kalo gitu usul ke KPP Cilacap ngadain MFD saban pagi hehehe…

    @pipit: again, another person flattered me. belum keren banget ah. msh kalah jaoh sama andrea hirata atau pramoedya… aku masih nyimpen setidaknya satu sekuel lagi. hehehe… kalo gak males, bakal kelar akhir pekan ini.

  4. bener-bener riil…. ha..ha…
    kemawutan MFD terlukiskan di sana…
    Yacob adalah pintu….
    jogja adalah kunci………….
    JAYA SENTOSA KELAs F!!!

  5. big brother lu emang jago bgt y he6x….
    salut deh ma commentny, jdi inget masa2 muda kmaren wkwkw
    Mari Bung Rebut Kembali….

  6. @Radit:
    thx bro… piye, di magelang ada yang menarik?

  7. Heroe Tjahjono

    Wah kenapa baru sekarang aq bisa baca nih Pak Jacob, memang g di ragukan namanya juga mantan wartawan heheheh…. Jujur aq kangen suasana diklat tp kl suruh diklat DTSD Pajak 2 lagi ogah …. setuju g Pak?

  8. wakakkakakakak wakakkakakaa wakakkakaa….. bagus-bagus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s