Resensi Film “Shinjuku Incident”: Menyelami “Si Lumpuh” Jackie Chan

Inilah karya Jackie Chan rasa baru. Nihil gerak silat. Sarat aksi brutal. Sebuah potret yang lekat dengan keadaan negeri kita sendiri. Panen pujian, namun ditolak putar di Cina.

Anda penggemar Jackie Chan? Kenapa? Lantaran aksi nekat stunt doi yang dilakoni tanpa pemeran pengganti? Sebaiknya Anda buang jauh-jauh image itu. Era “Forbidden Kingdom”, film yang baru saja tayang setahun lalu yang telah ditunggu sekian lama yang mana akhirnya nongol juga dia berduet dengan maestro laga lainnya, Jet Li, nampaknya sudah lewat.

Jackie pengen eksplorasi baru.

Mulanya ini proyek beberapa tahun silam. Sayang, mangkrak. Terbengkalai tanpa juntrungan. Jackie terlalu asyik menggarap “Rush Hour 3” bersama Chris Tucker. Untungnya, Derek Yee sabar. Maklum, sutradara cum penulis skrip ini sohib kental Jackie. Derek menunggu kapan pun Jackie punya slot waktu, di tengah padatnya agenda, untuk menukangi film ini. Selain terjun langsung sebagai lakon utama, Jackie turut jadi produser. Ia juga getol membandari film ini melalui perusahaan miliknya, Jackie Chan Emperor Movies Limited (JCE). Jackie rupanya tak mau main-main. Ia ingin hasil anyar dari film ini. Sewaktu masih dalam proses, ia berjanji film ini berasa drama. Lain kata, bukan action –spesialisasinya. Akhirnya, jadilah “Shinjuku Incident” yang baru saja edar awal April lalu.

Jackie masih percaya pada Fan Bingbing (sebagai Lily), aktris cantik yang terlibat dalam “Forbidden Kingdom”. Ia juga tetap menggaet “Andy Lau Muda” Daniel Wu. Beberapa kali mereka berkolaborasi. Chan menggaet Daniel dalam “Rob-B-Hood”. Mereka juga pernah “bermusuhan” dalam film kocak produksi Walt Disney “Around The World in 80 Days”. Film yang diramaikan oleh taburan bintang macam Arnold Schwarzenegger, Owen Wilson (juga pernah bareng Jackie dalam “Shanghai Noon”), Macy Gray, Steve Coogan, Cecile de France, Maggie Q, Karen Mok (blasteran Mandarin-Britania ini memakai nama Karen Joy Morris), serta duet lawas Jackie Sammo Hung ini menyadur novel klasik sains-fiksi Jules Verne.

“Shinjuku Incident” hendak merekam kelamnya kehidupan buruh migran sekaligus hitamnya dunia gangster.

Steelhead (Jackie Chan) awalnya hanyalah pemuda desa Cina Daratan. Manusia lazim, petani awam yang hidup biasa di kampung yang seolah waktu di sana berhenti, tanpa perkembangan. Steelhead punya kekasih Xio Xio (Xu Jinglei) yang harus balik ke Jepang. Menyusullah ia dengan menjadi imigran ilegal. Di tanah rantau ia bertemu kawan sekampung halaman, Jie (Daniel Wu). Di sana mereka tak sendiri. Rupanya ada puluhan imigran gelap lainnya, yang berasal dari Cina Daratan.

Mereka tinggal berdesakan di rumah sewa, kerja serabutan. Mulai cuci piring, memulung sampah dengan risiko tertimbun berkwintal-kwintal barang buangan, hingga memungut limbah selokan bawah tanah. Musuh mereka, polisi yang getol merazia. Kucing-kucingan adalah aktivitas nan kerap.

Rasanya ini potret yang akrab dengan kondisi negara kita sendiri. TKI yang berjuang ke negeri jiran yang tak beroleh izin resmi juga banyak, bukan? Kita tak sendiri. Ini fenomena global. Konon pemuda keling asal Afrika rela jadi penumpang gelap kapal pengap demi menyeberang ke Eropa. Penduduk Latin dari Meksiko juga berduyun-duyun menyusup ke Paman Sam dengan menghindari patroli dan melewati pagar perbatasan. Tiap tahun, jumlah mereka kian bertambah. Kapitalisme yang menjanjikan pemerataan kemakmuran hanya menyebarkan mimpi indah massal di tengah pusaran ekonomi yang bernama kota besar -dalam skala yang lebih besar, “kota besar” itu adalah “negara maju”.

Di sinilah standar ganda lahir. Kesewenang-wenangan aparat dengan dalih ketertiban umum menangkapi imigran gelap adalah cerita basi. Namun, di sisi lain, pernahkah kita berpikir, siapa yang sebenarnya membangun kota besar? Siapa yang membersihkan sampah-sampah kota yang makin berjibun? Siapa yang menjadi tukang proyek-proyek infrastruktur gedung megah? Siapa yang rela menyelami gorong-gorong bawah jalan aspal? Dan mereka… dibayar murah! Tiada lain, buruh migran ilegal adalah anak kandung (yang dianggap anak tiri) sistem kapitalisme megapolitan sendiri.

Kerasnya hidup di tanah rantau rupanya membentuk solidaritas di antara saudara senasib. Tatkala uang makin menancapkan candu ketergantungan manusia terhadapnya, orang mulai berbuat apa saja demi mendapatkannya. Tak terkecuali imigran gelap. Lahirlah kriminal kecil (petty-crime) semacam pencopetan dan perdagangan barang colongan.

Hingga Steelhead dan kawan-kawan secara tak sengaja bergesekan dengan pelaku kriminal yang lebih besar, gerombolan geng. Tak mau ditindas, mereka mulai berontak, menjelma jadi geng anyar. Hingga titik balik itu tiba. Ia tak sengaja bersua dengan Xio Xio yang telah menjadi istri wakil ketua organisasi mafia, Eguchi, berganti nama jadi Nyonya Yuko Eguchi.

Rasanya tak asing menengok akting Xu memerankan perempuan yang berhati dua. Dalam “Warlords”, ia menjadi istri Andy Lau yang selingkuh dengan Jet Li.

Sejak itu Steelhead terseret makin dalam masuk ke dunia gangster.

Nampaknya Jackie melenceng dari pakem drama yang ia janjikan. Alih-alih menguras emosi penonton dengan suasana sentimentil, berderet adegan kekerasan justru membuat perasaan pemirsa menjadi tak peka, mati rasa. Durasi yang hampir dua jam terasa seret mengalir. Penonton dipaksa memapar plot demi plot kebrutalan sambil berharap kapan aksi barbar ini bubar. Sengaja saya tak menjabarkan detil adegan apa saja yang memuat kekerasan. Saya anjurkan jangan mengajak anak bawah umur jika Anda hendak menonton film ini. Tak heran, Pemerintah Cina melarang film ini diputar di Negara Panda -di samping itu, juga ada alasan film ini dinilai terlalu gamblang menelanjangi nasib buruh migran asal Cina yang kapiran di negeri seberang.

Saratnya konten adegan gontok-gontokan bukan berarti penonton dimanjakan oleh aksi kungfu artistik-akrobatik yang acap dipamerkan Jackie. Malahan, sejak awal hingga akhir, Jackie mempertunjukkan polah “film gangster” macam Andy Lau, Ekin Cheng, Aaron Kwok, atau Chow Yun Fat jaman dulu. Tawuran, asal jotos, asal hantam, asal sikat, asal sabet, asal embat, asal keroyok.

Tak hanya Jackie. Yasuaki Kurata, aktor penguasa tiga jenis beladiri tradisional Jepang, pun tak beroleh porsi beraksi. Kurata, asal Jepang yang fasih bahasa Kanton, yang memerankan sesepuh mafia yang tersisih dalam pemilihan ketua baru, hanya diberi jatah memeragakan mimik geram, jengkel, dan licik, dengan dialog singkat seperlunya. Lupakan aksi aktor kawakan ini dalam mengimbangi Jet Li (dalam “Fist of Legend”) atau meladeni keroyokan Zhao Wei dan Karen Mok (“So Close”).

Kiranya ada yang hilang jika Jackie tak memeragakan lelucon segar khas yang berpadu dengan laga jumpalitan nan rancak-trampil namun konyol. Ia terkesan “lumpuh” tanpa atribut yang telah lekat bersamanya. Ia menanggalkan baju lama. Memang, di lain sisi, harus diakui Jackie sukses out of the box.

Akhir cerita juga menggantung. Eguchi tewas dalam sebuah chaos yang diotaki oleh para pembelot. Sebelum meregang nyawa, ia titipkan sebuah flashdisk kepada Steelhead -berisi data organisasi mafia. Kawan-kawan Steelhead juga mati semua. Steelhead menelepon, mengajak lari Yuko dan anaknya ke stasiun. Sayang, rumah Eguchi sudah disatroni sekawanan penjahat yang dimotori oleh Nakajima, notabene adalah tangan kanan Eguchi sendiri. Sekeluarga disekap, menjerit-jerit. Setelah itu, tak tampak kelanjutan. Plot beralih kembali ke Steelhead. Dalam pengejaran oleh puluhan preman, ia lari terpincang-pincang, terus berlari menghindari keroyokan dan pukulan, masuk gorong-gorong. Dadanya sudah berdarah. Inspektur Kitano (Naoto Takenaka) yang dulu ditolongnya sewaktu hampir tenggelam di gorong-gorong itu, coba menyelamatkannya. Ia serahkan flashdisk itu kepada si inspektur. Luka makin menganga, Steelhead tak mau ditolong lagi. Ia biarkan tubuhnya hanyut terseret arus selokan bawah tanah. Cerita selesai sampai di situ.

Pun demikian, masih ada alasan kuat yang tersisa, mengapa film ini layak simak. Ia coba merekam wajah bopeng urbanisme global yang kini singgah tepat di depan hidung kita. Jackie menuai banyak pujian dari eksperiman barunya.

5 responses to “Resensi Film “Shinjuku Incident”: Menyelami “Si Lumpuh” Jackie Chan

  1. film ini memang bagus, saya sendiri sudah menontonnya….ūüėÄ

  2. bahasa translate ya bos!!!!!!!!!!!

  3. Gue blum liat tapi kyaknya keren ni oia bos film “rob b hood” tu kolaborasi ma louis koo bkan daniel wu.

  4. yg di forbiden kngdom itu Li bingbing om, bukan fan bingbing.

  5. Filmnya bagus banyak hikmah2 yg bisa dipetik gw sampai terharu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s