Seminggu Berkawan Hujan

Sebuah rangkuman tentang keakraban, kekompakan, persaudaraan, persahabatan, suka-duka, kebersamaan yang terpupuk dalam sepekan.

Oleh Yacob Yahya
(9.401 kata)

Catatan: Satu pekan sudah kami, dua puluh orang calon pegawai pajak, menjalani masa observasi lapangan di Kantor Pelayanan Pajak Sukoharjo -ia terletak di Klaten. Pengamatan selama lima hari lalu, 30 Maret-3 April, merupakan bagian dari diklat dasar yang harus kami jalani -kami diklat di Yogyakarta. Hasil diklat inilah yang menentukan lulus-tidaknya kami menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

UDARA MINGGU SORE USAI HUJAN SEJUK. Setimpal membalas gerah yang menggantung bersama mendung sesiangan tadi. Bau tanah menguar segar. Pipa talang masih sibuk memuntahkan sisa air hujan dari atap. Suasana malas-malas nyaman. Aku tiduran di atas kasur tanpa dipan. Murjayanti istriku masih sibuk berdandan setelah mandi.

Tiga jenis tas teronggok di samping kasur busa yang mulai kempis itu. Pertama, tas hitam Eiger berisi laptop yang berat bukan buatan; kedua, tas hitam dari Balai Diklat Keuangan yang berisi beragam materi dan modul yang tak kalah beratnya; serta ketiga, tas pakaian yang berisi ageman salin buatku selama lima hari ke depan: ada peranti mandi, sarung dan sajadah, beberapa potong pakaian dalam, tiga lembar kemeja putih lengan panjang, serta dua celana panjang hitam.

“Berangkat gak?” istriku mendesak.

“Masih hujan,” jawabku malas, tetap berbaring.

Air dari talang masih mengucur, itu yang bikin aku berpikir masih hujan di luar.

“Udah berenti ujannya. Itu cuma air dari pipa,” istriku merepet.

Waktu itu hampir setengah enam.

“Gak nunggu magrib sekalian?” aku coba menawar.

“Katanya pengen cepet-cepet? Ntar hujan lagi,” ia berkeras.

Memang sehari sebelumya aku berencana berangkat pagi hari. Atau agak siang. Dan akhirnya, mangkat sore sekalian. Dengan malas aku bangkit. Aku siapkan Yamaha Jupiter Z biru milik istriku. Aku panaskan mesin. Ternyata hujan memang dari tadi sudah mandek. Kendati begitu, aku tetap persiapkan jas hujan -punyaku sedari sekolah.

Langit senja terbakar merah. Kami melaju ke Klaten. Aku punya urusan selama seminggu di sana. Bersama sembilan belas kawan lainnya, mulai Senin 30 Maret hingga Jumat 3 April, aku kudu observasi lapangan di Kantor Pelayanan Pajak Sukoharjo -semacam tugas praktek kerja lapangan (PKL).

* * *

SEJAK 23 FEBRUARI, aku menjalani diklat dasar perpajakan selama dua bulan. Balai diklatnya terletak di Kalasan Sleman, Yoyakarta. Ada 240 orang yang belajar di sana, terbagi jadi enam kelas -tiap kelas dihuni 40 orang. Aku di Kelas F. Calon pegawai instansi pajak yang lainnya didiklatkan di beberapa tempat, yakni Malang, Medan, dan Jakarta yang punya dua balai diklat -Kemanggisan dan Purnawarman di bilangan Kebayoran Baru.

Aku dinyatakan lolos penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan Departemen Keuangan pada akhir Desember tahun lalu. Seleksinya se-Indonesia, aku pilih lokasi ujian Yogyakarta. Lebih dari 95 ribu orang yang mendaftar, hanya tersaring 1.927 –dari Yogya yang lulus 504 orang. Dari angka tersebut, kebanyakan ditempatkan ke Direktorat Jenderal Pajak, yakni 1.294 orang. Namun, dari sekian jumlah yang dinyatakan lulus untuk Pajak, “hanya” 1.267 orang yang melanjutkan prosesnya. Unit kedua yang merekrut terbanyak adalah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan menerima 95 orang. Bayangkan selisihnya! Sisanya, tersebar ke unit dan direktorat jenderal lainnya.

Proses yang bermula sejak Juli 2008 ini melibatkan serangkaian ujian. Pertama seleksi berkas. Kedua tes potensial akademik, semacam uji pengetahuan umum dan Bahasa Inggris. Ketiga tes psikologi. Keempat tes kesehatan dan kebugaran -disuruh keliling lapangan selama 12 menit. Serta terakhir, wawancara.

“Saya ikut menjaga proses ini… integritas proses ini harus dijaga tanpa cacat… keponakan saya sendiri tidak saya titip-titipi dan tidak lulus sampai di sini,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sambutannya di depan calon pegawai baru, awal Januari lalu.

Aku memilih Anggaran dan Kekayaan Negara tapi rupanya ditempatkan di Pajak. Kata banyak orang, justru aku beruntung karena Pajak merupakan pilihan terfavorit. Palupi Anggraini, kawanku kolega sesama eks-jurnalis Tabloid Kontan, masuk Kekayaan Negara. Dunia rupanya tak selebar daun kelor.

Sejak 27 Januari, usai pengumuman penempatan unit kerja, kami magang selama sebulan di kantor pajak daerah asal. Harapannya, kami beroleh pengalaman dan gambaran proses kerja sebelum berangkat diklat. Jadi, aku di Pati -total yang magang di sana tujuh orang. Eh, ternyata Ariffianto Wibi Wibowo, teman adikku di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, juga magang di sini. Kebetulan, kami satu almamater di SMP Negeri 3 dan SMA Negeri 1 Pati. Dan kebetulan juga, Mulyono, begitu kami panggil Wibi, satu kelas denganku di diklat. Memang benar, dunia tak selebar daun kelor.

“Dulu kamu kakak angkatanku, aku temannya adikmu, sekarang malah kita jadi seangkatan kerja,” celetuk Mas Mul suatu kali. Yah, dunia memang berputar.

* * *

RODA DUA ITU BERJALAN KONSTAN KE ARAH TIMUR, 60 kilometer per jam. “Jangan ngebut loh, rodanya sudah tipis. Hati-hati jalan licin habis hujan,” istriku dari boncengan belakang mewanti-wanti.

Perjalanan lancar. Kami lalui daerah Prambanan, azan magrib berkumandang. Mendung kembali hadir. Syukur, hujan tak turun. Tiba di Klaten, aku ambil jalan lingkar (ring-road). Tepat pertigaan lampu merah jelang masuk kota, aku belok kanan. Kami membelah rel kereta dekat stasiun. Beberapa pabrik kami lalui. Tiba juga di Kantor Kepolisian Resort Klaten. Jujur, aku belum tahu lokasi kantor pajak itu. Apa yang aku ingat dari info Pratomo Wahyu Wibowo, teman sekelas yang juga observasi di sana, “di sebelah Polres persis ada jalan, masuk saja.”

“Depan persis SMK Katholik,” pesan Nurul Qomariyah, teman observasi lainnya, memberi ancar-ancar. Kebetulan, Nurul dapat tempat magang di sana. Jadi, dia sudah hapal.

Aku turuti, belok kiri.

Selang beberapa ratus meter, aku menemui pertigaan. Bingung, pilih kanan atau kiri. Aku putuskan ke kiri. Berjalan lurus, tanda-tanda adanya kantor pajak tak kunjung ada. Kami putuskan tanya warga.

“Kantor pajak Sukoharjo mana yah Pak?”

“Sukoharjo? Yah jauh. Sini Klaten, Mas.”

“Nama kantornya memang Sukoharjo, tapi lokasinya di sini Pak. Kalau di sekitar sini ada kantor pajak gak?”

“Oh kalau kantor pajak di sana,” bapak itu menunjuk arah lurus, yang seharusnya pada pertigaan setelah Polres tadi aku ambil kanan, “kantornya besar kok. Kiri jalan,” sambungnya.

“Matur nuwun, Pak.” Terima kasih.

Kami turuti petunjuk Bapak. Akhirnya ketemu juga. “Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sukoharjo Jalan Kopral Sayom (Ring Road) Klaten”. Halamannya luas, gedungnya besar berlantai dua. Lebih jembar daripada kantor pajak di Pati.

Rintik hujan jatuh.

Masalah satu beres, perkara selanjutnya adalah cari tempat salat magrib, makan, dan penginapan. Mujur, kami lihat sebuah masjid sebelum menemukan kantor pajak tadi. Sedikit balik arah, kami menujunya. Itung-itung bisa berteduh dari serbuan hujan. Namanya Masjid Istiqomah Jetak Lor. Pada gapura depan, aku agak lupa, (mungkin) tertulis sebuah tanggal “2 September 1990”.

Persis di muka pagar depan masjid terdapat warung tenda yang menawarkan lele serta ayam goreng. Kami pesan lele serta jeruk hangat dua porsi serta empat potong tahu goreng setelah sembahyang. Lumayan sedap. Murah, total-total hanya Rp14.000.

“Dekat sini ada penginapan, Pak?” istriku bertanya pada Bapak penjual.

“Ada. Dekat stasiun ada, dekat sini juga ada. Di sini lebih murah. Namanya KI. Lurus saja ke sana, letaknya kanan jalan,” tunjuknya kembali ke arah kantor.

“KI itu apa?” aku menyahut.

“Klaten Indah.”

* * *

AWAL PEKAN SEBELUMNYA, pengumuman itu terlansir juga. Ia merupakan woro-woro pembagian lokasi observasi lapangan. Satu kelas terbagi menjadi dua grup observasi yang terdiri dari dua puluh orang. Total jenderal, peserta diklat di Yogya bakal tersebar di 12 kantor pajak; lima kantor di Provinsi Yogyakarta dan tujuh kantor di Jawa Tengah.

Kelas F dapat Wonosari dan Sukohajo. Aku di Sukoharjo.

Pembagian ini bikin banyak reaksi dari para peserta diklat. Ada yang mengeluh lokasi jauh. Ada yang iri lantaran tak dapat lokasi di Yogya dan harus keluar kota. Ada yang merasa beruntung cukup di Yogya. Dan sebagainya. Kalau aku pribadi, tak masalah. Malah asyik dapat luar Yogya. Itung-itung punya pengalaman baru. Penempatan tempat kerja adalah masalah krusial di sini -pasti nanti kami semua merasakannya. Sebagian orang -aku kira kebanyakan-berharap di Jawa saja atau tempat yang kiranya dekat dengan daerah asal.

“Jangan khawatir. Ditempatkan di mana pun harus siap. Semua tetap satu Indonesia,” begitu pesan seorang polisi Kantor Resort Pati kepadaku beberapa bulan lalu, ketika aku mengurus surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) -dulu istilahnya surat keterangan kelakuan baik. Waktu itu aku hendak melengkapi berkas persyaratan daftar ulang.

Yah, anggap saja observasi lapangan sebagai latihan awal sebelum penempatan definitive yang sebenarnya.

Satu rombongan dipecah lagi menjadi lima kelompok. Aku satu kelompok dengan Tri Rahayu Widiarti, Wiwik Sugiarti, dan Yunita Eskadewi. Sudah pasti aku yang paling cantik, eh, ganteng sekelompok.

Yayuk, panggilan Tri Rahayu, asal Magelang dan dulu magang di Temanggung. Ia lulusan teknik informatika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sedangkan Wiwik dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Namun ia kuliah dan tinggal di Yogya -ambil akuntansi di Universitas Islam Indonesia. Makanya dia magang di Kota Yogya. Sedangkan Nita dari Blora. Ia kuliah akuntansi di Universitas Diponegoro Semarang. Kini Nita tengah hamil lima bulan, suaminya kerja di Jakarta.

“Di GKBI, Bendungan Hilir,” tuturnya.

Ada juga Lenny Darlina, Malikha Wahyuninda, Muhith Afif Syam Harahap, serta Nadyan Winastan. Mereka kelompok satu di Sukoharjo. Lalu ada Norman Marendra, Nurul, Pratomo, dan Prima Ayunigtyas sebagai kelompok dua. Kelompok tiga terdiri atas Putri Nugraheni, Raditya Kusumabrata, Ratih Puspita Dewi, serta Retno Wulandari. Formasi kelompok empat adalah Rezkybayuadi, Septa Bahrun Rahmani, Syam Syaikhur Rahman, serta Toni Gunawan.

Jadi, aku cs? Kelompok lima.

Aku kira, meski kebetulan -berdasarkan nomor urut absen 20 ke atas dan 20 ke bawah tiap kelas, ini pembagian yang ideal. Grup Sukoharjo terdiri dari sepuluh laki-laki dan sepuluh wanita. Pas, bukan? Kami sekelas terdiri dari 23 putri dan 17 putra.

Aku juga ditunjuk jadi ketua kelas Sukoharjo. Beruntung ada Nurul yang sebelumnya magang di sana. Aku minta bantuannya tiap kali hendak berhubungan dengan orang-orang kantor yang belum aku kenal.

Tugas lapangan ini untuk mempelajari secara langsung proses pelayanan yang dilakukan oleh tiap-tiap kantor yang menjadi objek amatan. Kami perlu menilai apakah beragam jenis pelayanan tertentu di kantor itu sudah berjalan dengan baik sesuai standar.

* * *

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (DJP) merupakan organisasi vital di Departemen Keuangan. Tugas pokoknya, menghimpun penerimaan Negara dari sektor pajak. Sekitar 68,78% kantong Negara ditopang oleh pajak pada 2008. Bahkan, pada 2007, pajak mendominasi 80-an% pendapatan. Pajak yang dimaksud adalah khusus jenis-jenis pajak yang dikelola oleh Pemerintah Pusat -kecuali itu, ada pula pajak daerah yang diurus oleh Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota. Mereka ada enam, yakni pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), bea meterai, pajak bumi dan bangunan (PBB), serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Beberapa tahun ke depan, kedua pajak yang terakhir akan beralih dikelola oleh pemerintah daerah tingkat dua.

Dari 62 ribu pegawai Depkeu, sekitar 32 ribu karyawan DJP.

Direktur Jenderal Darmin Nasution dan para punggawa punya ide unik. Pak Dirjen merombak struktur organisasi berdasarkan fungsinya, tak lagi menurut jenis pajak. Sekarang kantor pusat memiliki 12 direktorat dan satu sekretariat plus empat tenaga pengkaji -semacam staf ahli. Dulu ada Direktorat PPh, Direktorat PPN, dan sebagainya. Kini, mereka diganti oleh direktorat semacam Peraturan Perpajakan (dua direktorat), Pemeriksaan dan Penagihan, Ekstensifikasi dan Penilaian, Keberatan dan Banding, Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan, Penyuluhan, Pelayanan dan Humas, dan sebagainya. “Ini lebih efektif. Soalnya tiap jenis pajak juga akan menjalankan fungsi dan alur kerja yang sama. Yah memeriksa, menagih, menggali potensi, melayani, dan sebagainya. Makanya, daripada tumpang tindih, lebih baik organisasi kita susun berdasarkan fungsi,” urai Pak Darmin sekitar dua tahun lalu dalam acara jumpa pers -aku meliputnya waktu itu. Perubahan struktur ini mereka sebut “modernisasi”.

Persis di bawah kantor pusat ada kantor wilayah yang umumnya menangani suatu provinsi. Saat ini ada 31 kanwil. Tak harus saklek satu kanwil mengurus satu provinsi. Yang berbicara adalah potensi pajaknya. Jawa Tengah, tempat asalku, punya dua kanwil. Jateng Utara adalah Kanwil I dan Jateng Selatan adalah Kanwil II. Bahkan, daerah tingkat dua di Jakarta punya masing-masing kanwil. Ada Kanwil Jakarta Barat, Kanwil Jakarta Utara, dan seterusnya.

Saking pentingnya peran Ditjen Pajak, ia butuh banyak kantor guna menggali potensi tiap daerah. Tak ayal, sekarang berdiri 330 unit kantor pelayanan pajak (KPP) di seluruh negeri. Angka itu terdiri dari tiga kantor pelayanan pajak untuk wajib pajak besar, 19 kantor pelayanan madya, sembilan unit kantor pelayanan khusus, serta -ini yang paling banyak- 299 kantor pelayanan pratama.

Munculnya kantor madya berawal dari fakta menarik. Rupanya, sekitar 70% penerimaan pajak ditopang oleh hanya seribuan wajib pajak besar. Makanya, berdirilah KPP Madya yang melayani 1.000 besar wajib pajak di setiap area kerja kanwilnya.

Lantas, KPP Wajib Pajak Besar untuk 500-1.000 wajib pajak terbesar nasional.

Sedangkan jatah KPP Pratama adalah daerah setingkat kabupaten/kota. Tapi, lagi-lagi ini masalah potensi. Sebuah KPP Pratama bisa melayani cukup satu kabupaten. Namun, ia bisa juga beroleh jatah wilayah kerja lebih dari satu daerah tingkat dua. Tempat asalku magang, KPP Pati, misalnya, punya wilayah kerja Pati dan Rembang. Kalau Jakarta lain lagi. Ada satu KPP Pratama yang cukup menangani satu kelurahan.

Struktur sebuah KPP Pratama terdiri atas kepala kantor dan enam kepala seksi plus satu kepala sub-bagian umum. Keenam seksi itu antara lain Pengawasan dan Konsultasi (minimal dua dan maksimal empat Waskon), Pelayanan, Penagihan, Ekstensifikasi, Pemeriksaan, serta Pengolahan Data dan Informasi (PDI). Dus, jika perlu, mereka dibantu oleh seorang kepala kantor pelayanan, penyuluhan, dan konsultasi perpajakan (KP2KP).

KP2KP merupakan kepanjangan tangan sebuah KPP Pratama. Ia berguna untuk menjamah wajib pajak pelosok. KPP Pati, misalnya. Ia mendirikan KP2KP di Kabupaten Rembang. Atau, KPP Blora, contohnya. Wilayah kerjanya meliputi Blora dan Grobogan. Kantor pelayanannya di Blora, sedangkan KP2KP di Grobogan.

Sekarang ada 270 unit KP2KP.

Dulu, setiap kabupaten/kota setidaknya punya dua jenis kantor pajak: kantor pelayanan dan kantor PBB. Beberapa kota tertentu punya kantor pemeriksaan dan penyidikan pajak (Karikpa). Daripada ada tiga kantor berbeda, lebih baik dilebur jadi satu atap -ini juga dampak modernisasi. Jadilah sebuah KPP Pratama.

Boleh saja sumbangsih kantor pratama kecil dalam hal nominal pengumpulan setoran pajak -namun jumlah wajib pajaknya puluhan ribu. Bagai piramida terbalik, porsi terbesar penerimaan berasal dari kantor wilayah atau kantor madya yang menangani wajib pajak kakap. Namun, dari segi pelayanan dan pembinaan, kantor pratamalah ujung tombaknya.

Bagaimana dengan KPP Sukoharjo?

Ia tergolong jenis pratama, di bawah koordinasi Kanwil Jateng II di Surakarta. Awalnya Sukoharjo termasuk wilayah kerja KPP Klaten. Sejak 2007, lantaran moderinisasi, KPP Sukoharjo berdiri sendiri. Ia menempati gedung eks-kantor pelayanan pajak Klaten. Sementara itu, KPP Klaten pindah ke gedung bekas kantor PBB di Jalan Veteran.

Wilayah kerja KPP Sukoharjo meliputi Wonogiri dan Sukoharjo sendiri. Daerah Solo Baru termasuk Sukoharjo. Daerah ini berkembang pesat seolah bakal menjadi sebuah kota baru yang “menyaingi” kemajuan Surakarta.

“Ada waterboom loh,” komentar Kasi PDI Sri Widyastuti soal derap laju Solo Baru. Waterboom adalah wahana permainan air nan luas seperti Pantai Ancol di Jakarta atau Owabong di Purbalingga. Jujur, belum sekalipun aku mencebur ke waterboom.

Kecuali itu, di Solo Baru juga sudah berdiri Carrefour, jaringan gergasi ritel modern dari Prancis. Di pusat perbelanjaan inilah acap KPP Sukoharjo membuka pos pelayanan dengan sebuah mobil. Istilahnya, mobile tax unit (MTU) alias layanan pajak bergerak.

Sukoharjo memiliki 12 kecamatan, yakni Weru, Bulu, Tawangsari, Sukoharjo, Nguter, Bendosari, Polokarto, Mojolaban, Grogol, Baki, Gatak, dan Kartosuro. Di sini ada pos pelayanan pajak yang menempati eks-gedung Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) -KP4 sekarang tak ada dalam struktur kantor modern.

Wonogiri punya 25 kecamatan. Mereka adalah Pracimantoro, Giritontro, Giriwoyo, Batuwarno, Tirtomoyo, Nguntoronadi, Baturetno, Eromoko, Wuryantoro, Manyaran, Selogiri, Wonogiri, Ngadirojo, Sidoharjo, Jatiroto, Kismantoro, Purwantoro, Bulukerto, Puhpelem, Slogohimo, Jatisrono, Patipurno, Girimarto, Karang Tengah, dan Paranggupito. Di sini berdiri sebuah KP2KP.

Uniknya, meski bewilayah kerja di dua kabupaten itu, KPP Sukoharjo masih bermarkas di Klaten. Rencananya, kantor ini akan pindah ke pos pelayanan eks-KP4 itu tadi. Hal ini penting, supaya ia lebih dekat dengan sekitar 43 ribu wajib pajaknya.

* * *

“KLATEN INDAH” TERNYATA TAK SEINDAH NAMANYA. Ia berjumlah dua puluhan kamar. Tarifnya murah meriah, yang paling tinggi Rp40.000 semalam. Hotel ini kerap dituju oleh sopir truk atau para salesmen dari berbagai kota yang singgah di Klaten. Bangunannya tua, jadul.

Aku dan istriku pesan kamar yang seharga Rp35.000.

Kamarnya cukup luas, lima kali lima meter persegi. Ada dua ranjang. Satu ranjang kecil untuk seorang serta satu dipan besar untuk dua orang. Kain sprei yang membalut kasur besar itu bergambar empar cowok berambut gondrong lurus. Ada tulisan “Meteor Garden” dan “F4”. Sprei itu agak lecek, banyak butiran kerikil lembut. Istriku merapikannya agar nyaman buat tidur. Tas bawaan kami geletakkan di atas ranjang kecil.

Tak ada kamar yang terpasang air-conditioner. Satu-satunya alat pengusir sumuk adalah kipas angin. Pula tiada teve. Kalau mau nonton, kamu perlu keluar ke lobi. Kain korden coklat ini bolong-bolong kecil bekas tersundut rokok. Di atas lantai kolong ranjang, banyak putung rokok. Istriku harus ekstra keras membersihkan lantai kamar yang berubin merah marun itu.

Belum lagi masalah kamar mandi. Ukurannya sempit. Lantainya sudah hitam pekat. Ubinnya lama belum diganti. Beberapa sarang laba-laba menghiasi tembok atas. Pintunya, aduh, tak bisa ditutup. Kalau kamu mandi, bersiaplah mendapati lantai di luar persis kamar mandi itu jadi basah. Celakanya, tak ada kain keset atau pel. Sempat-sempatnya ada orang yang meninggalkan prasasti tulisan “kebersihan adalah cermin pribadi Anda” pada dinding kuning kusam di sana.

Suguhan penyambut tamu hanyalah teh hangat gelas kecil. Kalau pagi, zonder sarapan. Air coklat menggenang di atas meja. Aku kira itu tumpahan teh. Tapi rupanya… tetesan bocor dari atas piyan -langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu.

Jangan tanya bisakah kami tidur nyaman di sana. Istriku terbangun gelagapan tiga hari malam itu. “Aku takut. Kamarnya kayak kamar tua,” tuturnya.

Rupanya yang sudah tiba di Klaten Minggu malam ini bukan hanya aku dan istri. Teman lainnya, para cewek, juga sudah sampai. “Berangkat jam limaan, kehujanan. Tapi alhamdulillah gak pake nyasar,” ujar Nita.

Nita, Wiwik, Yayuk, Putri, dan kadang-kadang Lenny, serta Pipit sendiri, menginap di rumah bibi Pipit, panggilan akrab Ratih Puspita Dewi. Kondisinya, aku kira 180 derajat dari hotel kami.

“Nyaman, ada empat kamar tidur yang luas. Per kamar sekitar enam kali delapan meter persegi. Lengkap dengan ruang tamu, ruang keluarga buat istirahat kalau pada capek pulang magang. Ada dapur, satu kamar mandi luar, sama garasi,” tutur Pipit.

“Tapi kita pakai satu kamar buat rame-rame. Berlima, kadang berenam kalau Mbak Lenny gak pulang ke Solo. Rumahnya nyaman dan bersih. Kamar mandi cuma satu, jadi kalau pagi kita ngantre,” Nita menimpali.

Warna rumahnya kuning labu, dan yang pasti itu bukan lantaran kusam kayak cat tembok hotel kami. Di depan rumah berdiri pohon mangga besar sebagai peneduh. Kiri-kanannya, terhampar sawah. Rumah itu terletak di Methuk Kidul Tegalyoso. Saban hari, jika tak ada tamu yang singgah, rumah itu kosong. Bibi Pipit yang merawatnya. Untung, rumah Bibi tak jauh dari situ.

Tiap berangkat pada pagi atau pulang pada sore, mereka memakai mobil milik Lenny. Warnanya biru muda, pas untuk lima orang. Lenny asal Surakarta. Jika tak singgah ke “markas”, dia pulang ke rumah sendiri. Sedangkan Yayuk dan Wiwik berboncengan mengendarai motor.

Sisanya, berangkat dari Yogyakarta pulang-pergi. Istilahnya nglajo. Winas, panggilan Nadyan Winastan, bawa mobil sedan. Ia bertugas antar-jemput para cewek: Prima, Retno, Nurul, dan Ninda -panggilan karib Malikha. Sedangkan cowok-cowok berangkat dengan motor masing-masing. Untungnya, Yogya-Klaten hanya butuh waktu 30 menit.

* * *

SENIN PAGI ITU CERAH. Seakan sisa hujan semalam tak berbekas sama sekali. Habis mandi, aku bersiap berangkat. Tak perlu buru-buru, tinggal menyeberangi jalan. Jam masuk kantor sebelum setengah delapan. Sedangkan jam pulang setelah pukul lima sore. Istriku sarapan di warung depan lobi -masih satu kompleks dengan hotel. Istriku aku tinggal di hotel.

“Nanti sore kalau Bi pulang kantor, Mi pulang Yogya yah,” tukasnya.

“Iya, Yang,” balasku sekaligus pamit berangkat.

Rupanya sudah ada beberapa teman yang tiba. Kami berkumpul di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), sembari menunggu yang belum datang. Ngobrol. Nonton teve, acara gossip atau lagu-lagu.

TPT adalah semacam front-desk. Di sinilah masyarakat memperoleh pelayanan. Desain tempatnya harus senyaman mungkin. Ada teve, pengharum ruangan, komputer, satpam yang membantu mengarahkan pengunjung menuju loket yang tepat, alat pencetak struk nomor antrean, dan jika perlu di depan meja pelayanan disediakan permen.

Selang beberapa waktu, kami diajak ke aula lantai dua. Ruangnya mirip ruang kelas, muat dua puluh hingga tiga puluh orang. Ada pendingin ruangan. Lantainya keramik putih. Aula ini kerap jadi ruang pertemuan.

Kami berdua-puluh duduk menunggu para pejabat kantor. Hari pertama begini, rasanya perlu sambutan dan perkenalan terlebih dahulu. Hampir pukul sembilan, masuklah lima orang. Mereka adalah Kepala Subbagian Umum Rohdiono, Kasi PDI Sri Widyastuti, Kasi Penagihan Dwi Rini, Kasi Ekstensifikasi Prayitno Yuono, serta Kasi Waskon I Imran -Sukoharjo punya dua waskon.

Mereka menjelaskan agenda observasi selama lima hari. Dua hari pertama, 30-31 Maret, kami dilibatkan melayani penerimaan Surat Pemberitahuan (SPT) dari para wajib pajak. Tiga hari setelahnya, barulah kami mengamati kondisi lapangan sekaligus menyusun laporannya.

SPT, intinya, adalah formulir yang diisi oleh wajib pajak. Isinya antara lain berapa penghasilan dia selama setahun, berapa penghasilan yang tidak dikenakan pajak, berapa selisihnya, sehingga diketahui hitungan kewajiban pajaknya. Jika Anda membayar pajak lebih dari yang seharusnya, berarti Lebih Bayar. Jika masih ada kekurangan, artinya Kurang Bayar. Jika Anda sudah melunasi sesuai dengan kewajiban yang seharusnya, berarti Nihil. Nihil bisa juga lantaran Anda tak punya kewajiban membayar pajak pada tahun ini karena penghasilan bersih di bawah penghasilan kena pajak -usaha lagi lesu, misalnya.

Setelah mengisi SPT, wajib pajak harus mengirimkannya ke kantor pajak setempat. Bagi orang pribadi, batas waktu terakhir penyampaiannya adalah 31 Maret, sedangkan bagi badan (kebanyakan perusahaan) 30 April.

Hari terakhir dua bulan tersebut, kantor pajak perlu menambah jam kerja. Biasanya mereka buka sampai pukul tujuh malam. Nah, Selasa besok, 31 Maret, kami bakal pulang malam. Jika Anda seorang wajib pajak, isilah SPT dengan jelas, benar, dan lengkap. Jelas artinya tak bikin bingung petugas yang menelitinya, benar artinya tak salah tulis angka serta pilihan isian lainnya, serta lengkap mengisi formulir lampirannya. Termasuk, menandatanganinya. Ini syarat, jika salah satu masih bolong, SPT yang Anda kirim dianggap tidak disampaikan. Kalau begitu, bisa-bisa Anda dianggap terlambat dan bakal ada sanksi denda mulai Rp100.000 hingga Rp1.000.000 tiap SPT.

Selama dua hari pertama ini kami diajak ke Wonogiri dan Sukoharjo. Tidak semuanya, sebagian tinggal di kantor Klaten. Kami mengambil lotre untuk menentukan siapa yang berangkat ke mana.

Senin hari ini, yang dapat Wonogiri adalah kelompok satu, Ninda dan kawan-kawan. Sedangkan yang ke Sukoharjo adalah kelompok tiga, Radit dan teman-teman. Tiga kelompok lainnya tinggal di kantor.

Selasa besok, kelompokku dan kelompok empat, Mas Septa cs, ke Sukoharjo. Pembagiannya, kelompokku di pos pelayanan. Kelompok Mas Septa ikut mobil layanan bertandang ke kantor Pemda dan membuka “posko” di Carrefour. Yang ke Wonogiri adalah kelompok dua, Nurul dkk. Dua kelompok lainnya yang sudah ke Wonogiri atau Sukoharjo giliran tinggal di kantor. Aku pikir ini asyik, jalan-jalan dan tak melulu berdiam di satu tempat.

* * *

AWALNYA KEDUA KELOMPOK ITU BERANGKAT KE SUKOHARJO. Di sana ada pos pelayanan yang menempati eks-gedung KP4. Pos pelayanan inilah yang rencananya akan jadi kantor baru. Namun rencana pindahan dari Klaten belum pasti, mungkin beberapa tahun lagi.

Pos pelayanan itu tak sebesar kantor di Klaten. Ruang depan untuk melayani warga yang datang, kurang lebih seluas TPT. Beberapa bangku kayu tersedia buat pengunjung. Pada 31 Maret, kantor ini rame bukan main. Di sebelahnya, ada ruang penyimpanan komputer-komputer lawas plus dimanfaatkan sebagai tempat salat. Ada juga ruang dalam kantor yang menyediakan sofa plus kamar mandi dalam. Di belakang kantor itu ada sebuah rumah dinas.

Beberapa lama kemudian, kelompok yang ke Wonogiri bertolak dari pos pelayanan. Mereka dipandu oleh Kasi Pelayanan Asruddin. “Wonogiri itu sepi. Jalanan lengang. Yah gitu deh,” Ninda berkomentar soal kesan pertama ia di sana.

Namun Afis Setyorini yang sudah dua tahun tinggal di sana punya pandangan lain. “Tak seperti yang aku bayangkan. Awalnya aku pikir Wonogiri masih desa gak rame dan banyak sawah. Tapi sudah banyak orang kok. Orang kaya juga gak sedikit.”

Afis teman satu kelas kami. Ia berjilbab dan berkacamata, lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kesanku, ia penyabar. Ibu satu anak yang tengah mengandung putra kedua ini asal Salatiga, suaminya dari Wonogiri. Mereka tinggal di Nguntoronadi. Meski demikian, ia magang tak beroleh Sukoharjo atau Salatiga. Melainkan, “di Kebumen,” sambungnya. Waktu observasi lapangan, ia dapat Wonosari.

Sedangkan KP2KP di Wonogiri, “Gak terlalu besar. Tapi gak kecil juga,” cerita Muhith.

Di sana, “ada tempat pelayanan, tiga ruangan entah ruangan apa aja, terus ada dapur, toilet, musala. Aku pikir musalanya seperti di kantor-kantor pajak, ternyata cuma ruang kecil banget muat satu orang doang,” Ninda menggambarkan.

Senin waktu itu, jumlah pengunjung tak terlalu banyak, “hanya lima belas orang, tapi pegawainya pada sibuk semua,” sambung Muhith. Titik puncak membludaknya “nasabah” bakal terjadi sehari kemudian.

* * *

SETELAH MENGGANYANG NASI DAN TEMPE MENDOWAN, istriku dihinggapi rasa malas. Perutnya telah terisi sarapan. Ia hendak mengambil uang dari ATM. Urung. Ia tiduran sejenak. Dia baca Harian Kompas yang kami beli tadi pagi.

“Tak ada teman. Males. Bosen,” keluhnya.

Setelah semangat lamban terkumpul, ia bergegas memanasi mesin motor. Untungnya di sini ada Bank NISP. “Keluar ke Polres, cari depan pabrik,” aku kasih petunjuk lokasi ATM sebelum kutinggal berangkat.

Setelah mengambil sejumlah doku, istriku tak langsung kembali ke hotel. Ia mengamati lingkungan halaman depan pabrik itu. Ada penjual pakaian. Yang dijajakan baju, kaos, batik. Setelah itu dia pulang dengan kecepatan lambat. Ia mencari bengkel guna mengganti ban motor yang mulai aus. Tak ketemu. Ia susuri jalan yang di tepinya terhampar sawah.

Hape dari dalam kantong celananya bergetar. Ia henti untuk menerima telepon. Rupanya dari Muji Lestari, kakaknya. “Aku lagi di Klaten, Mbak. Nemeni suamiku PKL.”

“Nginep di mana?” kakak iparku menyahut dari seberang.

“Di hotel ebrek-ebrek. Yang penting deket kantor.”

Balik hotel, dia bengong. Dia ulangi baca Kompas. Dia butuh teman ngobrol. Keluar di depan kamar. Untung ada tamu hotel dari kamar lain, salesman obat. Badannya gembul. Plat nomor kendaraannya “L”. Tema pembicaraan bermacam-macam. Asalkan bisa mengisi waktu.

“Sudah punya anak, Pak?” istriku membuka percakapan di teras kamar.

“Dua, yang kecil masih balita. Suaminya mana?”

“Lagi PKL di kantor pajak depan. Jualan apa Pak?”

“Puyer. Yah jauh dari keluarga seperti ini, yang penting dapur tetap mengebul.”

“Gak kangen yang di rumah Pak?”

“Yah kangen, terutama sama anak-anak. Tapi kerjaan saya begini. Dua minggu sekali baru kumpul keluarga. Jalan-jalan kayak gini saya anggap rekreasi gratis. Bisa ke mana-mana, menginap juga gratis. Semua ditanggung perusahaan. Makanan paling mahal di Bandung.”

“Sudah keliling ke mana-mana yah?”

“Dari Jawa Timur, kadang ke Solo, Klaten, Yogya. Yogya sudah gak lagi, susah. Paling besar di Madura. Orang Madura fanatik sama satu produk. Sekali masuk, mereka akan pakai terus. Kalau begitu merek lain susah menggoyang. Mereka tak bakal beralih,” dia menceritakan suka-duka menembus pasar.

Jelang siang, istriku lapar lagi. Dia tuju warung angkringan depan kantor.

“Indomie goreng Bu.”

“Adanya Mie Sedap. Pakai telur?” penjual angkringan menawarkan yang lain.

“Boleh. Kasih cabe yah,” ujar istriku dengan mengambil tiga cabe hijau yang tersaji di piring gorengan. Dia memang maniak pedas. Tiap kali kami ke warung bubur kacang ijo, dia pesan mie goreng plus potongan cabe hijau.

Si penjual menarik diri. Ia menuju rumah di belakang warung, memasak di sana. Seorang perempuan lainnya yang tengah hamil menggantikannya menjaga.

“Lagi dimasak di belakang, Mbak. Tunggu sebentar yah.”

“Kalau mau ke Matahari, arah mana yah Bu?” istriku bertanya.

“gampang, Mbak. Lurus saja,” penjaga warung itu menunjuk jalan ke arah hotel, “ada pertigaan belok kiri. Ada pertigaan lampu merah ke kiri. Lurus saja, nanti ketemu Matahari.”

“Itu sekalian ke arah Yogya, yah?”

“Benar.”

Setelah makan ronde kedua, istriku pulang ke hotel. Dia nonton teve di lobi sebentar. Menu rutinnya, acara gosip infotainment. Dia hendak masuk kamar lagi. Terdengar para tamu nyetel musik dangdut sambil menyanyi-nyanyi.

“Kuncinya mana, Mbak,” seorang pria pegawai hotel minta kunci kamar.

“Buat apa, Pak?” istriku penasaran.

Penjaga hotel diam. Dengan kunci di tangan, dia buka kamar kami. Dia bawa plester hitam. Dengan mata awas ia mengamati tiap jengkal ruang. Lantas dia sumpal pintu kamar yang ternyata berlubang kecil dengan plester itu. Lubang itu cukup untuk sebiji mata mengintip ke dalam.

“Oh, ada yang bolong yah Pak. Itu karena rapuh atau sengaja dilubangi?”

“Wong edan,” sahut petugas hotel itu.

Istriku tak tahu persis apa maksud dari perkataannya. Kemudian ia kembalikan kunci pada istriku. Baru tersadar, istriku merasa makin tak aman tinggal di hotel semacam ini. Ia tak bisa tidur siang dengan nyenyak. Untuk ketiga kali, dia jamah Kompas. Agak lama dia baca-baca.

Jam istirahat siang, aku kembali ke hotel menyambangi istriku. Aku khawatir dia terlindas bosan di dalam kamar sendirian tanpa aktivitas. Aku ajak dia makan siang menyusul teman-teman. Kami ke Warung Soto Mbak Tiwuk. Sudah kenyang, dia tak ikut makan.

* * *

SIANG MERAMBAT BAGAI SIPUT. Perut keempat orang itu mulai menuntut minta isi. Pegawai lainnya, termasuk Pak Asruddin yang tadinya menawarkan makan bareng, sudah meluncur, mungkin, ke sekitar waduk Gajah Mungkur. Di sana terdapat pemancingan yang menyuguhkan ikan bakar. Keempatnya ditinggal di kantor, padahal mereka tak tahu lokasi makan mana yang ciamik. Kalau sudah begini, naluri yang berbicara. Mereka jalan kaki mencari tempat makan. “Dengan inisiatif sendiri dan dengan dorongan hasrat ingin makan…” Ninda berkisah.

Untungnya, Lenny, Ninda, Muhith, dan Winas -keempat orang “yang terlantar” itu- tanpa butuh waktu lama orientasi medan menemukan rumah makan “Slamet” yang tergolong dekat. Ninda yang ngebosi. Ia tepat berumur 24 tahun hari itu. “Iya nih, kita lagi makan bebek goreng,” Winas pamer padaku lewat sms.

“Kalau sudah sampai sini, kita ultimatum aja. Mau milih nraktir dua puluh orang atau empat puluh sekalian,” Pratomo menanggapi kabar dari pesan singkat itu dengan terkekeh. Sudah jadi tradisi, barangsiapa yang lagi ulang tahun, dia harus entertain teman-temannya. Yah dengan traktiran semacam ini.

Winas boleh bikin kami yang di sini mupeng membayangkan sedapnya sambal lalap beradu dengan daging unggas segar mengkilat kecoklatan yang mengepulkan asap nan hangat itu. Tapi rupa-rupanya, di warung Slamet sana, di tengah semua orang yang melahap bebek, dia cuma menikmati daun pepaya.

“Masak dia ulang tahun tega hanya nraktir aku daun kates.”

“Itu pengen kamu sendiri atau suruhan Ninda?” tanyaku sewaktu wawancara dia.

“Disuruh dia.”

“Dia sendiri kok yang mesen,” Ninda memprotes.

Walhasil, perut Winas bergejolak. Selasa, esoknya, ia agak kesiangan menjemput cewek-cewek. Mobil sedan merah marun itu pun melaju uber waktu. “Kami berangkat ngebut kenceng banget,” celoteh Ninda diamini Retno.

* * *

MAKAN TAK DAPAT DISANGKAL ADALAH KEBUTUHAN POKOK. Di mana pun kamu berada. Jika kamu sedang di daerah lain, mau tak mau harus menyesuaikan lidah dengan sajian makanan di sini. Justru bagi aku hal ini “petualangan yang mengasyikkan”. Mencicipi makanan khas atau menu baru di Klaten? Rasanya tak sabar. Aku tak tahu apa penganan tradisional di sini. Tapi kebanyakan warung makan yang kami jamah adalah soto.

Pratomo kami percayai sebagai pemandu kuliner. Sebelumnya ia bekerja memasarkan produk kredit pinjaman sebuah bank swasta. “Bank Niaga di Surakarta,” ceritanya. Tak jarang, ia perlu cari calon nasabah hingga ke Klaten. Tak ayal ia punya beberapa referensi masakan lezat di sini.

“Pokoknya cari yang paling enak sekalian. Boleh di-reimburse ke kantor,” celotehnya suatu ketika. Namun kali ini Tomo tak menawarkan masakan tingkat resto. Yang penting enak di lidah, juga enak di kantong.

Jam istirahat siang, antara pukul dua belas hingga satu, adalah waktu yang tepat berburu kudapan. Senin siang itu kami, para cowok, hanya merambah warung terdekat. Yang jadi sasaran adalah Warung Soto Mbak Tiwuk, seberang kantor Departemen Agama. Aku ajak istriku, sekaligus memperkenalkannya ke teman-teman.

Teman yang enggan keluar cukup ke kantin kantor.

Contohnya Yayuk. “Yang ndak terlupakan adalah bila pagi ke kantin, terus ntar pesen minum terus siang balik lagi ke kantin buat makan siang… menu favoritku telur semur,” ungkapnya soal pengalaman yang paling menarik.

Aku juga ke kantin pada Rabu siang. Atau, tiap pagi. Sekadar menganjal perut yang belum sempat diisi sarapan. Menu sarapanku teh anget dan Indomie goreng plus telur. Beberapa gorengan juga oke, biasanya pada jam sepuluh, tatkala “sarapan ronde kedua”.

Selasa, aku tak ikut berburu kuliner karena dapat giliran ke Sukoharjo. Lagipula Tomo si juru pandu juga ke Wonogiri. Kami yang di Sukoharjo ditraktir nasi kotak ayam goreng khas Klaten. Lumayan gurih.

Kadang kami bergerombol banyak, sebagian cewek turut kami cari makan siang. Kadang hanya rombongan cowok. Kamis, kami mencari sop ayam. Dari timur, kami ke arah alun-alun. Sebelum mentok menemui jalan searah, kami belok kanan. Menunya macam-macam dan serba ayam. Ada sop jerohan, ada juga sop uritan (saluran telur). Jumat usai salat, hanya cowok yang nglayap. “Curang”, kami pinjam mobil Lenny. Jadi masing-masing berlima kami bawa dua mobil. Kali ini kami ke Warung Soto Barokah, dekat alun-alun. Unik, warung ini menggelar undian bagi pembelinya. Hadiahnya sepeda. Daripada bosan makan soto, Jumat itu saya pesan garang asem.

Biaya makan di Klaten ternyata murah. Itu yang bikin aku “kerasan” di sini. Tak lebih dari Rp15.000, kamu sudah dapat menghajar dua potong sayap ayam ukuran besar, semangkuk sop, es teh manis, serta sepotong tahu bakso. Seporsi garang asem, dua potong tahu goreng, serta es coklat pun tak lewat dari Rp10.000. Ini gila, jika dibandingkan dengan ongkos makan di Yogya apalagi Jakarta.

* * *

SENIN JAM LIMA SORE ITU, kami pulang bersamaan. Aku sudah memastikan absen sudah terisi semua. Rombongan dari Wonogiri dan Sukoharjo sudah balik kantor sejam lalu. Seharian tadi kami meneliti berkas SPT dan menempelinya dengan tanda terima.

“Jangan lupa, besok kita pulang jam tujuh malam yah,” pesan Bu Sri Widyastuti yang kerap dipanggil Bu Tuti. Sekilas ide muncul, bagaimana kalau besok menginap di kantor saja. Itung-itung dapat memangkas ongkos daripada ngendon di hotel terus.

Yang lainnya pulang berkendara, aku jalan kaki saja. Dari seberang jalan istriku sudah menunggu. Menyeberangi jalan, aku songsong dia. Aku gamit tangannya. Kami tersenyum-senyum.

“Cihuiii…”
“Cihuiii…”
“Suit-suit…”

Kami celingukan cari sumber suara. Rupanya dari dalam mobil Lenny yang berhenti di muka kantor. Disusul rombongan Winas yang naik mobil sedan. Cewek-cewek ketawa melihat “kemesraan” kami. Aku dan istriku hanya terpingkal.

Sore jelang magrib itu kami cari makan di depan masjid seperti pertama kali kami tiba di sini. Kali ini aku pesan ayam goreng. Hujan turun. Kami berteduh sekalian salat di dalam masjid. Untunglah hujan hanya sebentar. Kami putuskan jalan-jalan naik motor.

“Ke Matahari yah,” ajak istriku.

Aku iya saja.

Jalanan Klaten malam usai hujan agak lengang. Kami melaju dengan leluasa, meski kecepatan tak tinggi. Segar. Di pusat perbelanjaan modern terbesar di kota itu kami lihat-lihat pakaian dan belanja makanan di swalayan lantai dasar. Ada puding tiga rasa buah, salak, air minum. Aku juga beli sandal jepit biar tak melulu pakai sepatu tiap kali keluar.

Istriku tak menepati rencananya. Ia sekali lagi bermalam denganku. “Kasihan nanti Bi sendirian gak ada teman.” Betapa beruntungnya punya istri yang punya perhatian besar seperti dia.

Istriku baru pulang Selasa pagi. Ia tiba di Yogya setengah tujuh.

* * *

SELASA ADALAH HARI YANG BERBEDA. Istriku sudah tak ada di sampingku. Pagi itu waktu kayak kura-kura di daratan. Bengong dan belum mandi, aku duduk di teras depan kamar. Menunggu penjaja koran, aku pengen beli Kompas. Akhirnya Pak Loper datang juga. Aku duduk-duduk sebelum mandi.

Aku baru mandi setengah tujuh. “Pakaian harus rapi. Jangan lupa pakai parfum,” begitu istriku berpesan.

Setelah semua barang beres, aku check-out.

“Gak bermalam lagi?” bapak petugas lobi menawarkan sewa kamar lagi. Ia ramah, tuturnya halus. Pacakannya jadul. Sisiran rambut lurusnya ke samping kiri, kacamata tebal. Kemeja putih, celana dari kain juga putih.

“Enggak Pak. Makasih,” jawabku tesenyum.

Dia ulurkan kartu tanda pendudukku. Meski kurang nyaman, sebenarnya asyik juga punya pengalaman di hotel seperti ini.

Aku menyongsong kantor. Hari ini giliran kelompokku yang ke Sukoharjo bersama Mas Septa. Sedangkan Nurul ke Wonogiri. Mobil kantor tengah dipanasi. Waktu hampir pukul sembilan. Sembari menunggu keberangkatan, Syamsu membuka telepon genggam.

Dia putar lagu “Padamu Negeri” dari menu MP3. Kami jadi ketawa.

“Garuda Pancasila ada, hormat senjata ada, Indonesia Raya juga ada,” tutur empunya hape. Syamsu badannya tinggi. Orangnya tegap, terkesan kayak militer. Kami jadi geli mendengar koleksi MP3 dia seperti itu.

Dia putar, “hormat senjataaa… grak…”

Kami terkekeh. Ini aba-aba pemmpin upacara tiap kali peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara. Kok ada saja rekamannya dalam bentuk MP3.

“Eh, coba Padamu Negeri dong,” Mas Septa meminta sekali lagi.

Dengan khusyuk kami mendengarkan.

“Biar makin menghayati kalau kita ditempatkan di daerah terpencil,” imbuh Mas Septa.

“Negara, menurut Ben Anderson, adalah komunitas terbayang. Imagined community. Jadi, meski belum pernah ketemu, kita membayangkan bahwa kita satu bangsa dengan orang Acheh, Papua, Dayak…” aku berteori.

“Bakal jadi kenyataan ketemu mereka kalau kita dapat penempatan kerja di sana,” celetuk Toni.

“Hahaha…” kami hirup dan nikmati suasana pagi itu.

Beberapa saat kemudian, Bu Tuti menemui kami. “Berangkat yuk.”

Di Sukoharjo, kami melihat langsung pelayanan pada puncak hari tersibuk. Begitu banyak warga yang datang ke kantor. Dengan sungguh-sungguh mereka menyerap penjelasan dari petugas pajak.

Kami punya istilah Account Representative. Jabatan ini di bawah koordinasi Kasi Waskon. Tugas mereka antara lain memandu, mengawasi, membimbing, serta memberi konsultasi kepada wajib pajak agar tingkat kepatuhan mereka meningkat. Selain itu, AR harus membuat profil wajib pajak. Tugas AR paling banyak, ada 82 jenis. Mereka dianggap yang paling tahu segala seluk-beluk perpajakan. Singkatnya, jika Anda wajib pajak yang masih bingung, hubungilah AR yang menangani Anda. Dan wajib pajak yang ditangani tak hanya Anda. Satu AR bisa memegang ratusan wajib pajak. Bisa dibayangkan, betapa beratnya tugas mereka. Biasanya AR menangani sejumlah wajib pajak berdasarkan wilayah. Tugas mereka dibagi meliputi beberapa desa atau kecamatan. Dapat pula pembagian berdasarkan 200 besar wajib pajaknya. Kebanyakan AR ramah, soalnya mereka berhadapan langsung dengan masyarakat.

“AR itu tugasnya dari A sampai R. Sisanya untuk seksi lain.”
“AR itu account recycle-bin.”
“Sudah bukan AR lagi, tapi AZ.”

Begitu pameo yang beredar di antara mereka.

Kelompokku di pos pelayanan di eks-gedung KP4, Mas Septa cs keliling ke kantor Pemda serta posko di Carrefour Solo Baru. “Kita nongkrong di DPR, di bawah pohon rindang,” celetuk Mas Septa soal aktivitasnya di halaman gedung Pemda.

Kami balik kantor sore-sore.

* * *

RUPANYA KEGIATAN DI KLATEN TAK SESIBUK DI SUKOHARJO ATAWA WONOGIRI. “Kita di sini santai saja, kerjaan sudah beres,” ujar Ninda. Sedangkan rombongan dari Wonogiri malah belum datang hingga setengah enam.

Aku masih memikirkan jam pulang hingga malam. Kira-kira kerjaan apa yang pelu kami lakukan? Kami butuh pelarian sejenak dari rasa penat. Untung kami punya Muhith. Dia bawa banyak macam permainan berkelompok. Mungkin dia dapat dari beragam pelatihan yang dia ikuti. Tiap kelas kami suntuk dan pelajaran mulai membosankan, dosen meminta kelas memeragakan performance atau game. Si Muhith instrukturnya.

“Ingat aturan mainnya. Hanya ada dua. Satu, instruktur selalu benar. Dua, jika instruktur salah, tengok peraturan pasal pertama,” begitu dia tak bosan menggaungkan rule of the game.

Kali ini dia hendak memainkan lomba lari. Ada tiga kelompok yang berlaga. Aku sekelompok dengan Mas Septa, Syamsu, Toni, dan Rezky. Radit bergabung dengan Winas, Retno, dan Ninda. Satu kelompok lagi adalah Lenny, Pipit, Yayuk, dan Wiwik. Yang hamil, Putri dan Nita tak ikut. Muhith jelas tak turut.

Tomo, Nurul, Norman, Prima masih belum pulang kantor dari Wonogiri.

Kami bermain di halaman belakang kantor. Di sana ada lapangan voli. Rumputnya rempang rapi, hijau segar. Di belakang lapangan voli, sebelah barat, ada musala, di samping selatan musala ada sebuah kolam empang. Di sekitarnya adalah tanah luas yang ditumbuhi pepohonan. Ada jambu, mangga, pisang, dan sebagainya.

Begini permainannya. Satu kelompok ditentukan posisi awal dan tujuan akhirnya. Setiap orang secara bergantian harus berlari dari start menuju finish dengan keadaan mata tertutup. Kami menggunakan dasi untuk menghalangi pandangan. Kawan sekelompok mengarahkan orang yang tengah berlari dengan berteriak “kanan, kiri, lurus…”

Pemenangnya adalah kelompok yang pertama kali semua anggotanya tuntas menuju titik tujuan.

“Kita akan buktikan, apakah kaum laki-laki, perempuan, atau kelompok yang campuran yang bakal menang. Oke, kita mulai yah. Satu-dua-tiga…” Muhith memberi aba-aba.

Kami berlari, meraba-raba, apakah ada halangan di depan, sambil mendengar instruksi kawan yang bersorak memandu. Suasana riuh. “Kanan-kanan-kanan, kebablasan, kiri, eh kiri… lurus yak terus…”

Yang melihat jadi terpingkal.

Kegaduhan di halaman belakang menyeret minat pegawai lainnya. Banyak yang melongok nonton dari balik jendela kaca. Pak Satpam turut tertawa mengamati polah kami.

Kata teman-teman cara berlariku lucu. Aku takut kalau terperosok karena permukaan jalan tidak sama tinggi. Jalan semen lebih rendah daripada lapangan rumput. Lantas jalan berundak lagi dekat pepohonan. “Coba ulangi lari lagi Mas, nanti aku rekam,” celetuk Putri.

Kelompokku jadi pemenang. Tapi rupanya ada kelompok yang belum tuntas. Winas hampir menuju kolam. Takut-takut dia berjalan. Dia cari pohon pisang yang jadi pos terakhir kelompoknya.

Kami terbahak.

Usai Winas, rupanya permainan belum bubar. Ternyata Ninda belum dapat giliran. Dua kelompok sudah rampung, tinggal dia. Awalnya Ninda ogah. Namun semuanya menuntut. “Yang kemarin ulang tahun harus dikerjain,” aku berbisik pada Syamsu. Kami terkikik.

Menuruti paksaan massa, Ninda bersedia juga ditutup matanya. Ninda terlalu lama berjalan. Dia takut kebablasan terperosok masuk kolam. Tujuan dia adalah pohon pisang. Teriakan makin ribut, bikin Ninda tambah bingung.

“Emoh… ntar dikerjain masuk kolam…” ujarnya sambil meraba-raba yang di depannya. Tangannya memegang-megang udara kosong jika tak menemui benda di depan. Karena ngeyeli petunjuk yang menyorakinya, dia hampir terperosok parit.

Kami makin terbahak.

* * *

SELESAI MAIN GAME, suasana magrib jadi enteng. Kelompok Nurul juga sudah datang. Kami bersiap melanjutkan kerja hingga jam tujuh. Tapi rupanya sudah tak ada lagi yang dikerjakan.

“Sudah selesai semua. Sekarang santai saja. Kantor yang masih buka sampai jam tujuh kalau di kota-kota besar yang banyak wajib pajaknya,” ujar Pak Rohdiono dan Pak Imran.

Jadi malam ini kami sudah bisa mengendorkan urat syaraf. Aku tetap tinggal di kantor. Aku sudah bulat hendak menginap di sini. Untung ada Radit dan Muhith yang juga mau nginep. Aku beres-beres tas. Para karyawan tinggal menunggu absen pulang pukul tujuh. Yang lainnya ngobrol-ngobrol, ada juga yang bersiap pulang. Ada yang masih enggan karena hujan gerimis kecil.

Malam ini kami keluar bareng. Aku membonceng Radit, Norman dengan Muhith, Yayuk sama Wiwik, dan Winas menyopiri Ninda, Nurul, Putri, serta Prima. Kami menuju alun-alun cari makan. Muhith dan Norman ke Masjid Raya salat isya.

“Mana tempat makan yang enak?” aku bertanya pada Radit.

Dia bingung, referensinya tak sekaya Tomo. Dia akhirnya menunjuk warung batagor dan siomay. Aku pesan nasi belut saja.

“Benar mau nginep?” tanya Prima.

“Iya,” jawabku.

“Emang siapa saja? Udah nyiapin selimut?” dia agak pilek.

“Udah. Aku ada sarung.”

“Gak takut masuk angin?”

“Sudah biasa nginep di kantor sih. Cari pengalaman baru, hehehe…”

Muhith menyusul kami yang sedang makan. Norman sudah berangkat pulang ke Yogya.

* * *

MENGINAP DI KANTOR SUDAH JADI HAL BIASA BAGIKU. Tidur di kantor adalah hal lazim bagi wartawan. Kebanyakan malah mereka menyiapkan kasur gulung di bawah meja kerja. Sewaktu masih di Tabloid Kontan, aku sering meniduri kasur busa tebal milik Hendra Soeprajitno, kolega seniorku sesama jurnalis. Beberapa kali aku juga tidur di kantor Hukumonline, tempat kerjaku setelah Kontan. Namun di sana tak ada kasur sehingga aku harus rela menyusun kursi.

Aku juga pernah jadi pengurus organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Di sekretariat AJI, terutama usai rapat tiap hari Selasa, aku menginap bareng pengurus lainnya. Hari yang tepat nonton bareng Liga Champions. Biar tak bosan karena terus-terusan tidur rame-rame di ruang rapat, aku pernah tidur, pasang tenda di depan sekre AJI.

Tempat magangku, KPP Pratama Pati, juga pernah aku satroni. Kala itu kami menginap di eks-gedung kantor pelayanan PBB yang kosong dan beralih fungsi jadi tempat penyimpanan arsip. Kompleksnya luas, hanya dijaga seorang satpam pada malam hari. Sekaligus, kami berlima cowok semua, dengan inisiatif sendiri lembur mencicil merampungkan pekerjaan agar plong sewaktu berangkat diklat. Waktu itu kami di Seksi Penagihan, memberesi kohir atau surat ketetapan pajak, mulai 1984 hingga 2008. Kohir ini harus rapi administrasinya dan keberadaannya kudu tetap terjaga, jangan sampai hilang atau rusak. Inilah yang menjadi dasar penagihan pajak yang masih tertunggak. Bayangkan, tahun 1984? Aku masih berumur dua tahun.

Bertiga -aku, Radit, dan Muhith, mandi di toilet kantor setelah makan. Untungnya, petugas kebersihan belum pulang. Pintu belakang belum terkunci. Datanglah seorang satpam, Pak Narto. Badannya tambun.

“Mau menginap di sini Pak,” kami memberi tahu.

“Di mana?”

“Musala.”

Letak musala berada di sudut barat, paling belakang.

“Oh yah. Silakan. Tapi kalau malam pintu belakang ditutup. Kalau mau ke toilet lewat pintu depan yah, bilang sama saya biar saya bukakan.”

* * *

APA YANG DILAKUKAN OLEH YANG LAINNYA DI WAKTU MALAM SETELAH PULANG DARI KANTOR?

Cewek-cewek yang bermarkas di rumah bibi Pipit takzim menonton “Cinta Fitri”, sinetron kejar tayang yang dijereng rutin tiap malam saban hari oleh stasiun televisi SCTV. “Tapi ganti-ganti sama “Bioskop Transtv” dan debat Pemilu,” tutur Pipit.

Soal siapa yang paling getol mengikuti kisah cinta Fitri dan Farel dalam sinema layar kaca itu, “Putri dan Pipit. Saya dah bobok duluan setelah makan dan salat isya, hehe,” ungkap Nita.

Tentunya capek bukan main usai menjalani aktivitas kantoran sejak pagi hingga sore. Apalagi tiap sore turun hujan. Badan jadi tidak fit seratus persen. Terlebih-lebih bagi yang nglajo Yogya-Klaten.

“Aku tidur lebih awal karena capek,” Mas Septa bilang padaku Jumat pagi.

Dan aku rasa selama sepekan ini kurang tidur dan istirahat. Mulai tak menginap lagi di Klaten, dan menjalani pulang-pergi, aku rasakan keletihan itu. Kalau sudah begini, istirahat awal adalah jalan keluarnya. Untuk sementara, mencari hiburan bareng istri seperti jalan-jalan ke plaza direm dulu.

* * *

WAKTU ITU BELUM JAM SEPULUH. Kami putuskan jalan kaki keluar kantor. Kami berpas-pasan dengan para satpam yang dapat giliran jaga malam itu. Ada tiga orang. Mereka tiduran di atas tikar, di luar gardu satpam.

“Gak kedinginan Pak?” tanya kami.

“Sudah biasa.”

Muhith belum makan besar dari tadi. Sewaktu di alun-alun tadi, dia cuma pesan minuman. Lagipula kami perlu belanja air minum buat “bekal” menginap. Kami cari warung . aku beli Aqua botol besar, Muhith dan Radit beli sikat gigi. Selanjutnya, cari makan.

“Bagaimana kalau di angkringan?” aku lempar usul.

“Angkringan itu apa Mas?” Muhith yang berasal dari Medan dan belum menguasai bahasa Jawa bertanya.

Ia lulusan Jurusan Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Lumayan lama tinggal di Kota Atlas, tapi bahasa Jawa dia belum lancar. Rambutnya cepak bros nyaris gundul, berkacamata. Dagunya agak tajam. Badannya subur. “Kayak Aburizal Bakrie kan?” tuturnya sambil ketawa.

“Warung nasi kucing,” jawabku.

“Warung hik,” timpal Radit.

“Warung hik?” Muhith memikirkan sebutan yang lucu itu.

Akhirnya kami menemukan warung tenda. Muhith pesan Indomie. Aku dan Radit tak makan. Setelah itu, rasanya ada yang kurang cukup. Akhirnya kami tuju warung angkringan seberang kantor. Kami perlu minum es biar segar.

Aku memesan paha ayam, minta dibakar. Plus nasi sambal. Nasi angkringan bungkusnya kecil. Jadi tak perlu khawatir kekenyangan, tapi lumayan mengganjal perut. Habis hujan dingin begini, bawaannya lapar melulu.

Selesai makan, kami bikin perhitungan dengan Ibu penjual.

“Nasi satu. Eh teh satu. Pupu satu,” aku menjereng apa saja yang sudah aku sikat.

Muhith bertanya lagi, “pupu itu apa?”

“Paha,” jawabku.

* * *

MASJID KANTOR ITU MUAT UNTUK TIGA BARIS SAP PRIA DAN DUA BARIS SAP WANITA. Teras luarnya cukup untuk dua sap tambahan. Temboknya bercat putih. Lantainya beralas karpet sajadah. Pada langit-langit tergantung kipas angin besar. Pada dinding luar sisi selatan, tertempel papan pengumuman. Ada jadwal penceramah Rabu sore bakda asar. Tema ceramah juga sudah ditentukan. Ada juga jadwal khatib salat Jumat. “Pembicara yang berhalangan harap segera menghubungi takmir masjid agar dapat dicarikan penggantinya,” begitu kira-kira bunyinya.

“Nyalakan kipasnya, banyak nyamuk,” pesan Pak Narto.

Di dalamnya, pada mimbar, terdapat beberapa buku bacaan. Ada Al-Quran, ada buku kumpulan khotbah pilihan, ada juga kitab lainnya. Sudut selatan belakang memuat rak. Ada bundel majalah Nikah. Ada album foto kegiatan kurban dan buka puasa bersama.

Jendelanya kaca bening berkerangka kayu. Bisa dibuka dengan ganjalan dari logam. Lumayan, guna mengusir gerah, tiga daun jendela dari berbagai penjuru kami buka saja. Sebagai pengusir nyamuk, kami nyalakan kipas dengan kecepatan satu. Aku tak kuat terhadap kipas angin yang kencang.

Malam itu kami tidur pulas. Mungkin lantaran capek. Tapi yang jelas, ada andil kenyamanan tempatnya juga. Rupanya ada tiga buah bantal di sana. Radit masih bercakap melalui telepon entah dengan siapa. Ia masih menikmati rokok ringan di teras luar. Muhith sudah mapan. Dia pakai jaket bertutup kepala. Aku pakai celana training plus sarung supaya hangat.

“Awas ada wewe gombel. Jangan percaya sama dobose Radit,” Winas mengirim sms kepadaku dan Muhith. Wewe gombel adalah hantu yang secara tradisional dipercaya oleh orang Jawa. Wujudnya wanita berambut panjang bermuka seram. Yang jelas malam itu tak ada wewe gombel.

Aku tidur tanpa nglilir -terbangun di tengah malam. Muhith nglilir pada pukul satu, di tengah pulasnya aku dan Radit. Ia menerawang ke luar. Sepi. Kolam empang tenang. Hanya suara kodok. Tak ada apa-apa. Beberapa saat ia lanjutkan tidurnya.

Kami bangun jelang subuh pada pukul empat.

* * *

LANGIT SUBUH UNGU-BIRU. Beberapa titik bintang masih nampak. Selesai subuhan di masjid, Pak Narto bercakap dengan kami bertiga.

“Di sini serem gak Pak?” tanya Radit.

“Kalau di sini tidak. Malah di dalam kantor,” jawabnya.

“Gimana ceritanya?”

“Tahun 2007 kan lagi modernisasi. Kantor pajak Klaten pindah ke eks-gedung PBB. Waktu itu kalau siang buat kerja, kalau malam buat pasang-pasang instalasi. Seorang teknisi malam-malam kerja sampai jam dua.

Saya sih sudah memperingatkan, ‘Pak, kalau capek istirahat saja.’

Dia malah tetap kerja, ‘nanggung,’ jawabnya. Saya biarkan saja.

‘Kalau ada apa-apa bilang yah. Saya di luar,’ saya bilang gitu.

Waktu dia istirahat, dia rokokan. Disamperin sama cewek. Diajak ngobrol. Asyik, gak tahu dia ngobrol sama siapa. Pas rokok hampir habis, ceweknya ngilang. Dia keluar nemuin saya.

‘Ceweknya mana?’

‘Gak ada cewek,’ jawab saya.

‘Lah tadi?’

‘Dari tadi saya jaga pintu depan gak ada seorang pun yang masuk,’ saya jawab. Baru dia sadar sama siapa dia di dalam kantor.”

“Ada yang lain?” kami penasaran.

“Waktu itu seorang teknisi mau pasang kabel jaringan komputer di atas langit-langit. Waktu dia naik, kepalanya melongok kolong, dia lihat wajah hitam persis memelototi dia. Dia turun lagi ketakutan.”

Setelah banyak menghimpun kisah misteri, kami punya pikiran merancang bualan yang bakal kami lempar kepada teman-teman. Ini hari Rabu. Tepat tanggal 1 April.

“Sekarang April Mop bukan?” seruku.

“Bilang aja semalam kita lihat wewe gombel.”

Rabu pagi itu, sewaktu sarapan bareng, kami bertiga “beraksi” di kantin. Selain kisah hantu, kami punya mainan lagi.

“Eh, SK-nya sudah turun loh,” Radit membuka kode.

“Masak? Kapan?” Retno menyambut antusias.

Surat Keputusan Calon Pegawai Negeri Sipil merupakan SK yang kami nanti-nanti. Ia menerangkan status kami. Di samping itu, SK ini merupakan “pintu gerbang” buat kami untuk berhak menerima sejumlah tunjangan. Hingga kini kami belum berhak menerima gaji. Nanti kalau saatnya tiba, semuanya bakal dirapel. Baru mengantongi SK CPNS, kami hanya berhak mengantongi 80% gaji pokok. Jika nanti dikukuhkan jadi PNS, gaji dan tunjangan barulah kami terima penuh.

“SK April Mop,” jawabku sambil menyeruput teh panas.

Retno seketika melempem mendengarnya. Yang lain tersenyum kecut.

* * *

KOMPLEKS KANTOR INI TOTAL SELUAS KIRA-KIRA DUA HEKTAR. Ia diresmikan oleh Direktur Jenderal Pajak kala itu, Fuad Bawazier, pada 13 Januari 1994. Awalnya, untuk Kantor Pelayanan Pajak Klaten. Dulu kantor pajak ada tiga macam: kantor pelayanan, kantor PBB, serta kantor pemeriksa. Klaten juga punya kantor PBB di Jalan Veteran. Di tepi jalan raya kota ini berdiri deretan instansi pemerintah daerah.

Sejak 2007, lantaran modernisasi, gedung di Jalan Kopral Sayom ini jadi Kantor Pelayanan Pajak Sukoharjo. Sedangkan kantor Klaten berpindah ke eks-kantor PBB. Letaknya masih berdekatan, hanya beberapa ratus meter.

Gedung itu berlantai dua. “Ini kantor percontohan. Banyak arsitektur kantor pajak lainnya mirip gedung ini. Waktu Pak Fuad meresmikan, acaranya gede,” ucap Pak Narto.

Pak Narto doyan diajak ngobrol. “Saya sudah kerja di sini sembilan belas tahun. Sudah mengalami sembilan kepala kantor yang berbeda,” tukasnya bangga.

Kepala KPP Pratama Sukoharjo saat ini adalah Titon Hadisulistyono. Ia pejabat sementara. Sedangkan jabatan sebenarnya adalah Kepala KPP Pratama Klaten. Gaya bicaranya tegas. Badannya tinggi tegap. “Getol olahraga, terutama voli,” ujar Bu Dwi Rini.

Pesan beliau yang aku ingat, “kerja keras dan kerja cerdas.” Work hard, work smart.

Pak Titon menggantikan Hotma Hutapea yang baru saja pensiun. Pak Hotma merayakan perpisahan di kantor tersebut tepat pada hari ulang tahunnya, 10 Februari lalu. “Meriah,” tutur Nurul, yang waktu itu masih magang.

Lazimnya orang Batak, Pak Hotma gemar menyanyi. Malam pelepasan itu sarat acara karaoke. “Lagu-lagu Batak, aku gak tahu artinya. Yang lucu, lagu ST-12 diganti liriknya,” imbuh Nurul.

“Lagu yang mana?” aku bertanya.

“P.U.S.P.A. Tapi aku lupa liriknya berubah jadi apa. Pak Hotma punya teks-nya.”

Di mata Nurul, Pak Hotma adalah pribadi yang menaruh perhatian besar pada kolega. “Tiap pagi masuk kantor, yang dia cek pertama kali adalah data kepegawaian. Siapa saja yang ulang tahun dia temui secara pribadi, dia ucapkan selamat.”

Sewaktu observasi, Pak Hotma dan istri menyempatkan diri menemui kami pada hari Jumat. Ia mengenakan baju batik lengan panjang coklat muda. Ia secara bergantian menjabat tangan dan berkenalan dengan kami. Kesanku, ia ramah.

* * *

MULAI RABU, kami mengerjakan observasi. Tiap kelompok sudah disediakan jatah tema. Kelompokku menggarap proses penyelesaian permohonan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP). Umumnya perusahaan yang mengajukan PKP adalah badan yang hendak turut tender proyek pemerintah daerah. Secara garis besar, KPP Sukoharjo sudah melakukan pelayanan dengan baik, meski ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pak Asruddin, Pak Imran, Pak Prayitno, Bu Tuti, maupun Kasi Waskon Timbul Sudarmanto serta narasumber lainnya dengan baik hati menjabarkan proses praktek pelayanan di kantor ini.

Kami berkumpul di aula untuk menyusun laporan. Tiap kelompok bawa laptop. Aku bawa komputer jinjing itu pada Kamis. Teman-teman cewek membongkari berkas-berkas isinya. Mereka jumpai koleksi lagu favoritku.

“Waduh, jadul. Ada Nicky Astria sama Inka Christie,” ujar Yayuk, Wiwik, dan Nita tertawa riang.

“Jangan nyetel Korn deh. Gak baik bagi perkembangan janinku,” sambung Nita sewaktu aku menawarkan koleksi lainnya.

Mendengarkan lagu adalah pelarian dari rasa penat. Konon, selera lagumu adalah cerminan pribadimu.

Mereka makin terkekeh sewaktu lihat ada rumah berkas “Tjampoer Sari”.

“Punya ‘Sri Wis Bali’ gak?” Putri meminta satu judul tembang.

“Oh itu yang nyanyi Sonny Jos.”

“Hapal nian,” komentar Yayuk.

Setelah sekian lama mencari-cari, “waduh, gak ada ding. Kalau Cak Dikin ada.”

“Cak Dikin yang nyanyi ‘Tragedi Tali Kutang’ kan? Liriknya gak senonok. Tapi banyak anak kecil yang malah hapal,” sambung Yayuk.

Nita makin tak mampu menahan tawa sewaktu memutar Didi Kempot. “Peter Pan versi Jawa… ‘ana apa awakmu…’,” ujarnya sewaktu mendengarkan saduran lagu “Ada Apa Denganmu”.

Kami menyusun laporan hingga hari Jumat. Setelah salat Jumat, kami presentasi di depan para kasi dan beberapa AR. Pak Asruddin dengan cermat memberi beberapa masukan. “Kalau bikin Power Point yang singkat-singkat saja. Maksimal sembilan baris. Terlalu banyak bikin pembaca jenuh.” Pemaparan ini semacam pemanasan, sebelum kami menyajikannya di muka kelas pada Senin depan.

* * *

MULAI KAMIS, aku putuskan nglajo saja naik motor istriku. Lagipula istriku hanya punya agenda kuliah pada Selasa-Rabu. Aku berangkat dari kos setengah tujuh pagi. Udara masih segar dan belum macet oleh anak-anak sekolah. Langit cerah tak ada tanda mau hujan.

Namun, lain pagi lain sore.

Sore itu kantor mulai sepi. Teman-teman sudah pada pulang. Aku tertinggal sendiri karena harus cek absen. Jangan sampai ada yang terlewat karena ini menyangkut penilaian.

Aku pasang mantel hujan sejak dari kantor. Tanda akan hujan kian jelas, aku tak mau repot berhenti di jalan. Dugaanku tepat, sesaat kemudian jawah. Berawal dari rintik ringan, hujan makin memberat jadi deras.

Ini lebih besar daripada Rabu kemarin. Beruntung, kemarin aku ditawari tumpangan oleh Pak Rohdiono. Aku tertinggal pulang paling akhir. Kawan-kawan sudah ngacir. Pak Rohdiono menawariku hingga ring-road yang dilewati bus jurusan Yogya. Syukur, aku dapat. Di dalam bus tak bakal kehujanan.

Tapi kali ini lain.

Hujan kian lebat. Jarak pandang mengerut. Namun Winas tetap ngebut.

Kala itu mereka hampir menjamah perempatan Candi Prambanan. “Eh, bagaimana yah sopir Sumber Kencono kalau hujan deras kayak begini,” celetuk Ninda. Sumber Kencono merupakan bus trayek Yogya-Solo yang terkenal dengan aksi ugal-ugalan dan kebut-kebutan para sopirnya.

Wus, tiba-tiba sebuah bus Sumber Kencono menyalip dari belakang. Air genangan di atas aspal menyemburat. Bus itu melaju dengan cueknya meninggalkan sedan yang gelagapan itu.

Seisi mobil meledak karena tawa.

Sementara itu, beberapa kilometer di belakang, aku melaju dengan gigi tiga. Ban tipis membuatku tak mau ambil risiko gas-pol. Biar lambat asal selamat. Namun hunjaman ribuan titik air itu terasa tajam. Pedih di wajah. Jika kaca helm aku pakai, pandangan jadi kabur. Serba salah jadinya. Meski sudah pakai jas hujan, aku rasakan basah pada celana dan sepatu. Padahal, hendak aku pakai lagi esok harinya, hari terakhir observasi.

Aku tiba pada saat magrib. Yogya pun tak luput dari hujan.

* * *

JUMAT BAKAL JADI HARI TERAKHIR KAMI DI SINI. Otakku yang sempit serasa tak dapat memikirkan banyak hal. Presentasi laporan. Pulang ke Yogya. Berpisah dengan orang-orang kantor yang sudah mulai akrab. Hujan. Badan capek. Senin mulai masuk kelas lagi. Ketemu teman sekelas secara utuh lagi. Menerima pelajaran lagi. Dan sebagainya.

Dengan berat langkah aku berpamitan dengan sejumlah karyawan. Beberapa di antaranya sudah aku kenal. Mas Rio, Mas Affan, serta Mas Ardi. Rasanya ada yang belum tuntas di antara kami, sesuatu yang belm terwujud: main bola pegawai kantor pajak vs peserta observasi. Tiap hari hujan kayak begini, “Saya gak mau main. Soalnya di sini gak ada lapangan futsal indoor,” Mas Ardi berdalih.

Jumat sore itu mendung menggoda. Aku bersiap pulang dengan memakai jas hujan sejak dari tempat parkir. Benar saja, di tengah jalan jelang ambang Klaten, rinai hujan turun. Rasanya selama seminggu ini kami mandi hujan melulu.

Namun, pengalaman ini takkan dengan mudah luntur terbilas.

Mungkin satu saat, selepas masa diklat pada 20 April nanti, kami bakal berpencar. Bisa jadi itulah masa terberat bagi kami. “Jangan disebut perpisahan, tapi pelepasan,” tutur Muhith di depan kelas, tiga hari lalu.

“Seneng banget bisa berbagi suka-duka sama sebagian temen-temen Kelas F. Apalagi bisa sekelompok dengan Pak Yacob ‘sang jurnalis’, Mbak Tri yang pendiem dan taat, tyus Wiwik yang anak Mataram. Ketiganya baru kukenal lebih dekat di OL. Dan dari merekalah saya banyak belajar hal baru,” ungkap Nita.

“Tempatnya nyaman, orang-orang kantor lumayan bersahabat, suasananya tenang, hehe. Makin akrab dengan anak-anak sekelas, yang tadinya ndak nyapa jadi ngobrol, hehe,” timpal Yayuk.

“Menariknya, bisa jalan-jalan lihat Sukoharjo dan Solo Baru. Terus, makin akrab sama teman-teman sekelas, tambah kompak, seru, dan suka bercanda, bisa ketawa terus. Orang-orang KPP sana juga enak dan kooperatif, jadi OL bisa mudah,” Wiwik pun sepakat.

Ada canda. Ada persaudaraan. Ada ikatan. Aku rasa begitu.

12 responses to “Seminggu Berkawan Hujan

  1. Selamat melanjutkan perjuangan ya Yacob…!

  2. Cerita mas yacob sdh merangkum semua nih..sedih diklat mau selesai..

  3. wuih mas… dibaca nyaman juga… dijadiin cerbung aja ni…

  4. tulisane apik mas.
    tak pikir si radit ngeliat wewe gombel
    jebule ora.

    nek wis diterbitke, aku dikabari mas

  5. @upi: Pik, kamu juga, met berjuang…

    @wiwik: Belum semuanya Wik. Tunggu aja sequel berikutnya🙂

    @hendra: You flattered me. Saya cuma penulis biasa, orang biasa yg masih harus banyak bejalar…🙂

    @muhith harahap: Two different people flattered me🙂 Lg cari-cari sponsor neh Hith, sapa yang mau bandari cetak buku? Hehehe…

  6. aku jadi pingin diklat lagi, abis baca ceritanya mas yacob. btw kalo ngobrol sama mas yacob jangan2 kita diwawancara diem2 nih

    • Lenny,
      Ngobrol lantas diem-diem ditulis dan diakui jadi hasil wawancara itu kurang etis. Meski hanya nulis di blog, soalnya aku dah gak kerja untuk satu media, aku selalu memperkenalkan motifku pada para narasumber untuk wawancara.

      Memang, tak semua kutipan dari para pelaku aku dapatkan dari wawancara. Itu dari rekonstruksi peristiwa-peristiwa hasil amatan.

      Ada tiga sumber informasi: wawancara (lawan bicara harus sadar bahwa dia diwawancara), segala hal yang dirasakan, diamati oleh jurnalis (observasi lapangan), serta sumber dokumen (ini sumber paling sahih dan otentik).

      Sori, hehehe, jadi kasih materi dasar jurnalistik…

  7. o, aku pikir bisa seperti polisi kalo nyari barang bukti , wawancara sama tersangka trus disadap jadi deh barang bukti. sorry deh mas, ga tau cara kerja wartawan.

    • Lenny,
      Gpp, aku malah seneng bisa diskusi soal jurnalisme. Suer, ini duniaku yang sebenarnya, aku menikmati jurnalisme, yang kebetulan latarku adalah tulis-menulis. Menyadap, menyamar, dan sebagainya sangat riskan. Dan itu dilakukan jika dan hanya jika akses informasinya sangat sulit, terbatas, tertutup. Padahal info itu wajib publik ketahui. Ini sudah masuk metode investigasi. Jika jurnalis terpaksa menyamar, pake kamera tersembunyi, atau cara sejenisnya, jurnalis wajib, sekali lagi wajib, dalam laporannya menjelaskan bahwa info ini diambil dengan cara deception. Inilah yang disebut transparence in method atau transparansi dalam cara memperoleh info.

  8. dtsd 2 memang rock n roll yah….
    buat all prend in f class, keep contact ajah
    miss u all
    to bang yacob, very 2 inspirate… nice..

  9. wow.. SBY (SiBangYakub)
    ternyata pinter merangkai kata.
    sip lah.. ada yg bikin history ndek jogja

    nicestory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s