Usai Lahap Sambal Jeruk

Apa yang dirasa dari perjalanan roda dua hampir 180 kilometer tanpa rencana

Oleh Yacob Yahya
(4.341 kata)

Kini, kami, 240 bakal CPNS Direktorat Jenderal Pajak, tengah melakoni diklat dasar sejak 23 Februari lalu di Yogyakarta. Diklat ini rencananya berakhir pada 20 April. Perjalanan kami masih jauh. Surat Keputusan CPNS belum kami kantongi. Alih-alih, predikat PNS. Langkah masih panjang. Perjalanan menuju tangga karier ini diawali dengan langkah kecil. Cerita di bawah ini merupakan mula-buka dari diklat tersebut. Inilah cerita sepekan sebelum diklat, kisah tentang tujuh orang peserta asal Pati.

SEPASANG MATA IBU MENATAPKU LEKAT-LEKAT. Seolah ini pertemuan terakhir. Langit senja hendak berganti malam. Matahari sudah redup. Azan magrib hampir tiba. Hari itu Kamis, 12 Februari. Penat usai kerja belum terusir tuntas oleh air mandi. Kami duduk di meja makan. Diam. Masing-masing bermain dengan pikirannya sendiri.

Yang aku pikirkan, malam ini kudu berangkat ke Purwodadi.

Ngatmi, pembantu di rumah kami, menyiapkan makan. Ada sayur bening bayam, tempe goreng, bandeng goreng, sambal jeruk. Ini menu favoritku. Segar dan sederhana. Ibu biasa makan pada saat magrib. Ia tak suka makan terlalu malam.

Sejak 27 Januari, aku balik ke Pati. Setelah dinyatakan diterima kerja di lingkungan Departemen Keuangan pada akhir tahun silam, kami-1.927 orang-harus menjalani kerja magang. Aku dapat Direktorat Jenderal Pajak -yang menerima 1.294 dari total rekrutan Depkeu. Rata-rata kami magang di tempat asal.

Selain aku, ada Purnomo, Ariffianto Wibi Wibowo, Wisik Murti, Ninuk Setyawati, Setyo Nugroho, dan Jendra Purusha Hayuningrat. Hanya aku dan Wibi yang tinggal di Kecamatan Pati. Wisik asal Bima Nusa Tenggara Barat, namun punya Kartu Tanda Penduduk sini dan tinggal di Kecamatan Tambakromo. Ninuk dari Kecamatan Wedarijaksa. Sedangkan Goho dan Jendra malah dari kabupaten sebelah, Grobogan.

Di Grobogan, belum ada kantor pelayanan pajak (KPP). Hanya ada sebuah kantor penyuluhan -istilah resminya, Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Pajak alias KP2KP. Sedangkan sebuah KP2KP tetap berada di bawah koordinasi sebuah KPP. Grobogan satu wilayah dengan KPP Blora. Awalnya wilayah Blora turut KPP Pati. Sejak November 2007, Blora punya KPP sendiri dan pisah. Pemisahan ini -yang juga terjadi pada KPP lainnya, konon, untuk menyempurnakan modernisasi dan reformasi sistem perpajakan. Dulu, tiap wilayah punya tiga jenis kantor: pelayanan (KPP), pajak bumi dan bangunan (KPPBB), serta pemeriksaan (Karikpa). Lantas, desain ini terombak cukup jadi satu atap, yakni sebuah KPP. Sejak itulah, setiap KPP sudah bertaraf modern. Istilahnya jadi KPP Pratama.

Entah kenapa Goho dan Jendra beroleh Pati, bukan Blora.

Goho dari Kecamatan Purwodadi dan Jendra asal Kecamatan Gubug. “Gubug malah dekat dengan Semarang. Itu nama desa, kecamatan, yah juga kawedanan,” Jendra menjelaskan padaku. Kawedanan adalah kumpulan beberapa kecamatan. Dulu, pemerintah daerah juga mengenal karesidenan, kumpulan sejumlah kabupaten/kotamadya, sebelum provinsi. Namun, fungsi kawedanan maupun karesidenan kurang terasa dan hanya memperpanjang birokrasi. Yang ada secara resmi adalah provinsi dan daerah tingkat dua (kota/kabupaten). Di bawah kota atau kabupaten, tetap ada camat.

Cowok berlima kerja di Seksi Penagihan. Kepala seksinya Darius Bomber. Sedangkan dua orang cewek di bawah Kepala Seksi Pelayanan Salamon Carlo. Awalnya kami bertujuh di Seksi Penagihan. Namun seminggu kemudian, cewek pindah bagian. Cowok ajek. Pak Bomber maupun Pak Salamon memperlakukan kami dengan baik. Hampir semua pegawai KPP Pati baik-baik orangnya. Aku pun merasa cepat akrab dan kenal dengan orang-orang di lingkungan baru itu.

KPP Pati punya wilayah kerja dua kabupaten, Pati dan Rembang. Di Pati berdiri KPP, di Rembang ada KP2KP. Mereka terdiri dari 35 kecamatan. Wilayah ini mencatat sekitar 31 ribu wajib pajak, baik badan, pemungut -misalnya bendahara instansi pemerintah, maupun orang pribadi. Tahun lalu, KPP Pati mengumpulkan sekitar Rp211 miliar penerimaan pajak. Angka segitu merupakan 88% dari target penerimaan yang hampir Rp240 miliar. Jumlah itu rupanya tak seberapa -maklum, Pati kota kecil- jika dibandingkan dengan penerimaan pajak nasional yang sebesar Rp571 triliun. Bayangkan, “jika kita kerja setahun tanpa libur, 365 hari, kita harus mengumpulkan Rp1,8 triliun per hari,” ujar Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution ketika memberikan pembekalan kepada pegawai baru pada awal Januari lalu. DJP punya sekitar 330 KPP, dan tentu saja kantong terbesar penerimaan berada di kota-kota besar.

Setidaknya selama hampir sebulan ini aku bisa menemani ibuku. Namun terpaksa jauh dari istriku yang tetap tinggal di Yogyakarta. Selama magang, pada akhir pekan, barulah aku bisa menyambanginya.

“Sudah siap Mas,” Mbak Ngat menyilakan aku makan.

“Makasih, Mbak,” jawabku.

Kuah sayur masih mengebul.

“Makan dulu sebelum berangkat,” sahut Ibu.

“Ya. Ayo Mbak Ngat juga ikut makan,” ajakku.

Kami makan lahap. Terutama aku. Lantaran aku suka menu itu, juga karena lapar. Sambal habis gusis. Cobek tandas. Aku makan dua tempe dan sepotong perut ikan. Nasi cuma sedikit.

Tanduk,” ibuku menyuruh. Tambah.

Tak kuambil lagi nasi. Hanya menyiduk kuah, kunikmati bayam yang menghijau itu. Plus satu lagi tempe.

Mas Yacob seneng banget sambel jeruk,” Mbak Ngat berkomentar dengan tersenyum seri. Masakan hasil olahannya ludas adalah kepuasan yang terbayar baginya. Dengan cekatan ia memberesi perangkat makan.

Aku dan Ibu salat magrib. Mbak Ngat mencuci piring.

SEPUCUK SURAT ITU AKU TERIMA KAMIS SORE. Ia merupakan surat tugas dari Kepala KPP Pati Seno Hendra. Layang itu disampaikan oleh Kepala Subbagian Umum Sutarko. Tiap orang dapat satu. Intinya, surat ini merupakan dasar bagi kami untuk melapor ke Balai Diklat Keuangan di Yogyakarta. Di Yogyalah kami akan menjalani diklat. Batas waktu pelaporan itu adalah Jumat 20 Februari, hari kerja terakhir jelang diklat.

Jumlah peserta di sana 240 orang yang terbagi jadi enam kelas. Jendra di Kelas A, Ninuk dapat Kelas B, Purnomo di Kelas C, Goho di Kelas D, Wisik di Kelas E, dan aku serta Wibi di Kelas F. Pegawai magang lainnya tersebar di tempat balai diklat daerah lainnya. Ada yang di Malang, ada juga yang di Medan. Yang terbanyak, sekitar 700 orang, dapat lokasi Jakarta yang terdiri dari dua balai, Kebayoran Baru dan Kemanggisan.

“Mendingan buruan lapor daripada mepet pas hari terakhir.”

“Berarti kita berangkat besok pagi? Pagi banget?” aku bertanya.

“Kalau cewek berangkat pagi,” jawab Pur.

“Waduh, aku harus cek fotokopi ijazah ada di sini atau di Semarang,” Wibi menyela, “kalau ada, aku berangkat bareng kalian dari Pati, kalau tidak, aku berangkat sendiri saja dari Semarang. Malam ini kalau fotokopinya gak ketemu, aku langsung cabut ke Semarang.”

Ia kuliah jurusan hukum di Universitas Diponegoro. Lagipula orang tua dia juga punya rumah di Semarang.

“Berangkat habis subuh?” Jendra menawarkan.

“Kita juga harus ingat besok hari Jumat, perlu salat Jumat. Berangkat lebih awal lebih baik,” Pur menanggapi.

“Bagaimana kalau malam ini kita ke Purwodadi? Nginep di rumahku saja. Pagi berangkat. Lumayan bisa memotong waktu,” tiba-tiba Goho punya ide -spontan. Yah, memang terlintas begitu saja.

“Boleh,” kami setuju.

Cewek tetap berangkat dari Pati pagi hari. Mereka berboncengan dengan kekasih masing-masing. Wisik dengan Sigit, Ninuk bersama Didin.

“Oke, kalau gitu kita ngumpul di rumahku saja habis magrib. Paling telat jam tujuh kita berangkat,” aku menegaskan.

“Sip.”

Kondisi kayak begini memang menuntut kami berpikir dan membuat keputusan dengan cepat.

“Jadinya berangkat lapor kapan? Besok?” Pak Tarko turut nimbrung.

“Iya Pak. Soalnya anak-anak magang dari KPP lain juga sudah pada laporan,” kami menjawab.

SEPASANG MATAKU MENATAP IBU LEKAT-LEKAT. Senja berganti malam. Tiga kawanku Pur, Jendra, dan Goho sudah menunggu. Waktu itu jelang pukul tujuh. Azan isya belum terdengar. Jalan ramai banyak motor berlalu lalang.

“Dibawa jas hujannya. Itu jas hujan jaman kamu sekolah dulu. Masih ada sampai sekarang, Ibu yang simpan,” pesan Ibu kepadaku dengan mengulurkan benda itu yang terbungkus tas kresek putih.

Jas hujan itu berwarna biru tua. Masih bagus dan terlipat rapi. Utuh, tak secuil pun ada sobek. Aku ingat, jika musim penghujan tiba, jas hujan ini membalutku berangkat maupun pulang sekolah dengan mengayuh sepeda jengki. Ponco maupun sepeda itu, mereka kawan setia yang mengantarku sekolah.

“Wibi gak ikut. Malam ini dia ke Semarang. Kopian ijasahnya tertinggal di sana. Besok dia berangkat sendiri,” Goho memberi laporan dari pesan singkat Wibi.

“Oke, kalau begitu kita berempat saja?” Jendra menyahut.

“Berangkat dulu yah,” tuturku, “temani Ibu dulu yah Mbak,” sambungku kepada Mbak Ngat. Aku ambil helm hitam peninggalan mendiang bapakku.

Inggih, Mas,” jawab Mbak Ngat. Iya.

Aku kecup kening Ibu. Kami berangkat.

Perjalanan tahap pertama dimulai: dari Pati ke Purwodadi. Jaraknya 41 kilometer. Besok pagi, Jumat 13 Februari, kami hendak menuju Yogya via Solo. Purwodadi-Solo sejauh 64 km, dan Solo-Yogya kira-kira 73 km. Perjalanan naik bus butuh waktu enam jam. Masing-masing dua jam Pati-Purwodadi, Purwodadi-Solo, dan Solo-Yogya. Sudah pasti jenuh dan membosankan. Belum lagi gerahnya. Belum ada bus AC pada trayek ini. Entah mengapa, belakangan ini bus doyan ngetem. Padahal, sewaktu kuliah, aku getol lewat jalur ini daripada menyusuri Yogya-Magelang-Semarang-Pati yang makan waktu enam-delapan jam. Dulu, Yogya-Pati lewat Solo-Purwodadi hanya lima jam. Apalagi jika berangkat usai subuh, bisa lebih ringkas lagi, hanya empat jam. Jalur Purwodadi hanya bisa dilalui pada pagi hingga sore jelang petang. Malam hari sudah tak ada bus. Akan lebih bebas jika kita berkendara pribadi. Namun, kita harus ekstra hati-hati. Maklum, kondisi jalan di sini parah, gampang rusak meski kerap diperbaiki. Lagipula, belum banyak lampu pinggir jalan, terutama di daerah hutan jati atau persawahan yang jarang pemukiman penduduknya. Konon, banyak garong dan begal dari balik hutan jati yang siap menyergap pengendara roda dua yang sendirian.

Sekali aku pernah naik motor dengan membonceng Adri, temanku waktu KKN -kami rupanya satu asal dari Pati, bahkan dia kakak kelasku waktu sekolah menengah atas. Itung-itung lebih irit memangkas ongkos bus. Waktu itu, tahun 2003, kami berangkat pada jam enam pagi, sampai Pati pukul dua belas siang. Sekarang, total biaya bus Rp30.000 dengan ceban tiap jalur.

Aku jadi ingat akan perjalanan jauh naik motor Yogya-Purbalingga.

“Mau aman? Yah di belakang truk saja atau mobil. Itung-itung ada ‘pengawalan’,” komentar Pur memberi tip perjalanan malam via Purwodadi.

Tiga sepeda motor itu meluncur dengan kecepatan sedang, sekira 60 km per jam. Aku membonceng Jendra, sedangkan Pur dan Goho berpacu sendiri-sendiri. Dari rumahku di Jalan Kyai Saleh, kami lurus ke selatan menuju Jalan Kamandowo. Perempatan Jalan Sudirman kami seberangi. Mentok pada pertigaan pangkal Jalan Kamandowo, kami ambil kiri. Tepat lampu merah perempatan Pasar Rogowangsan, kami ancang-ancang belok kanan. Inilah jalur selatan menuju Purwodadi.

Purwodadi turut Kabupaten Grobogan. Sebelum ke Grobogan, dari Kecamatan Pati, Anda harus melalui tiga kecamatan lainnya yang masih ikut Kabupaten Pati: Gabus, Kayen, serta Sukolilo yang terletak paling selatan. Kondisi tanahnya berkapur, berpotensi jadi pabrik semen. BUMN Semen Gresik berencana membangunnya di sini, tepatnya di daerah Gunung Kendeng. Yang jadi masalah, Gunung Kendeng sudah dikukuhkan jadi kawasan konservasi lingkungan. Apalagi di sana hidup komunitas lokal Sedulur Sikep yang menolak keras pendirian pabrik serbuk abu-abu itu. Sedangkan nama-nama kecamatan di Grobogan saya tak hapal. Paling tidak ada Jatipohon yang bersebelahan persis dengan Sukolilo.

Tugu Desa Blaru -lebih dikenal “Pentol” karena bentuknya seperti pentol korek-sudah kami lalui. Sebentar lagi ada pompa bensin. Jendra tiba-tiba memutuskan hendak ambil barisan paling depan. Ia menyalip Pur dan Goho.

Rupanya… “aku kudu nguyoh,” teriaknya. Aku kebelet kencing.

Kami berhenti di pompa bensin. Pur dan Goho turut berhenti menunggu kami. Lagian, Jendra juga isi bensin. Dia bayar Rp10.000, aku iuran separo. Aku ikut-ikutan hendak ke toilet. Blaik. Di sana banyak serangga kecil-kecil. Satu kamar mandi dikeroyok kerumunan serangga macam laron itu. Pada malam hari, tatkala lampu menyala, serangga memang suka mengerubungi pijar. Apalagi, jika lingkungan sekelilingnya gelap. Toilet itu bertetanggaan persis dengan persawahan. Jendra yang baru sebelah kaki masuk kamar kecil, langsung keluar tak jadi buang hajat.

Dasar, sekawanan serangga itu mubal bukan main.

Dengan menahan HIV, “hasrat ingin vivis”, Jendra lanjut mengendarai motor. Jembatan Kali Tanjang kami lewati. Di bawahnya, sungai itu gelap mengalir. Malam-malam begini segalanya nampak hitam. Sungai yang tenang itu makin terasa dalam dan kekar. Pada musim hujan kayak ini, sungai itu mengamuk dan luber menggenangi desa sekitar. Sawah-sawah terendam, padahal sudah menghasilkan padi kuning. Jalan desa juga tergenang air. Sebagian warga “memanfaatkan” air bah itu dengan mancing di pinggir sawah dan… mencuci motor pada genangan air di jalan.

Beberapa ratus meter kemudian, Jendra berhenti. Dia sudah tak tahan. Dia kencing di tepi pohon pinggir jalan. Kami bertiga lainnya hanya tertawa.

“Ini pasti efek minum teh,” celetukku. Sebelum berangkat, Mbak Ngat menyuguhkan segelas kecil teh.

Usai lepas satu beban, bukan berarti perjalanan lancar. Hambatan kali ini adalah kondisi jalan yang rusak. Kayak gulo kacang. Gulo kacang adalah cemilan tradisional Jawa terbuat dari gula kelapa. Di tengah bulatan gula yang mengeras itu muncul beberapa butir kacang tanah. Mungkin lantaran terdiri atas gula kelapa dan kacang tanah, penganan ini punya nama begitu. Teksturnya bergeronjal seperti jalan rusak.

Tanpa sadar dan tak bisa mengelak mendadak, motor Jendra “makan” gulo kacang. “Waduh,” aku yang membonceng di belakang kaget.

“Sori Pak. Dasar truk di depan menghalangi pandangan.”

Aku memilih bonceng Jendra karena aku yakin dia yang paling piawai berkendara. Sedangkan Goho, “dia kurang berani ngebut,” komentar Jendra. Beberapa kali tiap akhir pekan usai kerja dia pulang kampung bareng. “Aku harus pelanin laju motor kalau dia ketinggalan jauh,” sambungnya.

Benar saja, Goho tertinggal jauh di belakang.

JALANAN MASIH TERANG OLEH NYALA LAMPU RUMAH PENDUDUK. Kami belum meninggalkan Kabupaten Pati. Aku tertegun melihat Indomaret di Kecamatan Kayen. Rupanya jaringan ritel itu makin masuk ke pelosok.

Pada Pasar Sukolilo, laju kami tersendat. Rupanya ada pasar malam. Ada komedi putar, bazar, dan sebagainya. Tentu ini hiburan bagi warga sekitar. Beberapa kali waktu aku sekolah, entah kemah bakti sosial maupun kegiatan Pramuka, kami singgah di kecamatan ini. Kala itu infrastruktur minim. Lampu belum masuk desa. Penduduk bakal girang jika ada pasar malam atau kemah anak sekolah.

Lepas dari pasar malam, kami berada di belakang truk. “Awas,” aku mengingatkan Jendra yang hendak menyalip truk itu.

“Kenapa? Pelan saja?”

“Bukan. Sebentar lagi ada tikungan.”

Tikungan itu dinamai “tikungan ular”. Sedikit tajam kelokannya, ditambah jalannya yang menanjak jika ke arah Purwodadi. Dari arah sebaliknya, tikungan itu menurun tajam. Orang kudu hati-hati di sini.

Lepas dari tikungan ular, kami berhasil menyalip truk itu.

Langit gelap berkilat-kilat. Beberapa butir air sudah jatuh dari tadi. Rumah penduduk makin jarang jumlahnya setiba kami di Jatipohon. Jalanan lengang. Hanya semak, persawahan, maupun pepohonan jati yang ada. Tiada lampu jalan maupun tiang listrik. Sunyi. Kalaupun ada bebunyian, itu nyanyian sato-kewan. Ada kodok. Jangkrik. Desis, mungkin ular, di balik semak. Serangga. Dan sebagainya.

Belakangan, sepekan kemudian usai perjalanan ini, sewaktu kami tidur menginap di rumah Wibi, aku dan Jendra bertukar cerita seram. “Kalau malam-malam lewat Jatipohon harus hati-hati. Saudara sepupuku pernah lihat kuntilanak. Dia naik mobil sendirian. Dia lihat di depan ada wanita berjubah putih panjang, rambutnya panjang menutupi muka. Pokoknya dia kayak melayang di depan mobil. Hendak ditabrak gak bisa-bisa. Pokoknya jangan berhenti. Kalau berhenti malah celaka, masuk jurang atau gimana. Pokoknya kalau digoda penampakan seperti itu jalan terus saja jangan berhenti. Jangan belok mendadak guna menghindar. Itu pantangannya loh. Saudaraku untungnya jalan terus. Tapi gak tahu kenapa dua kaca spionnya pecah. Padahal kondisi di luar hujan kayak sewaktu kita jalan malam itu.”

“Kok waktu itu kita gak diweruhi yah?” aku menyahut. Kok kita tidak ditampaki yah.

“Kan bawa teman. Biasanya yang digoda yang jalan sendirian, terutama yang bawa mobil. Kalau naik motor malah enggak.”

Dan malam itu kami tak melihat sekelebat pun bayangan si hantu.

Beberapa saat Jendra berhenti. Kencing lagi.

Usai tuntas pit-stop kedua, Jendra tancap gas. Kami masih yang paling depan. Hujan jatuh. Kami berhenti dulu. Lagipula Goho tak terlihat dari tadi. Kami sangka dia tertinggal jauh. Eh, rupanya sesaat kami berhenti, dia melaju meninggalkan kami. Purnomo menyusul. Kami tertinggal di belakang.

“Kali ini performance-nya bagus,” salut Jendra.

“Pasang jas hujan yuk.”

“Oke.”

Akhirnya berguna juga jas hujan pemberian Ibu. Jendra pakai jas hujan model pisahan -bawahan celana dan atasan baju lengan panjang. Setidaknya ada dua jenis jas hujan. Yang pertama terusan seperti jubah seperti milikku. Dan kedua model kayak punya Jendra. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Kalau model terusan, dia bisa melindungi tas yang kita bawa. Tapi, rawan terjerat jeruji roda. Kalau pisahan, aman buat berkendara. Tapi cuma pas buat badan dan bawaan bisa basah,” aku berpendapat.

“Makanya aku bawa dua. Ini di dalam jok masih ada satu. Model terusan. Yang satu pisahan aku pakai. Komplet kan?” seloroh Jendra.

Kami terkekeh.

Hujan makin melebat. Pandangan makin pendek. Pusat kota Purwodadi hampir teraih. Ini sudah sampai Kecamatan Grobogan. Di pinggir jalan depan emperan toko bahan bangunan, kami lihat dua orang pria ngiup melambai-lambai tangan. Rupanya mereka Pur dan Goho yang dari tadi berteduh. Lucunya, motor mereka parkir tepat di bawah tampiasan air hujan yang jatuh dari genting. Waktu itu jam delapan kurang seperempat.

Jalanan tergenang air semata kaki. Hanya beberapa mobil lewat. Bus juga berlaluan. Mungkin mereka balik kandang. Beberapa pengendara motor nekat kebasahan. Sebagian sudah pasang jas hujan. Seorang penjual mie ayam mendorong gerobaknya. Sebuah truk melaju dari belakang.

Cprot. Air genangan menyemburat mengenai si tukang mie.

“Heh. Asssuuu…” teriaknya sambil mengumpat.

Truk tetap melaju. Mana si sopir dengar teriakan dari luar macam begitu.

Hampir setengah jam kami bergerombol di depan toko yang sudah tutup itu. Setelah sekian lama menimbang-nimbang hujan tak bakal surut, tapi sudah mulai reda, kami putuskan lanjut jalan.

“Hujan kayak gini awet. Gak lebat tapi intens. Mending cabut aja yuk,” ajakku.

Untungnya sewaktu kami melintasi alun-alun kota, hujan berhenti. Aku perlu singgah ke kios cetak foto. Goho mengantar kami ke “Cetak Foto Mirah”. Aku harus cetak foto 3×4 buat laporan besok. Aku masih memakai jas hujan masuk toko. Pemilik maupun pelayan memandang heran. Tiga teman menunggu di luar sambil menjaga motor.

Selesai mencetak foto, kami meluncur ke simpang lima. Kami ambil jalan sebelah Gedung Olah Raga. Di baliknya ada lapangan sepak bola markas Persipur.

“Kalau aku sih gak setuju ada kompetisi sepakbola. Habis-habisin APBD. Mending Persipa bubar. Lebih baik dana daerah buat pembangunan. Apa semua rakyat suka sepakbola? Apa sih keuntungannya buat rakyat,” ujar Purnomo.

Persipur adalah klub bola asal Purwodadi yang mengarungi Liga Divisi I. Sedangkan Persipa adalah klub asal Pati yang sudah lama gulung layar lantaran bangkrut gak punya sponsor dana. Maklum, klub bola butuh banyak fulus, mayoritas guna membayar gaji pemain. Pemain yang dianggap bintang acap meminta bayaran selangit, tak peduli kekuatan kantong klub. Sedangkan klub sendiri kebanyakan belum mandiri, cukup menetek pemerintah setempat lewat anggaran daerah. Jarang -jika tak mau disebut tak ada-klub yang berdikari, menjaring sponsor sendiri secara independen tanpa membebani duit rakyat.

Kami masuk gang kompleks perumahan. “Ini perumahan RSS,” celetuk Goho si empunya rumah. RSS adalah singkatan dari Rumah Sangat Sederhana, sebutan untuk rumah murah tipe kecil.

Sampailah juga kami di tujuan, sebuah rumah di Jalan Mangga. Di sana sudah menunggu orang tua dan nenek Goho. Kami disuguhi makan malam sate dan sayur lodeh. Malam itu kami istirahat, sembari nonton “Troy” di Transtv. Ada Brad Pitt, Eric Bana, dan Orlando Bloom. Namun malam itu aku tak bisa tidur pulas.

SUBUH, KAMI BANGUN. Lantas bergiliran mandi. Kemudian memanasi mesin motor. Lalu sarapan telur ceplok lumur kecap. Kami berhubungan lewat sms dengan Wisik maupun Ninuk. “Sudah sampai mana?”

Mereka tiba di simpang lima pada pukul enam. Kali ini aku membonceng Pur, sedangkan Goho bersama Jendra. Motor Goho dia kandangkan. Wisik bersama Sigit dan Ninuk dengan Didin. Pada pagi yang cerah itu, kami meluncur ke Yogya.

Rupanya gulo kacang di sepanjang jalan ini lebih besar. Ini jalur memang sarat truk dan bus. Mereka kendaraan besar yang sarat beban. Aku miris jika motor mendadak berkelit dari kubangan lubang atau menyalip truk. Untung, Pur tak kalah trampil ketimbang Jendra.

“Kalian apa gak takut naik motor?” tanya Pak Salamon kepada Wisik dan Ninuk beberapa hari sebelumnya, “saya gak bisa membayangkan loh,” sambungnya yang lebih memilih naik mobil tiap kali berkendara jauh.

Kami lalui Gundih dan Toroh. “Musuh” kami, truk dan bus yang menang-menangan. Kalau truk cenderung lamban. Kalau bus itu loh. Merasa jadi raja jalanan. Untungnya hujan tak datang. Kebanyakan rumah penduduk yang kami lewati masih berlantai tanah. Ada kandang ternak di samping halaman: sapi dan kambing. Kebanyakan mereka ber(buruh)-tani.

Purnomo agak bingung. “Lewat mana?” tanya dia padaku.

“Belok saja, lewat Kedungombo.”

Dia bimbang. Jalur lurus adalah jalur umum yang dilewati bus. Tak bakal tersesat. Namun, kebanyakan pengendara pribadi suka belok kanan, via kawasan Kedungombo. Di daerah ini ada bendungan yang mengairi sawah Grobogan maupun Boyolali. Waduk ini didirikan pada era Orde Baru.

Perjalanan sempurna. Mentari hangat. Udara masih sejuk. Jalanan sepi karena kami memisah dari jalur umum. Penduduk tersenyum ramah. Kami seberangi rel kereta. Aspal meretas terbelah-belah. Sesekali kami melambat agar rombongan belakang tak ketinggalan. Jendra-Goho tetap di depan sebagai penunjuk jalan. Aku sendiri tak begitu hapal akan jalur ini. Aku hanya sekali melewatinya, usai Lebaran tahun lalu sewaktu keluarga kami berkunjung ke Kartosuro menyambangi keluarga Murjayanti (waktu itu calon) istriku –kami menikah pada 27 Desember lalu. Kala itu perjalanan kami serahkan pada Mas Ipik, sopir sewaan.

Purnomo kembali bingung. Aku pun demikian. “Lurus atau belok kanan?” tanya dia waktu menemui persimpangan jalan mirip huruf “Y”.

“Kurang tahu. Kayaknya belok kanan yah.”

Syukurlah, Jendra tak meninggalkan kami. Dia berhenti beberapa meter di depan kami, ambil jalan lurus. Apa jadinya jika kami terlanjur belok kanan?

Jalan naik-turun. Ini memang daerah pegunungan kapur. Jangan sampai deh motor mogok di sini. Tak ada pompa bensin, pun zonder bengkel. Rumah penduduk juga jarang. Apa mau menuntun motor jauh-jauh?

Akhirnya kami temukan jalan besar. Di seberang sana terlihat sekolah Muhammadiyah Sumberlawang. Kami tak lewat terminal Sumberlawang yang ditempuh lewat jalur kendaraan umum. Jadi itung-itung kami potong jalan. Selanjutnya kami belok kanan, kembali bergabung ke jalur biasa.

Kabupaten Karanganyar kami rambah. Sebentar lagi masuk daerah Sangiran. Di sini banyak pelaku usaha mebel dan furnitur. Mereka terbentang memanjang dari Karanganyar-Boyolali-Solo, bahkan hingga Klaten jelang Yogya.

Goho dan Jendra memutuskan isi bensin. Aku dan Pur memutuskan terus melaju. Selang beberapa jurus, rombongan di belakang tak tampak. Aku berkali-kali tengok belakang tapi tetap nihil. Apakah mereka jauh tertinggal? Kami memutuskan isi bensin pada pompa bensin berikutnya, sambil menunggu rombongan. Tapi tak kunjung tiba juga mereka. Kami lanjutkan langkah dengan pelan.

“Jangan-jangan mereka belok kanan lewat Nogosari?” aku menduga.

“Kita jalan terus saja?” sahut Pur.

“Jalan saja, sambil aku telepon.”

Aku pun memutar nomor Goho. “Sampai mana?”

“Aku gak dengar jelas Pak. Kami sampai bandara.”

“Nah benar kan. Jadi mereka lewat Nogosari.” Waktu itu kami baru masuk Solo kota, persis depan Terminal Tirtonadi. Makanya, mereka tak kunjung nongol juga setelah sekian lama kami tunggu. Pur kembali tancap gas.

Nogosari turut Boyolali. Ia diraih dengan belok kanan usai Sangiran. Keluar-keluarnya, Bandara Adi Sumarmo Kartosuro. Jadi, tak lewat Solo kota. Ini memang bukan jalur bus besar yang kerap aku tumpangi. Mirip-mirip jalur Kedungombo tadi. Jalannya juga enak tidak rame.

Sementara itu Didin-Ninuk harus cari bengkel di Kartosuro. Ban bocor.

Sisanya adalah jalan yang sama dengan jalur umum. Tak ada alternatif jalan singkat lainnya. Habis Solo yah Kartosuro, Sukoharjo, lantas Delanggu, Penggung, Klaten kota, Prambanan, lalu Yogya. Untungnya, lokasi Balai Diklat di Kalasan. Ia dekat Prambanan. Adalah sebuah keuntungan jika kita datang dari arah Solo. Sebaliknya, jika kita lewat Magelang, tentu tiba dahulu di Terminal Jombor atau Jalan Magelang. Barulah lewat jalan lingkar (ring road) ke Monumen Jogja Kembali, lalu Kentungan, Maguwoharjo, lantas ke timur. Justru lebih gempor. Pendek kata, meski sama-sama di daerah Sleman, Kalasan adalah kawasan timur, sedangkan Jombor daerah barat.

Kami bisa mengejar rombongan Wisik dan Jendra. Ninuk masih tertinggal. Kami bertemu di lampu merah Candi Prambanan. Selang beberapa saat, tiba juga kami di Balai Diklat, jelang pukul sepuluh. Wibi belum tampak. Lewat sms, dia mengabarkan baru sampai Ambarawa.

Kami melapor di loket depan. Lalu masuklah rombongan dari KPP Demak.

“Siapa yang Kelas D? Kelas D? Kelas D?” Goho seperti penjaja tiket bus saja mencari-cari calon teman sekelas.

“Kelas F?” saya ikut-ikutan.

“Saya Mas,” Indah Setiowati dari KPP Demak menjawab. Indah sebenarnya asli Muntilan. Ia lulusan Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Kami kemudian mengobrol. Kenalan. Isi blangko dan menyerahkan foto.

“Saya Kelas A,” Jendra menawarkan diri mencari tandem.

“Saya Kelas C,” Pur juga.

Kemudian rombongan asal Semarang tiba. Baik anak Demak maupun Semarang naik mobil. “Kalau kita santai saja, biker,” canda Goho.

“Eh, kalian yang ketemu kita di jalan tadi kan? Berarti kita lebih cepat dong,” sapa Indah kepada anak Semarang.

Cowok-cowok itu masih kikuk mengangguk.

“Siapa yang Kelas F?” aku cari kenalan.

Sesosok lelaki berambut cepak berkaca mata memperkenalkan diri. Namanya Muhith Harahap. Ia dari KPP Semarang Selatan. Baik Muhith maupun Indah, nantinya adalah teman sekelasku dalam diklat.

Ninuk barusan sampai. Tuntas mengurus laporan, kami cari makan di warung depan. Lagipula aku juga menunggu istriku datang.

INI DUSUN JUWANGEN. Harga sewa kamar kos di sini makin naik tatkala ada diklat Depkeu macam begini. Ini rezeki nomplok bagi para induk semang. Mereka menadah panen dari para peserta diklat yang tak dapat jatah asrama. Dan peserta diklat kali ini tak diasramakan. Daerah Kalasan ini tak semarak daerah Yogya lainnya yang berserak kampus besar. Di sini setahuku hanya ada Ukrim, sebuah perguruan tinggi ilmu agama. Normalnya, menurut Mur istriku, tarif sebulan kamar kos Rp150.000. Khusus peserta diklat, harga bisa melejit hampir dua kali lipat. Untunglah istriku dapat menemukan rumah kos Ibu Samidi. Sekamar Rp250.000. Itu belum ongkos listrik. Kalau dihuni dua orang, ongkos tinggal dibagi dua. Itung-itung, masih cukup murah bukan? Ada juga, di rumah lain, sekamar Rp500.000. Tapi sudah ada jasa cuci pakaian.

Kamar kos itu lumayan lebar. Aku taksir tiga kali tiga meter persegi. Sejuk, tak gerah. Lantainya keramik putih. Rumah kos itu dua lantai. Tiap lantai ada delapan kamar. Tiap empat kamar disediakan sebuah kamar mandi yang lumayan luas. Bisa buat mencuci pakaian. Tersedia juga ruang parkir yang muat lima sepeda motor dan tempat jemur pakaian bersambung dapur. Keluar dari balai diklat, Anda tinggal jalan kaki ke kanan menuju sebuah warung bubur kacang ijo (burjo). Lantas lanjutkan langkah Anda menyusuri gang kecil lurus ke barat. Kami perlu berterima kasih kepada istriku yang capek-capek mencarikannya buat teman-temanku asal Pati.

Sedangkan aku? Masih punya kamar kos di Janti dekat kos istri. Itung-itung bisa dekat dengan pasangan dan kumpul setiap saat.

Kami menengok kamar kos itu setelah melapor. Kami hendak menempatinya pada hari Minggu 22 Februari tepat sebelum diklat. Bu Samidi, si pemilik, tak selalu ada. Dia serahkan pengelolaan pada Lina, yang menjaga rumah kos ini.

Setelah itu, pada pukul sebelas, kami meluncur ke kosku di Janti. Istirahat sejenak. Cowok salat Jumat. Usai salat, satu per satu balik pulang ke Pati. Jendra dan Goho ke Purwodadi. Purnomo pulang belakangan. Dia ada janji dengan kawan lama di Plaza Ambarrukmo. Dia baru pulang pada pukul dua siang.

Tinggallah aku di Yogya hingga Minggu, bersama istriku.

SEPASANG MATA ISTRIKU MENATAPKU LEKAT-LEKAT. Seolah ini pertemuan terakhir.

“Hati-hati yah. Selamat ulang tahun. Salam buat Ibu,” tuturnya lirih di ambang pintu bus Yogya-Solo.

Hari Minggu (15/02) pukul 09:30 itu cerah. Mentari tak terik. Sekaligus ini hari tepat usiaku 27 tahun. Istriku mengantarku ke halte bus di daerah Janti. Aku harus pulang ke Pati. Besok kami sudah wajib kerja seperti biasa.

Aku mengangguk kecil. Dia kecup punggung tapak tangan kananku. Lantas aku tertelan masuk pintu bus. Dari balik jendela kaca tempat duduk, kulihat dia masih berdiri di luar. Seiring berlalunya bus, ia pun mengendarai motor meninggalkan halte.

14 responses to “Usai Lahap Sambal Jeruk

  1. ajib pak yakub…aku salut ma sampeyan….ak ga salah pilih mencari teman seperti jenengan…cobra selalu melekat di hati kita pak!!!Siap lanjutkan!!!

  2. selamat menjadi abdi negara😀

  3. @Goho: Thx atas komentarnya

    @komikb4: Makasih banyak atas beberapa komentarnya. Sayang, jejak URL Anda tak terbaca. Bisa tulis lagi alamat blog-nya? Thx.

  4. walah, udah jadi PNS toh sekarang. pantes lama gak kedengaran di milis AJI. selamat mengabdi pada negeri, pak..

  5. Bli Anton,
    Makasih atas kunjungannya. Hehehe… saya berencana nulis semuanya, soal peralihan dari jurnalis jadi cpns kyk sekarang. jd semacam testimoni. lg ngumpulin semangat buat himpun cerita. hehehe…

  6. Gaya bertulis jenengan menarik Mas. Saya jadi pengen belajar. Salam kenal dari Pratama Demak. Met Gabung di instansi modern yang masih butuh “perbaikan” …

  7. Mas Satria,
    Salam kenal juga. You flattered me. Saya cuma seorang mantan jurnalis yang masih belajar menulis. Kebetulan saya pernah kursus jurnalisme sastrawi. Ia diselenggarakan oleh Yayasan Pantau. Kursus ini menawarkan kiat menulis reportase panjang dan memikat.

  8. mas mau tanya, pantau masih ngadain kursus jurnalisme sastrawi lagi g?

    nie alamat websitenya…komikb4.wordpress.com

  9. komikb4,
    Setahu saya Pantau masih mengadakan kursus. Tak cuma di Jakarta, beberala kali Pantau menyambangi kota lain. Jurnalisme Sastrawi yang berdurasi lebih pendek, selama dua minggu. Sedangkan Jurnalisme Narasi lebih intens, beberapa bulan. Namun saya kurang tahu detil jadwalnya.

  10. pak yacob memang josss. semoga kita tetap bersahabat ya…

  11. blog apa cerpen….

  12. kangen suasana pati, baca-baca cerita pak Yacob jadi senyum-senyum sendiri, lagi dan lagi…… gak kerasa dah 2 tahun yang lalu…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s