Bangkai Luwak

GRUSAK-GRUSAK-GRUSAK…
Gluduk-gluduk-gluduk…
Brak-bruk-brak-bruk…
“Kerrr…kerrr…kerrr…iuk, iuk, iuk…”

“Apa itu Yang?” Murjayanti, istriku, risau, “jangan-jangan… ular.”

Suara gaduh itu berasal dari balik plafon eternit kamar kosku di bilangan Janti Sleman DIY. Waktu itu akhir pekan seminggu yang lalu. Akhir-akhir ini aku menilik istriku tiap pekan. Aku sebulan terakhir ini harus magang kerja di tempat asalku, Pati Jawa Tengah. Dua bulan ini mulai 23 Februari hingga 20 April aku balik Yogya lagi, ada diklat dasar bagi calon CPNS Departemen Keuangan. Aku di instansi Direktorat Jenderal Pajak.

Ini bukan suara ribut yang pertama kalinya. Hampir tiap hari, sewaktu aku masih tinggal di kamar ini, aku mendengarnya. Entah di siang hari atau pada malam hari. Tapi kali ini, suara itu kian riuh.

“Alah, Mi selalu bikin panik kayak gitu,” aku agak jengkel. Dia tak jarang buat pernyataan yang bikin aku takut. Sedikit-sedikit ular, sedikit-sedikit ular.

Tumpukan daun kering yang berwarna coklat pun pernah dia sangka ular lagi melingkar. Ada decit tikus di atap sebuah rumah pun pernah dia duga ada ular sedang menerkam hewan pengerat itu. Pokoknya, phobia banget istriku pada ular.

Dia memang pernah tergigit ular hijau berekor merah sewaktu memanjat tebing alam beberapa tahun lalu. Ular itu tergolong ganas. Untunglah nyawanya selamat. Umumnya, usai menggigit lawan dan kehilangan bisa, ular juga terkuras tenaganya. Mudah ditangkap lantaran kecapekan, ular itu segera dibeset empedunya. Mur harus cepat menelannya agar racun yang menjalar jadi tawar. Terlambat sedikit, bisa jadi aku tak pernah bertemu dengannya dan takkan menikahinya.

Aku tak bisa membayangkan jika langit-langit kamarku tiba-tiba ambrol, lantas ada ular gede jatuh menimpa lantai kamarku. Atau, jatuh tepat di atas kepalaku.

Sejumlah terkaan melayang-layang di rongga kepalaku. Tikus? Binatang sekecil itu tak mungkin bikin suara serame itu. Kucing? Lalu kenapa tidak ada suara meong? Ular -seperti yang diujarkan istriku? Boleh jadi tapi jangan sampai deh. Eternit depan kamarku memang ada yang bolong. Sedangkan di dekatnya menjalar rerantingan pohon mangga dan rambutan.

* * * * *

“BAU APA INI? KAYAK BANGKAI,” selidik istriku sambil menutup lubang hidung, Sabtu malam itu (21/02). Aku baru saja datang dari Pati naik bus. Aku masih capek. Perjalanan lambat, hampir enam jam. Tiga kali aku ganti bus. Pati-Purwodadi, Purwodadi-Solo, dan Solo-Yogyakarta. Aku agak tak hirau. Yang penting aku pengen segera tidur. Tubuh sudah dihajar lelah.

Minggu pagi (22/02) kami hendak cari sarapan. Langkah istriku tertahan di depan pintu kamar. “Bi, coba lihat itu,” repetnya sambil menunjuk sesuatu ke arah genting atap rumah induk. Atap rumah itu bisa aku jangkau dari muka kamarku yang terletak di lantai atas, sedangkan rumah induk di lantai dasar.

Seonggok bangkai luwak tergeletak. Kerumunan lalat mengeroyok moncong dan pantatnya. Bulunya kelabu. Buntut panjangnya berwarna hitam.

Eternit atas teras depan kamarku jebol satu petak lagi.

“Aku mau bilang Mas Fajar,” balasku seraya menuruni tangga hendak menemui bapak kosku.

Fajar Saptono dan istri adalah induk semangku. Mereka pasangan muda yang dipercaya bibi mengurus rumah kos ini. Mereka tak tiap hari di sini. Asal mereka Kartosuro Sukoharjo Karesidenan Surakarta. Untunglah Sabtu malam lalu mereka di rumah.

“Mas, ada bangkai luwak di atas,” aku melapor.

“Oalah. Kemarin aku juga cium tapi gak ketemu. Aku pikir di bawah.”

Sejurus kami ke lantai atas lagi.

“Belum pernah saya lihat hewan kayak gini. Gede juga yah,” tutur Mas Fajar sambil bawa bendo dan menutup mulut-hidungnya dengan selembar slayer berwarna hijau. Luwak atau garangan jelas dua kali lipat daripada kucing dewasa.

Dia angkat ekor tubuh tak bernyawa itu, dia lempar ke tanah bawah.

Buk, mayat berdebam.

“Kok bisa di atas (plafon rumah) yah?” istriku penasaran.

“Mungkin dia cari ayam. Mati kelaparan di atas,” jawabku sekenanya.

“Atau gelut sama ular?”

Ular lagi ular lagi, aku hanya membatin.

“Kalau ditelan ular gede gak mungkin. Mangsa yang dilepeh ular gede pasti basah. Lah ini kering kok. Kalau kegigit ular kecil juga gak ada warna biru bengkak bekas kena racun. Mungkin dikeroyok tawon, tapi kok tidak bengkak kena sengat. Mungkin kesetrum kabel. Atau memang mati kelaparan,” aku kasih beragam kemungkinan sebab kematiannya.

Bangkai itu sudah dikubur Mas Fajar di halaman kebun samping rumah.

Ada luwak masuk kampung manusia. Pertanda habitat asli mereka mulai tergusur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s