Berburu Petis Runting Yuk

Menguak kekayaan kuliner khas Pati

Oleh Yacob Yahya
(1.123 kata)

Selain getuk, Runting masih punya masakan andalan. Petis kambing namanya.

GAJAHMATI BOLEH PUNYA GANDUL. Kemiri bisa memiliki soto. Kalau Runting? Ada petis. Lengkap sudah. Gajahmati bawa sapi, Kemiri raja ayam, dan Runting jagonya kambing. Ketiganya merupakan nama desa di Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Mereka menawarkan makanan khas kebanggaan kota pantai utara Jawa ini.

Petis?

Ini bukan cairan pekat hitam olahan dari rebusan ikan yang mengolesi tahu goreng. Ia bukan “tahu petis” yang sudah dikenal umum. Petis yang satu ini merupakan variasi masakan daging kambing.

Sepiring harganya dua ribu rupiah. Ia bisa dimakan gado atau boleh dilahap dengan nasi. Sama nikmatnya. Plus murah meriah.

Sekilas rupa makanan ini seperti gule. Kuahnya hijau bersantan. Bedanya dari gule, kuah itu bercampur tepung beras dan rebusan daging yang sudah lebur. Jadi, ada sensasi banyak butiran kenyal hangat yang lumer ketika kuah sudah masuk di mulut. Rasa duduh itu gurih. Zonder kecap sudah nikmat. Ada beberapa potong bagian kambing yang berenang di kuah. Cuma, keratan itu kebanyakan gajih atau lemak serta balungan. Enaknya menghajar petis yah itu. Kita harus sedikit repot menghisap-hisap tulang.

Runting punya banyak warung makan kambing. Tiap lapak menawarkan menu sate dan gule. Kepala kambing juga ada. Sebagian warung menambahkan menu petis sebagai penarik pengunjung. Belakangan orang Runting hijrah ke desa lain buka warung kambing. Tapi, jika Anda mau petis, harus rela bertandang ke Runting. Di sinilah petis tulen berada.

Selama ini, Runtin terkenal akan getuknya -kue tradisional dari ketela.

Mau ke sana? Bawa kendaraan Anda meluncur ke arah Kecamatan Trangkil. Jika dari arah kota, sasarlah Rumah Sakit Umum RA Soewondo. Dari rumah sakit, tetap lurus ke utara. Pada kiri jalan ada pom bensin, lantas pada kanan jalan ada barak tentara Senapan C “Alugoro”. Alugoro sendiri adalah nama sebuah senjata pusaka dalam cerita wayang.

Beberapa ratus meter dari Alugoro sudah terhampar deretan warung makan kambing di pinggir jalan. Sudah pasti menunya adalah sate dan gule. Silakan pilih yang juga menyajikan menu petis.

WARUNG MAKAN ITU KECIL. Sempit. Lantainya tanah. Hanya ada empat meja panjang dengan sederet kursi. Satu meja berada di sisi timur. Di seberangnya, tiga meja saling beradu membentuk huruf “U”. Di atas meja tersaji minuman botol, mulai teh hingga air bekarbonasi macam Sprite dan Coca Cola. Di balik ruang pengunjung, terdapat lima kompor. Mereka berguna untuk menanak nasi, merebus air, menghangatkan kuah gule, dan lainnya.

“Buat macam-macam. Saya gak pakai gas. Mahal. Langka lagi. Juga gak pakai kayu. Nanti dindingnya pada hangus hitam. Paling cocok pakai minyak tanah. Tapi sekarang harganya lagi mahal,” ujar wanita itu kepada saya, dalam percakapan hangat di halaman samping warung.

“Harga minyak malah lebih mahal daripada harga bensin,” timpal Sonhaji, suaminya.

Saya menemui mereka dan berbincang dengan bahasa Jawa halus. Sekali ketemu langsung akrab. Kedua anak putri pasangan ini menggelendot manja. Saya taksir usia mereka sekolah dasar.

Seorang gadis yang saya duga berusia awal dua puluhan hanya diam menyimak. Ia duduk dekat pintu samping. Dara itu membantu melayani pengunjung serta masak-masak. Waktu itu tamu sudah terlayani semua. Ia bisa istirahat sejenak.

“Sebelumnya kami jualan dekat pasar. Kecil-kecilan. Baru delapan tahun kami pindah di sini, sejak 2001. Buka jam sebelas siang, tutup jam sembilan malam. Kalau lagi rame bisa kukut lebih awal,” sambung Sonhaji.

“Di layar tertulis ‘Warung Makan Pak Haji’ tapi saya sendiri belum pernah naik haji. Cuma itu memang benar-benar nama saya,” imbuhnya terkekeh.

“Saya doakan moga-moga cepet naik haji Pak… amiiin,” balas saya.

SELASA SIANG ITU (17/02), saya dan sejumlah kolega kantor hendak makan petis. Ada Setyo Nugroho, Jendra Purusha Hayuningrat, Purnomo, Chandra Rezky, Lina, dan Lisa. Tiga cowok itu sama dengan saya, pemagang dari jalur seleksi CPNS tingkat sarjana. Sedangkan ketiga cewek merupakan tenaga magang lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Jadi sudah “otomatis” mereka “disalurkan” bekerja untuk instansi Departemen Keuangan yang banyak tersebar di seluruh pelosok. Beruntung, tempat magang kami adalah kota asal. Namun tidak bagi Goho dan Jendra yang dari Grobogan, sebuah kabupaten sebelah selatan Pati. Mereka saat ini indekos dan pulang rumah tiap pekan.

Kami saat ini bekerja di Kantor Pelayanan Pajak Pati. Pemagang sarjana masuk sejak akhir Januari dan lulusan STAN sudah ada sejak Desember 2008.

Lisa yang tinggal di Trangkil kami anggap paham warung mana yang enak petisnya.

Sebenarnya yang mencetuskan ide berburu petis adalah Ariffianto Wibi Wibowo, sesama pemagang sarjana. Cuma dua hari belakangan ini tak nongol batang hidungnya. Dia mengaku sakit.

“Kita sms Mas Mul yuk. ‘Lagi makan petis nih’,” ujar Goho.

Mas Mul adalah panggilan ngawur yang disematkan oleh mendiang ayah saya. Wibi tak bukan adalah teman sekolah menengah adik saya, Ginanjar Rah Widodo. Mereka satu sekolah sejak SMP hingga SMA. Tatkala kuliah, mereka pisah. Anjar di STAN dengan jurusan anggaran sedangkan Mul ke Universitas Diponegoro Semarang ambil jurusan hukum.

Bapak memang sering bikin nama panggilan yang menggantikan nama asli empunya. Kebanyakan kalau anak laki-laki dia panggil “Bambang” dan perempuan dia sapa “Yayuk”. Yang bersangkutan sih ketawa-ketawa saja. Wibi dapat Mulyono. Belakangan dia suka. Bahkan kakak-adiknya dan teman-teman kerap memanggilnya Mul.

“Wibi ada?” tanya Anjar dan kawan-kawan sewaktu bertandang ke rumahnya beberapa tahun silam.

“Wibi tidak ada. Yang ada Mulyono,” jawab adiknya bikin ger-geran.

“Papan nama di dada seragam sekolahnya malah dia tulis ‘Mas Moel’,” Anjar suatu waktu bercerita pada saya soal polah kawan akrabnya itu.

“Waduh. Mul bisa marak lagi nih. Padahal sewaktu kuliah aku sudah berhasil melenyapkannya,” ujar Wibi pada awal-awal kerja. Soalnya, saya sering panggil dia begitu di depan teman-teman.

“KAMBINGNYA HARUS MUDA. Kalau tidak, bakal prengus,” terang Sonhaji, “kalau daging olahan berbau prengus, sudah pasti kambingnya tua.” Prengus adalah bau tak sedap yang menyengat kuat khas kambing.

“Tapi yah kalau penjual petisnya malas, mereka pilih kambing tua. Maklum, biar gak capek. Kambing tua sama dengan dua ekor kambing kecil. Sekali sembelih selesai. Kalau dua kambing yah dua kali kerja. Tapi kalau saya selalu pakai kambing muda.”

Harga seekor saat ini tiga ratus ribu hingga lima ratus ribu.

“Sehari habis seekor. Bisa jadi tiga atau empat kilogram. Saya belanja di Pasar Wedarijaksa tiap Senin dan Kamis. Jadi sekali ke pasar saya bawa empat ekor,” imbuhnya. Wedarijaksa adalah sebuah kecamatan sebelum Trangkil.

“Bikin petis susah. Kuah harus senantiasa hangat. Nyala kompor harus dijaga. Kita juga kudu selalu mengaduk kuah. Ngrebusnya dua setengah jam. Tanpa henti mengaduk. Jangan sampai gosong, nanti sangit. Sekali api padam, petis rusak,” timpal istri Sonhaji membuka rahasia resep.

“Bumbunya macam-macam. Ada potongan tomat, cabe, merica, jinten, ketumbar bawang merah, bawang putih… Cuma saat ini bawang merah dan merica lagi mahal. Sekilo merica lima puluh ribu,” keluh Bu Haji.

Tak mengapa. Yang penting mereka masih bisa mengail rezeki dari petis yang harga sepiringnya masih terbilang murah itu. Jendra menghampiri saya di halaman belakang. Ini kode supaya saya buru-buru karena kawan lainnya pengen balik kantor. Terpaksa percakapan tercekat. Kami pun mengakhiri “wawancara” dadakan itu.

Tertarik berburu petis? Ayo ke Runting memetis kambing.

One response to “Berburu Petis Runting Yuk

  1. adik runting kulon

    enak tenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s