Cita-Cita Seorang (Anak) Penjual Jenang

Tekad kuat sepasang orang tua kecil mewujudkan cita-cita besar.

“BUK, JENANG SETUNGGAL!” saya berteriak dari balkon lantai atas rumah kos di Janti, Yogyakarta. Bu, (beli) jenang satu!

“Inggih, Mas,” jawab Ibu Penjual Jenang. Ya, Bang.

Srek-srek-srek, teng-teng-teng. Saya seret sepasang kaki dengan sandal terapi kesehatan yang punya tonjolan kecil-kecil untuk alas telapaknya. Langkah kaki menuruni tangga besi menimbulkan suara nyaring di lorong lantai bawah.

Saya buka pintu keluar untuk menemui si penjual jenang.

Orang Yogyakarta menyebutnya jenang. Ini penganan yang terdiri dari bubur tepung terigu yang berwarna putih -kami yang dari Pati menyebutnya bubur blowok, butiran kue mutiara merah muda dari tepung kanji -di dalam mulut terasa kenyal atau kenyil-kenyil, guyuran santan serta kuah gula kelapa alias juruh.

Sabtu pagi itu terasa ceria. Bukan lantaran bertepatan dengan perayaan Fucklentine yang dicomot secara ahistoris dari budaya Barat yang belakangan jadi ajang eksploitasi kapitalisme yang mengeruk untung dengan menghisap kocek kaum muda yang lagi gandrung. Melainkan karena ini hari terakhir anak sekolah.

Yah, rumah kos saya persis di seberang Sekolah Dasar Caturtunggal 6. Banyak anak sekolah menyeruak ramai ketika jam istirahat pada pukul Sembilan atau sewaktu pulang sekolah. Saat itulah golden hour bagi para penjual jajan untuk menangguk rezeki.

Caturtunggal adalah nama kelurahan. Janti merupakan salah satu kampung di kelurahan ini. Ia terletak di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta. Sejak saya hijrah dari Jakarta pada Juli tahun lalu, hitung-punya-hitung saya sudah tinggal di Janti lebih dari enam bulan.

Hanya, sebulan terakhir ini, sejak akhir Januari, saya balik ke kota asal Pati. Saya mulai magang di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pati. Saya saat ini menjadi bakal calon pegawai negeri sipil di lingkungan besar Departemen Keuangan, tepatnya di Direktorat Jenderal Pajak.

Akhir-akhir ini kami, para pemagang yang berjumlah 240 orang, perlu ke Yogya guna mengurus administrasi jelang pendidikan dan pelatihan, pada 23 Febriari – 20 April nanti. Batas akhir pelaporan itu 20 Februari, hari kerja terakhir sebelum Senin tanggal 23. Balai Diklat Keuangan itu terletak di Kalasan, Sleman. Ia sekitar dua kilometer sebelah timur Janti, sepuluh menit perjalanan pakai sepeda motor.

Total peserta diklat ada 1.294 orang. Mereka, termasuk saya, adalah para sarjana yang diterima jadi CPNS Depkeu akhir tahun lalu. Peserta lainnya tersebar di Balai Diklat Keuangan Malang Jawa Timur serta dua balai lagi di Jakarta -daerah Kemanggisan dan Kebayoran Baru.

Beruntung saya dapat Yogya, hitung-hitung bisa dekat dengan Murjayanti, istri saya. Dan saya bisa memanfaatkan kamar kos yang belum tuntas masa sewanya untuk singgah. Mur pun masih indekos di Janti, dekat kontrakan saya.

* * *

“SETUNGGAL EWU NAPA SEWU LIMANGATUS?” Seribu rupiah atau seribu lima ratus? Tanya Ibu Jenang kepada saya.

Saya minta seribu saja.

“Cari rezeki Mas. Buat sekolah anak saya.”

“Kelas berapa?” saya balas tanya.

“Tiga SMA. Mau kuliah.” Jawabnya sambil memasukkan semua bahan ke dalam kantong plastik.

“Jangan pakai santan ya Bu,” timpal saya.

“Dia anak tunggal,” tuturnya, “manjanya minta ampun,” sambungnya dengan urung mengguyur kuah perasan kelapa.

Dua anak sekolah lewat. Satu cowok memakai seragam olahraga, satu cewek memakai seragam Pramuka berkerudung. Mereka berjalan ke utara.

“Kasihan, anak-anak kecil sudah harus berangkat-pulang sendiri lewat jalan besar,” imbuh Ibu Jenang.

“Dulu anak saya sekolah TK telat dua bulan. Oh, diolok-olok temannya. Anak-anak orang besar memang sumelang,” kenangnya. “Sumelang” kira-kira artinya sombong, jumawa, merasa besar dan mampu berbuat apa saja sehingga meremehkan orang lain. Pendek kata: gedhe ndase.

“Untungnya anak saya tidak apa-apa. Tiap sekolah diantar Oom naik sepeda.”

“Pengen lanjut kuliah?” saya yang jadi cenderung diam lantaran tertarik menyimak ceritanya hanya menimpali sekecap-dua kata. Atau, melempar pertanyaan singkat guna mengail penjelasan panjang-lebar selanjutnya.

“Biar dia pertimbangkan sendiri. Saya sih pengen dia kuliah. Bapaknya juga. ‘Nduk, mending kuliah wae timbang bar sekolah ra mesti entuk kerja apa-apa’,” tukasnya menirukan pesan suaminya kepada sang anak. Nak, lebih baik kamu kuliah saja daripada habis sekolah belum tentu dapat kerja apa-apa.

“Nduk” adalah panggilan kepada anak atau adik perempuan. Sebaliknya, “Le” untuk laki-laki.

“Biar rezeki sedikit, apapun akan kami lakukan. Saya pengen dia kuliah di Yogya saja, tempat asalnya. Tak usah jauh-jauh. Lagian dia anak cewek. Tunggal, lagi. Sebenarnya kami punya anak dua. Tapi si sulung sudah tidak ada. Meninggal waktu usia tiga setengah tahun.”

Saya hanya mengangguk, prihatin.

“Bapak kerja apa Bu?”

“Sopir taksi Hotel Sahid.”

Sebungkus plastik jenang saya terima. Saya ulurkan selembar duit seribu.

“Makasih ya Mas.”

“Saya yang terima kasih Bu.”

Ibu meringkasi dagangannya dan siap berkeliling ke lain tempat. Sebungkus seribu? Dan tiap hari dia harus berjualan. Sekali prei, rezeki tak tercari. Saya duga usianya lima puluhan tahun. Tapi beliau masih segar dan kuat mengayun langkah. Dia edarkan jajanan itu dengan jalan kaki. Layaknya perempuan Jawa tua, dia masih mengenakan gelungan rambut ala konde, baju kebaya, serta bawahan jarit.

* * *

JENANG ITU HANGAT DAN MANIS. Saya cecap lambat-lambat. Ini sarapan yang agak terlambat pagi jelang siang. Ia lumayan mengganjal perut. Saya tandaskan tanpa sisa, kecuali plastik pembungkusnya, tentu saja.

Jenang itu hangat dan manis. Menurut saya, tentunya sehangat dan semanis kasih si penjual kepada sang anak. Meski profesinya remeh -suaminya pun demikian, meski mereka orang kecil, saya yakin mereka adalah orang yang besar di mata anaknya. Yah, saya setuju. Mereka orang besar. Pahlawan. Meski hanya di mata keluarga.

Cinta-sayang mereka begitu hangat… dan manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s