Gejolak Darah Muda Setan Merah

Sumber: Inside United edisi Indonesia, BBC Sport, situs resmi Manchester United

Bagaimana tim pelapis menentukan prestasi tim inti Manchester United. Mereka merupakan batu bata yang menyokong kokohnya dinding kesuksesan tim terbesar ini.

MINGGU, 30 NOVEMBER 2008, adalah hari yang istimewa bagi Manchester United. Baik jajaran klub, maupun penggemar, tersengat euforia. Dalam derby yang panas, mereka memukul musuh sekota, Manchester City. Yang lebih spesial, mereka melakukannya di City of Manchester Stadium yang kala itu dipenuhi 47.320 penonton.

Benar, meski tipis 1-0, ini kemenangan berharga. Musim lalu, 2007/2008, Setan Merah menyerah dalam dua kali pertemuan, baik di “Theatre of Dreams” Old Trafford, maupun kandang The Citizen. Kala itu, Tim Biru Langit masih diasuh oleh pelatih flamboyan bekas manajer Tim Nasional Inggris, Sven-Goran Eriksson. Padahal, pada akhir kompetisi, MU kukuh jadi juara dan The Citizens entah ngumpet di posisi berapa dan Sven sendiri dipecat pada musim itu juga lantaran dinilai gagal.

Duel klub satu kota memang emosional dan sensasional. Unik. Bergengsi.

Wayne Rooney boleh saja menceploskan gol semata wayang. Namun kunci keberhasilan “Red Devils” justru dipegang oleh bek sayap kanan belia, Rafael Da Silva. Ia benar-benar menggembok pergerakan striker muda yang liat, Robinho. Pertahanan adalah vital, apalagi MU kehilangan satu pemain lantaran Cristiano Ronaldo diusir wasit dengan kartu merah.

Robinho “mati” waktu itu. Padahal penyerang kecil itu sedang ganas-ganasnya, mencetak sederetan gol untuk tim barunya, seolah mengisyaratkan ia tak pantas “dicampakkan” Real Madrid. Lucu, suporter MU menyanyi, “kalian punya Robinho,” mengejek tim saingan.

Rafael, kelahiran Brazil 9 Juli 1990, bukan satu-satunya “nama asing” yang dibawa pelatih Sir Alex Ferguson sore itu. Masih ada lagi bek Johnny Evans serta kiper ketiga Ben Foster. Cuma, dua nama terakhir tidak turun lapangan lantaran jadi cadangan.

Pemain berambut kriwil itu jadi starter, menggantikan Gary Neville ataupun Wesley Brown yang sudah kerap jadi langganan di pos kanan. Ia lebih beruntung daripada saudara kembarnya, Fabio, yang juga menjadi bek sayap, baik kiri maupun kanan. Di tim senior, Rafael sudah bermain sepuluh kali sebagai starter dan tiga kali menjadi pengganti di berbagai ajang, baik Liga Primer maupun piala lainnya. Sedankan jumlah pertandingan Fabio masih nihil dan dia setia memperkuat Tim Cadangan (Reserves).

Meski tak serutin para pemain inti senior, banyak juga loh, nama-nama pemain muda yang meramaikan skuad Manchester United. Baik di kancah liga domestik, piala lokal, bahkan Liga Champions. Sebut saja striker Danny Welbeck (nomor punggung 19). Yang bikin heboh, pemuda keling ini sudah mengemas satu gol untuk tim senior. Nama lainnya? Manucho (26), Darron Gibson (28), serta Rodrigo Possebon (34) walau tak reguler, beberapa kali dipanggil tim inti.

SEBELUMNYA CUMA LIMA PEMAIN. Kini, seperti kompetisi sepakbola di negara-negara Eropa lainnya, Liga Inggris membolehkan tiap klub yang bertanding mengusung tujuh pemain cadangan. Hal ini sungguh menguntungkan. Pelatih dapat punya banyak pilihan guna menunjuk para pemain pelapis.

Hanya Inggris sendiri yang masih memiliki tiga jenis kompetisi. Pertama, liga di tiap-tiap divisi. Kedua, adalah piala yang memungkinkan klub non-divisi maupun divisi bawah berjumpa dengan klub divisi utama. Ada dua ajang Cup. Yakni Piala FA, kompetisi sepakbola tertua di dunia, serta Piala Liga alias Carling Cup.

Sedangkan negara lainnya hanya mengenal dua: liga dan piala (Cup atau Copa).

Klub Divisi Utama kian sibuk jika ketambahan jadwal kompetisi di kancah internasional. Kasta atas jelas sepaneng di Liga Champions. Kelas kedua akan terjun di Piala UEFA. Kadang, mereka yang juara Liga Champions musim sebelumnya, harus berangkat menghadapi klub juara kontinen lain, dalam Piala Dunia –dulu Piala Toyota. Desember 2008 lalu, giliran Setan Merah yang terbang ke Jepang –dan akhirnya keluar sebagai juara dunia, klub Inggris pertama!

Jadwal yang ketat dan panjang membuat seorang manajer harus pintar memeras otak. Ia kudu bisa meramu komposisi tim dan mendistribusi kesempatan bermain tiap-tiap atletnya. Siapa yang siap? Siapa yang lagi on fire? Siapa yang mentalnya tengah terpuruk? Siapa yang bugar? Siapa yang cidera? Siapa yang menjalani hukuman akumuasi kartu maupun masalah disiplin lainnya?

Dan musim ini, sudah pasti Sir Alex puyeng. Berderet pemain, baik secara bersamaan maupun silih berganti urung sedia tampil. Umumnya masalah klasik. Yah itu tadi, kalau tidak cidera yah kena larangan bermain. Mulai dari Gary Neville (2), Owen Hargreaves (4), Wes Brown (6), Anderson (8), Ryan Giggs (11), Park Ji Sung (13), atau Paul Scholes (18). Bahkan, kiper andalan Edwin Van der Sar sempat absen karena cidera. Di awal musim, pemain terbaik 2008 Cristiano Ronaldo juga tak bisa langsung tampil.

Sistem rotasi yang sempurna adalah solusinya.

Untungnya, sebuah klub mapan di Inggris macam The Red Devils punya tiga tim. Selain tim inti (senior), ada tim cadangan (reserves) serta binaan akademi (U-18). Jika sewaktu-waktu tim inti kekurangan pemain, sang manajer bisa memanggil tim lapis di bawahnya. Beruntunglah tim yang punya bakat-bakat muda.

Reserve saat ini ditangani oleh Ole Gunnar Solksjaer, pensiunan penyerang tim inti asal Norwegia, yang mengantarkan gol penentu MU meraih juara Liga Champions 1999. Sedangkan Tim Akademi dilatih oleh Paul McGuinness. Stadion Carrington, kandang lama MU sebelum Old Trafford, saat ini jadi markas Tim (U-18).

Uniknya, kerap-kali pemain bersaudara hasil didikan sendiri menjadi kunci sukses tim ini. Sebut saja Gary dan Philip Neville. Cuma, saat ini sang adik, Philip, memperkuat Everton. Sekarang ada si kembar Fabio dan Rafael. Eh, jangan lupakan Brown bersaudara. Adik Wes, Reece Brown (17 tahun), tengah jadi bek tim akademi. Posisi Reece sama dengan sang kakak, bisa jadi bek tengah maupun belakang-kanan.

Tapi awas. Bukan berarti mereka bisa dieksploitasi seenaknya. Bisa-bisa mereka kelelahan “kerja bakti”. Baik tim reserves maupun akademi juga punya jadwal kompetisi di kelasnya. Mereka punya liga sendiri, pun Piala FA sendiri.

Tim senior bisa dibentuk dengan perpaduan dua jalan: transfer pemain bintang yang sudah matang, atau mengambil pemain binaan sendiri yang mulai mentas. MU melakukan keduanya dengan baik.

Eric “The King” Cantona, Ruud van Nistelrooy, Edwin Van der Sar, Dimitar Berbatov, Patrice Evra, Roy Keane, Andrew Cole, Dwight Yorke, Teddy Sheringham, Ole Gunnar Solksjaer, Wayne Rooney, Park Ji Sung, Michael Carrick, Rio Ferdinand, Owen Hargreaves, Cristiano Ronaldo, Anderson, Luis Nani, Carlos Tevez, Henrik Larsson (meski berstatus pinjaman hanya tiga bulan), Jaap Stam, Laurent Blanc, Ronny Johnsen, Henning Berg, Jesper Blomqvist, Peter Schmeichel, Nemanja Vidic, Gabriel Heinze, Gary Pallister, dan lain-lain adalah sejumlah pemain boyongan yang berhasil. Bahkan, beberapa pemain pindahan itu hingga kini masih berusia muda.

Berbagai nama hasil cetakan tim muda silih berganti memperkuat tim inti. Ada Lee Sharpe, David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Neville bersaudara –Garry dan Philip, Nicholas Butt, John O’Shea, Wes Brown, Darren Fletcher, dan sebagainya.

Meski, banyak juga bakat muda yang tak punya tempat atau hendak berkembang di lain tempat harus pergi. Misalnya Dion Dublin, Noel Whelan, Jonathan Greenings, Kieran Richardson, Giuseppe Rossi, Luke Chadwick, Gerard Pique, Dong Fanzhou, dan lain-lain. Beberapa di antaranya justru bersinar jadi tulang punggung klub baru.

Ingat, Chelsea sempat dikritik pedas lantaran menelantarkan akademi dan cuma bisa membajak dan memanen pemain vital klub lain –berkat modal tak terbatas dari pemilik miliarder Roman Abramovich. Sebut saja Shaun Wright-Phillips, Frank Lampard, Andriy Shevchenko, Florent Malouda, Claudio Pizarro, Michael Ballack, Juliano Belletti, Joe Cole, Damien Duff, Nicolas Anelka, Michael Essien, Salomon Kalou, Deco Souza, Claude Makelele, Arjen Robben, Mateja Kezman, Didier Drogba, Khaleed Boulahrouz, Ashley Cole, Robert Huth, dan sebagainya. Dua manajernya, Jose Mourinho dan kini Luiz Felipe Scolari, juga bergaji tebal. Hasilnya memang oke: dua kali juara Liga, dua kali juara Piala Liga, serta sekali jawara Piala FA, dan sekali finalis Liga Champions (tahun lalu, di bawah caretaker Avram Grant) cuma dalam waktu tiga tahun 2005-2008. Namun cara instan macam begini terbukti membuat klub rentan labil. Target yang muluk dengan gaji yang tinggi membuat pemain begitu mudah keluar-masuk. Kini, hanya segelintir bintang yang bertahan di The Blues.

Di satu sisi ekstrem lainnya, Arsene Wenger dikenal fanatik menggunakan tenaga pemain muda. Arsenal, klub yang dia tukangi, gencar membeli pemain muda yang bernilai masih murah, atau memanggil tim akademi untuk memperkuat tim inti. Eksplosivitas mereka rupanya dahsyat, terbukti mampu mengalahkan klub senior tim lawan. Ada Emanuel Adebayor, Robin Van Persie, Samir Nasri, Kolo Abib Toure, Sagna, Thomas Rosicky, Theo Walcott, dan banyak lagi. Namun, tim macam ini rawan keropos pula. Mental pemain muda gampang melambung, sama mudahnya terperosok. Hingga kini Arsenal masih saja puasa gelar sejak 2004.

Idealnya, sukses sebuah klub adalah hasil perkawinan kedua metode itu.

OLD TRAFFORD, SELASA, 23 SEPTEMBER 2008. Sir Alex terlihat melabrak dan adu mulut dengan pelatih tim lawan, Gareth Southgate di pinggir lapangan. Cekcok sempat menyengit.

Tuan Ferguson bukannya tak puas atas kemenangan 3-1 dari Middlesbrough di ajang Piala Liga waktu itu. Ia mati-matian membela “anak” mudanya, Rodrigo Possebon yang cidera ditebas secara brutal oleh pemain lawan. “Ini bukan debut yang baik bagi pemain muda,” teriak pria asal Skotlandia itu usai laga. Possebon harus keluar karena tak mampu melanjutkan pertandingan. Hingga kini ia tengah memulihkan kondisi tubuh.

Ferguson tahu betul dampak dari cidera parah. Ia pernah kehilangan Alan Smith, pemain yang baru ia beli dari Leeds United pada 2004/2005 selama setahun lebih. Memang, si rambut pirang cidera bukan karena dihajar musuh, melainkan lantaran salah posisi waktu mendarat memblokir bola lawan –waktu itu Liverpool di ajang Piala FA, tambah apes, lawan menang 1-0 dan akhirnya mereka juara setelah menekuk West Ham United lewat adu penalti usai bermain imbang 3-3. Smith istirahat selama setahun, pergelangan kaki kanannya berputar arah. Pemain yang kini membela Newcastle itu harus merelakan peluang memperkuat Inggris dalam Piala Dunia 2006.

Pelatih pesaing Sir Alex, Arsene Wenger dari Arsenal, juga tengah merasakan dampak tackle horor. Eduardo, pemain muda keturunan Brazil yang memutuskan membela Kroasia, patah tulang engkel pada musim lalu. Hingga kini si pemain belum bisa turun bertanding, dan… goodbye Euro 2008…

Pemain bisa cidera untuk waktu yang panjang. Padahal, atlet yang lama beristirahat bisa kehilangan sentuhan emasnya, bahkan terancam tamat kariernya. Injury adalah hantu yang paling mengerikan di dunia olahraga. Apalagi jika ia atlet yang masih muda.

Namun, setidaknya pada laga itu, darah muda jadi bintangnya. Ben Amos mungkin tak mengira bakal dipanggil jadi skuad starter. Kiper itu harus tunggu giliran di bawah penjaga gawang kedua Tomasz Kuszczak atau kiper ketiga Ben Foster. Namun kala itu ia dipercaya Sir Alex untuk mengawal mulut gawang. Kebobolan sekali, untung, timnya menang dengan tiga gol. Istimewanya, salah satu gol dicetak oleh pemain belia lainnya, Danny Welbeck.

Dalam Piala Liga, MU terus melaju, hingga babak final bertemu musuh alot “The Lilywhites” Tottenham Hotspur. Welbeck kembali jadi penentu kemenangan MU pada semifinal kedua ketika bentrok dengan Derby County. Satu gol kembali dia kemas.

Para pemain yang masih hijau itu rupanya sangat berkontribusi membangun kejayaan Setan Merah. Saat ini MU masih memuncaki klasemen, menyalip juara paruh musim Liverpool; MU keluar sebagai juara dunia antarklub; ia masih melanjutkan langkahnya di babak kelima Piala FA; Setan Merah pun siap menyambut Internazionale Milan pada 16 besar Liga Champions; dan ia siap merebut Piala Carling versus Hotspur di pertempuran puncak.

Tak menutup kemungkinan, berbagai gelar yang terhampar mereka sapu. Bisa gelar ganda (seperti tahun lalu dengan Juara Liga dan Liga Champions), treble (seperti 1999 dengan kemasan Juara Liga, Piala FA, dan Liga Champions), atau bahkan quadruple untuk semua empat ajang tersebut –yang mana belum satu pun klub yang pernah melakukannya.

Impian klub fantastis ini berada di pundak pemain mudanya.

MU, teruslah melaju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s