Media di Seputar Klub Olahraga

Baru saja saya beli edisi perdana majalah Inside United edaran Indonesia (disingkat jadi IU, dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan, seperti berarti “Aku-Kamu”). IU adalah media tentang sebuah klub sepakbola terbaik saat ini di tanah Inggris, Manchester United.

Majalah ini rupanya dikelola oleh Kelompok Media Olahraga (Medior), Bola. Medior sendiri, bagi saya, merupakan “subgrup” dari grup bisnis media terbesar, Kelompok Kompas Gramedia. Beberapa produk Medior yang kini ada yakni di antaranya tabloid seminggu dua kali Bola, mingguan Gaya Hidup Sehat, Bola Poster, bulanan Bola Vaganza.

Termasuk sampul kulit luar depan-belakang, majalah berbandrol Rp35.000 ini bertebal 100 halaman. Tampilannya bagus. Luks. Full color. Tentu saja, full pics.

Bola boleh berbangga, “anak bungsu” ini merupakan majalah pertama yang terbit di Indonesia yang menyoal sebuah klub sepakbola.

Menurut saya, ini jenis media unik.

Di kala sebuah klub olahraga menemukan kemapanannya, ia dapat menggerakkan industri media. Hampir semua klub besar punya saluran teve sendiri. Manchester United punya MUTV, Real Madrid juga, Barcelona pula, dan sebagainya.

Kemapanan dalam hal ini tak melulu kekayaan maupun kekuatan modal. Meski, hal ini jadi variabel utama dalam menentukan sustainabilitas tim.

Yang lebih penting, kemapanan dalam hal ini berarti kecintaan para pendukung yang telah mengakar. Klub-klub medioker di liga Eropa toh juga punya stasiun radio lokal.

Situs-situs klub juga digarap dengan serius. Ia melibatkan seperangkat pekerja, yang jabatannya mirip-mirip jurnalis. Ada editor, ada pemimpin redaksi, ada reporter, dan sebagainya.

So, ada radio, teve, situs, dan barusan… majalah.

Pangsa pasar juga terang dan jelas. Orang awam pun tahu: para fans, baik yang sekadar peminat, penggemar pribadi pemain klub tertentu (mungkin karena ketampanannya?), hingga fans fanatik.

Saya pikir media macam ini tak bakal kekurangan konsumen.

Bagaimana di Indonesia? Hayo, klub mana yang sudah punya media, dengan mempekerjakan para jurnalisnya dengan baik serta media itu dikelola dengan profesional?

Saya memprediksi kondisi di sini masih pahit. Jangankan membangun sekolah (akademi) yang mapan. Jangankan punya stadion berstandar layak. Jangankan menangguk keuntungan dari larisnya penjualan tiket —boro-boro, penonton yang mengaku dari klub fans sering minta harga karcis miring bahkan gratis. Kebanyakan klub sepakbola di sini masih bergantung pada bantuan Pemda lewat kucuran anggaran (APBD), guna menyuapi para pemain “bintang” dengan gaji gede. Tak heran, banyak kas klub yang gembos, terengah-engah mengarungi kompetisi yang banyak makan biaya ini. Dan gaji pemain telat berbulan-bulan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s