Kisah Nikah

Oleh Yacob Yahya
(3.104 kata)

Hampir sebulan kami menjadi suami-istri. Belajar menjalani warna hidup yang benar-benar beda dari sebelumnya.

SABTU WAGE 27 Desember 2008 merupakan hari yang susah aku lupakan. Pada waktu itu aku menyunting Murjayanti, perempuan yang hampir empat tahun ini jadi kekasihku. Dia tak pernah lelah menyokong dan menyemangatiku tiap kali melangkah.

Di hari yang berbahagia itu, hadir sejumlah kawan, baik kolega Oyek -panggilan akrab istriku, maupun karib aku. Ada Ari Priambodo; ia kawan aktivis dari Fakultas Filsafat. Teman dari Equilibrium, pers mahasiswa di mana aku berorganisasi, juga datang. Riky Dimiaty, Bagus Pinandityo, serta Meirma Driyasari. Belakangan, datang terlambat, muncul Arsi Gotami.

Tak semua kolega dari EQ hadir. Mungkin mereka terpecah, datang pada acara pernikahan mantan pengurus EQ lainnya, yang kebetulan sama tanggal resepsinya. Aditya Yudanto menikahi Aidha Prihastuti.

Bulan penutup tahun ini tampak padat dengan acara kondangan nikah. Maklum, selain penutup tahun Masehi 2008, bulan ini juga bertepatan dengan tutup tahun Hijriyah maupun penanggalan Jawa. Pada 29 Desember, tepat tanggal 1 Muharam 1430 atau 1 Sura. Banyak orang Jawa percaya, bulan Sura tak baik buat nikah. Makanya banyak orang ngebut “kejar tayang” mengadakan acara sebelum Senin, 29 Desember itu.

“Soalnya, tahun depan (2009) adalah tahun duda,” ujar ibuku waktu itu.

“Maksudnya?” aku bertanya.

“Banyak yang percaya kalau nikah tahun depan, banyak gagalnya alias cerai.”

“Masak?”

Kalau menurut aku pribadi, dan kepercayaan menurut Islam -kami memeluk Islam, semua hari adalah baik. Jadi nikah kapan saja yah bukan masalah. Tapi, orang Jawa termasuk manusia yang teliti menyambung-kaitkan kejadian dan pengalaman. Segala perayaan harus diracik dan ditentukan pada hari dan tanggal yang pas. Salah pilih “hari baik”, bisa-bisa kelanggengan dan masa depan pernikahannya turut tak baik atau banyak masalah. Kalau perlu, perhitungan weton ikut jadi variabel yang sangat menentukan.

Weton adalah lima hari pasaran menurut adat Jawa yang terdiri atas, secara berurutan, Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Dari kiri: Kakak pria tertua Mur Sujarwo, Ibu mertuaku Suparti, aku, Murjayanti istriku, ibuku Istichomah, dan kakak sulungku Winuranto Adhi. Mas Jarwo jadi wali nikah adiknya karena ayah mereka, Parto Suwarjo, sudah meninggal. Demikian halnya ayahku, (alm) Haryanto, sehingga pendamping priaku adalah Mas Wiwin. Aku dan Mur, sama-sama anak yatim yang telah dewasa.

Kami duduk di pelaminan.

AKU KULIAH ambil Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, masuk tahun 2000 dan lulus pada 2004.

Riky adalah teman seangkatan kuliah. Pun satu lifting masuk EQ. Kami bareng daftar ikut organisasi itu pada 2001 sebagai reporter. Pada saat pergantian pengurus untuk 2002-2003, dia jadi Pemimpin Umum sedangkan aku Pemimpin Redaksi. Kami juga bahkan teman satu kamar sewaktu ngekos di Kuningan. Ia ambil Manajemen. Kini dia bekerja di Bank Indonesia.

Bagus juga satu angkatan. Awalnya dia ambil Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Setahun berikutnya, 2001, dia ikut ulang ujian masuk (dulu masih UMPTN) dan jadi mahasiswa Akuntansi. Karena masih satu fakultas, sejumlah mata kuliah yang dia ambil dua semester terakhir, mudah ditransfer. Ia masuk EQ setahun setelah aku. Ia menggantikan Riky untuk kepengurusan 2003-2004. Kini dia jadi tenaga bidang keuangan di sebuah perusahaan swasta.

Meirma anak Manajemen 2002. Pada masa kepengurusan Bagus, dia jadi Bendahara Umum. Dia merasa, “gak bisa nulis,” tuturnya waktu itu, sehingga kurang berminat di redaksi. Kini dia bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Arsi satu angkatan dengan Meirma. Dulu dia lengket banget dengan Nursita Putri dan Tika Hanggarawati. Mereka bertiga sama-sama di Ekonomi Pembangunan. Aku suka melabeli mereka “Trio Kwek-Kwek”, mengacu pada nama kelompok penyanyi anak-anak, yang mana saat ini dua personilnya sudah beranjak remaja dan jadi bintang sinetron ABG: Leoni dan Dea Ananda. Arsi, Tika, maupun Sita memang rame sehingga menghidupkan “Bilik EQ”, ruang organisasi kami beri nama, yang ada di salah satu sudut timur laut lantai satu gedung kampus.

Adit dan Aidha angkatan 2002, sama-sama dari Manajemen. Satu angkatan masuk EQ dengan Meirma dan Trio Kwek-Kwek. Ada juga sekawanan Deka Oktafa, Irfan Saputra, Ganis Angger, Wawan Sugiyarto, Agusta Ariyoshi, Moh. Rusman Ramli, Jarwanto, Dian Permatasari, Maya Pahlevi. Di masa jelang lengser kami, aku kira mereka adalah rekrutan terbaik, tim yang solid. Dipadu angkatan sebelumnya seperti aku dan Riky, Arief Wasisto Edhi, serta Taukhid, aku rasa tim 2003-2004 paling memuaskan aku. Belum lagi suntikan darah baru tenaga magang anak-anak angkatan 2003 macam Andar, Ferdi, Lala, Sufi, Silmi, Susi, Devi, Amal, Puspa, Adinda, Irwan, Aries, Edward, Rivya, dan sebagainya. Aku gembira bisa meninggalkan EQ dengan kepala tegak. Kaderisasi jalan terus.

Sewaktu Bagus jadi pemimpin umum, Adit adalah pemimpin redaksi yang menggantikan aku. Aku masih terlibat jadi editor bahasa. Riky jadi pendukung lay-out. Arief, yang sewaktu kepengurusan aku-Riky jadi Kepala Produksi yang bertanggung jawab atas artistik dan lay-out, jadi pendamping Bagus yang ciamik sebagai Sekretaris Umum. Sedangkan Aidha -sekarang Nyonya Adit, adalah ilustrator bertangan dingin.

Adit-Aidha masih sempat menitipkan bingkisan buat kado pernikahan kami. Banyak kado dari anak-anak EQ yang kami terima. Aku sangat bersyukur dan rasanya ucapan terima kasih tak kan mampu membalas ketulusan kawan-kawan.

Sebaliknya, di kubu Mur, sahabat Mur yang datang “satu kompi”! Mur kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Wangsa Manggala, angkatan 1998. Saat ini dia masih kuliah guna merampungkan skripsi. Belakangan kampus ini berganti nama menjadi Universitas Mercu Buana, pemiliknya yah orang yang sama dengan kampus dengan nama yang sama di Jakarta, Probosutedjo, pengusaha adik ipar mendiang presiden kedua Soeharto.

Selain kawan kampus, hadir pula para atlet panjat tebing. Ada Agung Etti Hendrawati, Tri Suryani, Fitriyani, tim putri Yogyakarta. Ada juga Sultoni Sulaiman, satu-satunya atlet putra Yogyakarta pada Pekan Olah Raga Nasional 2008 lalu. Pemanjat pria lainnya juga ada: Wahyu Purnomo, Omak Suradjiono, Anang Sulistio, dan lain-lain.

Pemanjat junior yang kini mulai terasah turut hadir. Pun para pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Cabang Yogyakarta.

Maklum, Mur adalah pemanjat tebing yang memperkuat Yogyakarta dua PON terakhir. Pada 2004 di Palembang, dia dapat satu emas untuk kategori jalur pendek perorangan putri. Sedangkan pada nomor yang sama pada 2008 di Kalimantan Timur, dia hanya memperoleh perunggu. Tapi tak mengapa, jumlah medalinya malah lebih banyak daripada empat tahun lalu: satu perak empat perunggu.

Harini, atlet dari Jawa Tengah, jauh-jauh datang bersama kekasihnya. Dara asal Sragen ini menggondol dua emas di Kaltim lalu: lead atawa kesulitan pada nomor perorangan putri maupun ganda campuran.

“Wah, dulunya manjat, sekarang harus siap dipanjat,” celetuk seorang kawan kepada Mur.

Kami hanya tertawa lepas.

Padahal, Minggu esok harinya, 28 Desember, aku kudu berangkat ke Jakarta. Sedangkan Senin ada acara kunjungan balik rombongan keluarga Mur ke keluarga asalku, Pati Jawa Tengah -aku tak ada. Aku masih di Jakarta. Mur tak tinggal di Pati. Lantaran ada acara tali asih dari FPTI Pengurus Cabang Kota Yogyakarta pada hari Selasa, Mur ikut rombongan pulang ke Yogyakarta. Selasa sore aku pulang naik bus ke Pati biar bisa ketemu Pak Dhe dan Bu Dhe dari Bojonegoro Jawa Timur, yang pengen banget bersua denganku -dan akupun begitu. Tahun baruan di sana. Dan barulah pada Jumat 2 Januari, aku berangkat ke Yogyakarta. Selang berapa hari, pada Selasa sore 6 Januari, aku perlu kembali ke Jakarta dan barulah Jumat pagi 9 Januari aku pulang ke Yogya. Jumat sore itu istriku menyambut. Sejak saat itu baru kami dapat bersama.

Faktanya, meski pengantin baru, sejak walimah hingga sepekan, kami belum bertemu.

UDARA GUNUNGKIDUL Sabtu pagi itu terasa segar. Minibus yang mengangkut kami meluncur ke tempat tujuan menikmati aspal jalan yang mulus, meski berkelak-kelok. Kabut tipis masih membalut pandangan mata, meski tak sampai menghalangi visi. Anak-anak sekolah berangkat riang. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki, ada yang naik angkot yang lambat merayap mengintai calon penumpang. Sinar matahari hangat.

Pagi itu kami berangkat dari Hotel Tilam Sari di Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul. Setelah bertemu dua kali bundaran kecil dan Markas Komando Distrik Militer (Kodim), pada pertigaan jalan itu kami ambil kanan. Ke Ponjong, rumah Mur.

Kami jalan lurus saja, melewati pertigaan Branang dan sebuah perempatan. Masih lurus, pada persimpangan jalan mirip huruf “Y”, kami ambil kanan. Kalau ke kiri menuju Karangmojo. Kami temui perempatan tanpa lampu merah, tetap lurus. Lantas ada pertigaan, jalan sebelah kiri yah dari Karangmojo itu tadi. Kami masih jalan terus. Barulah pada persimpangan Proliman (perlimaan), kami ambil jalan besar yang ke kiri. Ada Sekolah Menengah Atas Pembangunan 3 Sumbergiri, kami ambil jalan desa yang berada di seberang kanan. Itu sekolah Mur dulu.

Kami hampir sampai. Sudah ada di mulut Desa Sumbergiri. Jalan desa menanjak, tak beraspal, agak kecil, meski masih bisa dilalui sebuah mobil. Kanan-kiri kami terhampar sawah yang menghijau.

“Ini perjalanan kayak piknik.”

“Masih alami yah.”

“Asyik.”

“Kalau bukan karena kamu nikah, pasti kita gak pernah ke sini.”

Komentar beberapa orang dari rombongan Pati menikmati perjalanan.

“Tapi kok jauh, Cob,” celetuk Haji Muslim.

Pak Muslim kami tunjuk sebagai juru bicara wakil dari keluarga Pati. Di kampung halaman kami, ia banyak diminta sebagai pemimpin doa tahlil jika ada peringatan orang meninggal maupun imam salat jamaah. Pak Muslim termasuk orang yang kami hormati sebagai pemuka agama. Ia kini sepuh, hampir 70 tahun.

Beberapa persimpangan jalan maupun petunjuk arah kami abaikan. Pokoknya jalan lurus. Hingga mentok pada pertigaan terakhir di ujung jalan, kami belok kanan. Di situ hanya tersisa tiga rumah. Rumah ketiga adalah lokasi yang kami tuju. Dusun Gedaren II Desa Sumbergiri Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul.

Dari Wonosari kami butuh waktu 45 menit dengan perjalanan tak lebih dari kecepatan 60 kilometer per jam. Serombongan ada tiga mobil. Satu minibus dan dua Kijang. Aku sendiri ikut rombongan itu, tapi bukan turut berangkat dari Pati. Aku cegat rombongan di dekat kosku di Yogya, sebelum berangkat menginap di hotel Wonosari, Jumat malam.

Rute tersebut mungkin membingungkan. Tak jarang tamu undangan yang ambil salah jalan atau banyak tanya penduduk sekitar.

“Sampai kesasar loh,” ujar Bu Pono, mantan ibu kosku dari Kuningan, ketika pamit pulang. Bu Pono datang bersama Mbak Yayuk tetangga rumah depan persis kamar kosku, serta ibunya Windi. Windi adalah anak kecil, waktu itu usia sekolah dasar, keponakan Bu Pono yang sering ajak aku bermain.

“Sempat salah jalan,” komentar Pak Budi, induk semang Mur sekarang, dari Janti. Bapak kos itu datang bersama istri dan Arvin, anak semata wayang mereka seusia taman kanak-kanak. Ada juga Mbak Alma perawat Arvin, serta dua orang teman kos Mur.

Bapak kosku sekarang –aku juga tinggal di Janti kini, tetanggaan dengan Mur, Mas Fajar dan istri, serta Rara anak balita mereka juga hadir. Mereka baru tiba sore hari, setelah semua tamu pulang.

KUNINGAN. Ini bukan sebuah daerah di Jawa Barat atau salah satu sudut kawasan segitiga emas di Jakarta. Ia adalah nama sebuah kampung di sebelah timur Bulaksumur, kompleks kampus UGM sebelah timur. Mungkin Anda lebih familier dengan Karangmalang yang dekat dengan Universitas Negeri Yogyakarta (dulu IKIP). Nah, Kuningan adalah sebelah selatan Karangmalang. Di sana, terdapat kolam renang UNY serta laboratorium praktek Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Kampung Kuningan berada di sebelah utara daerah Samirono. Samirono terkenal dengan menu khas sate. Banyak warung sate di sana. Paling timur Samirono, terdapat gedung RRI, namun yang bukan untuk siaran. Itu aset milik radio lembaga publik itu. Jika kita menyeberang ke timur, bisa ketemu Pasar Demangan. Sebelah barat Samirono, terdapat kawasan Sagan, di mana Rumah Sakit Panti Rapih berada.

Agustus-September 2001, aku berniat pindah kos baru. Waktu itu masa kuliah semester pendek. Bagi yang tak mengambilnya, ini periode liburan panjang .
lepas semester genap. Sejak awal kuliah, bahkan sebelum kuliah sewaktu masa bimbingan belajar dua bulan menjelang UMPTN, aku mondok di daerah Swakarya Jalan Kaliurang Km 4,5. Cukup setahun aku di situ. Aku cari tempat kos baru.

Bersama Riky, aku menemukan rumah kos yang baru saja selesai dibangun. Ia rumah nomor H37, milik Bapak-Ibu Supono. Lantai bawah ada tiga kamar dan satu kamar mandi. Sedangkan lantai atas punya enam kamar, pada lorong tengah terdapat teve untuk ditonton bareng anak-anak kos. Juga ada satu kamar mandi. Kamar lantai dua hampir separuh lebih kecil daripada kamar lantai bawah. Tapi tarifnya lebih murah.

Satu kamar bawah Rp800 ribu setahun. Saat itu ongkos segitu sudah dianggap mahal. Sekarang? Menurut laporan Harian Kedaulatan Rakyat, rata-rata sewa kamar kos sebulan Rp200.000-an. Karena satu kamar dihuni dua orang, kami kena tarif Rp1,2 juta. Aku dan Riky bagi dua. Hitung-hitung, tetap lebih murah. Ukurannya 3×4 meter persegi. Cat dinding putih, ubin lantai keramik putih. Kami tempati kamar paling depan dekat pintu pagar depan sebelah selatan.

Aku tinggal di rumah kos ini hingga lulus kuliah, pada 2004. Sejak pondokan ini berdiri, aku dan Riky adalah penghuni pertama. Lantas beberapa mahasiswa mengisi penuh rumah yang nyaman ini.

Sebelah kamar kami ada gardu ronda rukun tetangga yang jarang dipakai. Ada jalan kampung yang acap dilewati oleh mahasiswa, anak-anak sekolah, maupun warga Kuningan. Ini jalan strategis, akses ke Masjid Besar UGM yang berada di seberang barat jalan besar. Juga jalan untuk menuju kampus maupun menghadang bus kota. Anda tinggal menuruni jalan kampung, menyeberangi jembatan selokan yang ada di sebelah barat, dan sudah tiba di jalan besar itu.

Di seberang jalan kampung itu, berdiri pula sebuah rumah kos baru khusus putri. Beberapa bulan setelah aku tinggal di sini, baru diisi oleh tiga orang. Dua di antaranya adalah Murjayanti dan seorang keponakannya yang kuliah di UPN Veteran, Abyayu Sariutami.

Awalnya biasa saja. Perkenalan tak berkesan apa-apa. Tiap harinya kami jarang bertegur sapa. Cerita hanya seadanya. Kami sibuk sendiri-sendiri. Aku ke kampus, rapat, nginep, demo, bikin majalah dan buletin, serta kegiatan lainnya. Sedangkan dia latihan-latihan-dan latihan.

Pagi hari usai subuh aku buka pintu kamar. Baca buku di depan. Memandang jalan kampung. Muncullah dia menyapu halaman. Atau kalau tidak, skipping alias sprento. Badannya liat. Meski kecil, dia ulet dan lincah. Tali skipping dengan trampil dia ayunkan. Kalau tidak, beberapa gerakan peregangan dan pendinginan dia peragakan dengan baik. Bandingkan dengan aku yang waktu itu ringkih, kurus dimakan rokok dan begadang.

Di masa kuliah, aku tak pernah menembus 45 kilogram, padahal tinggiku 171 centimeter. Bahkan, usai mogok makan selama seminggu, aku pernah drop sedikit di bawah 40 kilogram. Sekarang aku 65-an kilogram. Berkat berhenti merokok dua tahun terakhir.

Padahal aku juga gemar olah raga. Waktu sekolah menengah pertama dan atas aku sempat jadi salah satu anggota tim bola basket sekolah. Juara tiga sekabupaten. Meskipun… jadi pemain cadangan, sih. Masa kuliah aku makin jarang olah raga. Belakangan ini Riky dan teman-teman seminggu sekali main sepak bola di lapangan UNY, tiap Kamis, mereka patungan menyewa. Aku ikut-ikutan saja. Lalu, aku gabung anak-anak kampung Kuningan main bola plastik di lapangan seberang kampus Diploma 3 Fakultas Ekonomi. Letaknya di sebelah selatan rumah kosku. Tapi saat ini lapangan itu tak terpakai lagi, sepasang gawangnya sudah copot.

Hitung-hitung buang keringat. Perlahan-lahan kebiasaan merokokku berkurang karenanya.

RUMAH KOS itu tak terawat. Awalnya masih kerap ditengok oleh pemiliknya, sepasang suami-istri muda, Mas Bobby dan Mbak Emi. Awalnya mereka juga tinggal di situ, sekalian buka warung es jus. Aku suka beli di situ. Namun lambat laun mereka mulai jarang mengurusnya.

“Air macet, aku harus ngangsu,” ujar Oyek, penghuni kos itu. Ngangsu adalah menimba air lantas dibawa ke tempat tujuan, biasanya dengan ember.

Warung jus itu tutup, dan belakangan digunakan oleh Mbak Yayuk, tetangga rumah satu pekarangan dengan Bu Pono, induk semangku, meneruskan jualan es jus. Jadi kebiasaanku beli air perasan buah tak surut. Beberapa kali aku berkesempatan ketemu Oyek, meski sekilas dan tak berasa apa-apa. Ayu, keponakannya, sudah pindah kos di daerah Janti.

Hari dan hari seperti biasa saja. Hingga suatu ketika dia bilang padaku, “aku mau pindah kos, nyusul Ayu.”

“Oh, gitu,” tanggapku datar.

“Aku mau pinjam tas jinjingmu buat angkut pakaian.”

“Iya.”

Semenjak kepergiannya, baru terasa arti kehadirannya. Waktu itu, jelang PON 2004, dan dia makin tenggelam dengan kesibukannya untuk fokus latihan terpusat. Lagipula, Janti lebih dekat jaraknya daripada Kuningan, menuju Kebun Binatang Gembira Loka, tempat latihan atlet panjat tebing Yogya.

Aku masih tinggal di Kuningan.

Satu kali aku pulang lesu dari kampus. Penat.

“Ada titipan tas dari Oyek. Dia kembaliin minjam dari kamu,” ujar Heru, mahasiswa D3 FE UGM, anak kos kamar atas.

“Oh, iya. Makasih,” aku jawab, makin lesu.

Semester terakhir kuliah membuatku makin santai. Banyak waktu luang. Bisa main game. Atau dolan ke Borobudur, lokasi aku kuliah kerja nyata. Main bola juga oke. Aktivitas organisasi juga menyurut. Serasa plong. Menyelesaikan skripsi juga tanpa patokan target deadline. Dan tanpa sadar waktu makin merambat.

Waktu itu kira-kira bulan Mei 2004. Aku dan kawan-kawan kos bercengkrama menikmati acara teve di ruang atas. Heru memanggilku turun ke bawah.

“Ada Oyek pengen ketemu,” sahutnya.

“Iya,” aku bergegas turun.

Ia dan Ayu, ponakan, mengunjungi Mbak Yayuk. Mereka asyik mengobrol. Aku menyusul gabung.

“Makan di angkringan yuk,” dia ajak aku.

“Ayo.”

Kami berdua menikmati nasi kucing depan kolam renang UNY, malam itu.

“Aku mau lomba di Akprind,” tuturnya memberi tahu.

“Aku doakan menang yah,” jawabku antusias, “kapan?” sambungku dengan bertanya.

“Mei ini. Hari Sabtu.”

“Aku usahain datang nonton. Aku pengen lihat kamu manjat. Tapi aku lagi persiapan ujian pendadaran.”

“Gak usah juga gak pa-pa. Doanya saja sudah cukup.”

“Tapi aku pengen lihat.”

Obrolan pun menyambung ke hal lain. Kadang tercekat. Diam sesaat. Pikir-pikir mau omong apa. Lantas bersambung lagi. Maklum, aku tak banyak doyan omong dan cenderung pendiam. Hingga acara makan sebungkus-dua nasi sambal itu selesai. Ini suasana khas yang dihirup oleh mahasiswa. Warung koboi.

“Kamu ada nomor handphone?” aku tanya sebelum dia pulang.

“Ada. Kosong-lapan-satu-tujuh…”

“Aku ambil buku alamat saja yah,” seruku sambil masuk kamar, ambil buku saku yang sangat kecil.

Lalu Oyek catatkan nomor kontaknya untukku. Catatan kecil inilah yang justru bakal menentukan keberlanjutan hubungan kami, sebelum hilang kontak sama sekali, sebelum dia berangkan ke Palembang dan belum tentu kami berjumpa lagi.

Sabtu, hari perlombaan itu. Pagi hari aku harus ke Fakultas Ekonomi UPN Veteran. Bersama Tarli, pengurus pers mahasiswa tingkat universitas Balairung (kerap disebut B21), kami jadi pembicara seminar bertema ekonomi kerakyatan atau ekonomi Pancasila -istilah yang konsisten digaungkan oleh mendiang Mubyarto, ekonom asal UGM. Mahasiswa penyelenggara hajatan menemukan aku yang jadi salah satu penulis di Jurnal Balairung, yang waktu itu mengupas tema tersebut.

Aku kurang fokus mengisi acara ini. Yang aku pikirkan lomba panjat dan Oyek.

Usai acara itu, panitia menawarkan jasa antaran ke kosku.

“Ke kampus Akprind saja. Aku mau lihat temanku lomba panjat.”

“Saya kurang tahu tempatnya Mas.”

“Saya juga kurang tahu. Dekat AA YKPN kayaknya.”

Kami membelah daerah Gejayan, Jalan Affandi. Pasar Demangan kami lalui, hingga pertigaan Jalan Solo. Kami belok kanan, lantas segera ambil kiri gang terdekat. Kami tiba di sebuah kampus. Aku minta sampai di sini saja. Sisanya, aku cari sendiri.

Setelah sekian lama menelusuri jalan dengan kaki, tak kunjung ketemu juga. Yang aku dapati hanya kompleks rumah dinas PT Kereta Api Indonesia plus rel yang membelah jalan. Hari itu aku lagi naas dan aku berpikir mungkin tak bakal bertemu Oyek lagi.

Naik angkot, aku pulang kos. Sabtu siang itu aku berbaring tiduran. Segepok bahan ujian berat aku jamah.

Senin lusa hari, aku tak lulus pendadaran.

“HALO?”

“Halo, ini Yacob.”

“Oh, gimana kabarnya?”

“Baik. Aku mau ngasih kabar aku baru saja habis wisuda,” ungkapku pada Kamis sore, 19 Agustus 2004.

“Oh iya. Selamat yah. Kapan wisudanya?” tanya Oyek, orang yang kuhubungi.

“Hari ini, tadi pagi, baru selesai siang ini,” repetku riang, “ini nomorku. Simpan yah. Aku baru punya hape.”

Sebuah nomor perdana Mentari barusan aku beli setelah kakakku member sebuah hape Siemens keluaran jadul. Tak ada game, fiturnya sederhana. Nada monophonic, layar cuma bisa menampilkan sebaris larik pesan. Lampu layar juga kuning redup. Tapi aku senang. Telepon genggam kecil inilah yang bakal membantu aku menyambung kontak dengannya.

Aku telah menebus kegagalan. Aku lulus ujian pendadaran skripsi dan komprehensif. Aku jadi sarjana tepat pada 21 Juni 2004, dan resminya pada Agustus waktu wisuda. Sejak pertemuan jelang lomba malam itu, kami belum pernah berjumpa. Tapi lewat catatan alamat kontak yang remeh, hubungan ini makin berlanjut. Meski awalnya hanya jarak jauh. Hanya saling membalas pesan singkat. Selanjutnya aku kerja di Jakarta. Dan kami mulai pacaran pada 20 Februari 2005, itupun jadian lewat sms, jarak jauh, antara Yogyakarta-Jakarta. Yog-Jakarta…

Aku menemukan perempuan yang selama ini aku kejar dan perjuangkan.

“Mbak Mur itu orangnya baik. Pinter sama Ibu, sama semuanya. Jangan sampai disakiti,” pesan Ibu yang terngiang, aku berusaha camkan itu.

Terima kasih atas cinta yang kau berikan, Mur.

19 responses to “Kisah Nikah

  1. aduhhh kisahnya menarik sekali
    selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah ya:)
    Salam dari teman-teman TURC, maap kami tak bisa hadir

  2. Fida dan kawan-kawan di TURC,
    Makasih atas comment-nya. Jangan kapok mampir ke sini yah. Sori aku lagi sibuk magang di Kantor Pajak Pati, kota asalku. Hehehe… Baru sempet bales… Sukses buat kalian di sana, perjuangkan terus kaum buruh… Kapan Fida nikah? Hehe…

  3. Pingback: Me and My Cycle, a Déjà Vu « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  4. dah lama jg gak buka blog ini eh ternyata yacob dah nikah. Kaget jg soalnya gak ngabarin sich😦

    Artikel nikah yacob panjang banget euy! Semoga panjang jodoh juga yach untuk yacob dan mba Mur ! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

    Oiya, met ultah juga buat yacob tgl 15 feb. Semoga sehat selalu🙂

  5. inspired by Yacob….aq jadi pengen nikah Kob =)))…

    semoga jadi keluarga yang bahagia selalu Kob

  6. Pingback: Usai Lahap Sambal Jeruk « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  7. Fatah my old friend,
    Makasih atas kunjungannya. Iya semoga kowe cepet nyusul. Arek Suroboyo ayu-ayu, a?

  8. weeeeeeeeeeeeeeeee ternyata mas YP ni pintar juga bercerita roman….. met bahagia ya mas… hehehe maaf kmrn g bs ikut ke gunungkidul,… aku ma Lala ke t4 mb aidha sm mas adit.

  9. Rivya,
    Gpp kok. Yang penting kado-kado dari temen-temen sudah kami terima, hehehe… Pinter bercerita? Ah, enggak-enggak amat sih. Hehehe…
    Salam buat semua yah.

  10. Yacob, maaf baru sempat menengok blog kamu lagi di sini. Dan maaf sekali baru kasih selamat sekarang, hikss…. Selamat ya Kawan, selamat menempuh hidup baru. Bahagia dan sukses terus.. Salam buat istrimu🙂

  11. eh belum kasih nama: ini ruisa, KONTAN🙂

  12. Hi mas numpang tanya neh
    baru aja baca blognya trus taunya anak UGM 2000
    kebetulan lg cari temen namanya neni suryani akuntasi 2000, kenal ga?uda lama bgt ga ketemu ingin tau kabarnya

    thx

  13. maksih desaku yang indah di ekspose..hehheh

  14. SELAMAT DAN SUKSES SLALU.aKU DLU PERNAH MAIN DAN PERNAH NGINAP DI KOS OYEK DI KAUMAN.sALAM BUAT OYEK DAN UDH PUNYA MOMONGAN BLUM?

  15. Pa kabar, Mas…?? kisah yang menarik…. Btw, selamat menempuh hidup baru…🙂

  16. Mas Yacob…aku udah beberapa kali baca tulisan mas Yacob yang ini. Selalu bikin senyum2 dan melayangkan pikiran ke masa2 kuliah. My Golden Age…bukan masalah kuliahnya, tapi proses yang saya lalui bersama2 kalian.. Bacaan yang menarik tiap kali kangen kalian🙂

  17. MATUR NUWUN MAS YACOB, TULISAN INI MELAMBUNGKAN KENANGANKU DI DUSUN TERCINTA GEDAREN 2, SAAT SAAT BERSAMA MAS WARDI, MAS SUPRI MAS GITO DULU DI LANGGAR GEDAREN . SELAMAT MBAK MUR MURID JAMAAH AL FURQOON GEDAREN, SEMOGA TERUS BERJUANG DAN BERPRESTASI, SALAM KAMI DARI METRO LAMPUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s