Ngobrolin Wajah Kampus Kini, Sebuah “Reuni” Kecil

Saya Rabu pagi hari ini (24/12) janjian ketemu dengan Arief Rahman Hakim di lingkungan sekitar kampus kami, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (dulu Fakultas Ekonomi), di bilangan Bulaksumur.

Dulu kami pernah tergabung dalam Mahasiswa Peduli (MP).

Maksud pertemuan, saya pengen kasih undangan nikahan (insya-Allah) esok-setelah-lusa, Sabtu (27/12). Dasar sama-sama (mantan? saya masih ragu soalnya hingga kini saya masih merasa jadi) aktivis. Pembicaraan tak jauh-jauh dari tema “serius”. Inti-intinya sih kapitalisme, termasuk komersialisasi pendidikan.

Kami ngobrol panjang lebar di kompleks kantin, yang lebih dikenal sebagai “bonbin”, sebelah selatan kampus kami. Bonbin adalah akronim dari kebun binatang, karena kompleks kantin situ ramai orang, tumpah-ruah, banyak pilihan warung dan menu makanan.

“Pokoknya jangan di dalam kampus. Suasananya gak cocok,” celetuk Hakim. Saya mengiyakan. Langit kelabu mendung, bekas gerimis kecil-kecil yang jatuh pukul tujuh tadi.

Belakangan saya rajin ke kampus. Bukan untuk kuliah lagi. Belum ada dana, meski pengen bukan buatan. Saya sebar-sebar undangan nikahan ke kawan-kawan. Termasuk ke organisasi pers mahasiswa dulu saya pernah aktif di sana, EQuilibrium.

Saya gabung pada 2001-2004, dan jadi pemimpin redaksi pada 2002-2003.

Terakhir saya berinteraksi dengan awak EQ yang baru pada bulan puasa lalu. Waktu itu saya mengisi diklat seharian tentang keredaksian. Banyak wajah baru. Saya gembira, EQ tidak mati (suri)! EQ tetap berdenyut, sepeninggal kami hingga kini.

Setelah itu, sebelum urusan undangan, saya ke sana mengambil transkrip nilai dan fotokopinya yang telah dilegalisasi oleh pejabat kampus. Saya beruntung, ihwal ini dibantu dengan tulus oleh Wawan Sugiyarto.

Wawan adik angkatan saya. Dia 2002, saya 2000. Dan saya lulus setelah hampir empat tahun kuliah. Kini Wawan merampungkan tesis untuk gelar Magister of Science (M.Si.), juga di sini.

Selain sempat di EQ urus-urus divisi penelitian dan pengembangan (litbang), Wawan adalah mantan ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) –umumnya kampus lain menyebut BEM– di FE UGM.

Dari beberapa kali mondar-mandir di kampus itu, saya menimba pengalaman baru. Suasana kampus makin “aneh”. Tepatnya mewah. Jauh beda dari situasi waktu saya kuliah. Laptop dan mobil adalah bawaan biasa para mahasiswa. Fasilitas hot-spot juga tersedia. Ngenet di mana saja bisa, sambil nongkrong di selasar atau bangku semen bawah pohon.

“Setimpal dengan biaya kuliah yang makin mahal,” pikir saya.

Hal itu juga yang bikin saya marah. Ini gejala komersialisasi kampus. Istilah halusnya otonomi kampus, atau kini ada istilah yang hampir menyata, Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Orang-orang yang sepaham dengan saya –yang sama-sama resah– berkumpul dan mendirikan MP. Saya terkenang saat-saat rapat-rapat marathon, hingga larut malam, untuk menggodok rencana aksi, bikin buletin, selebaran, dan diskusi-diskusi lainnya.

Selain Hakim, ada Ari Priambodo dari Fakultas Filsafat. Ari, tak bukan adalah adik kandung Bimo Petrus, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) dari Malang yang hingga kini hilang entah di mana sejak 1997-1998.

Dari Filsafat juga ada Tomo.

Ada Arsih “Sujatmiko” dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Suharsih, nama aslinya menurut Hakim, selalu dengan titik tekan yang berat, menyebut namanya dengan tambahan nama belakang Sujatmiko karena tergila-gila pada pendiri dan mantan ketua umum PRD, Budiman Sujatmiko. Budiman kini di Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P). Saya tak tahu apakah kini Arsih masih mengidolakannya.

Ada Yanuar Pribadi dan Mayang dari Fakultas Psikologi. Sepasang kekasih ini pegiat pers mahasiswa fakultasnya, Psikomedia. Saya pernah mengirim opini untuk majalah ini. Kini mereka jadi suami-istri dan tinggal di Pamulang Tangerang.

Secara lembaga pers mahasiswa tingkat universitas Balairung (lebih dikenal “B21”, karena bermarkas di kompleks perumahan Bulaksumur No. B21) tidak masuk MP. Tapi beberapa personilnya turut menyumbang tenaga, setidaknya jadi massa solid kalau demo. Ada Gusti, Ida –kini dengar-dengar jadi wartawan Kompas, Bambang –kini wartawan Bisnis Indonesia, Iqbal –kini wartawan Tempo, Ibas, dan sebagainya.

Pula ada beberapa kawan dari Fakultas Ilmu Budaya (dulu Sastra), salah satunya Sandy, dan sebagainya.

Dulu saya bersama enam kawan, termasuk Arsih satu-satunya cewek, mogok makan selama tujuh hari menentang mahalnya biaya kuliah untuk mahasiswa baru. Istilahnya BOP dan SPA. Waktu rektornya Pak Sofyan Effendy, tepatnya pada saat semester pendek waktu saya kuliah tahun kedua.

Saya terkekeh kalau ingat, bobot usai mogok makan sempat 40 kilogram. Kini saya sudah “agak makmur”, 68 kilogram. “Maklum, sudah ‘kerja’,” komentar banyak orang. Benar juga, saya pikir. Dus, tentu saja sudah ada yang ngerawat, (calon) istri saya, tentunya.

Aksi demi aksi kami gencarkan. Mulai bakar ban di depan gedung rektorat (Gedung Pusat), bikin seminar, bikin tenda solidaritas, dan sebagainya. Anda boleh berpikir, “yang mahal kuliahnya adik angkatan kok kamu yang repot-repot demo.”

Ongkos kuliah saya satu semester sekitar Rp400.000. Kini? Jutaan!

Tapi bagi kami, bukan sesederhana itu masalahnya. Kalau adik angkatan saja tarifnya segitu, bagaimana besok-besok dan ongkos sekolah anak-anak kita sendiri? Kami rasa ini bentuk kapitalisme di bidang pendidikan. Kapitalisme setidaknya ada empat ciri: Ekspansif, eksploitatif, akumulatif, dan akseleratif.

Modal harus makin melebar sayapnya. UGM kini juga punya kampus jarak jauh, di Jakarta, misalnya. Rakyat makin terhisap dengan biaya pendidikan yang makin mahal. Biaya-biaya yang tertumpuk itu bakal untuk ekspansi selanjutnya. Dan biaya pendidikan melejit bisa sampai melebihi inflasi dari tahun ke tahun bagai kereta api shinkansen. Jangan salah, Yogya adalah daerah yang laju inflasinya di atas rata-rata. Dan ekonomi Yogya disokong oleh mahasiswa perantau. Mulai dari kebutuhan sewa kos, fotokopi, rekreasi (mahasiswa butuh plesiran bukan?), makan-minum, warnet, dan sebagainya.

Saya baca laporan khusus koran Kedaulatan Rakyat beberapa waktu lalu. Biaya bulanan mahasiswa sekarang sekitar Rp1.278.000. Itu di atas upah minimum regional yang sekitar Rp600.000. “UMR Yogya masih di bawah Klaten dan Kebumen,” ujar Hakim serius. Saya mengurut dada, kiriman bulanan dulu Rp400.000-an.

“Mahasiswa sekarang juga gak peduli. Atau mungkin dia gak tahu apa itu BHP. Liat tampang mereka yang kayak gitu, bikin terasa asing kalau harus balik ke kampus lagi,” sambung Hakim.

“Demo tolak Undang-Undang BHP, di berita-berita, hanya FMN yang muncul?” sambung saya.

“Di setiap kota FMN gerak.”

FMN adalah Front Mahasiswa Nasional, Hakim juga pernah aktif di sana.

“Alah, mahasiswa sekarang tak acuh, abai, apatis. Yang penting kuliah cepet lulus.”

“Itu juga andil dari tugas kuliah yang menumpuk, Cob. Paper. Presentasi. Dan absensi. Sekarang gak masuk tiga kali saja sudah dinilai ‘E’. Gak perlu masuk ujian final lagi. Udah dijamin gak lulus,” tuturnya, lalu disambung dengan seruputan kopi kental.

“Jamanku (kuliah) masih boleh bolos maksimal empat kali. Itu sih namanya pengucilan.”

“Alienasi,” sambung Hakim, kini dengan menyedot rokok ringan.

Satu semester umumnya efektif kuliah selama empat bulan. Kira-kira tatap muka dalam kelas dengan dosen, yah enam belas kali. Satu kelas umumnya satu pekan sekali –kecuali ada pertemuan tambahan. Itu belum minggu tenang dan ujian tengah atau akhir semester.

Lantas dia menjereng teori Antonio Gramci, intelektual kiri asal Italia, korban rezim fasis Mussolini. “Ada dua jenis kaum intelektual,” katanya, “intelektual organik, adalah kaum intelektual yang bertalian dengan problem riil yang dihadapi masyarakat. Serta intelektual an-organik yang tak mau bersinggungan dengan rakyat, hanya diskusi-diskusi-diskusi… meaningless…”

Istilah terakhir yang dia maksud, sependek pengetahuan saya soal Gramci, tepatnya intelektual tradisional.

Hakim mengambil jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2001. Dulu istilahnya Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP). Dia ambil skripsi dengan tema krisis finansial yang kini tengah panas. Dosen pembimbingnya Poppy Ismalina, dosen UGM yang dikenal nyempal dari mainstream school of thought yang pro-pasar. Selain Bu Poppy, dosen yang tampak paling menonjol berteriak adalah Revrisond Baswir.

Nah, putri Bang Sonny, panggilan akrab Revrisond, yang kuliah di Fisipol –saya lupa namanya,  juga pernah terlibat dalam kegiatan dan rapat MP, meski tak se-intens penggerak inti.

Sayang, Poppy sudah terbang ke Eropa mengambil gelar doktor. “Jadi yah konsultasi on-line via email,” cerita Hakim. Poppy merekomendasikan satu-dua nama sebagai pembimbing pengganti.

Lantas Hakim lulus saat pendadaran April 2008. Sebenarnya ada jadwal wisuda Mei, namun lantaran sang ibu sakit, dia undur wisuda pada Agustus lalu. “Ibu pengen banget hadir, makanya yah sudah, mundur saja gap pa-pa.”

Hakim di mata saya adalah (lulusan) mahasiswa FE UGM yang lain dari yang lain. Dia aktivis tulen. Pernah membangun basis, menginap di perkampungan buruh selama dua setengah bulan. “Cuti dulu deh dari gerakan,” saran Poppy, seperti yang dia tuturkan.

“Selamat akhirnya kamu lulus. Saya kira kamulah lulusan terbaik FEB UGM. Terbaik bukan berarti dari lama kuliah dan IP yang tinggi. Tapi dari integritas, keberpihakan, dan idealisme. Kamu punya ketiganya,” kira-kira begitu tulis Poppy lewat email kepada Hakim.

“Soal ‘lama kuliah’-nya itu loh. Krasa nyentil banget,” ungkap Hakim terkekeh sambil tergeleng dengan jari telunjuk mengarah ke aku. Kami pun tertawa lepas. Total, Hakim kuliah selama kurang lebih tujuh tahun.

Banyak teman kampus menilai saya juga pegiat. Gila. Kuliah di bawah empat tahun. Cum-laude pula. Tapi herannya, kok masih sempat-sempatnya demo, orasi, bolos kuliah, menulis, dan giat di persma. Ah, sudahlah. Saya merasa belum setulen Hakim, Arsih, Ari, atau Ignas.

Nah, nama terakhir yang saya maksud adalah Ignatius Kleruk Mau. Satu angkatan dengan saya, cuma beda fakultas, dia ambil filsafat dan kini sedang merampungkan skripsi. Dia aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), yang secara garis organisasional bukan underbow namun dekat dengan PRD. Kami sempat “kehilangan” dia yang ditangkap dan ditahan beberapa bulan oleh polisi di Surabaya, waktu aksi Mei 2002.

Kawannya, Ignatius Mahendra, lebih apes lagi. Lantaran membakar foto presiden Megawati Soekarnoputri dalam sebuah aksi, dia dikurung dua tahun di Yogya. “Pasal penghinaan presiden, yang sekarang sudah dihapus,” komentar Hakim. Usai bebas, Mahendra kini kuliah non-gelar di Inggris, menurut cerita Hakim. Dia sedang asyik bertemu dan mendalami pemikiran tokoh-tokoh kiri di sana. Mahendra beberapa tahun ini menjalin kasih dengan Arsih.

Waktu Ignas bebas, dia kembali ke kampus. Ketika MP aksi menyambut mahasiswa baru angkatan 2003, dia aku todong turut orasi. “Udah lama gak gini,” tukasnya sehabis bengok-bengok. Saya kira ini orasi dan aksi pertama dia usai ditahan.

Ignas saya sms dan telepon buat ketemuan juga hari ini. Namun tak ada jawaban. Undangan buat Ignas dan kawan lainnya kami titipkan ke Pijar, persma Fakultas Filsafat. Jadi yah hanya ketemu Hakim. Namun pertemuan singkat itu membuka ingatan gelegak aktivisme kami beberapa tahun silam.

Yang indah buat dikenang, namun barangkali tak relevan dengan kondisi kampusku kini.  Memori itu masih melekat di kulit otakku.

2 responses to “Ngobrolin Wajah Kampus Kini, Sebuah “Reuni” Kecil

  1. AWW. FIRST OF ALL SELAMAT ATAS PERNIKAHANNYA. MOGA JADI KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH. Pro kontra UU BHP kayaknya memanas (lagi) ya. FYI, tahun 2004 saya sebar kuisioner untuk skripsi mengenai “Analisis Sikap dan Niat Calon Mahasiswa terhadap FE UGM” terkait naiknya biaya pendidikan biaya kuliah, para responden rata-rata tidak keberatan dengan biaya kuliah yang mahal. Mereka menganggap hal tersebut sebagai investasi. Nggak tahu ya pendapat para orang tua bagaimana. Kalau saya sih bersyukur aja bisa kuliah dengan biaya Rp 400 ribu. Nah pusingnya sekarang, harus nabung buat kuliah anak-anak nanti (walaupun anak saya baru 2,5 tahun) he he…

  2. Selamat yo, pren..smoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah…yoyon&keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s