Jauh Beda (Wawancara) Zidane dari Bambang

Lapangan hijau 100 x 60 meter persegi pada hakikatnya adalah panggung drama. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang senang, ada yang sedih. Ada luapan emosi, buncahan kecintaan, pula ada ledakan amarah…

Dua contoh menarik yang bisa kita simak adalah peristiwa penandukan dada bek Italia Marco Materazzi oleh kepala semi-plontos gelandang elegan Prancis Zinedine Zidane –pada laga final Piala Dunia 2006. Serta, masuknya seorang bupati (ini terjadi di Indonesia) mengejar-ngejar wasit lantaran tak terima atas kepemimpinan si juru semprit, yang dia anggap buruk, beberapa hari lalu.

Kedua peristiwa itu adalah manusiawi adanya. Dan dunia jurnalistik harusnya mampu menyajikan drama kehidupan manusia itu dengan apik, penuh simpati dan empati.

Sayang, keduanya adalah sajian contoh yang bertolak belakang.

Zidane adalah pesepak bola yang dihormati. Dia kelahiran Aljazair namun bersinar di Prancis, negeri yang pernah menjajah tanah asalnya. Dia islam taat, Zinedine sendiri berarti Zainuddin.

Berbagai prestasi dia ukir dalam daftar riwayat hidupnya. Klub mentereng macam Juventus Italia dan Real Madrid Spanyol pernah memakai jasa gelandang jenius ini. Tim nasional tri-color pun pernah dia lambungkan sebagai juara Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2004.

Siapa yang tak mau menutup manis karir? Di saat final Piala Dunia dua tahun silam, satu kakinya sudah menapak ke arah tangga juara. Kedudukan 1-0, berkat gol penalti Zidane ke gawang Italia. Sayang, keadaan menjadi imbang 1-1. Di saat perpanjangan waktu, bek provokatif Materazzi berbicara pada Zidane. Entah apa verbatim yang dia ucapkan sehingga Zidane naik pitam.

Duk…

Dada pemain yang kini bermain untuk Inter Milan itu terseruduk kepala Zidane. Dia jatuh dan ini kesempatan empuk untuk berakting memasang wajah kesakitan sambil terguling-guling.

Kartu merah! Zidane harus keluar lapangan. Dia melangkah lesu meninggalkan “panggung” itu sambil melewati piala yang tersaji di pinggir lapangan. Ironis. Apalagi ketika 120 menit habis, Prancis kalah lewat drama, lagi-lagi drama, adu penalti.

Usai pertandingan Zidane bungkam. Banyak spekulasi ucapan Materazzi adalah hinaan, bahkan pelecehan rasial. Zidane hingga kini tak mau cerita apa yang sebenarnya Materazzi lontarkan. Beberapa hari kemudian Zidane bersedia diwawancara oleh stasiun teve Prancis, Canal Plus. Namun tetap tak mau mengungkapkan apa yang sebenarnya terucap oleh lawan. Hingga kini, setidaknya hanya mereka berdua –Zidane dan Materazzi– yang tahu sebenarnya.

Saya sangat menikmati wawancara ini. Sangat-sangat bagus. Menyentuh. Menggali. Benar-benar menggali “isi hati narasumber”. Saya kira ini salah satu wawancara terbaik yang pernah saya baca.  Silakan klik sini untuk menemui terjemahan wawancara bahasa Prancis itu ke dalam bahasa Inggris, pada situs berita BBC Inggris.

Sekarang mari kita mengulas peristiwa kedua. Adalah Bambang Bintoro, Bupati Batang Jawa Tengah. Bambang juga mengurus klub sepak bola kebanggaan kabupaten utara Jawa itu, Persibat, sebagai ketua umum.

Stadion Sarengat, Batang, Minggu 14 Desember 2008. Inilah drama yang menentukan langkah Persibat dalam kiprah Copa Indonesia. Kali ini ia lawan Persikad Depok. Posisi masih 1-1. Batang harus menang, soalnya di kandang Depok ia kalah 1-0. Atmosfer panas.

Puncaknya, wasit mengganjar kartu kuning pada salah seorang pemain Persibat. Pemain ora trimo, mereka berdalih justru yang melanggar adalah pemain Persikad. Wasit jadi bahan penumpahan amarah. Mereka protes atas hadiah kartu kuning itu. Wasit mulai panik dan berlari menghindari “serbuan” pemain Persibat. Pemain Persikat menangkap gelagat itu dan mencegah pemain lawan melabrak wasit.

Beberapa saat kemudian, Bambang, yang bukan pemain –dan notabene tak berhak masuk lapangan, berdiri. Dengan langkah tenang dia masuki lapangan hijau menuju wasit. Wasit yang didatangi melangkah menghindar. Bambang makin mengejar. Langkah lebih cepat. Hingga dia ditenangkan oleh kolega pengurus klub.

Senin pagi, keesokan harinya, Bambang bersedia wawancara via telepon dengan program berita Nuansa Pagi di RCTI. Wawancara itu pada segmen olah raga yang dipandu oleh Zaldy Noer.

Sayang, saya tak dapat menikmati wawancara itu. Interviewer, sebagaimana umumnya pewawancara dalam program televisi, begitu gencar mengejar bagai dikejar batas waktu. Pertanyaan yang terlontar adalah pertanyaan tertutup, yang hanya menghasilkan pilihan jawaban “ya atau tidak”. Apalagi beberapa pertanyaan cenderung “memvonis”.

“Bukankah tindakan Anda itu keliru?”

“Jika Anda tidak diamankan oleh teman pengurus klub, apakah Anda akan memukul wasit?”

“Apakah tidak ada cara lain untuk berkomunikasi dengan wasit? Di pinggir lapangan misalnya?”

Wawancara yang hanya beberapa menit itu jelas-jelas tak dapat saya nikmati. Tak ada cerita yang terungkap. Penjelasan narasumber buru-buru terpotong oleh pertanyaan berikutnya. Puncaknya, pewawancara sampai berulang kali memanggil-manggil, “Pak Bambang, Pak Bambang, Pak Bambang…” Semua eksplanasi terpenggal oleh gaya presenter teve kita, yang umumnya jauh “lebih tahu” daripada narasumber itu sendiri. Atau tepatnya sok tahu?

3 responses to “Jauh Beda (Wawancara) Zidane dari Bambang

  1. Mas, selamat atas masuknya nama anda sebagai peserta tes lanjutan Depkeu

  2. maklum mas, sejarahnya bupati batang itu preman soalnya,… *bentuk kegagalan kabupaten batang memilih pemimpin, sejarah akan mencatatnya,….

  3. Himawan Andi Kuntadi

    “Tim nasional tri-color pun pernah dia lambungkan sebagai juara Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2004.”

    Koreksi aja Bos, Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.

    Geser 4 tahun, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s