Melindungi (Privasi) Anak Ala Anggun

Seorang reporter, termasuk pewarta foto, harus menghormati privasi narasumber. Masalah mana yang harus diungkap, sepanjang itu berkaitan dengan kepentingan publik, hal mana yang cukup jadi konsumsi privat yang bersangkutan.

Ada kasus menarik yang diterapkan oleh penyanyi idola saya, Anggun Cipta Sasmi. 

Anggun baru saja keluar dari rumah sakit. Habis melahirkan. Ini anak pertama, perempuan, Kirana namanya. Lengkapnya, Kirana Cipta Montana Sasmi –hasil hubungan dengan penulis Cyril Montana. Letih belum pergi dari wajah hitam manisnya. Kuyu.

“Jpret,” tanpa sepengetahuan, klik kamera lirih menyalak.

Beberapa waktu kemudian, foto penyanyi lady rocker Indonesia era 1990-an yang hijrah ke Prancis dan kini ngetop di sana (dan belakangan pulang pergi Kanada-Prancis) ini menghiasi media (gosip). Ini kerjaan paparazi.

Anggun ora trimo. Dia tuntut si juru potret itu di pengadilan. Menang.

Anggun baru-baru saja menerima job sebagai duta sampo merek Pantene untuk wilayah Malaysia-Indonesia. Dia menggantikan penyanyi negeri jiran, yang juga idola saya, Siti Nurhaliza.

Berita bahwa Anggun babaran anak cewek memang sudah tersebar. Dan Anggun pun mengakui punya seorang putri. Dia tampil pada iklan itu menggendong seorang bayi. Wajah si bocah tak kelihatan, menghadap ke belakang, dalam pelukan dada Anggun yang tampak jadi ibunya.

Tapi jangan salah. “Itu bukan anakku… aku tak mau wajah anak bayiku terlihat dan terekspos media… belum waktunya,” ujarnya kepada beberapa media Indonesia tertentu, dalam wawancara terbatas –salah satunya kepada Tabloid Nyata yang saya baca.

Anggun memproteksi keras privasi yang menyangkut anaknya. Alasannya, kalau tahu-tahu anaknya jadi target penculikan. Dan harusnya media memahami alasan itu. Anak kecil belum tentu sudah mampu menanggung beban publisitas yang demikian gencar dipapar oleh media (gosip).

Ini nampaknya jadi amar bagi pekerja media. Kita perlu bekerja sesuai dengan etika. Memperkenalkan diri, menjelaskan apa maksud dan tujuan liputan, dan berusaha tidak “nyolong” informasi. Berhadapanlah dengan narasumber sehingga dia sedang sadar diwawancara.

Kita tak butuh bahan eksklusif tapi diambil dengan cara kacangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s