Akhirnya, Lebaran Kurban di Pati

Betapa gembira hatiku. Nampaknya akhir tahun ini (insya-Allah) banyak berkah menghampiriku. Setelah empat kali Idul Adha di tanah rantau, akhirnya aku bisa merayakan Lebaran Kurban di kampung halaman. 

Minggu malam (7/12), gema takbir berkumandang. Aku teringat masa kecil, waktu sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Dua kali setahun, setidaknya, aku dan teman-teman meramaikan musala guna takbiran. Itu tiap malam Idul Fitri maupun Idul Adha.

Kami adalah anak-anak yang mengaji di Musala Uswatun Hasanah, dekat rumahku. Uswah hasanah artinya teladan yang baik. Istilah itu mengacu tingkah laku dan tindak-tanduk Nabi Muhammad. Masa kecil adalah kenangan yang indah. Kini aku sudah tak ke langgar itu lagi. Kulihat banyak anak kecil yang, jika dipadankan pada waktu itu, sebaya denganku. Gema takbir di ranah Pati adalah pengobat rindu tersendiri.

Selama tiga tahun belakangan ini, empat kali Idul Adha, aku merayakan hari suci itu di perantauan, Jakarta.

Sekarang aku bisa merayakannya di Pati. Bersama Ibu.

Syukur, dua hari sebelumnya, aku bisa berpuasa sunah. Hari Sabtu adalah puasa tarwiyah. Sedangkan hari Minggu puasa arafah. Sedangkan Senin adalah Idul Adha, yang mana justru haram untuk berpuasa.

Sunah artinya lebih baik dilakukan. Tidak dilakukan gak apa-apa, jika dilakoni yah malah bagus. Kalau wajib artinya harus dikerjakan, kalau tidak “menabung” dosa.

Idul Adha adalah hari raya umat Islam. Momen itu merupakan peringatan keteguhan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada Tuhannya. Beliau rela mengorbankan apa yang dia miliki di dunia ini, anak tercinta, Nabi Ismail (menurut versi Islam –kalau versi Kristiani, yang disembelih adalah anak yang satunya, Ishaq).

Ibrahim berserah diri, jika memang itu kehendak-Nya, maka biarlah. Dia diperintahkan menyembelih Ismail tercinta. Hajar, istri Ibrahim yang melahirkan Ismail, maupun si bocah sendiri rela. Jika itu memang perintah-Nya, lakukanlah, Ayah.

Karena keikhlasan keluarga Ibrahim itulah, mereka mendapat ganti. Ismail selamat dan jasadnya diganti domba. Hingga kini, hari raya kurban itu diperingati dengan berkurban hewan-hewan ternak kaki empat semacam domba, kambing, sapi, kerbau, atau unta.

Ini unik. Kurban bukan berarti mempersembahkan daging berupa masakan di altar pemujaan. Justru, daging-daging itu harus dibagikan kepada sesama manusia yang berhak memperoleh kurban. Tuhan sendiri tak membutuhkan kucuran darah maupun gumpalan daging itu, melainkan yang tiba di haribaan-Nya adalah keikhlasan.

Betapa berharga rasa ikhlas di mata Tuhan.

Bahkan, generasi pertama manusia pun diuji keikhlasan mereka. Dua anak lelaki Adam, Habil dan Qabil (Abel dan Cain), disuruh berkurban. Habil mempersembahkan hewan ternak yang gemuk, sedangkan Qabil hanya menyerahkan hasil panen yang kering. Qabil, si ikhlas, menerima ganjaran kenikmatan. Hingga iri-dengkilah Qabil, membunuh Habil. Inilah peristiwa darah manusia terkucur untuk pertama kalinya di muka bumi.

Manusia, sejak pertama kali menapak di bumi, hingga kini, dan kelak, memang harus ikhlas.

One response to “Akhirnya, Lebaran Kurban di Pati

  1. Himawan Andi Kuntadi

    “Qabil, si ikhlas, menerima ganjaran kenikmatan. Hingga iri-dengkilah Qabil, membunuh Habil. Inilah peristiwa darah manusia terkucur untuk pertama kalinya di muka bumi.”

    Harusnya Habil, si ikhlas,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s