Resensi Film Requiem: Potret Jiwa Yang Terpencil

Apa yang kau rasakan jika tak seorang pun yang kau anggap dekat tak ma(mp)u memahami dan menolongmu?

(Semua gambar milik Bavaria Film International, diambil dengan sarana Windows Media Player Capture Image –tekan Ctrl+I)

Saya beruntung akhirnya menemukan juga film incaran. “Requiem” (2005). Ini film jerman hasil sutradara sekaligus produser Hans-Christian Schmid. Requiem sendiri berarti doa dalam bentuk nyanyian untuk upacara orang meninggal (Salim, 2001:711).

Film berdurasi hampir satu setengah jam ini pernah menyapa publik Indonesia lewat Festival Film Internasional Jakarta (JIFFEST) beberapa waktu lalu. Setelah itu, film ini sempat diputar oleh gedung bioskop Blitz -saya belum pernah lihat jadwal film ini di jejaring raksasa sinema di Indonesia, 21. Namun kala itu saya belum beruntung bisa nonton. Barulah tadi malam (30/11), saya beli dvd di sebuah toko kaset di Plaza Ambarrukmo Yogyakarta.

Rasa penasaran saya timbul usai membuat resensi film “Exorcism of Emily Rose”. Artikel itu dimuat di situs berita Hukumonline setahun yang lalu. Kedua film ini, Exorcism (juga bertahun produksi 2005) maupun Requiem, rupanya menyadur kisah nyata yang sama, yakni kematian seorang dara yang bernama Anneliese Michel -mungkin dari situ, tokoh utama “Requiem” bernama Michaela Klinger.

Acap film yang berdasarkan kisah nyata hanya berupa fiksionalisasi. Mungkin, jika memaksa sesuai dengan plot kisah aslinya, bakal berat -walaupun bukan mustahil. Seberat Truman Capote menulis “In Cold Blood” atau John Hersey menggubah “Hiroshima” -tulisan panjang hasil liputan, karya jurnalistik murni namun senikmat novel. Mereka harus ketat menaati fakta, adegan, tanggal, kejadian, bahkan kutipan para tokohnya. Harus persis.

Bisa jadi kritik maupun “gugatan” muncul, dengan mengapungnya keraguan terhadap fakta yang terkandung di dalam film tersebut. Jennifer Lopez pernah menuai komentar miring usai memproduksi sekaligus mengaktrisi film “El Catante” (2007), kisah hidup legenda salsa Hector Lavoe –yang diperankan oleh suami Lopez sendiri, Marc Anthony. Justru si pengritik adalah kawan band pemusik asal Puerto Rico itu sendiri, yang meragukan akurasi beberapa bagian cerita. J-Lo, sebutan akrab Lopez, berkilah kisah ini versi dari hasil wawancara dengan Puchi, istri Hector. Jika ada sudut pandang yang beda dari orang lain, sah-sah saja -dan silakan bikin film sendiri sebagai tandingan.

Walhasil, fiksionalisasi adalah “cara aman”. Lagipula dramatisasi beberapa bagian tak terhindarkan.

Kembali ke pokok bahasan. Anneliese adalah gadis pandai yang besar dari keluarga taat beragama. Keinginan belajarnya kuat, hingga mengantarnya menyabet kesempatan kuliah. Sayang, hari ceria Anneliese berubah jadi muram. Kacamata medis menganggapnya terjangkit epilepsi. Sedangkan pendeta melihatnya kerasukan roh.

Setelah berbagai medical treatment tak begitu manjur, keluarga memutuskan berhenti mengobatinya ala dokter modern. Mereka percaya pada jasa pendeta -dua orang. Namun, dua pendeta pun kewalahan. Menurut Anneliese, iblis-iblis yang bersemayam di raganya tak pernah mau keluar.

Pertempuran terjadi dalam batin gadis ini. Mengapa Tuhan membiarkan setan bersemayam dalam tubuhnya? Hinakah dia? Berdosakah dia hingga jadi sarang setan? Hingga dia berkesimpulan inilah ujian dari-Nya. Pengorbanan yang lebih besar akan mengantarkannya pada derajat yang lebih mulia.

Dia biarkan kondisi tubuhnya yang makin parah, dia abaikan pengobatan baik medis maupun pengusiran roh (exorcism). Dia meninggal, kurus kering, beda nian dari keadaan sewaktu sehat yang cantik menarik. Dia dianggap suci karena mampu menanggung penderitaan itu. Makamnya marak dizirahi banyak orang dari berbagai penjuru dunia.

Rupanya masalah tak berhenti di situ. Jaksa menuntut pendeta dengan alasan mengabaikan tindakan medis. Jaksa yakin jiwa si cewek mungkin masih bisa selamat jika pengobatan dari dokter tak dihentikan.

Namun debat menarik jaksa versus pengacara pembela pendeta seperti yang terjereng pada “Exorcism” tak nampak di “Requiem”. Film ini hanya usai pada adegan si gadis korban iblis itu menikmati perjalanan dengan sahabatnya. Di akhir cerita baru dijelaskan dengan teks gadis itu akhirnya mati di rumahnya setelah melalui beberapa kali pengusiran roh yang gagal.

Gadis malang dalam “Requiem” adalah si Michaela Klinger (diperankan oleh Sandra Huller yang kayak Milla Jovovich). Michaela alangkah senangnya diterima di sebuah universitas. Namun ibunya, Marianne (Imogen Kogge), menentang mengingat ia punya epilepsi. Hanya Karl (Burghart Klaussner) sang ayah yang diam-diam mendukungnya. Michaela hanya punya satu adik, juga perempuan, Helga (Friederieke Adolph).

Ketidakcocokan dengan sang ibu makin meruncing, Michaela butuh teman pelipur lara. Mula-mula dia berjodoh dengan Hanna Imhof (Anna Blomeier), teman kuliah satu kelas satu asrama. Namun Hanna tak ubahnya cewek badung yang bohemian tukang tualang dan bersenang-senang.

Sepi ditinggal Hanna yang melancong, Michaela mengandalkan pacarnya, Stefan Weiser (Nicholas Reinke). Namun lama-kelamaan Stefan tak kuat menahan beban bersama Michaela yang sakit-sakitan sementara si cewek sendiri tak mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu, si ayah juga mulai tak kuasa menanggung penderitaan. Betapa marahnya Karl mendapati Michaela mengaku lalai minum obat barang hanya sekali.

Ternyata Schmid tak mau menampilkan suasana seram seperti “Exorcism”. Zonder tata musik pendukung latar suasana. Kering. Sekali-dua hanya teralun theme song, lagu-lagu slow-rock macam “Anthem” Deep Purple (1968) dan lima lagu lainnya dari band Jerman.

Meski demikian, Schmid mampu membagun tensi dan atensi pemirsa lewat sepenggal demi sepotong adegan-adegan. Schmid sengaja meramu sebagian besar scene demi scene nanggung, tak tuntas mengalir, dan langsung melompat ke adegan berikutnya.

Misalnya, kepulangan Michaela di saat liburan Natal yang disambut antusias oleh adik dan ayah. Tatkala hendak memeluk ibunya, Michaela tertahan dengan alasan tangan si ibu tengah kotor lantaran memasak. Malam Natal begitu ceria dengan saling berbagi hadiah. Sang Ibu senang ketika menerima tas asli kulit dari si anak sulung. Nampaknya keduanya siap berdamai. Namun suasana rekonsiliasi itu sontak bubrah. Michaela marah-marah karena pakaiannya dibuang ibu ke tong sampah. Alasannya, pakaian tak senonok itu kurang panta bagi gadis keluarga taat. Puncaknya, Michaela kabur dengan geram meninggalkan jemaat gereja yang tengah bernyanyi. Dia pergi kembali ke asrama kampus -di tengah liburan Natal dan Tahun Baru.

Ada lagi adegan Michaela yang uring-uringan tak mampu menyelesaikan paper di kamar asrama sendirian, sementara di luar gegap gempita kembang api tahun baru meletus. Larilah dia ke Stefan. Michaela tertidur pulas kepayahan. Stefan sibuk sendiri mengetik menuntaskan makalah si pacar. Hingga merasa beban memuncak, dia hendak meninggalkan Michaela.

Puncak konfliknya ketika Michaela terduduk lesu di rumah, setelah diantar Stefan. Dia disuapi bubur ibu dan tiba-tiba dia semburkan suapan itu ke muka ibunya. Lantas kalap berlari ke dapur membantingi semua barang pecah belah. Dua pendeta pria datang. Mengajak semua berdoa. Doa terapal, namun Michaela makin teriak tak karuan. Stefan hanya melihat dengan pilu. Sejak itulah kondisi fisik maupun psikisnya merosot.

https://i1.wp.com/i143.photobucket.com/albums/r159/yacobyahya/Requiem3.jpg

Satu hari Hanna datang menengok. Dia ajak keluar kawannya itu ke ladang pertanian guna mengusir bosan. Lanskap pegunungan nan hijau ditimpa keemasan sinar mentari agak menghibur keduanya. Hari sudah sore, mereka pulang.

Film selesai sampai di situ.

Schmid sengaja menangkap sosok Michaela sebagai gadis yang terasing di tengah penderitaannya. Dia terombang-ambing oleh ketidakpastian. Apakah dia tulen kena ayan, atau memang ada iblis yang merasuki badannya. Celakanya, orang-orang di sekitar yang dia andalkan dan anggap dekat tak menolong sama sekali, seberapapun usaha mereka. Dia merasa terkucil di antara orang-orang terdekat.

Karya apik ini membuahkan Bavarian Film Award 2006 kategori Best Young Actress untuk Sandra Huller. Juga, film terbaik pada kancah Sitges-Catalonian Inernational Film Festival.

Walhasil, “Requiem” adalah film drama, sama sekali tidak seram. Beda nian dari “Exorcism” yang menonjolkan suspens-horor berpadu dengan pertaruhan intelektualitas dan argumentasi antara jaksa dan pengacara lawannya dalam rangkaian sidang.

Dua film beda warna itu melengkapi kisah nyata Anneliese dalam bingkai yang menarik.

One response to “Resensi Film Requiem: Potret Jiwa Yang Terpencil

  1. Requim menurutku mencoba untuk mengangkat pertentangan antara ilmu Pengetahuan dan dogma agama, pertentangan antara tradisional dengan modernitas.
    Pada akhirnya yang menjadi korban adalah pihak yang berada di tengah. Dibutuhkan sebuah iman yang mantap agar bisa menjadi manusia yang bebas.
    Sekali lagi ditegaskan dalam film tersebut betapa besarnya pengaruh keluarga dalam perkembangan karakter anak.
    Pertentangan batin yang dialami mungkin banyak dilamai orang muda yang berasal dari lingkungan dengan pola pikir A, hingga suatu hari dia hidup di lingkungan denga pola pikir B.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s