Mengintip Karya Sastra Cina Kuno

Saya baru saja beli buku seri pertama karya sastra pada zaman Dinasti Ming. Sejumlah karya cerita pendek itu dikumpulkan oleh sastrawan yang bernama Feng Menglong (1574-1645). Beberapa cerpen karya dia dan sebagian lainnya karya kawan-kawannya.

Feng punya riwayat unik. Dia produktif menulis sekaligus mengkompilasi karya-karya yang sebagian besar berupa cerita pendek. Jadilah kumpulan cerita (kumcer). Buku yang baru saya dapatkan adalah buku pertama dari empat kitab yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku yang saya miliki itu mengandung dua puluh cerita.

Dia sastrawan yang berambisi lulus ujian pegawai negeri. Pada saat itu, pejabat sangat berlimpah harta. Dari upeti, gaji, maupun pemberian masyarakat, pebisnis, maupun orang-orang yang hendak menjalin hubungan (menjilat/menyuap?). Tak pelak, jabatan ini merupakan sarana mobilitas status yang strategis. Banyak sastrawan maupun cendekia bersaing guna lulus ujian. Kaum cerdik pandai, selain golongan pedagang sukses maupun pejabat itu sendiri, sangat dihormati dalam struktur masyarakat daripada kelas petani maupun buruh.

Sayang, Feng tak pernah lulus ujian, meski berkali-kali mencoba. Entah memang kurang memenuhi kualifikasi atau memang tersingkir dengan cara yang tak wajar, misalnya nepotisme maupun kongkalikong lainnya.

Justru ambisinya yang tak tersalurkan itu bikin Feng dapat mencurahkan waktu produktif berkarya. Malah, karyanya beberapa kali memuat panduan ujian negara. Yang justru dapat dimanfaatkan oleh calon pegawai lainnya untuk belajar dan lulus. 

Seperti layaknya seniman, Feng juga menganut paham hidup yang longgar: banyak minum arak dan ke rumah bordil, gonta-ganti wanita penghibur. Bisa jadi ini merupakan pelampiasan ambisi dan cita-cita yang tak tersalur.

Saat ini baru saya baca 12 cerita, kurang delapan lagi. Hampir tak ada kisah sedih di akhir cerita. Happy ending. Yang jahat akan takluk tertimpa musibah menuai kehinaan, yang baik akan hidup bahagia dan memanen kehormatan.

Ada kisah tentang hakim jujur antisuap dan penyidik cerdik. Ada cerita soal kesetiaan antara sahabat sehingga rela mengesampingkan urusan keluarga –ini unik karena ajaran kuno Tao maupun Konfusianisme menekankan pentingnya peran keluarga. Ada pejabat baik hati dan pengayom rakyat. Ada biksu cerdik dan jago silat serta sihir.

Mungkin ini cuma angan-angan kondisi masyarakat ideal yang ada di benak Feng belaka.

Saya sudah tuntaskan “Angsa-Angsa Liar”, karya fenomenal Jung Chang yang sangat-amat anti Mao. Menurut Jung yang memilih tinggal di Inggris, rakyat Cina sudah terlalu panjang mengalami penderitaan. Lagu-lagu rakyat yang menyayat hati adalah gambaran sosial. Cerita-cerita rakyat dan legenda adalah pelipur lara sebagai pelarian dari kondisi kesengsaraan yang sebenarnya.

Feodalisme yang panjang dari dinasti ke dinasti, pergolakan tanpa henti, perang tak berkesudahan, tatanan pemerintah yang korup, penuh intrik, serta kongkalikong yang culas, adalah sumber kemelaratan dan kenestapaan rakyat kecil macam petani.

Kisah kompilasi Feng, adakah gambaran dari kondisi idilik yang hanya dalam angan?

One response to “Mengintip Karya Sastra Cina Kuno

  1. Well, Cina atau kalau koran Jawa Pos menyebutnya Tiongkok, memang bangsa yang berbudaya tinggi.
    Sungguh benar sabda Nabi, ..”belajarlah sampai ke negeri Cina”,….

    Piss Mas!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s