Kumbang Tumbang

Halaman depan rumah kos saya banyak pohon buahnya. Ada mangga golek, mangga gadung, maupun rambutan. Saya tinggal di kamar lantai dua, persis depan pohon rambutan. Musim buah begini, enak juga bisa langsung petik dari teras lantai atas.Lantaran banyak buah yang matang di atas pohon, banyak serangga dan binatang lainnya yang berkerumun. Saya lihat ada mangga yang krowak separo. Pasti ulah codot –sejenis kelelawar pemakan buah yang masak pohon. Codot memang punya naluri tajam mengendus buah mana yang sudah matang. Konon sih, kalau kita makan buah matang pohon sisa codot, yang pria jadi ganteng yang cewek jadi ayu. Benarkah? Hehehe…

Selain codot ada lebah –golongan Apis memang suka yang manis-manis, serangga lainnya, lalat, serta kumbang. Nah, hampir pada setiap rumah yang ada pohonnya, saya temui kumbang kayak gendu. Warnanya coklat kayu. Sayapnya keras menutup punggung. Besarnya bisa digenggam satu tapak tangan. Saya tak tahu jenis serangga apa.

Tiap kali dia terbalik, tiga pasang kakinya bergerak-gerak meronta hendak membalik badan kembali. Tapi sekali terbalik, punggungnya yang terlalu keras tak kuasa dia angkat. Berat badannya rupanya terlalu bertumpu pada punggung. Selang berapa lama, karena terkuras tenaga, mati.

Tiap hari, di di atas lantai luar depan kamar, di halaman luar, di mana-mana, saya temui bangkai kumbang coklat kayu itu. Tak hanya satu, tapi dua-tiga-empat-lima. Untuk apa mereka tumbuh besar, namun akhirnya berguguran hanya tak kuasa membalik tubuh? Atau memang demikian cara mereka mati?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s