Mengapa Harus Teror?

Mata dunia sedang melotot ke arah Mumbai, India. Di sana, sekawanan orang yang belum dikenal dengan senjata api memberondongi warga dengan kalap dan membabi buta. Seratusan lebih tewas, termasuk kepala polisi divisi antiteror, tiga ratusan dilaporkan luka-luka. Sasaran utama kelompok penyerang adalah warga asing berpaspor Inggris dan Amerika. Hotel, jalan, dan stasiun kereta api tergenang merah darah.

Hingga kini belum diketahui motif insiden tersebut. Teror, untuk apa? 

Teror bisa jadi aksi brutal lantaran si teroris merasa mendapatkan perlakuan yang barbar juga dari pihak yang mereka anggap menindas. Amrozi cs mengebom Bali lantaran lokasi tersebut, setidaknya menurut mereka, merupakan tempat tumbuh suburnya dan pintu masuk bagi kemaksiatan. Walhasil, penindasan sudah bukan dalam arti sempit fisik lagi –dalam bentuk opresi, penjajahan, dan aneksasi, melainkan bisa juga penindasan di ranah budaya, nilai, tata, ekonomi, dan bahkan agama.

Namun tak satupun agama yang melegitimasi teror.

Teror hanyalah ilusi pembenaran bagi si perancang teror itu sendiri.

Teror bisa juga terjadi karena si pelaku sudah berada pada posisi “nothing to lose”. Para pelaku bom bunuh diri dari Palestina dan Timur Tengah rata-rata berasal dari kalangan miskin. Mereka tak punya apa-apa. Dan mereka merasa yang membuat mereka miskin adalah Israel. Hidup sudah susah, mati pun tiada bedanya. Lebih baik mati bersama sasaran teror, yakni Israel.

Celakanya, ini yang bikin kita tak simpatik, korban teror bukanlah sasaran awal an sich. Warga sipil tak berdosa pun terkena imbas. Begitu enteng Amrozi cs berkilah atas jatuhnya beberapa korban muslim yang ada di Bali waktu itu. Mereka bilang korban yang beragama Islam akan masuk surga. Padahal tak ada seorang pun yang menjamin nasib orang lain, bakal ke surga atau neraka. Nabi Nuh pun tak mampu mencegah kedurhakaan anaknya, Nabi Muhammad apalagi, tak mampu menolong paman-pamannya yang jahat dan kafir.

Bisa disimpulkan, terorisme adalah tindak biadab, apapun alasannya.

Ahli sejarah kenamaan yang kita punya, Onghokham, pernah memberikan garis bawah atas masalah teror-meneror ini. Faktanya, tindakan terorisme pun tak dapat menjamin keberhasilan maksud dan tujuan si teroris itu sendiri. Peristiwa Pearl Harbor 1941, apakah Jepang menang pada Perang Dunia II? Peristiwa 11 September, apakah Al Qaeda –jika memang mereka yang melakukan– juga berjaya?

Walhasil, teror adalah tindakan yang sia-sia, menghamburkan banyak nyawa. Dan konyolnya, untuk tujuan apa?

Sudah saatnya teror menjadi metode usang dan dunia bersatu memeranginya. Marilah kita hidup dalam satu planet yang damai.

One response to “Mengapa Harus Teror?

  1. Studju..studju..Palagi akhir2 ini byk email ga penting ttg hukuman mati amrozi dkk…kesannya kayak udah pasti mati sahid aja, pdhl…Yang Maha Mengetahui kan belum memutuskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s