Mau Cara Elegan, Yah Jangan Asal Tuntut

Majalah Tempo menuai musuh baru. Kali ini pengusaha cum menteri Aburizal Bakrie. Pasalnya, Ical, panggilan akrabnya, merasa dirugikan atas pemberitaan dan cover majalah Tempo dua pekan lalu. Ini soal penyelamatan saham Bumi Resource, perusahaan batubara terbesar di negeri ini, milik si orang terkaya se-Indonesia ini. 

Yang patut digarisbawahi, Ical tak asal babat dengan naik ke meja hijau. Dia sudah mensomasi Tempo namun belum bikin gugatan. Ical mengaku mendengarkan nasihat dari berbagai pihak, termasuk organisasi wartawan di mana saya bergabung, Aliansi Jurnalis Independen. Ical memutuskan membawa keluhan itu ke Dewan Pers.

Ini perkembangan menarik. Saya kira Ical melangkah hati-hati, mengingat dia juga punya media. Jikapun tak memegang saham langsung atau terjun ke operasional, Ical punya grup bisnis, kerabat-saudara, serta orang-orang kepercayaan dalam menjalankan media itu: Antv-TVOne, serta situs berita baru.

Sebuah langkah mundur jika Ical, sebagai pemilik media, malah mempraktekkan “bumi hangus” terhadap media lain. Tentu dia perlu mempertimbangkan hal itu. Popularitasnya dipertaruhkan dan bisa-bisa dapat cap anti kebebasan pers jika langsung ke legal battle.

Sebenarnya Tempo sudah menerapkan prosedur cover both side. Tempo sudah berupaya mewawancarai Ical. Namun yang didapat hanyalah sekecap-dua kalimat. Kutipan minim juga datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dihembuskan oleh Tempo mengancam mundur dari jabatan karena terlalu dalamnya cawe-cawe Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam penyelamatan saham Bumi yang makin terjun bebas.

Bayangkan, sempat mencapai level termahal Rp8.500 per lembar, kini tak kurang dari seceng. Longsor lebih dari 92%. Bursa sempat membekukan transaksi saham ini. Sementara itu, Northstar yang digadang jadi penyelamat belum kunjung juga mengakuisisi saham Bumi.

Namun, sekali lagi, Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, setali tiga uang dengan Ical. Tak banyak konfirmasi yang tergali.

Masalahnya Tempo terlalu “mengandalkan” sumber anonim. Saya percaya Tempo tahu betul aturan main penggunaan sumber anonim. Yang belum terungkap, berapa sumber anonimnya. Sebuah informasi dari sumber yang tak mau terkuak identitasnya, hendaknya dikonfirmasi ke sumber lainnya, minimal tiga orang, dan informasi itu berbunyi sama. Itu baru valid, meski anonim. Soal seberapa kuat dan akuratkah informasi yang dibisikkan oleh sumber tanpa nama itu, saya kira itu urusan dapur redaksi Tempo sendiri.

Saya berharap perkembangan kasus ini tak sampai mremen ke pengadilan. Cukup di Dewan Pers saja. Tempo bisa menyediakan hak jawab atau ralat. Hak jawab ini bisa ditata dengan wawancara eksklusif dengan Ical atau pihak Bakrie, supaya sumber yang dirugikan punya ruang yang sama luasnya dengan banyaknya berita yang “menyerangnya”. Nah, soal hak jawab, kok Ical enggan diwawancara sebelumnya yah –ketika diwawancara oleh wartawan Tempo meski doorstop (jika memang lewat cegatan, bukan wawancara janjian).

One response to “Mau Cara Elegan, Yah Jangan Asal Tuntut

  1. satu wacana bijak dan menambah wawasan teman-teman di daerah…
    yah jangan ke meja hijau lah… yang gemuk akhirnya nanti mafia peradilan..mending disumbangin ke yatim piatu, dr pd buat bayar kasus n pengacara..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s