Galeri Foto: Menangkap Kegagahan Menara Kudus

Kami sekeluargahari kedua Syawal lalu berkunjung ke Jepara. Ada saya, adik saya Ginanjar Rah Widodo, kakak Winuranto Adhi, kakak ipar Gita Fiatri (Sinu)lingga, ibu, dan seorang sopir. Kami berniat nyekar Budhe Sri, satu-satunya saudara Bapak yang tersisa, yang akhirnya meninggal pada Ramadhan lalu. Bapak juga mangkat pada bulan puasa, setahun sebelumnya.

Siang hari kami pamit pulang. Sebelumnya kami ke Pantai Bandengan.

Usai dari pantai yang kini kondisi lingkungannya merosot itu –padahal jadi ikon wisata Jepara bersama Pantai Kartini (yang lebih jorok lagi), kami meluncur pulang. Sore kami sampai di Kudus. Mas Wiwin berkeras hendak mampir di Menara Kudus. Menara masjid ini dibangun oleh salah satu sembilan wali penyebar ajaran Islam di Jawa, Sunan Kudus. Menara dan masjid itu berbaur dengan perkampungan di sekitarnya. Penduduk sekitar memanfaatkan objek wisata itu dengan berprofesi sebagai juru parkir, penjual suvenir, pemandu wisata, tukang jepret dan cetak foto. Anda juga bisa memesan kalender dengan beragam gambar menara elok tersebut. 

Daerah Kudus punya dua wali. Yang satu adalah Sunan Muria yang singgah di Gunung Muria.

Anjar lagi getol klik-klik kamera. Dia punya kamera digital merek Nikon. Menara yang terbuat dari susunan bata merah ini nampak kontras dengan warna langit yang biru. Hasilnya, paduan dua warna yang indah. “Langit harusnya berwarna biru. Kalau hasilnya putih, karena kamu memotret melawan arah datangnya cahaya (matahari). Makanya perhitungkan arah cahaya,” saran dia.

Meski ini bukan karya fotografer profesional, saya bisa menikmatinya. Beda antara pehobi atau amatir dari profesional, “jumlah klik per hari. Juru foto profesional bisa bikin dua ratus gambar sehari,” tuturnya pada lain kesempatan sebelumnya.

Menara Kudus yang merah menyala selaras dengan warna biru langit.
(Menara Kudus yang merah menyala selaras dengan warna biru langit. Bulatan putih kecil-kecil adalah piring atau mangkuk peninggalan Cina yang ditempelkan pada dinding menara. Foto oleh Ginanjar Rah Widodo.)

Saya sangat terhibur oleh artikel Rubrik Intermezo Majalah Tempo pekan ini. Ini rangkaian tulisan oleh-oleh reporter Sunudyantoro tentang kehidupan interaksi warga Jerman yang heterogen dengan pengambil kebijakan alias para anggota parlemen dan pemerintah. Semua tulisan sudah saya baca tuntas.

Perhatian saya tertuju pada gambar gedung parlemen yang beratap berbentuk kubah atau blenduk. Si fotografer yang sekaligus reporter hendak menangkap gambar gedung itu. Sayang, latar belakang langit begitu pucat: putih. Saya duga ia memotret pada cuaca cerah atau siang hari. “Perhatikan golden hour. Momen emas itu datang pada pagi hari atau sore hari. Sekitar Jam enam atau tujuh pagi atau lima sore,” saya teringat saran Anjar.

Ini masih bahasan soal Intermezo Tempo. Saya agak lega menikmati gambar masjid di Jerman. Latar langit terlihat biru tersaput sedikit mega kapas putih. Ini baru pas, saya kira. Setidaknya lebih sip daripada gambar gedung parlemen tadi.


(Khusyuk berzikir. Ini gambar “berdimensi”. Dari gambar yang datar itu terasa ada ruang di dalamnya. Tentang hasil foto ini, “kurang maksimal, aku kurang puas,” ujar Anjar. Foto oleh Ginanjar Rah Widodo.)

Kembali lagi ke Menara Kudus. Kami memanfaatkan waktu singgah itu untuk istirahat. Salat asar. Dekat menara tentu ada masjid. Dekat mimbar (untuk khotbah) berdiri sepasang tombak pada sisi kiri-kanan.Pada tombak itu juga masih terdapat bendera hijau lusuh.

Masjid inilah pusat syiar Islam di wilayah Kudus pada abad ke-17. Waktu itu masih banyak masyarakat pemeluk Hindu. Mereka men-sucikan binatang lembu atau sapi putih. Untuk berinteraksi dengan damai, Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih lembu. Laku itu masih berlaku hingga sekarang. Tak ayal, di sini masyarakat lebih memilih konsumsi daging kerbau. Itulah yang menjawab rasa penasaran saya, kok sate di Kudus malah “sate kebo”. Memangnya tak ada sapi?

Kami juga ziarah ke makam Sunan yang ada di sayap barat daya. Di sana banyak makam pejabat Kudus tempo dulu. Juga makam para pengikut dan murid serta pangeran-pangeran Kudus. Saya blank sama sekali sejarah. Setahu saya, kerajaan Islam yang ada riwayatnya adalah Demak. Demak memang dekat Kudus, sekitar satu jam dari arah barat.

(Mas Wiwin hendak menuju arah masjid usai ziarah ke makam Sunan Kudus. Setelah beberapa eksperimen yang gagal (warna langit pucat putih), kali ini saya (tak sengaja) sukses menangkap biru langit. Foto oleh Yacob Yahya.)
(Mas Wiwin hendak menuju arah masjid usai ziarah ke makam Sunan Kudus. Setelah beberapa “eksperimen yang gagal [warna langit pucat putih]”, kali ini saya [tak sengaja] sukses menangkap biru langit. Tapi, “komposisi harus main,” ujar Anjar mengomentari kekurangan gambar ini. Foto oleh Yacob Yahya.)

Sore pukul lima kami beranjak pulang. Dalam benak saya, timbullah tekad satu saat saya akan menguasai teknik dasar jepret-menjepret. “Kamu punya bakat nulis. Ditambah kemampuan fotografi, bakal menambah nilai plus,” ujar Anjar pada saya di dalam mobil menuju rumah.

One response to “Galeri Foto: Menangkap Kegagahan Menara Kudus

  1. sungguh luar biasa, karya wali ALLAH ini, walaupun saya tidak melihatnya langsung tapi saya cukup terhibur,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s