Guru Bangsa

Cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(2.050 kata)

Kisah tentang rakyat yang berdebat soal sebuah iklan.

“IKLAN ADALAH BUJUKAN. Unsur emosional lebih mengemuka daripada komponen rasional. Iklan, yah jujur saja yah, kalau perlu melabrak aturan baku ini-itu. Norma dan moral lupakan dulu. Moral kita adalah profit. Keuntungan. Laba. Pasang kaca mata kuda, bung. Yang penting calon konsumen tercekoki dan akhirnya membeli produk yang kita suguhkan,” oceh seorang pakar pemasaran berkhotbah di sebuah seminar.

Para peserta manggut-manggut. Beberapa ada yang ngorok.

Mau contoh? “Mana ada advertensi rokok yang memajang bintang iklannya udut? Bagaimanapun lah caranya agar-supaya kaum muda yang maskulin itu menghisap asap tembakau -dan sambil kita hisap isi kantong mereka,” sambungnya, “meskipun memang ada aturan dari regulator penyiaran, larangan adegan merokok secara terang-terangan. Tapi itu lain cerita.”

Bukti lain? “Pajang model-model cantik yang putih mulus untuk menjajakan produk kecantikan. Tak ada tempat bagi orang yang gosong item. Apartheid terselubung? Ah, tai kucing. Gak bakal jadi perkara. Masyarakat masa bodo dengan hal itu. Semua orang pengen cantik, semua orang pengen kayak model putih itu. Tapi yang penting semua orang ndak pengen jadi sapi.”

Gerrr… seisi aula bergemuruh. Saya yang mulai tertidur di kursi peserta gelagapan bangun.

Saya yang masih terkantuk-kantuk sisa tidur-tidur ayam tadi berusaha keras mengumpulkan rasa sadar. Mata merah saya kucek. Lamat-lamat kata-kata si pembicara merasuk dalam benak saya.

Saya jadi geli juga kalau teringat pada sebuah iklan nomor seluler yang baru saja muncul di pasar. Dengan leda-lede dan petentang-petenteng, seorang pria pamer pada teman-temannya. Ngakunya, dia sedang menghubungi temannya yang lagi di Amerika Serikat. “Halo, Agus… oalah Agus, Agus!” tuturnya dengan logat Jawa medhok.

Rupanya telepon itu nyasar ke Gedung Putih. “Good morning,” ujar si bule di seberang sana mengangkat gagang telepon.

Apa yang salah? Toh sasaran iklan ini tepat. Pesan yang hendak disampaikan, nomor seluler ini bertarif murah buat hubungan internasional ke berbagai negara.

Tapi saya masih “ora trimo”, kurang oke. “Pak presiden” -kalau yang dimaksud pengiklan si penerima telepon itu memang presiden Paman Sam-mengangkat telepon pada pagi hari. Sedangkan si penelepon, di Indonesia juga menelepon pada pagi atau siang hari. Lah wong dia lagi telepon di dalam rumah di ruang tamu, dari jendela terlihat pemandangan luar, meski sekilas, cahaya mentari. Amrik dan Indonesia satu zona waktu -atau setidaknya selisih sedikit beda jam? Sejak kapan? Bukankah kalau sini malam sana pagi, atau sini pagi sana malam?

Satu lagi, ini masih uar-uar murahnya tarif nomor seluler -operator yang beda dari “Si Agus” tadi. Ada seorang lelaki yang ngeyel, ngotot, rela kawin sama kambing dan monyet, kalau tarif pulsa nomor itu memang benar-benar murah.

“Nah, makanya, benar kan? Iklan adalah rayuan. Persetan dengan akal sehat. Yang penting, tanpa sadar, konsumen sebenarnya kita paksa untuk beli produk kita. Itu intinya. Kalau perlu, bikin iklan yang sememikat mungkin. Walhasil, iklan adalah halusinasi, khayalan, sihir, hipnotis, fatamorgana, imajinasi. Yah, imajinasi karena pada dasarnya yang kita jual adalah image. Buatlah bayangan seindah mungkin, meski produk kita bermutu cupu. Ciptakan hasrat dalam benak masyarakat. Yang tadinya gak butuh, setelah lihat iklan, jadi merasa butuh, perlu, harus, dan wajib borong barang ini,” ceramah pembicara makin berkobar-kobar.

Jadi posisi konsumen lemah dong?

“Iklan pada dasarnya teka-teki silang. Kami bertanya, Anda menjawab. Tugas Anda hanya menjawab, gak boleh menggugat pertanyaan. Ane yang jualan, ente yang bertugas membeli. Tak ada tempat untuk bertanya bagi pembeli. Punya keluhan, silaken kirim surat pembaca atau hubungi customer care. Itu bukan urusan iklan.

Walhasil, iklan adalah otonom. Hak mutlak si penjual apapun isi materi iklan. Suka-suka kita mau iklan bagaimana. Yang penting penonton terhibur, tergelitik, tersentil keinginannya, beranjak dari depan teve, dan segera pergi mencari barang kita. Titik.”

Suasana hening sejenak.

“Iklan, pada dasarnya,” si pembicara melanjutkan uraiannya -rupanya kata “titik” barusan bukanlah pamungkas, “adalah bla-bla-bla…” saking berapi-apinya, timbul gerimis lokal dari bibir si pakar iklan. Peserta yang duduk di deret kursi depan sebenarnya sih melihat jelas dan menahan tawa. Namun seolah-olah mereka abai. Beberapa memang cekikikan, sih.

Saya tinggalkan ruangan. Cari hawa. Pendingin ruangan seolah kewalahan mengendalikan suhu aula yang luas dan sesak oleh ratusan kepala. Saya celingukan memburu cemilan yang tersaji prasmanan. Sebenarnya ini tujuan utama saya. Cari konsumsi gratis kalau ada seminar atau diskusi. Kalau diundang syukur, jika tak diundang yah, usahakan sukses menyelinap. Sial, tandas. Perut memberontak menendang-nendang dari dalam.

Saya cuma bisa keliling-keliling sekitar. Akhirnya saya memesan seporsi sate ayam -di warung pojok luar gedung. Ternyata saya temui beberapa peserta seminar yang juga sedang menunggu bakaran sate. Sebagian yang sudah mendapat hidangan lahap menyantap. Beberapa muka yang sudah pucat kembali berwarna teraliri darah.

Hampir satu jam, saya tengok dari luar, seminar belum tuntas juga. Tepuk tangan terdengar sayup, kadang berseling derai tawa, kadang hanya senyap yang ditikam gelegar suara pemateri -yang masih dia itu tadi.

Saya pulang dan tak tahu forum selesai kapan.

RUPANYA IKLAN BERKEMBANG PESAT. Dulu, demi menjual komoditi, para saudagar berpromosi dari mulut ke mulut. Tak jarang mereka berteriak “bakpao-bakpaooo…”, “te-sateee…”, “koran-koran, koran-koran”, dan sebagainya. Lalu, sedikit-sedikit timbul ide untuk bikin bebunyian tertentu. Tukang bakso memukul bambu tek-tek-tek; tukang bubur kacang ijo mengetuk mangkuk beling dengan sendok ting-ting-ting; tukang sate memasang krincingan pada jeruji roda gerobaknya sehingga jika berjalan berbunyi cring, cring, cring; dan sebagainya. Kemudian berkembang jingle yang tersiar lewat loud-speaker kecil, misal penjual es krim keliling atau susu pasteurisasi -“Susu murni paling kenyal…”. Lantas ada papan reklame dan poster. Kemudian era media. Ada koran, radio, dan yang paling gencar adalah televisi. Sebentar lagi iklan digital juga bakal akrab. Selanjutnya, entah apa lagi. Dunia terus berputar.

Tema iklan juga bukan monopoli dagangan. Pada dasarnya semua bisa dijajakan. Iklan politik juga ada. Biro iklan bakal menangguk rezeki saban tahun. Tak perlu menunggu siklus lima tahunan jadwal pemilihan umum. Kini tiap tahun ada pemilihan kepala daerah. Saban tahun ada pilkada. Kandidat gubernur Sumatra Selatan muncul di teve Jawa Tengah, di mana-mana. Calon bupati daerah anu juga mejeng di media mana saja. Ini era otonomi daerah. Banyak daerah mekar, banyak daerah anyar. Kita pun jadi makin tak hapal nama-nama kota. Kayaknya buku ajar geografi atau ilmu pengetahuan sosial perlu direvisi saban tahun.

Iklan politik? Kayaknya antara iklan dan politik tipis bedanya. Sama-sama menghalalkan cara. Apapun argumen bisa jadi dalih. Yang pada dasarnya salah bisa dibengkokkan jadi (seolah-olah) benar. Semuanya jungkir-balik tak karuan kayak sirkus akrobat. Walhasil, “Tak ada yang konsisten di dunia politik,” tukas Mang Dadang bersungut-sungut.

Tetangga sebelah rumah persis itu baru saja mengamuk membanting televisi. Grobyak, pyarrr… “Ealah Pak, Pak. Ada apa toh? Teve kredit belum lunas kok dibuang-buang. Gak butuh teve apa?” teriak istrinya tak kalah sengit. Acara gosip selebritis yang sudah dia tunggu untuk sore ini raib sudah -padahal tadi pagi dan siang sudah nonton infotainment yang beritanya melulu berulang.

“Pusing aku. Nyesel aku,” pekik Mang Dadang makin kalap.

Nyesel banting teve?

“Bukan… aku nyesel nyoblos partai itu pemilu lalu. Katanya reformis. Kok jadinya oportunis…” tuturnya sambil menyeka air putih dari bibirnya. Beberapa teguk air segelas itu mendingan bikin dia waras lagi.

Partai apa? Partai apa? Yang jelas toh… Para tetangga bergerombol mendusin.

“Pe-ka-es, pe-ka-es. Partai Kebenaran Sejati,” jawab Dadang yang masih gelagapan coba menguasai emosi, “padahal aku kurang loyal apa, meski cuma sebatas simpatisan. Dari dulu aku PKS. Sejak sekolah aku sudah jadi PKS.”

Maksudnya?

“Polisi Keamanan Sekolah,” celetuk salah seorang tetangga asal jeplak.

“PKS ITU REFORMIS LOH. Orangnya bersih-bersih. Belum ada yang kesandung korupsi atau skandal, kan? Partai ini lahir pada waktu Orde Baru tumbang. Setelah Suhartono lengser,” ujar Dadang sambil mengganyang pisang goreng, esok harinya, waktu nongkrong bersama pemuda dan bapak-bapak di warung kopi. Kali ini pembawaannya lebih tenang, tak sekalap kemarin. Namun bahan obrolan masih sama.

“Ini partai unik. Kalau partai lainnya yang bikin organisasi mahasiswa jadi underbow, lah ini kebalikannya, partai yang dibuat oleh organisasi mahasiswa. Kaderisasinya lebih solid,” Kang Aji, mantan aktivis kampus, nimbrung beri komentar yang cenderung lebih “analitik”.

“Kalo reformis kenapa nobatin ikon Orde Baru jadi guru bangsa?” tanya Tohir, pemuda tanggung yang urusan kuliahnya juga nanggung, belum kelar-kelar. Dia tak banyak ngoceh kayak seniornya, Aji. Cuma sesekali bertanya, yang justru butuh penjabaran penjelasan panjang.

“Nah itulah Hir, Ji. Yang bikin aku keki sampe lempar teve,” tukas Dadang.

“Eh, sembarangan. Jangan menggunjingkan orang yang sudah meninggal. Begini-begini, Beliau kan mantan presiden kita. Yah tentunya walau sedikit juga berjasa buat bangsa ini,” ujar Kadul, si empunya warung sembari memberesi gelas tandas.

“Kalau aku sih gak masalah sama partai-partaian atau presiden-presidenan. Iklan apa kek, biarin aja. Pegawai negeri harus netral dan yang penting loyal mengabdi,” imbuh Zarkawi, pegawai pemda yang berseragam lengkap tapi sudah ngacir ke warkop itu sewaktu jam kerja sebelum jeda istirahat.

“Mengabdi ke warung kopi maksudmu?” hardik Jasmadi tukang becak.

“Aku kan habis nganter anak sekolah, lalu mau ke kantor. Sekalian mampir di sini sebentar aja. Satu jalur,” kilah Zarkawi.

Obrolan begini rutin tiap hari. Ini ajang diskusi berbagai kalangan. Hanya, semua peserta adalah laki-laki. Tanpa moderator dan tanpa tema yang membatasi. Segalanya bisa nyambung dan jadi percakapan yang berkepanjangan. Kadang debat sengit tak terhindarkan. Namun bakal dijamin tak ada satu gelas pun yang pecah terlempar. Buntut-buntutnya, semua pertikaian bakal terkunci oleh guyonan atau bualan lucu.

Pagi merambat jadi siang. Warung itu tambah gayeng.

MENYAMBUT HARI PAHLAWAN yang jatuh pada 10 November lalu, PKS bikin iklan yang diputar di lima stasiun teve. Pariwara itu siar selama tiga hari, pada 9-11 November. Iklan itu menampilkan delapan tokoh yang dianggap layak jadi “guru bangsa dan pahlawan”. Yang bikin heboh sebagian masyarakat -tak hanya Dadang, salah satu guru bangsa itu adalah Suhartono, presiden yang menghabiskan setengah masa hidupnya berkuasa.

Tak tanggung-tanggung, bujet ini iklan semiliar rupiah. Angka nol sembilan digit itu dianggap masih cekak untuk ukuran “kampanye” politik. Kalangan partai mengakui, dengan dana minimal, mereka hendak meraup atensi maksimal. Saya bertanya, apakah cukup benak masyarakat terpatri hanya dengan iklan berdurasi tiga hari, sementara jadwal masa kampanye pemilu masih jauh?

Toh saya keliru, atensi masyarakat jadi besar. Iklan ini menyerobot perhatian, lewat kontroversinya.

Suhartono baru saja meninggal pada awal tahun ini. Selama 32 tahun dia jadi presiden kedua, setelah menggantikan proklamator sekaligus presiden pertama, Sukaryo. Dia datang dari kalangan mliter. Prestasi Suhartono gemilang. Pembangunan di sana-sini. Swasembada beras (bukan swasembada pangan). Transmigrasi bikin penyebaran penduduk lebih merata. Pertumbuhan ekonomi tinggi. Stabilitas nasional oke. Angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk terkendali dengan adanya program Keluarga Berencana. Sampai-sampai organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi penghargaan atas keberhasilan program kependudukan yang berslogan “Dua Anak Cukup” ini. Meskipun, itu bukanlah revolusi demografi terbesar abad ini -yakni program “gila” Cina, satu keluarga satu anak.

Namun prestasi selama tiga dekade itu lenyap hanya dalam sekejap. Krisis ekonomi dan moneter mengamuk selama dua tahun, dan puncaknya, pada 1998, alasan itu cukup kuat untuk bikin dia meletakkan jabatan.

Faktanya, empat presiden berikutnya, kekuasaannya hanya seumur jagung. Presiden ad interim, ketiga, Habiburahman, hanyalah transisi hingga 1999 -setahun. Pada pemilihan umum tahun itu juga, Gus Bur jadi presiden. Namun di tengah jalan dia kena jegalan impeachment parlemen. Presiden keempat adalah wanita pertama, Megasakti Sukaryoputri -anak presiden pertama Sukaryo. Itupun hanya menuntaskan sisa masa kerja Gus Bur yang harusnya selama lima tahun, hingga 2004. Pada pemilu tahun itu, rakyat tak memilih Megasakti dan muncullah Siswanto Budhi Yudhono sebagai presiden terpilih. Kemungkinan besar presiden terakhir ini memang sukses melewati masa kepemimpinan hingga benar-benar berakhir pada 2009. Namun Siswanto belum teruji apakah pada periode berikutnya -jika dia nyalon lagi-bakal terpilih kembali.

Tak terbantahkan, Suhartono adalah presiden terlama. Di tangannya, kondisi negara stabil. “Stabil dengan pendekatan kekerasan militer, itu yang kamu mau? Sebenarnya tiap daerah bergolak. Tapi dibungkam dengan moncong senjata. Aceh, Papua, Timor Leste yang kini lepas. Belum lagi kebebasan berpendapat yang terkekang. Banyak kawanku yang hilang diculik. Itukah ajaran guru bangsa?” gugat Kang Aji pada lain kesempatan.

“Yang susah gak cuma tukang demo kayak kamu. Wong cilik kayak aku gimana dong?” sergah sopir angkot Basirun.

“Ah, PKS pengen cari simpati golongan militer,” timpal Tohir, “biasalah, image PKS kan identik dengan Islam garis keras. Itu yang tidak disukai kalangan tentara. PKS ingin berdamai,” sambungnya sambil memperlihatkan Majalah Temper edisi 23 November.

Dalam majalah itu pula, petinggi partai kabah berbendera kuning itu menjelaskan penggodokan konsep iklan sudah dibahas secara serius. Soal dampak reaksioner atas pencantuman sosok Suhartono, itupun sudah dipikirkan. “Pijakan kami adalah hasil survey bahwa Beliau adalah presiden yang paling berpengaruh. Lagipula, ini upaya rekonsiliasi bangsa. Meski pernah berbuat kesalahan, Suhartono sudah berbuat untuk bangsa ini,” demikian pernyataan resmi partai tersebut.

GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING, harimau mati meninggalkan belang. Suhartono mati meninggalkan “ajaran agung”. Tapi aku sendiri masih bingung, nilai-nilai macam apa yang diwariskan oleh Si Guru Bangsa? Ah, mungkin aku hanya generasi ingusan yang terputus tali sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s